
Pikiran Zuena bercampur aduk, sama seperti perasaannya saat ini. Rasa khawatir, gelisah dan takut telah beradu menjadi satu.
“Kenapa mereka semua keluar dan setelah itu masuk lagi? Sebenarnya ada apa. dengan Adam? Kenapa juga Dokter Ahtar tidak segera keluar dari ruangan itu?”
Khawatir kian membuncah dada Zuena dan pikirannya pun terkecai. Hingga membuat Zuena merasa tidak nyaman jika hanya duduk dan diam saja.
“Kak Zuena mau kemana?” tanya Hafizha.
“Aku... hanya ingin melihat keadaan di dalam, Hafizha. Aku... benar-benar merasa khawatir dengan kondisi Adam.” Air mata kembali meluruh begitu saja.
“Kak, Hafizha tahu betul bagaimana perasaan kakak saat ini. Karena Hafizha pernah berada diposisi kak Zuena saat melihat darah bang Ahtar dulu akibat luka tusuk. Tapi kita serahkan kepada Allah saja ya, insyaAllah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kak Adam.”
Hafizha kembali menarik Zuena dan mengajaknya untuk duduk. Tidak lama kemudian pintu ruangan UGD dibuka dengan begitu lebar, keluarlah perawat sembari mendorong brankar bersama Adam. Setelah itu paling belakang sendiri terlihat Ahtar mengikuti.
“Dokter Ahtar, bagaimana kondisi Adam? Dia... baik-baik saja, kan?” cecar Zuena dengan beberapa pertanyaan.
“Jantung Adam mengalami penyumbatan, sekarang kami harus menjalankan operasi untuk misi penyelamatan Adam. Kamu jangan khawatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelematkan Adam,” papar Ahtar dengan jelas.
Zuena tersentak, tubuhnya meluruh karena terkejut setelah mendengar sebagaimana kondisi Adam yang mengkhawatirkan. Hafizha dengan setia terus menemani Zuena, menenangkan hati Zuena yang benar-benar rapuh.
Ahtar mengganti pakaiannya dengan pakaian kusus berada di ruang operasi. Setelah mengganti pakaian Ahtar mencuci tangannya sesuai prosedur yang diterapkan. Operasi akan dijalankan kurang lebih selama tiga jam lamanya.
Kedua bola mata Ahtar menajam saat hendak memulai pembedahan dibagian dada setelah Adam disuntikkan bius.
“Suster Almira, mulai!” pinta Ahtar.
Suster Almira yang bertugas membantu Ahtar menjadi asisten dokter telah beraksi dengan menyiapkan peralatan yang dipakai saat pembedahan. Dokter anestasi pun selalu siaga menjalankan tugasnya. Hingga tiga jam telah berlalu.
“Itu... Bang Ahtar sudah keluar.” Hafizha menunjuk jarinya ke arah pintu ruang operasi.
Zuena seketika berlari dan memastikan bagaimana operasi yang baru saja dijalankan.
“Alhamdulillah, atas ijin Allah SWT aku bisa menyelamatkan jantung Adam. Dan sekarang Adam akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kamu... mau pilih ruang dimana, Zuena?”
Ahtar nampak ragu untuk menanyakan hal tersebut, karena Ahtar tidak tahu bagaimana kehidupan sehari-hari yang dijalani Zuena dan Adam. Bahkan tempat tinggal saja Ahtar tidak tahu.
“Pindahkan saja ke ruang VIP, Dok. Saya akan membayarnya sekarang.” Tanpa disadari Zuena sudah membuat Ahtar merasa bingung.
“Kamu... yakin, Zuena? Maksud saya... Saya tidak tahu bagaimana kehidupan kamu bersama Adam, tapi... jika kamu membutuhkan bantuan masalah biaya saya siap membantu sebisa saya.” Ahtar berusaha menjaga perasaan Zuena agar tidak tersinggung.
Deg...
‘Bagaimana aku bisa lupa jika aku dalam masa penyamaran? Tapi... aku tidak mau jika Adam terganggu istirahatnya nanti. Mungkin... ini memang saatnya Ahtar tahu tentang diriku.’ Zuena bermonolog dalam hati.
“Saya sanggup membiayainya kok, Dok. Sebelumnya terimakasih atas tawaran Dokter Ahtar, tapi... saya bisa melakukannya sendir.” Zuena menyeka sisa air matanya setekah itu berjalan menuju ke bagian administrasi.
