Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 81 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Tok... tok... tok...” Suara pintu telah diketuk.


Hafizha yang memang masih terjaga dengan binar mata yang sangat terang, seketika membuka pintu kamarnya setelah mendengar ketukan dari luar. Namun, setelah membuka pintu Hafizha tidak mendapati seorang pun yang sudah mengetuk pintu kamarnya tadi.


“Kok tidak ada orang sih? Terus siapa yang sudah mengetuk pintunya tadi?”


Hafizha menyapu setiap sisi, siapa tahu saja ia menemukan orang yang sudah mengetuk pintu kamarnya. Namun nihil, Hafizha tifak mendapatkan apapun hanya saja secarik kertas yang dituliskan tinta hitam di atasnya telah berada di bawah ia berdiri saat itu. Karena merasa penasaran Hafizha segera mengambil secarik kertas itu untuk membaca isi dari surat itu.


[Hafizha, ini bang Ahtar. Tadinya mau mengirim pesan kepadamu lewat ponsel, tapi sayangnya... baterainya habis. Jadi ini satu-satunya cara Abang mengirim pesan kepadamu. Abang cuma mau besok kan hari minggu, mau tak temani Abang ke suatu tempat? Di jamin akan membuatmu senang.]


Hafizha tertawa tanpa suara, karena ia tidak mau jika Yulian maupun yang lain mendengar tawanya yang memekik telinga. Bisa jadi Abizzar maupun Garda seketika akan terbangun dari tidurnya.


Dengan segera Hafizha memberi balasan dari surat Ahtar.


[Baiklah, Izha akan menemani bang Ahtar. Tapi dengan satu syarat, minta dibuatin cilok lagi ya! Soalnya ciloknya enak.]


Hafizha mengetuk pintu kamar Ahtar, lalu memberikan surat yang ada dalam genggaman tangan nya sebagai balasan surat Ahtar. Dan setelah memberikan surat balasan untuk surat Ahtar, Hafizha segera kembali ke kamarnya. Meskipun esok hari libur sekolah, karena hari minggu tetapi Hafizha tidak boleh bangun telat bahkan terbangun setelah mentari pagi menyingsing. Sehingga kini ia memutuskan untuk segera memejamkan mata, tetapi sebelumnya ia selalu membaca beberapa surat sebelum lekas tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ingin sekali Hubby mengajakmu sholat tahajud bersama, Neng. Tapi... kamu tidurnya pulas. Membuat Hubby mu ini merasa tidak tega jika harus membangunkanmu. Sedangkan membuatmu tertidur saja... susah. Harus berdongeng terlebih dahulu bagaikan anak kecil saja.” Yulian membentangkan sajadah nya untuk menunaikan sholat sunah tahajud.


“Ya Allah... kembali aku menghadap-Mu dalam setiap sujudku. Dan melalui sholat sunah tahajud ini aku merasa begitu dekat dengan-Mu. Dan aku juga merasakan cintaku semakin besar kepada-Mu, semoga tahajud penuh cinta ini terus menuntunku untuk selalu merasakan kehadiran-Mu dalam setiap malamku. Aamiin.”


Setelah melangitkan do'a Yulian melanjutkan membaca mushaf dengan suara pelan, tetapi masih terdengar oleh malaikat.


Suara Yulian yang syahdu membuat Khadijah beringsut, mengerjapkan mata lalu akhirnya terbangun. Khadijah duduk untuk memastikan suara merdu siapa yang tengah membaca ayat-ayat suci Al-Quran di sepertiga malam.


‘Mashaa Allah, suaranya mendamaikan hati yang mendengar. Merdu sekali suara kamu, Hubby.’ Khadijah berdecak kagum dalam hati.

__ADS_1


Setelah lima belas menit telah berlaku Yulian mengakhiri bacaannya. Dan ia merasa malu saat mendapati Khadijah yang terbangun dengan senyuman menggoda imannya.


Khadijah beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah Yulian yang berdiri di depan kaca almari untuk berganti pakaian.


“Hubby, kenapa tidak bangunkan Neng jika mau sholat tahajud?” protes Khadijah setengah merajuk.


“Neng, Hubby tidak tega jika membangunkan Neng tadi. Habisnya pules banget tidurnya.” Yulian merengkuh jemari Khadijah.


“Ya sudah, kalau begitu Neng mau sholat sendiri saja.” Khadijah berjalan ke kamar mandi dan pergi begitu saja dari hadapan Yulian.


