Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 85 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Pegangan yang erat saat berada diboncengan Abang, Dek. Karena Abang akan sedikit kebut agar segera sampai di rumah sakit.” Ahtar menlingkarkan kedua lengan Hafizha dan meminta Hafizha untuk mengeratkan pegangannya.


Hafizha mengangguk, memegang erat baju hem yang dipakai Ahtar saat itu. Dan di sepanjang jalan Hafizha tak hentinya menangis.


‘Rasanya tidak enak sekali, Ya Allah. hamba merasa hampa saat mendapatkan kabar ini. Hamba mohon kepadaMu Ya Allah, selamatkanlah Bunda Khadijah.’ Hafizha bermonolog dalam hati.


Ahtar benar-benar menekan pedal gas hingga kecepatan yang sudah ditempuh sudah melebihi kapasitas, berada di angka delapan puluh lebih. Membuat Hafizha mengeratkan pegangannya, karena Hafizha merasa takut dengan kecepatan yang amat tinggi.


“Bunda...”


Hafizha separuh berlari saat masuk ke. rumah sakit, lalu diikuti oleh Ahtar setelah usai memarkirkan motornya. Karena Ahtar adalah seorang dokter, ia segera menuju ke ruangannya untuk mengambil snelinya di sana.


Sneli bertuliskan nama dokter Ahtar ahli bedah jantung disambar begitu saja saat berada di gantungan. Dengan segera Ahtar mengenakan sneli itu lalu bertugas di ruang UGD.

__ADS_1


“Abi,” ucap Ahtar lirih.


Yulian hanya mengangguk saat melihat Ahtar yang seakan meminta ijin kepadanya saat hendak masuk ke dalam ruangan. Dan ketika melihat Hafizha menangis dalam rengkuhan Yulian, membuat Ahtar ikut merasakan pilu. Hingga Ahtar memutuskan untuk segera masuk dan memberi penangan medis darurat kepada Khadijah.


”Ya Allah, ijinkanlah hamba menyelamatkan Bunda Khadijah. Atas doa ku yang telah ku langit kan, dan atas kuasa-Mu aku ber pasrah diri.” Ahtar menunduk, hatinya tidak kuasa melihat darah yang terus keluar dari kepala Khadijah.


Dengan segela tenaga yang tersisa Ahtar melakukan penanganan itu, yang di dampingi oleh para perawat dan beberapa dokter lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Tapi... Izha takut, Abi. Hiks... Hiks... Hiks...”


“Hust, Jangan pernah merasa takut dengan apapun kecuali Allah SWT. Jika Hafizha sayang Bunda maka... sebaiknya kita perbanyak doa saja. Karena Allah SWT akan mempermudahkan segala urusan kita ketika kita benar-benar melangitkan doa dengan memohon penuh ampunan.” Yulian membelai rambut Hafizha yang tertutupi dengan tudungnya.

__ADS_1


“Baiklah, Abi. Kalau begitu Izha mau ke mushola sebentar.”


Yulian mengangguk, lalu membiarkan Hafizha melangkah mencari tempat untuk menenangkan hati dan pikiran yang tengah merasa kegundahan teramat dalam. Gelisah dan rasa takut seolah sukses baradu menjadi satu.


“Ya Allah... selamatkan lah Bunda Khadijah. Aku memohon hanya kepadamu, karena Engkau adalah segala maha yang mampu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.”


Aletha menengadahkan kedua tangannya lalu mengaminkan doa yang sudah dilangitkan dari lubuk hatinya. Setelah itu dilanjut membaca mushaf sebentar sebelum kembali ke ruang UGD.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ya Allah, hamba memohon hanya kepadamu. Kembali hamba dihadapkan lagi dengan keadaan istri hamba yang seperti ini. Terancam nyawa dan membuat kami harus siap merasakan kehilangan jika saja Engkau akan mengambilnya dari hidup hamba. Hiks... Hiks...”


Yulian tidak tahu bagaimana cara menghentikan air matanya agar tidak jatuh terus menerus, bagaikan air sungai yang mengalir begitu deras. Hatinya kembali merasa rapuh setelah tiga tahun setengah pernah dihadapkan hal seperti itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2