Ahtar hanya menatao punggung Zuena hingga tidak terlihat lagi, karena ia harus melupakan sejenak perasaan yang mendebarkan jiwanya saat berada di dekat Zuena. Dan untuk mengalihkan pikirannya Ahtar kembali meminta perawat segera memindahkan Adam ke ruang VIP agar istirahat Adam tidak terganggu.
“Terimakasih, Suster!”
“Ok, Dok. Kalau begitu kami permisi dulu,” ucap suster Almira.
Suster Almira pun pergi meninggalkan Ahtar yang masih memeriksa selang infus dan beberapa alat lainnya.
“Bang, Hafizha sudah ngantuk. Tapi... Hafizha penasaran dengan kak Zuena. Sebenarnya siapa Dia ya, Bang?”
Seketika Ahtar menghentikan aktivitas nya lalu menatap Hafizha yang ada di belakang. Tatapan Ahtar menajam, menelisik wajah Hafizha yang masih di penuhi dengan rasa penasaran.
“Ingat pesan Abi, tidak boleh memikirkan kehidupan orang lain. Ya sudah, kalau kamu mengantuk kita pulang saja.”
“Ahtar, bagaimana dengan Zuena jika kita pulang? Terus bagaimana jika Bunda marah karena meninggalkan Zuena sendiri di sini?” sambung Arjuna yang masih berada di sana.
Ahtar terdiam dan ia nampak berpikir, tetapi keputusannya akan tetap sama. Di mana Ahta akan membiarkan Zuena sendiri menjaga Adam di rumah sakit, karena menemaninya bukanlah kewajibannya saat ini.
“Kamu memang benar, Ahtar. Ya sudah kita tunggu sampai Zuena kembali saja, setelah itu kita pamitan kepadanya.”
__ADS_1
Ahtar dan Hafizha menagngguk, mereka menyetujui keputusan Arjuna sebagai kakak tertua.
Zuena pun masuk ke dalam ruangan, Arjuna segera mengucapkan pamitan kepada Zuena. Karena malam yang sudah semakin melarut, membuat Arjuna, Hafizha dan Ahtar sangat mengantuk.
“Tidak apa-apa kok, kalian bisa pulang. Sebelumnya saya mengucapkan rasa terimakasih saya karena kalian sudah ikut mengantarkan Adam ke rumah sakit. Dan untuk... Dokter Ahtar, terimakasih banyak sudah menyelamatkan Adam dari bahaya itu.” Zuena mengulas senyum.
Dug... Dug... Dug...
Ingin rasanya jantung Ahtra mencolos beguyu saja saat netranya menatap senyum yang begitu indah. Membuat perasaan cinta kian melekat di hatinya, bahkan Ahtar terbuai dan tak ingin melangkahkan kakinya untuk pergi menjauh dari hadapan Zuena. Namun, Ahtar segera menepi akan segala rasa yang indah agar tidak terjebak dalam zina.
“Sama-sama, lagipula itu sudah menjadi tugas saya sebagai Dokter. Jadi, kamu. tidak perlu berterimakasih.” Ahtar mengudatakan suaranya begitu datar.
‘Kenapa sih dengan Ahtar? Dingin sekali, katanya aku ini wanita pilihan hatinya, tapi kenapa Dia tidak mau tetap tinggal disini menemaniku coba,’ ucap Zuena dalam hati.
Meskipun dengan rasa kesal Zuena tetap membiarkan Ahtar pergi bersama Arjuna dan Hafizha.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Karena kita baru sampai dan waktu subuh akan tiba bagaimana kalau kita mencari masjid terdekat saja?”
Yulian, Tristan, Arumi dan Humaura akhirnya sampai juga di Bandar Udara Internasional Rafik Hariri setelah beberapa jam melakukan penerbangan. Dan saat ini Yulian beserta rombongan tiba di kota Beirut, Ibu kota Lebanon yang akan dijadikan tempat dalam membangun bisnis bersama salah satu CEO besar di sana.
“Ok, baiklah! Tapi... dimana masjid yang dekat dari sini?”
“Bagaimana kalau kita ke... Mohammad Al-Amin Mosque? Bukankah di sana kita bisa beribadah dan sekaligus masjid itu tidak jauh dari hotel The Smallville,” celetuk Arumi.
Yulian dan Tristan manggut-manggut, lalu mengiyakan usul dari Arumi. Setelah itu mereka ke sisi jalan raya untuk mencari kendaraan taxi yang akan mengantarkan mereka ke masjid Mohammad Al-Amin.
