Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 83 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Khadijah sudah selesai memandikan Abizzar, mendandani Abizzar seganteng mungkin, memakai baju yang bergambar hewan dengan wewangian ala aroma minyak telon dan lainnya, membuat Abizzar menjadi pusat perhatian mereka semua. Dan Garda juga tidak kalah gantengnya dengan Abizzar.


Saat acara sarapan bersama akan dilangsungkan Abizzar dan Garda bermain terlebih dahulu dengan bik Inem. Dan yang lainnya mengambil duduk seperti tempat biasa mereka duduk.


Cukup lima belas menit acara sarapan bersama dilangsungkan. Setelah itu seluruh anggota keluarga dan Abdullah serta juga bik Inem berkumpul di ruang keluarga. Banyak topik yang dijadikan obrolan ringan saat mereka berkumpul bersama, karena hari itu hari minggu. Sehingga Arjuna, Ahtar, Yulian maupun Hafizha tidak sedang bekerja dan sekolah.


Salah satu topik yang membuat mereka tertawa tak lain adalah tentang jodoh Ahtar yang tidak kunjung tiba.


“Ahtar, kapan kamu memiliki rencana untuk menikah?” tanya Yulian mengawali obrolan tentang pernikahan.


Ahtar yang kebetulan sedang makan cilok buatannya seketika tersedak. Tidak pernah Ahtar mengira jika Yulian akan mempertanyakan hal itu kepadanya. Dan sedangkan ia pun tidak pernah merencanakan pernikahan dengan siapapun.


”Minum dulu, Ahtar.” Khadijha memberikan segelas air putih kepada Ahtar.


“Abi, kenapa bertanya seperti itu sih? Tidak ada topik lain apa?” tanya Ahtar sesudah menghabiskan segelas air putih.


“Tidak. Untuk saat ini mungkin sudah waktunya kamu memikirkan tentang pernikahan. Dan sekalian, mumpung kita tengah berkumpul kita bisa membicarakan hal seperti ini. Siapa tahu saja kamu sudah punya pandangan siapa wanita itu. Agar kita segera mengajukan khitbah atau ta'aruf terlebih dahulu. Dan niat baik itu harus segera dilakukan, tidak baik untuk menundanya.”


“Mungkin memang benar apa yang dikatakan Abi, tapi Ahtar sendiri saja tidak punya pandangan tentang wanita. Pandangan Ahtar cuma satu, wanita sholehah yang sudah di takdirkan Allah untuk Ahtar. Jika belum tiba saat ini, mungkin esok atau... entah kapan.” Ahtar begitu santai dan acuh, tidak menunjukkan bahwa wanita pas untuknya adalah Humaira.


Humaira yang duduk di dekat Hafizha, tepat di depan Ahtar tengah menyimpan rasa malu. Bukan bermaksud apapun, hanya saja ia menyimpan cinta dan berharap Ahtar menjadi suaminya suatu hari kelak jika takdir memihak keinginannya itu.


“Lalu... apa usahamu untuk memikat wanita agar jodohmu datang, Ahtar, hmm?”


“Abi... kenapa harus memikat wanita segala?” tanya Hafizha.

__ADS_1


“Ahtar tidak perlu memikat wanita mana pun. Hanya satu usaha Ahtar untuk mendatangkan jodoh... jalur langit. Sholat tahajud dengan penuh cinta kepada Allah, InsyaAllah Allah akan mendatangkan jodoh yang tepat untuk Ahtar.” Ahtar yakin dengan takdir Allah yang tidak akan pernah salah.


Obrolan masih berlanjut, tetapi tidak dengan hadirnya Ahtar dan Hafizha. Karena Ahtar dan Hafizha sudah meminta ijin kepada Yulian dan Khadijha untuk pergi bersama hanya ingin mengisi hari libur. Dan Yulian tahu bagaimana dan seperti apa kedekatan di antara mereka, sehingga tidak mempermasalahkan akan hal itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bang Ahtar, apa bang Ahtar marah saat Abi bertanya seperti tadi?” tanya Hafizha penasaran.


“Tidak. Abang hanya... percaya saja jika jodoh kita itu ada tapi, tidak tahu kapan akan berjumpa. Dan Abi juga tidak bisa memaksa Abang untuk menikah, karena Abi sayang sama Abang.” Ahtar mengusap puncak kepala Hafizha yang tertutup tudungnya.


