
Yulian melerai pelukannya, dengan lembut tangannya menyeka air mata yang sudah membasahi pipi Khadijah. Hal itulah yang sangat disukai Khadijah dari dalam diri Yulian. Penuh kelembutan dalam setiap momen.
“Sekarang, makan yuk! Dari tadi siang belum makan, kan?” pinta Yulian.
Khadijah pun mengangguk, mengiyakan permintaan Yulian. Dan dengan penuh kesabaran serta ketelatenan Yulian menyuapi Khadijah sampai makanan yang sudah disediakan dari pihak rumah sakit habis tidak tersisa, meskipun rasanya juga tidak selezat di restoran, tetapi anggap saja enak.
“Alhamdulillah, sudah habis. Sekarang minum obatnya lalu istirahat.” Yulian memberikan beberapa butir obat dan segelas air putih kepada Khadijah.
“Hubby juga harus makan, bukannya tadi perutnya bunyi terus? Sejalan kapan Hubby tidak makan?”
“Tidak lama kok, baru... tadi pagi. Nanti saja Hubby akan makan.”
“Sekarang saja, Neng tidak mau Hubby tidak makan cuma karena memikirkan Neng saja. Pokoknya Hubby harus makan.”
“Itu tanda sayanya Hubby lebih besar daripada menahan lapar, yang penting sekarang Neng tidak marah lagi. Neng harus lebih ikhlas menerima segala ujian dari Allah SWT.”
Khadijah mengangguk, dan Yulian selalu memanjakan Khadijah dengan mengusap puncak kepalanya. Dan setelah Khadijah mulai tertidur Yulian mencoba menghubungi Tristan dan memintanya untuk datang ke rumah sakit, tetapi hanya sendiri tanpa Arumi maupun Humaira.
Yulian memiliki alasan tersendiri mengapa Tristan diminta untuk datang kesana. Selain pekerjaan yang harus dibahas malam itu juga untuk pertemuan dengan perusahaan besar dengan pihak Amerika, Yulian juga ingin membahas tentang Alex. Karena Yupian membutuhkan penjagaan ketat untuk Khadijah, Hafizha dan Abizzar.
Tepat pukul tujuh malam kembali perut Yulian berbunyi. Rasa lapar semakin mendera saja, bahkan seakan tidak bisa ditahan lagi. Hingga akhirnya Yulian memutuskan untuk pergi ke kantin dan makan malam di sana. Namun sebelumnya Yulian menulis memo di kertas kecil yang diletakkan di atas nakas. Jika saja Khadijah bangun dan sedangkan Yulian belum kembali setidaknya melalui memo itu Khadijah tahu dimana Yulian.
Yulian memesan makanan sederhana di kantin rumah sakit lalu duduk sembari menanti pesanan itu tiba.
“Ting... Ting...”
Sebuah pesan telah masuk ke ponsel Yulian. Seketika itu Yulian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan memastikan pesan dari siapa.
[Jangan coba-coba menyembunyikan Khadijah dan anak yang sudah dikandungnya. Aku... tidak akan tinggal diam. Dapat aku pastikan jika aku akan segera menemukan kalian di mana pun berada.]
Deg...
Yulian mendapatkan pesan ancaman yang di duga tak lain adalah dari Alex.
‘Darimana Dia tahu nomorku? Jika Dia sudah berani mengirim pesan ancaman, maka tindakanku untuk memperketat penjagaan adalah tindakan yang benar.’ Yulian berpikir dalam hati.
Kembali Yulian meghubungi nomor Tristan, lalu dilanjut ke nomor Abdullah dan dua putranya. Arjuna dan Ahtar yang sama-sama sudah pulang segera kembali lagi ke rumah sakit dengan alasan ada pasien darurat, karena mereka tidak mau jika Cahaya maupun Hafizha tahu dan akan merasa khawatir.
“Kira-kira ada apa ya Abi meminta kita untuk datang segera ke rumah sakit? Apa... terjadi sesuatu dengan Bunda, Bang?”
”Abang tidak tahu pasti, Dek. Sudah, kamu fokus saja nyetirnya.”
Ahtar mengangguk, lalu kembali fokus dengan jalanan di malam hari yang cukup ramai. Dan setelah kurang lebih dua puluh menit Ahtar dan Arjuna akhirnya sampai jiga di rumah sakit.
__ADS_1
“Loh, ada Om Tristan juga?” tanya Ahtar.
Saat Ahtar dan Arjuna memarkirkan motor yang dijadikan kendaraan oleh mereka, tidak sengaja mereka bertemu dengan Tristan di tempat parkir. Bukan hanya Tristan saja, terlihat begitu kentara Abdullah dengan ciri khas pakaiannya tengah melangkah menghampiri ketiganya.
“Kalian sudah berkumpul di sini ternyata. Cepat, kita tidak punya waktu banyak, karena Yulian sudah mendapatkan pesan ancaman dari Alex.” Terang Abdullah, karena Abdullah yang selalu menjadi autama yang diberitahu tentang Alex.
Ahtar, Arjuna dan Tristan sejenak saling pendang, lalu mereka mengangguk. Dengan langkah sedikit cepat mereka segera menemui Yulian di ruangan Khadijah.
Dan setiba di depan ruangan Khadijah dapat mereka pastikan jika Yulian tengah mengobrol dengan Khadijah. Sehingga Ahtar, Arjuna, Tristan maupun Abdullah berusaha bersikap biasa-biasa saja agar Khadijah tidak tahu maksud kedatangan mereka yang bersamaan.
“Assalamu'alaikum,” ucap salam ke empat nya secara bersamaan.