Sebuah taxi sudah siap untuk melaju setelah semua barang milik Tristan dan Yulian diletakkan di bagian bagasi. Dengan menggunakan bahasa Arab Yulian memberikan pengarahan kepada sang sopir. Bahkan saat perjalanan menuju ke masjid Mohammad Al-Amin obrolan terus menemani mereka. Hingga tanpa disadari mereka pun sudah sampai tepat adzan subuh dikumandangkan.
“Terimakasih,” ucap Yulian.
“Sama-sama, Pak.” Sopir itu mengangguk.
Yulian meletakkan tas ransel nya ke sisi tembok, lalu ia mengambil air wudhu hendak ikut sholat subuh berjamaah di masjid tersebut. Begitu halnya dengan Tristan, Arumi dan Humaira.
Yulian dan Tristan berada dibarisan bagian laki-laki, sedangkan Arumi dan Humaira berada di sisi kanan yang batasi dengan tembok. Dan dua rakaat pun telah ditunaikan dengan khusu', sholat oun akan diakhiri dengan bacaan assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh sebagai salam. Lalu dilanjut dengan bacaan dzikir di pagi hari.
“Ya sudah sekarang kita lanjut saja ke hotel The Smallville. Kita... naik itu saja.” Yulian menghentikan taxi yang melintas di depannya.
Taxi itupun berhenti, lalu sopir taxi itupun membantu Yulian untuk memasukkan beberapa barang milik mereka ke bagasi. Setelah siap, sopir taxi pun melajukan mobil taxi dengan kecepatan sedang, karena jarak menuju ke hotel The Smallville tidaklah jauh.
Saat berada di dalam taxi Yulian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, lalu menyalakannya untuk memastikan jika saja ada pesan ataupun telepon dari orang rumah terutama Khadijah.
“Astaghfirullahalazim...” pekik Yulian.
Yulian terkejut melihat banyaknya pesan masuk dari Khadijah dan juga Ahtar, di mana keduanya sama-sama memberitahukan jika Adam jatuh sakit dan masuk ke rumah sakit, bahkan Ahtar juga memberitahu jika Adam baru saja menjalani operasi jantung.
“Ada apa, Yulian?” tanya Tristan.
“Ternyata setelah kita melakukan penerbangan... Adam pingsan bahkan sempat menjalani operasi jantung beberapa jam lalu.” Yulian memebeikanmu keterangan yang ada sesuai pesan dari Ahtar.
“Astaghfirullahalazim... Ya Allah,” ucap Arumi dan Humaira bersamaan.
“Lalu bagaimana keadaan Adam sekarang?”
“Operasinya berjalan dengan lancar, sekarang menjalani perawatan di ruang inap.”
“Kita doakan saja semoga Adam segera diberikan kesembuhan. Karena kita tidak mungkin kembali ke Edinburgh, sedangkan pertemuan dengan Mr. Bara tinggal empat jam lagi.”
“Iya, kamu benar. Kita tidak mungkin membatalkan pertemuan penting ini, karena itu akan berakibat fatal dengan perusahaan kita.”
Mobil taxi telah berhenti setelah memasuki halaman depan hotel The Smallville. Yulian dan Tristan mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam bagasi. Setelah itu mereka masuk ke hotel hendak melakukan chek in agar segera beristirahat, melepas rasa lelah setelah duduk beberapa jam di dalam pesawat.
“Kamar kita berdampingan. Jika kamu Tristan, membutuhkan sesuatu bisa datang ke kamarku.” Yulian membuka pintu dan masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah masuk Yulian segera menyambar gelas dan mengisinya dengan air putih yang sudah disediakan di hotel itu. Karena Yulian merasa begitu haus setelah beberapa jam berada di badan pesawat.
“Assalamu'alaikum, Neng.” Yulian menghubungi Khadijah yang masih sibuk di dapur.
“Waalaikumsalam, Hubby. Bagaimana, sudah sampai di kota Beirut nya?”
“Alhamdulillah, sudah Neng. Dan sekarang lagi istirahat di hotel The Smallville, capek dan ngantuk rasanya.” Yulian berkeluh kesah kepada Khadijah karena merasa lelah.
“Kasihan sekali Hubby, ya sudah kalau capek tidur sebentar gih! Dan semoga... lelah Hubby menjadi lillah untuk semua keluarga.”
“Aamiin...” Yulian mengulas senyum, dalam hatinya berdecak kagum dengan Khadijah yang tak pernah surut mendoakan kebaikan untuknya.
