
Arumi masuk ke dalam dan perlahan melangkahkan kakinya untuk mengambil duduk di kursi dekat dengan brankar itu. Lalu, dengan suara pelan Atumi mencoba menyapa Khadijah yang berbaring memunggunginya. Sehingga Khadijah tidak tahu bahwa ada Arumi yang berada di dekatnya.
”Assalamu'alaikum,”
”Wa'alaikumsalam.”
Somtak Khadijah terkejut mendengar suara seorang wanita yang berada di dalam ruangannya. Dan suara itu tidak asing baginya. Sehingga ia menjumpai Arumi yang berada di dekatnya.
---------
”Yulian, bagaimana jika informasi yang kamu dapatkan itu tadi salah? Yang berada di dalam bukanlah Khadijah, melainkan Khaira.”
”Tidak mungkin, Tristan. Aku yakin informasi yang kudapat itu benar. Khadijah maupun Khaira itu adalah satu wanita.” Arjuna dan Ahtar seketika terkejut.
”Tapi kenapa ... namanya berbeda? Apa tujuan bunda Khadijah mengubah namanya?” tanya Ahtar.
”Mungkin saja itu karena ... Aku dan Alex.” Ujar Yulian seraya menerka-nerka.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Ada rasa bahagia dalam Yulian jika benar wanita itu adalah Khadijah. Karena ia tidak akan bersusah payah untuk mencari kembali di mana Khadijah berada. Dan ia juga tidak akan merasakan uring-uringan dengan Ahtar maupun yang lainnya.
Sembari menunggu Arumi keluar dari dalam. ruangan Yulian mengajak Abdullah untuk makan malam di kantin rumah sakit. Karena memang sampai malam itu Yulian dan Abdullah belum sempat makan malam, sedangakn yang lainnya jelas mereka sudah memberi amunisi pada perut mereka.
”Abdullah, maafkan saya untuk malam ini. Makanlah apa adanya di kantin ini, agar kamu tidak merasa kelaparan.” Abdullah tersenyum sembari mengangguk.
Tidak lama kemudian seorang pelayan kantin mengantarkan pesanan mereka. Seperti biasa... sebelum melanjutkan makan mereka membaca basmalah dan doa sebelum makan. Setelah usai barulah mereka menikmati makanan sederhana yang tersaji di kantin. Yulian dan Abdullah terus menikmati makanan itu tanpa mendengarkan suara bising dari beberapa orang yang silih berganti berkunjung di sana.
Setelah beberapa menit kemudian Yulian dan Abdullah memutuskan untuk kembali bergabung dengan Tristan, Arjuna dan Ahtar. Dan saat mereka berjalan menelusuri lorong rumah sakit, pertanyaan yang dilontarkan Abdullah sukses membuat Yulian menghentikan langkahnya.
”Yulian, bagaimana jika wanita itu benar Khadijah? Apa yang akan kamu lakukan setelahnya?”
”E ... aku ... entahlah Abdullah! Yang aku pikirkan sekarang kesehatannya dan keamanannya. Karena bahaya akan kembali mengincar keberadaannya.” Abdullah manggut-manggut membenarkan perkataan Yulian.
Kembali mereka melanjutkan langkah untuk menuju ke ruangan Khadijah. Dan sesampai di sana Yulian mendapati Arumi yang sudah keluar dari dalam ruangan dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
’Ada apa dengan Arumi? Mungkinkah terjadi sesuatu kepada Khadijah?’ tanya Yulian dalam hati.
Seketika mereka menyambut kehadiran Yulian dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan itu membuat Yulian hanya memandangi mereka satu persatu, meminta penjelasan apa yang sedang terjadi. Sedangkan mereka tak kunjung memberikan penjelasan kepada Yulian, sehingga membuat Yulian merengsek masuk ke dalam ruangan untuk memastikan bagaimana keadaan Khadijah.
”Jeddar...”
”Deg...”
Suster yang berada di sana terkejut dengan kehadiran Yulian yang secara tiba-tiba. Bukan hanya suster saja yang merasa terkejut, bahkan Khadijah dan Yulian pun ikut terkejut. Karena mereka dipertemukan dalam keadaan yang tidak wajar dan tidak seharusnya.
”Maafkan saya! Saya tidak tahu kalau ... suster sedang membantunya mengenakan itu...”
