
Pagi pun telah menyapa, mentari pagi telah bersinar memberikan cahayanya untuk menyambut pagi kala itu. Khadijah yang sudah berkutat dengan alat tempur di dapur, akhirnya selesai juga. Dan tepat pada pukul 07.00 WIB Khadijah menghiasi meja makan dengan beberapa hasil masakannya bersama bik Irah dan juga bik Inem.
Pembaca masih ingat dengan bik Inem, kan? Pengasuh Hafizha dari kecil hingga sekarang. Dan saat ini ikut tinggal di Medan karena di Edinburgh sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa diikuti oleh bik Inem. Khadijah pun merasa tak tega jika membiarkan bik Inem mencari kerja di sana. Jadi, Khadijah meminta Alex untuk menjemput bik Inem. dengan. helikopter yang disewa.
“Bismillah...”
Arjuna memimpin doa sebelum makan. Setelahnya, acara sarapan pagi digelar dengan beberapa hidangan yang cukup mewah, mengantarkan perut yang sudah kosong dan meronta-ronta sedari tadi.
Cukup dua puluh menit mereka semua melakukan sarapan pagi bersama, dan setelah usai Arumi, Tristan dan Humaira, Abdullah dan juga anak anak serta istrinya bersiap hendak ke bandara Kualanamu, karena pagi itu mereka akan kembali ke kota Edinburgh.
“Kita antara dengan dua mobil. Karena kalau hanya satu mobil takutnya malah tidak muat. Jadi, Arjuna yang akan menyetir mobil di depan dan Ahtar mobil di belakang.” Khadijah bersuara memberikan titah.
“Yang di depan ada siapa saja nanti, Bun?” tanya Arjuna, ia takut jika saja nanti ada yang ketinggalan.
“_nanti di depan biar Om Tristan, tante Arumi dan Humaira,” sahut Tristan.
Dan Arjuna hanya ber‘oh’ ria saja. Sedangkan Ahtar melepas rasa lega yang sejenak sudah menyumpat di rongga dadanya.
‘Syukurlah! Aku tidak lagi bertemu dengan Humaira. Semoga saja Dia bisa mengerti dan melupakan semua yang terjadi semalam.’ Monolog Ahtar dalam hati.
Setelah semua masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian mobil pun dilakukan dengan kecepatan rata-rata. Pagi itu jalan raya di kota Medan sudah mulai ramai, tetapi untung saja tidak sampai terjebak kemacetan saat menuju ke bandara.
“Hafizha, kapan kamu berangkat ke Khairo?” tanya Khadijah di sela-sela keheningan.
“InsyaAllah setelah lebaran sekalian, Bun. Dan rencananya setelah dari sini nanti mampir dulu ya ke toko buku dan peralatan komputer. Izha mau beli keperluan itu disini sebelum berangkat ke Khairo. Boleh kan, Bun?”
“Kalau Bunda sih boleh saja, tapi tinggal tanya tuh sama bang Ahtar, bisa atau tidak?”
“Bagaimana Bang, bisa kan mengantar Izha ke dua tempat itu?”
“Emm, sepertinya tidak bisa Dek. Abang hari ini sudah harus masuk ke rumah sakit. Abang mulai kerja hari ini dan mulai pengenalan dengan semua dokter.” Ahtar memang sudah mulai masuk ke rumah sakit dan mulai bekerja di hari pertamanya.
“Yah, bagaimana dong?”
Kecewa? Ya, Hafizha memang merasa kecewa tetapi, hanya sedikit. Ia cukup mengerti kesibukan yang harus dijalani Ahtar setelah pindah ke rumah sakit di kota Medan. Apalagi sebagai dokter baru paling tidak Ahtar harus tahu dimana letak ruangannya dan juga yang pasti ruang operasi. Tidak mungkin juga kan, kalau seorang dokter tidak tahu dimana letak dua tempat yang akan sering dikunjungi Ahtar di sana.
“Tapi, Abang usahakan nanti pulang cepat. InsyaAllah, nanti hanya perkenalan saja sama mengelilingi rumah sakit untuk sekedar pengenalan.” Ahtar mengusap lembut puncak kepala Hafizha yang tertutup dengan jilbab panjang yang menjuntai, menutupi hingga dadanya.
Mendengar hal itu Hafizha merasa lega, sesibuk apapun Ahtar masih bisa menyempatkan diri untuk sekedar mengantarkan Hafizha sebelum adik kesayangannya menjalani kehidupan sendiri di Khairo nanti.
Tidak lama kemudian mknil Arjuna yang sudah melaju lebih dulu telah memasuki area parkir di bandara. Lalu disusul oleh mobil Ahtar, keduanya pun terparkir bersisihan. Sehingga mudah untuk menentukan titik temu perjumpaan sebelum perpisahan kembali terjadi.
Arjuna membantu Tristan membawa koper milik Arumi dan Humaira. Sedangkan Ahtar, ia membantu Abdullah membawa koper istri dan anak Abdullah.