Obrolan diakhiri dengan mengucap salam. Dan setelah mengakhiri obrolan dengan Khadijah bukan berarti Yulian akan mengambil waktu untuk tidur, justru Yulian akan menghilangkan rasa lelah dan kantuknya dengan mengambil waktu berendam di air dingin.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit saja, karena Yulian tidak menyukai jika akan berlama-lama di dalam sana. Setelah merasa tubuhnya segar kembali Yulian berpakaian rapi dengan celana hitam, kemeja putih dan jas hitam. Sebagai pelengkap tak lupa Yulian memakai dasi, ikat pinggang dan juga sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap.
“Aku rasa sudah siap! Laptop sudah charger, handphone juga sudah dan berkas juga sudah aku bawa semuanya. Sekarang tinggal menemui Tristan.”
Yulian menuju ke kamar Tristan dengan membawa tas kantornya yang sudah diisi dengan laptop dan beberapa lembar kertas yang diletakkan di dalam sebuah map. Sehingga tas kantor berwarna hitam milik Yulian terlihat begitu membesar dengan beberapa barang penting di dalamnya.
“Tristan, apa kamu sudah siap?” tanya Yulian saat menghampiri Tristan di kamar sebelah.
“Iya, aku sudah siap!”
“Bagaimana dengan Arumi dan Humaira? Apa kau tak mengajaknya makan di Liza Restoran?”
“Diam kau, Yulian! Apa kau lupa jika Mr. Bara akan mengajak asistennya yang cantik dan aduhai itu? Kalau aku mengajak Arumi dan Humaira namanya itu aku cari... mati.”
Yulian memang benar-benar lupa jika Mr. Bara selalu membawa asistennya yang bernama Arabella. Wanita yang kerap dipanggil Bella itu masih single, banyak kaum lelaki mengantri karena ingin mendapatkan Bella. Akan tetapi Bella adalah wanita pemilih, bukan lelaki biasa yang bisa memiliki hati dan dirinya itu.
Tristan dan Yulian segera berangkat setelah Arumi dan Humaira menyalami Tristan. Dan mobil yang sengaja dikirim oleh Mr. Bara untuk menjemput Yulian dan Tristan seketika melaju dengan kecepatan sedang. Karena jarak pertemuan mereka tidak terlalu jauh, hanya empat kilo meter saja.
“Itu lihat! Bella begitu cantik, bahkan body nya saja aduhai begitu. Jelas tidak ada lelaki yang tidak menginginkannya. Benar kan, Yulian.” Tristan terus menatap Bella dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
“Astaghfirullahalazim... Tristan, tolong jaga pandangan kamu itu! Ingatlah sama anak dan istri kamu di rumah, begitu juga ingat anak gadismu yang siap untuk menjadi seorang pengantin,” ujar Yulian dengan segala kewarasannya.
Tristan hanya tertawa saja, meskipun dalam. hatinya ia memikirkan Humaira yang tengah merasakan pilu dengan kisah asmaranya_yang begitu ngenes.
Yulian, Tristan dan Mr. Bara saling bersalaman, sedangkan kepada Bella Yulian menangkup kan kedua tangannya untuk menghormati Bella sebagai seorang wanita. Begitu juga dengan Tristan yang melakukan hal sama.
“Baiklah, kalau begitu kita bisa memulainya dengan membahas properti baru yang pak Yulian dan pak Tristan ajukan kepada saya.”
“Iya, Mr. Bara... kita akan memberikan beberapa lembaran foto kepada Anda, supaya Anda bisa memilih properti apa yang bisa dijadikan contoh bagi perusahaan Anda.” Yulian menyodorkan beberapa lembar foto tentang properti yang dihasilkan perusahaannya itu.
Mr. Bara pun mengangguk, setiap lembaran yang sudah dibawa Yulian dibuka satu persatu dan Mr. Bara pun memilihnya.
“Bella, bagaimana jika kita beli saja yang ini? Coba kamu lihat betul gambar ini.”
“Baiklah, Pak.”
Bella hanya mengangguk saja setelah keputusan sudah di ambil. Dan Mr. Bara menjatuhkan pilihannya pada gambar perumahan yang dibangun dengan beberapa model.
“Baiklah sepertinya kita sudahi saja dalam pertemuan kita pagi ini. Dan tidak terasa hari sudah berganti siang ternyata. Bagaimana jika... sekalian kita makan siang bersama disini?”
“Iya, Pak. Boleh.”
Disaat makan siang masih menemani mereka, tanpa disadari dari jauh ada yang mengambil potret keempat orang yang berada di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ting... Ting... Ting...
Dua pesan masuk begitu saja ke ponsel Khadijah. Seketika mata Khdijah membulat setelah melihat gambar yang berada di lonselnya itu.
Bersambung.
__ADS_1