
”Jangan tertawa lagi kamu, Abdullah! Lebih baik sekarang kamu lajukan mobilnya, ada rapat penting jam sembilan nanti.” Abdullah menahan tawa saat mengingat ke absurdan Yulian.
Sesampai di kantor Yulian langsung menemui Tristan yang sudah menunggunya sedari tadi. Menyiapkan beberapa berkas untuk dibawa dalam pembahasan rapat kantornya bersama klien. Kesibukan di hari itu membuat Yulian sejenak melupakan Khadijah dan cinta, seperti apa yang dikatakan Kyai Hasyim saat berada di masjid.
”Pertemuan kali ini sungguh menghasilkan kemenangan. Karena perusahaan kita telah menang tender.” Ujar Tristan dengan ungkapan penuh bangga.
”Kamu benar. Perbanyaklah mengucap syukur, Tristan. Tanpa jalan Allah yang indah kita juga tidak bisa memenangkan tender ini. Dan sepertinya ... aku harus pergi sekarang, sudah sore.”
”Baiklah! Kita berjumpa lagi besok, dan ... berikan yang terbaik atas apa yang menjadi pilihanmu untuk Hafizha. Tanpa jalan Allah yang indah ... kamu tidak akan dipertemukan kembali dengan Khadijah.”
Yulian meminta Abdullah untuk segera melajukan mobilnya ke suatu tempat. Karena ia ingin memantapkan hatinya dalam memutuskan hal yang begitu sulit baginya. Cinta? Bagaimana Yulian merasakan cinta dari Khadijah, sedangkan ia sendiri tidak pernah memperlakukan Khadijah dengan baik. Meskipun terkadang baik dan terkadang pula tetap pada pendiriannya, bersikekeh menutup hati untuk wanita siapapun.
--------
”Ukhti Khadijah, bolehkah saya bertanya?” tanya seorang wanita yang mengikuti ajaran Islam bersama Khadijah di sore itu.
”Silahkan Ukhti, bertanyalah! InsyaaAllah, saya akan menjawab sebisa saya.”
”Apa seorang wanita yang masuk islam itu adalah wanita yang benar-benar suci dan baik? Tidak pernah melakukan dosa selama di dunia?”
Sejenak Khadijah terdiam, mencerna lontaran pertanyaan yang ditujukan kepadanya dari seorang awam yang ingin sekali mengenal Islam, tetapi wanita itu terlihat bahwa sebelumnya tidak menganut keyakinan Islam, melainkan Yahudi. Bahkan cara berpakaiannya begitu terbuka, berbeda dari yang lain. Wanita itu hanya mengenakan celana levis dan kaos polos berwarna ungu dengan lengan pendek.
”Tidak. Itu tidak ada dalil ataupun aturan dari Islam jika, wanita yang suci dan baik lah yang bisa masuk islam. Semua wanita itu bisa masuk islam.”
”Habib Umar Bin Hafidz berkata,”
__ADS_1
”Wanita yang baik bukanlah ia yang tidak mempunyai dosa dan kesalahan. Tapi ia adalah seorang yang meskipun ia sadar bahwa ia memiliki masa lalu yang kelam. Tapi ... ia tetap terus berusaha menjadi wanita yang diridhoi Allah dan Rasul-Nya. Meski seringkali terjatuh dan tertatih-tatih.”
”Ia tetap terus melawan nafsunya untuk meniti jejak Sayyidah Fatimah, Sayyidah Khadijah dan wanita-wanita agung lainnya.”
Semua yang menghadiri pembelajaran Khadijah mendengarkan dengan seksama, mencerna dalam setiap untaian kata. Dan tiada henti Khadijah terus menjelaskan bagaimana perempuan yang memiliki hati mulia. Wanita yang dimuliakan dan dijunjung tinggi dalam Islam. Saat hal itu mulai dijelaskan oleh Khadijah, kembali wanita yang tadi melontarkan pertanyaan.
”Ukhti, kenapa seorang wanita dalam islam selalu dimuliakan dan dijunjung begitu tinggi? Bukankah, semua orang itu sama? Sama-sama memiliki HAK dan Kewajiban selama hidup di dunia? Lalu apa perbedaan antara laki-laki dengan wanita?”
”Baiklah, saya akan menjawab dan menjelaskan kembali. Tapi sebelumnya ... bolehkah, jika saya mengetahui nama Anda?”