Yulian menghela nafas panjang, karena ia harus berusaha untuk melikuhkan hati Khadijah yang tengah merajuk hanya karena tidak dibangunkan untuk sholat tahajud.


Yulian sengaja tidak tidur setelah membaca mushaf, ia lebih memilih menunggu Khadijah seusai sholat tahajud. Dan ketika sudah selesai Yulian mengambil air wudhu lagi.


“Neng masih menjaga wudhu, kan? Kalau masih, sini kita baca mushaf bersama.” Yulian membawakan dua kita Al-Quran.


Yulian meminta Khadijah untuk membaca terlebih dahulu, sedangkan Yulian menyimak jika saja ada yang salah dalam bacaan Khadijah.


“Dug... Dug... Dug...” Suara jantung Khadijah yang berdetak lebih cepat.


‘Ya Allah, ini baru kali pertama aku membaca ayat-Mu di hadapan suamiku. Semoga saja bacaannya benar,’ batin Khadijah.


Yulian meminta Khadijah untuk membaca surat Ak-Waqiah, karena itu adalah surat yang dianjurkan dibaca setelah menunaikan sholat tahajud. Karena surat Ak-Waqiah adalah surat yang mampu melenyapkan kemiskinan dan mendatangkan rejeki bagi pembacanya, yang terdiri dari 96 ayat.


Sesekali Yulian membenarkan bacaan Khadijah, serta memberikan contoh bagaimana seharusnya surat itu dibaca sesuai dengan tanda bacanya. Panjang dan pendek serta makhraj nya harus benar.


“Alhamdulillah, akhirnya sudah selesai. Hubby bangga sama Neng, bacaannya benar meskipun sesekali ada yang salah. Tapi tidak apa-apa, yang namanya juga belajar tidak langsung bisa dan mengerti.” Yulian dengan lembut menjelaskan semuanya kepada Khadijah.


“Emm... bolehkah jika Neng bertanya?”

__ADS_1


“Silahkan, selama Hubby bisa menjawab.” Yulian mengangguk.


“Apa Hubby adalah ahli dalam agama?”


Yulian terkekeh setelah mendengar pertanyaan Khadijah. Dan ia tidak menyangka mendapatkan pertanyaan yang begitu menohok dari Khadijah.


“Hubby bukan ahli dalam beragama dan Hubby juga bukanlah ahli dalam surga. Bahkan dulu Hubby ... lelaki yang begajulan. Namun, seiringnya waktu Hubby mau belajar agama lebih dalam setelah melihat Aisyah menutup lekuk tubuhnya dengan gamis panjang, menutup rambut dan dadanya dengan jilbab yang menjuntai.” Yulian menyunggingkan senyum.


Cerita itu membuat Khadijah merasa tertarik untuk mendengarnya. Sehingga ia meminta Yulian untuk menceritakan kisah cinta pertama kali bertemu Aisyah hingga bersatu dalam ikatan yang suci.


‘Tuh kan, haruskah aku membacakan kisahku? Seperti dongeng saja baginya, Ya Allah Gusti...’ Yulian bermonolog dalam hati.


“Tapi Neng, ini sudah pukul setengah tiga. Lebih baik kita segera tidur saja ya, daripada besok bangunnya telat dan tertinggal sholat subuh.” Yulian merayu Khadijah.


“Tapi Hubby, Neng penasaran loh! Bahkan sampai puncak ubun-ubun rasa penasaran Neng. Masa iya ditunda.” Khadijah mengerucutkan bibirnya.


“Neng... apa Neng tidak merasa cemburu jika Hubby menceritakan kisah cinta Hubby dengan Aisyah?” tanya Yulian seraya manoel janggut Khadijah.


Khadijah terdiam.


Hening...


Yulian membiarkan Khadijah duduk sendirian yang masih berbalut mukena. Sedangkan ia sendiri sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena Yulian ingin menghindar dari Khadijah yah meminta hal aneh, sedangkan Yulian tidak ingin jika saja Khadijah merasa cemburu dengan Aisyah. Meskipun pada kenyataannya ia sendiri belum sepenuhnya melupakan sosok Aisyah wanita yang amat dicintainya. Dan selain menghindar dari Khadijah ,Yulian juga merasa kantuk.


“Yah, kok malah sudah tidur. Mana mendengkur lagi tidurnya, dasar.” Khadijah merasa kecewa saja dengan Yulian yang sudah tertidur pulas.


Dan akhirnya Khadijah memutuskan untuk menyusul Yulian yang sudah jauh lebih dulu memasuki alam mimpi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2