“Khadijah, kamu hati-hati ya, disini! Jangan lupa sering kasih kabar nantinya,” ucap Arumi.
__ADS_1
“InsyaAllah, aku tidak akan lupa untuk selalu memberi kabar kepadamu, Arumi. Kamu juga hati-hati di sana. Jaga diri dan jaga kesehatan dengan baik, aku do'akan dari sini yang terbaik untukmu.” Khadijah melayangkan pelukan hangat kepada Arumi sebelum berpisah.
Arumi membalas pelukan itu, dan selanjutnya Khadiajh beralih ke Humaira yang berdiri di samping Arumi.
“Pesan Bunda cuma satu, jaga diri kamu baik-baik. Semoga Allah selalu memberikan jalan kemudahan dalam setiap hal yang kamu lakukan, Nak.” Khadijah juga melayangkan pelukan kepada Humaira.
Lalu, dilanjut ke istri Abdullah. Setelah itu para kaum lelaki hanya berjabat tangan. Dan tak lama kemudian mereka semua pun memasuki badan pesawat dan bersiap untuk melakukan penerbangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengantar Khadijah dan Hafizha pulang, Ahtar pun kembali melajukan mobil yang ia kendarai menuju ke rumah sakit RSUP H ADAM MALIK. Karena mulai hari itu Ahtar akan mengabdikan dirinya di rumah tersebut, khususnya dibagian poli jantung.
Berbeda lagi dengan Arjuna, ia tidak melanjutkan lagi sebagai dokter kandungan. Karena, ia harus melanjutkan dunia bisnis yang sudah dibangun oleh papa Adhi dan Yulian dulu. Siapa lagi kalau bukan Arjuna yang akan menggantikan posisi tersebut, jika tidak ada penerusnya ditakutkan akan terancam bangkrut. Sayang kan, jika itu terjadi.
“Kerja di kantornya mulai besok saja, jangan seperti Ahtar. Terlalu sibuk Dia,” ucap papa Adhi.
“Hahaha... harap maklum, Kek. Ahtar itu lagi butuh ... hiburan.”
“Bukan hiburan, bang Juna. Tapi... calon pendamping, kan, kak Zuena nya sudah pergi jauh menghilang entah kemana,” timpal Hafizha.
“Hust! Tidak baik membicarakan tentang Abang sendiri sayang, do'akan saja semoga bang Ahtar segera mendapatkan jodoh.” Khadijah menengahi obrolan tersebut.
“Ya sudahlah! Kita tunggu saja novel Ahtar dalam ‘jodoh dari Allah’, semoga penulisnya segera publish novel itu. Biar pembaca tahu siapa nanti yang akan menjadi jodoh Ahtar selamanya.”
Sabar ya guys, yang nulis lagi proses juga kok buat kisah Ahtar dengan novel yang berjudul ‘jodoh dari Allah’, dan novel ini akan segera tamat.
“Bunda, buatin cucu... adek mau dong!” rengek Abizzar yang sudah mulai bicara tetapi, masih belum terlalu jelas.
“Oh, anak Bunda mau minum susu, ya? Tunggu disini ya sama bang Juna, kak Cahaya, kak Hafizha dan kakek.” Khadijah mengusap kepala Abizzar dengan lembut.
“Baik, Bunda.” Abizzar mengangguk.
Hal itu membuat Khadijah merasa lucu, dengan tingkah laku yang aktif dari Abizzar lah Khadijah selalu tersenyum. Meskipun sesekali ia masih mengingat tentang Yulian, tetapi ia terus berusaha untuk ikhlas.
Namun, satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Khadijah yaitu, mencari kembali sosok pengganti Yulian. Hal itu tidak akan mudah bagi Khadijah setelah penantian nya terbayarkan saat Alkah mempertemukan kembali dengan Yulian.
“Nih sayang, susu nya diminum ya! Bunda mau ke dapur lagi.” Khadiajh menyodorkan satu gelas susu pada Abizzar.
Abizzar pun meminum susu formula tersebut sampai habis tak tersisa. Untung saja Abizzar tidak pernah bertanya tentang keberadaan Yulian yang baginya tiba-tiba menghilang. Karena Abizzar yang masih kecil, ia pun hanya mengingat dengan sosok yang saat ini terus mendampingi pertumbuhannya.
“Mas, kasihan Bunda ya! Aku yakin ini semua pasti berat untuk Bunda, tetapi kita tidak pernah menyangka jika Bunda bisa setegar ini menghadapi cobaan besar yang dihadapkan kepada keluarga kita.” Cahaya merasa iba dengan Khadijah yang sudah bernasib menjadi janda.
“Kamu benar, Dek. Dan kita sebagai anaknya harus bisa merengkuh Bunda agar Bunda tidak merasa sendirian.” Arjuna memeluk Cahaya dari arah samping.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Malamnya semua mempersiapkan untuk acara sholat tarawih bersama. Karena harus esok sudah mulai waktunya untuk menjalankan ibadah puasa ramadhan. Meskipun tahun ini berbeda, tapi Khadijah sebagai seorang ibu ingin membuat tahun ini menjadi sama seperti tahun kemaren.