Khadijah menatap wanita itu duduk dengan rasa nyamannya. Lalu, wanita itu pun memberitahukan siapa namanya dan apa agamanya kepada Khadijah serta yang lainnya. Dan setelah itu Khadijah melanjutkan penjelasannya tentang wanita yang dimuliakan, dijunjung tinggi dan diagungkan oleh kaum Adam.
”Wanita itu mempunyai kedudukan yang sangat mulia dalam Islam, saking mulianya seorang wanita itu bahkan ada sebuah surat yang khusus untuk wanita. Apakah ada yang tahu?”
”Surah An-Nisa.”
"Iya, benar apa yang dikatakan Hawa. Surat An-Nisa. Adakah yang tahu sebagaimana arti dari surat An-Nisa?” tanya Khadijah kepada anak didiknya.
Semua tidak bergeming. Meskipun Hawa tahu bagaimana arti maupun bunyi sebagaimana surat An-Nisa, tetapi ia tidak menjawabnya, karena ia ingin memberikan kesempatan bagi teman-temannya yang lain.
”Arti dari surat An-Nisa tak lain berbunyi...”
”Jangan sampai engkau terbawa arus zaman yang buruk, jadilah wanita yang terjaga, baik akhlaknya, baik agamanya.”
”Walaupun susah tetaplah istiqomah di jalan Allah, karena di saat itulah Allah dekat dengan kita.”
__ADS_1
Semua mata tertuju kepada sang pemilik suara. Di mana ada Yulian yang tiba-tiba nimbrung bersama dengan mereka. Tidak ada rasa malu saat memberikan jawaban kepada mereka, justru membuatnya merasa bersemangat untuk ikut menjelaskan Islam. Dan kehadiran Yulian sontak membuat semua merasa terkejut, termasuk Khadijah.
”Masih adakah yang perlu ditanyakan lagi?” tanya Yulian memastikan.
”Bagaimana cara masuk Islam?”
”Cara masuk Islam bagi pemeluk Yahudi, ataupun yang lainnya ... mereka harus melakukan beberapa hal.”
”Pertama, melafalkan dua kalimat syahadat, la ilaha illallah muhammadar rasulullah (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah). Berlepas diri dari agama selain Islam. Meyakini dalam hatinya keesaan Allah SWT.”
”Kemudian diwajibkan mandi sebagaimana Rasulullah memerintahkan mandi Tsumamah bin Utsal dan Qis bin 'Ashim ketika masuk Islam.”
”Kemudian diwajibkan sholat karena iman mesti berbarengan antara perkataan dan perbuatan, sebab perkataan ibarat klaim dan amal sebagai bukti. Perkataan merupakan bentuk formal, sementara amalan substansi atau ruhnya.”
Dengan suara lantang Yulian menjelaskan sebagaimana tata cara masuk Islam di kala ada orang yang tadinya memeluk agama selain Islam. Begitu banyak kaum hawa yang berdecak bangga, terpesona dan terpukau saat Yulian menjelaskan kepada mereka. Hal sama pun dirasakan oleh Khadijah, sejenak hatinya luluh atas apa yang dilakukan oleh Yulian. Namun, rasa itu segera ditepiskan olehnya_mengingat bahwa ia tidak ingin terjebak dalam dunia Yulian.
”Khadijah, bolehkah aku bicara denganmu?”
”Berbicara apa lagi, Yulian? Sudah ku katakan kepadamu bukan? Bahwa aku tidak ingin masuk lagi dalam duniamu. Sudahlah, jangan temui aku lagi!”
Khadijah terus melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruangan untuk bersembunyi dari Yulian. Akan tetapi Khadijah kalah cepat dari Yulian, karena saat Khadijah hendak masuk ke dalam ruangan itu Yulian sudah lebih dulu menarik tangan Khadijah. Terlalu keras Yulian menarik tangan Khadijah, sehingga membuat Khadijah hampir terjatuh. Untung saja ada tubuh tegap Yulian yang seketika menangkap tubuh runcing Khadijah.
”Maaf, aku tidak sengaja untuk menarikmu dalam dekapanku.”
”Tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang juga! Assalamu'alaikum,”
__ADS_1
Khadijah tidak menghiraukan kehadiran Yulian yang terus mengikutinya. Namun, hal itu tidak membuat Yulian menyerah begitu saja. Sedikit, ia membuka hatinya untuk menanamkan cinta.