“Lalu... apa bang Ahtar punya gambaran atau keinginan bagaimana calon istri Abang nanti?”


Hening...


Ahtar memikirkan beberapa kali seorang tentang wanita yang masuk ke alam mimpinya.


Hafizha hanya tersenyum, meskipun ia tidak mengetahui bagaimana Aisyah, tetapi ia merasakan kebaikan yang ada pada Aisyah. Sedangkan Khadijah, Hafizha merasa begitu nyaman saat berada di dekatnya. Dan kenyamanan itu tak ingin hilang, sesekali Hafizha masih ingin dimanja oleh Khadijah jika Khadijah tidak sedang menyusui Abizzar.


Motor Ahtar berhenti setelah tiba di tempat tujuannya. Suasana tempat itu nampak ramai, banyak kalangan anak muda berkunjung di salah satu tempat musik di Skotlandia. Dan hari itu ada pemain biola terkenal yang hendak memainkan biolanya sebagai acara pembukaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Abi, Juna rasa dek Ahtar masih muda. Pantas saja jika Dia masih ingin bebas, toh selama ini kita pun juga tahu tindakannya tidak neko-neko. Begitu menjaga hati dan pandangannya terhadap wanita.”


“Kamu benar, Abi hanya ingin menguji lagi sekuat apa iman yang tertanam dalam dirinya. Dan ia masih berpegang teguh tentang takdir Tuhan yang sudah pasti ada.”

__ADS_1


“Ya sudah, kamu jangan terlalu memikirkan hal ini. Abi juga tidak ingin terlalu memikirkan nya, sekarang Abi mau keluar sebentar.” Yulian menepuk pelan pundak Arjuna.


Yulian pun pergi, hanya ingin sekedar mencari angin di siang hari. Meskipun cahaya matahari sudah meninggi tetapi rasa dingin masih menerpa tubuh. Sehingga membuat Yulian harus menggunakan jaket tebal saat keluar dari rumah.


“Bun, nanti siang bagaimana kalau kita makan di luar? Mumpung hari minggu, semua sedang libur. Nanti kita tinggal hubungi saja Ahtar dan Hafizha untuk langsung menuju ke tempat yang kita pilih.”


“Boleh, Cahaya. Ide yang bagus, karena besok lusa InsyaAllah Abi dan Bunda akan berangkat ke Medan.”


Khadijah mencari keberadaan Yulian, tetapi setelah mengelilingi seisi rumah Khadijah tidak mendapatkan keberadaan Yulian yang entah di mana.


Khadijah segera mencari Yulian ke luar setelha Arjuna mengatakan kepadanya jika Yulian tengah keluar tetapi tidak dengan kendaraannya. Sepasang mata Aletha hilir mudik, mencari kebaradaan Yulian yang belum ia temukan.


“Nah, itu Dia.” Hati Khadijah merasa lega saat melihat Yulian tengah berdiri di taman yang tidak jauh dari rumahnya.


Khadijah sedikit berlari tetapi seketika menghentikan langkahnya saat melihat Alex di ujung jalan.


“Tidak.Tidak mungkin Papa ada di sekitar sini. Bagaimana jika Papa sudah tahu tentang Yulian dan aku, serta keluargaku.” Khadijah menatap tajam Alex dengan air mata yang menggenang di pelupuk.


Hal itu membuat Khadijah mengurungkan niatnya untuk menghampiri Yulian, tetapi belum sempat ia kembali memutar arah Yulian sudah memanggilnya dan melambaikan tangan kepadanya. Bahkan Yulian meminta Khadijah untuk menemuinya di taman itu.


“Bagaimana ini Ya Allah? Papa tidak boleh tahu jika itu Yulian dan ini aku. Dan aku... aku harus memenuhi panggilan Yulian.”


Khadijah mengurungkan niatnya untuk memutar arah, dan kini Khadijah melanjutkan langkahnya menuju di mana Yulian berdiri di taman itu.


Ingin rasanya Khadijah abai dan tidak berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Alex di depannya. Tetapi...

__ADS_1


“Bruak...”


__ADS_2