“Bunda harap kalian bisa benar-benar ikhlas menerima kepergian Abi. Dan meskipun tahun ini kita tidak bisa berbuka bersama dengan keluarga yang lengkap, Bunda mohon kepada kalian semua untuk tetap menjalani dengan lapang dada.”
“Dan kalian harus ingat, perbanyak amal dan jangan pernah berhenti untuk tidak membaca mushaf meskipun hanya satu ayat saja. Sekaligus, jangan bolong sholat karena, saat kita sholat doa kita lebih dijabah sama Allah SWT. Dan satu lagi, jangan berhenti untuk mendoakan Abi agar tenang di sana.”
Khadijah memberi penuturan kepada anak-anak dan menantunya. Sebagai seorang ibu yang kini sudah tidak memiliki pendamping, Khadiajh tidak ingin kendor dalam mendidik, memberi pengarahan dan memberi kasih sayang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keluarga Atmajaya kini kembali menjalani aktivitas masing-masing, selama bulan ramadhan penuh dengan keberkahan mereka tak hentinya menebar kebaikan, sebagaimana Khadijah maupun Yulian saat dulu pernah mengajarkan hal itu kepada mereka.
Hampir setiap pagi Ahtar berangkat lebih awal, karena sudah hampir satu minggu bekerja di rumah sakit RSUP H ADAM MALIK, Ahtar mulai melakukan jadwal operasi pada jantung. Dan itu akan menyibukkan Ahtar di bulan penuh berkah ini.
“Dokter Ahtar, nanti ada jadwal operasi pada pukul 09.00 pagi.”
“Baik, Sus. Siapkan saja apa yang diperlukan.”
Ahtar dengan gagah nya mengenakan sneli yang selalu menempel di tubuhnya dan tak lupa stetoskop yang melingkar di lehernya.
Arjuna pun mulai bekerja di perusahaan PT. Atmajaya. Kesibukan dalam dunia bisnis akan selalu mengingatkan nya pada Yulian yang tidak pernah berhenti untuk selalu menjalin bisnis kepada siapapun itu selama progam kerjanya menghasilkan uang halal. Begitu pula dengan Arjuna yang menerapkan hal sama dalam dunia bisnisnya.
“Pak Arjuna, nanti ada pertemuan dengan perusahaan PT Alexa pukul 10.40 siang.” Asisten pribadi Arjuna pun memberitahu tentang jadwal pertemuan dengan perusahaan lain yang akan menjalankan bisnis dengan Arjuna.
“Iya, siapkan saja berkasnya.”
Dengan keramahan yang ada dalam diri Arjuna membuat karyawan dan karyawati di perusahaan miliknya mengagumi sifat tersebut.
Di lain tempat lagi Khadijah mulai membiasakan diri untuk mengurus Aisyah Galeri bersama Cahaya. Beberapa hari lalu Khadijah juga mengeluarkan produk terbaru di sana, hasil desain yang Cahaya kerjakan mampu membuat Aisyah Galeri semakin melonjak di kalangan remaja.
Sedangkan Hafizha, ia mendapatkan tugas untuk menjaga Abizzar di rumah bersama Garda, papa Adhi dan dua asisten rumah tangga di keluarga Atmajaya. Dan Alex sendiri sudah kembali ke kota Surabaya beberapa hari lalu. Sebelum pergi meninggalkan kota Medan Alex merasa was-was dengan Khadijah jika tidak bisa beraktivitas seperti biasa karena, akan sering ingat dengan Yulian. Tetapi, kenyataannya tidak. Khadiajh berusaha tetap tegar dan lapang dada dalam menerima cobaan tersebut.
...****************...
Notes :
Inilah kehidupan di dunia. Setelah kita terlahir dari rahim seorang ibu, di sanalah kita telah disambut oleh semesta dengan tawa yang menggema. Semesta juga akan menemani kita dalam setiap pertumbuhan yang aka berjalan dengan seiring waktu. Tetapi, dua hal yang tidak bisa kita ubah dengan mudah seperti saat kita membalikkan telapak tangan.
Yaitu, jodoh dan kematian. Dua hal yang kita nanti, tetapi rasa takut kehilangan pasti akan menemani saat kematian telah tiba. Dan rasa bahagia akan membuncah dada saat jodoh dari Allah telah tiba.
Wahai para pembaca, semoga kalian tetap berada dalam lindungan Tuhan di mana pun berada. Dan jangan jengah dengan setiap kata pada alur cerita di novel “Tahajud Cinta” ini. Semoga kita bisa memetik yang baik dari pesan tersirat_yang ada di novel ini. Dan semoga kita bisa mengamalkan yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Salam santun dari penulis ☺
🌹🌹
__ADS_1
SELESAI