Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 94 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Hafizha, kamu tidak sekolah? Kok belum rapi dengan pakaian seragam mu?” tanya Cahaya


“Tidak kok, Kak. Hafizha hari ini libur sekolah jadi... bisa tengok Bunda di rumah sakit nanti.” Terang Hafizha yang sekolahnya libur karena ada kegiatan lain.


Cahaya manggut-manggut, lalu ia kembali melanjutkan aktivitas di dapur membantu bik Inem. Selama Khadijah di rumah sakit pekerjaan rumah sedikit riweh, apalagi Cahaya harus menguris Garda yang usianya sudah enam tahun, sedangkan Abizzar yang usianya sudah satu tahun. Begitu luar biasa riweh nya mengurus anak yang super aktif, karena Garda dan Abizzar sama-sama memiliki keaktifan di luar kendali.


“Kalau begitu kamu bisa bantu kakak memandikan Garda? Dan kakak akan memandikan Abizzar.”


“Emm... boleh kok, Kak. Di mana Garda nya sekarang?”


“Emm...” Cahaya menggeliatkan pandangannya untuk mencari keberadaan Garda yang sudah ikut bangun dengannya.


“Nah, itu Dia Gardanya.” Tunjuk Cahaya ke arah teras samping.


Seketika Hafizha melangkahkan kakinya menuju ke arah teras samping, di mana Garda bermain di sana. Oh tidak, ternyata Garda tidak sedang bermain melainkan...


“Astaghfirullah, Garda kamu ngapain ngikutin gerakan Om Ahtar?” tanya Hafizha dengan nada yang lirih.


“Sstttt... Garda sedang ikut olahraga Om Ahtar, Tante Izhaaa...” pekik Garda.


Hafizha manggut-manggut, menahan tawanya agar tidak lepas yang akan membuat Ahtar tahu jika di belakang ada Garda dan juga dirinya tengah melihat Ahtar yang berolahraga.


Ahtar hanya berolahraga ringan saja untuk menjaga metabolisme tubuh agar tetap bugar saat melakukan aktivitas yang luar biasa, seperti berdiri berjam-jam saat menjalankan operasi terhadap pasien.


Pertama Ahtar melakukan olahraga push up sampai seratus kali. Setelah itu dilanjut leg lift dan yang terakhir sit up, olahraga perut.


Dan saat Ahtar hendak melakukan sit up, saat itulah ia tahu jika sedari tadi ada Hafizha dan Garda yang berdiri di bekangnya.


“Astaghfirullah hal azim, kalian kenapa ada di sini?”


Ahtar meraba dadanya karena merasa terkejut atas kehadiran Hafizha dan Garda.


“Garda cuma mau mengikuti gerakan olahraga Om Ahtar saja, soalnya Garda mau jadi atletis kalau sudah besar nanti.” Garda memutar kedua bola matanya hingga membukat dengan sempurna, menerawang sebagaimana seorang atletis itu.

__ADS_1


”Bagus jika kamu sudah memiliki keinginan seperti itu, Garda. Dan sekarang sudah pukul setengah tujuh, kamu harus mandi dulu karena akan sekolah.” Ahtar duduk berjongkok agar sepadan dengan Garda yang berdiri.


“Iya Garda, sekarang mandi dulu sama tante yuk!” ajak Hafizha.


Garda pun mengangguk, lalu menuju ke kamar mandi yang berada di kamar Arjuna dan Cahaya bersama Hafizha. Sedangkan Ahtar hanya menggeleng saja melihat adik dan keponakannya itu yang semakin hari tumbuh dengan kreatifitas mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Jaga Bunda, Abi mau ke kantor terlebih dahulu.” Yulian menepuk pundak Ahtar.


“InsyaAllah Abi, Abi hati-hati di jalan! Jaga kesehatan juga.” Ahtar melempar senyum.


Sebelum masuk ke ruangannya Ahtar pergi sebentar ke ruangan Khadijah untuk menengok nya. Seperti apa yang dikatakan Yulian sebelumnya pergi.


“Bang Ahtar, tunggu!” teriak Hafizha.


Seketika Ahtar menoleh dan ia hanya menggelengkan kepala ketika melihat Hafizha dengan beberapa barang yang sengaja di bawanya. Hingga membuat Hafizha terlihat begitu riweh.