Seketika Yulian membalikkan tubuhnya, ia merasa ragu untuk keluar dari ruangan tetapi akan mendapatkan malu. Sedangkan jika ia tetap berada di dalam maka Dia lah yang akan merasa malu. Sungguh Yulian merasa canggung harus berbuat apa, tidak bisa berkutik sedikitpun.
”Pak, saya sudah selesai membantu istri Bapak. Sekarang jika Anda ingin menemuinya sudah bisa. Kalau begitu saya permisi dulu!”
”E ... iya Sus, terima kasih!”
”Kemarilah! Aku sudah memakai cadarku. Tidak mungkinkan, kalau kamu akan keluar dan bertemu dengan mereka? Lagipula... kamu sedah terlanjur kepalang.” Sontak Yulian terkejut dengan apa yang dikatakan Khadijah.
Dengan rasa malu Yulian membalikkan tubuhnya lalu, berjalan pelan mendekati Khadijah. Khadijah sejenak tersenyum, meskipun tidak terlihat dengan jelas, tetapi matanya yang menyipit sudah sangat membuktikan bahwa Khadijah tengah tersenyum. Sedangkan Yulian, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
’Sungguh apes hari ini hamba, Ya Allah.” Yulian menggerutu dalam hati.
Demi terlihat ramah dan seolah baik-baik saja, Yulian ikut tersenyum membalas Khadijah. Lalu, ia mengambil duduk yang berada di samping Khadijah. Kembali Yulian merasa malu saat Khadijah melontarkan pertanyaan dengan begitu mudahnya.
”Kenapa kamu tadi masuk dengan terburu-buru seperti itu? Apa Arumi tidak memberitahu kamu kalau ada suster yang ingin mengganti bajuku?”
”Uhuk... uhuk...uhuk...”
Seketika Yulian tersedak karena mendengar hal yang membuatnya malu setengah mati.
”Kamu kenapa? Minumlah!”
__ADS_1
”Emm...”
Yulian meminum seteguk air putih yang diberikan Khadijah kepadanya. Dan kembali, Khadijah memberikan senyum yang merekah kepada Yulian.
’Masyaa Allah, kenapa. begitu cantik?’ batin Yulian.
”Hati-hati minumnya! Takut tersedak nanti lagi.”
’Astaghfirullah, aku memikirkan apa ini?’
Yulian menghentikan minumnya lalu mengembalikan ke atas nakas, setelah itu Yulian menetralkan apa yang membuat jantungnya berdebar hebat. Namun, ia tidak itu apa dan kenapa.
Sejenak Yulian memberanikan diri menatap Khadijah dengan jarak yang sangat begitu dekat. Sedangkan Khadijah nampak malu-malu, yang membuat Yulian pun merasa kikuk.
Hening...
Satu detik...
Dua detik...
”Emm... sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu. Apakabar denganmu?”
”Alhamdulillah, seperti pertama kali kita bertemu. Aku baik dan sangat baik. Tapi maaf ... jika aku berpura-pura tidak memgenalimu.” Yulian tersenyum tipis.
”Ah, tidak masalah.”
Suasana kembali hening, karena Yulian seakan kehabisan topik pembicaraan. Sedangkan Khadijah, ia hanya terdiam tanpa bergeming serambi menundukkan pandangannya.
’Aku... benar-benar merasa canggung Ya Allah. Bagaimana cara aku memperlakukannya?’ Yulian kembali bertanya dalam hati.
Yulian dilanda rasa bingung yang mengeruak, ingin berbicara terus menerus tetapi ia tidak memiliki topik yang pas. Dan ingin rasanya Yulian meminta Khadijah untuk tinggal bersamanya, tapi lagi-lagi itu bukanlah hal yang pas setelah ia tahu bahwa itu Khadijah dan bukanlah Khaira. Karena tanpa sebuah ikatan tidak mungkin Yulian meminta Khadijah tinggal bersamanya, takut menimbulkan fitnah dan dosa jika tetangga ada yang mengetahui keberadaan Khadijah. Namun, jika Yulian membiarkan Khadijah pergi, ia takut jika pertikaian antara kedua anaknya akan terjadi lagi. Bahkan Yulian juga merasa takut jika Khadijah akan terancam bahaya saat berada di luar.
’Haduh penulis... jangan buat aku bingung dong! Berikan cerita yang baik untukku.’
__ADS_1