“Dek, sebenarnya kamu itu mau menemani Bunda atau... mau camping sih? Bawa tremos, laptop, cemilan dan apalah itu lagi.” Ahtar merasa heran sendiri dengan yang dibawa Hafizha.


Dan mendengarkan musik juga tidak ada larangan bahkan ada pula surat yang dijadikan tafsir dari para ulama yaitu, surat Luqman ayat 19.


“Waqṣid fī masy-yika wagḍuḍ min ṣautik, inna angkaral-aṣwāti laṣautul-ḥamīr.”


”Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”


Selama musik itu baik untuk didengar maka ya diperbolehkan untuk mendengarnya. Begitu juga Ahtar, tak akan melarang Hafizha mendengarkan musik seperti Ya Tarim, Ya maulana ya Allah, Khadijah dan beberapa musik islami yang lainnya. Sedangkan Ahtar sendiri suka mendengarkan lagu yang lagi viral dengan judul lagu Satu shaf di belakang ku yang dinyanyikan oleh Arvian Dwi, bisa langsung dilihat di youtube ya.


“Assalamu'alaikum, Bunda,” ucap Ahtar dan Hafizha bersamaan.


“Wa'alaikumsalam, eh kalian sudah datang.” Khadijah menyambut kedatangan Ahtar dan Hafizha dengan menyunggingkan senyum yang ditutupi dengan cadarnya.


Ahtar dan Hafizha segera menyalami Khadijah, setelah saling mengobrol satu sama lain Ahtar menuju ke ruangannya. Karena Ahtar harus segera melakukan visite terhadap beberapa pasien dan juga melayani beberapa pasien yang hendak konsultasi dengannya perkara jantung.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Hafizha tidak sekolah kok datang ke rumah sakit?”


“Tidak Bunda, kebetulan hari ini Izha libur sekolahnya, dikarenakan ada kegiatan luar. Dan Izha tidak suka sama kegiatannya itu,” jelas Hafizha.


“Memangnya apa kegiatannya kalau Bunda boleh tahu, Nak?” tanya Khadijah selembut mungkin.


“Kegiatannya itu lomba nyanyi, Bun. Sedangkan Izha tidak suka, kecuali kalau mendengarkan lagu baru Izha suka. Nih lihat, Izha sudah bawa beberapa perlengkapan saat Izha merasa suntuk.” Hafizha menunjukkan tremos kecil, laptop dan juga ponsel nya yang sudah di nyalakan lagu dengan judul Ya maulana ya Allah.


Obrolan pun menemani keduanya hingga tanpa sadar waktu terus berjalan, pagi sudah berganti siang. Dan sudah waktunya memasuki sholat dzuhur.


Ahtar memutuskan untuk sholat terlebih dahulu, seperti biasa Ahtar sholat di ruangannya. Dan setelah sholat tidak lupain membaca mushaf sejenak untuk mendamaikan hati yang kacau, karena memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Wkwkwk


Sabar ya Ahtarrr... jangan lupa terus lakukan sholat dua rakaat di sepertiga malam.


Deg...


‘Aku kembali mendengar suara itu. Mengapa begitu damai hanya mendengarnya saja? Dokter itu...’


Maria yang tidak sengaja lewat depan pintu ruangan Ahtar seketika menghentikan langkahnya dan mendengarkan sejenak lantunan ayat yang dibaca Ahtar. Namun Maria segera enyah dari sana, karena Ahtar sudah mulai memegang gagang pintu dan siap untuk membuka pintu itu.


“E... Faruq, itu buat Nyonya Khadijah ya?” tanya Ahtar memastikan.


“Iya, Dok. Kenapa memangnya, Dok?”


“Tidak apa-apa. Biarkan saja saya yang mengantarnya ke ruangan Nyonya Khadijah.”


“Baik, Dok. Silahkan!”


Faruq yang sudah tahu jika Khadijah adalah Bunda Ahtar, ia pun memberikan semangkuk nasi yang halus dengan beberapa sayur dan lauknya. Jam makan siang membuat para pegawai rumah sakit bagian dapur untuk mengantarkan makanan ke semua pasien.


Deg...

__ADS_1


“Aku seperti pernah melihat orang itu...?”


Bersambung...


__ADS_2