“Wa'alaikumsalam,” jawab Yulian dan Khadijah hampir bersamaan.
Ahtar dan Arjuna segera menyalami Yulian dan Khadijah. Setelah itu mereka menanyakan kondisi Khadijah sebagai alasan akini mereka. Sedangkan Ahtar maupun Arjuna jelas tahu bagaimana kondisi Khadijah setelah dokter Jhonson memberitahu mereka tadi.
“Bagaiaman Bun, apa masih ada yang terasa sakit?” tanya Ahtar.
“Alhamdulillah, Bunda cukup baik. Dan Bunda juga... berusaha untuk menerima ujian Allah SWT.”
“Bunda harus yakin jika Bunda adalah wanita yang kuat, wanita yang mampu melewati setiap ujian dari Allah. Dan kita semua akan selalu ada untuk Bunda.”
Khadijah mengangguk, kini hatinya merasa cukup tenang karena apa yang dipikirkan olehnya tadi salah besar. Seluruh anggota keluarganya mampu menerima dan mendukungnya untuk kembali menjadi wanita yang kuat.
Ahtar sesekali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Karena sampai jam sembilan malam Yulian tak kunjung mengudarakan suara tentang pengamatan ataupun tindakan yang harus dilakukan untuk mencari keberadaan Alex.
“Emm... tidak apa-apa kok, bang Juna. Cuma... kenapa Abi tidak segera melangsungkan aksi? Lihat, ini sudah hampir jam sepuluh malam, Bang.”
“Ya sabar saja, tunggu dulu! Mungkin... Abi tidak mau jika Bunda tahu.”
Ahtar manggut-manggut, membenarkan apa yang dikatakan Arjuna. Dengan sabar Ahtar menunggu Yulian mengudarakan suaranya.
‘Pesan dari siapa ini? Kenapa banyak sekali?’ Ahtar bermonolog dalam hati.
“Tristan, bagaimana jika kamu minta seseorang untuk mencari tahu keberadaan Alex? Dan Abdullah, kamu terus lindungi Hafizha. Sedangkan kalian, Abi mohon bantuan kalian untuk melindungi Bunda di rumah sakit. Dan Abi, akan melindungi orang di rumah.” Papar Yulian yang memberikan tugas masing-masing untuk melindungi anggota keluarganya dari ancaman Alex.
“Apa Bunda mau jika kita yang menjaganya?”
“Abi sudah bicara sama Bunda kalian dan Bunda sudah setuju. Jadi, Abi harap kalian bisa menjaga Bunda.”
Ahtar dan Arjuna mengangguk penuh kemantapan, dan mulai esok hari semua yang sudah direncakan harus dijalankan dengan seketat mungkin.
Ahtar mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur yang dibalut sprei bergambar bunga. Meskipun Ahtar adalah lelaki yang berkharisma dan memiliki tubuh yang atletis, tetapi hatinya yang lembut ikut memotif kamarnya dengan nuansa bunga dan gambar stiker seorang ibu yang membelai anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Bunda Dan Umi itu hampir sama sifatnya ... lembut. Dan semoga saja aku akan mendapatkan jodoh yang sama seperti mereka. Tetapi... mengapa wanita yang ada di dalam mimpiku itu menggambarkan jika tidak memakai hijab lebar dan pakaian yang tertutup. Jelas itu bukan Humaira,”
Ahtar menghembuskan nafas panjang, ia berharap kepada Allah untuk segera dipertemukan dengan jodohnya melalui sholat tahajud.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Hubby, bangun!” ucap Khadijah.
Khadijah membangunkan Yulian yang tertidur dengan mengusap lembut kepalanya. Hingga akhirnya Yupian pun menggeliatkan kedua matanya, lalu perlahan ia membuka matanya itu setelah kesadarannya sudah pulih.
“Ada apa, Neng?”
“Sudah jam tiga, yuk sholat tahajud!” ajak Khadijah yang dibalas anggukan oleh Yulian.
Yulian mengambil air wudhu di kamar mandi, sedangkan Khadijah berusaha untuk bertayamum sebagai pengganti berwudhu dengan air. Karena Allah memperbolehkan orang yang tidak kuat berdiri untuk sekedar mengambil air wudhu dan cukup menggantinya dengan tayamum.
Dengan membentang sajadah panjang Yulian menjadikan dirinya sebagai imam dalam sholat tahajud malam itu dan diikuti Khadijah di shaf belakang sebagai makmum. Dan Allah juga mengijinkan hambanya untuk merebahkan tubuh di atas ranjang jika tidak bisa berdiri ataupun berbaring dengan posisi miring ketika sholat, asalkan tetap menghadap ke arah kiblat.
Setelah dua rakaat di sepertiga malam sudah dijalankan oleh Yulian dan Khadijah lalu dilanjut dengan membaca doa yang dianjurkan setelah sholat tahajud.
Kedua tangan Yulian dan Khadijah menengadah dan sebagai imam Yulian memulai bacaan doanya.
“Allahumma innii a-‘uudzu bi ridhaa-ka min sakhatik, wa bi mu’aafatika min ‘uquubatik, wa a-‘uudzu bika min-ka, laa uh-shii tsa-naa-an ‘alaika anta, kamaa ats-naita ‘alaa nafsik.”
“Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
Yulian dan Khadijah mengaminkan doa yang sudah dipanjatkan, memohon ampunan kepada Allah dari setiap apa yang sudah dilakukan selama di dunia. Dan meminta perlindungan dari segala mara bahaya, termasuk ancaman Alex.
Setelah itu Yupian meminta Khadijah untuk kembali beristirahat, karena kondisi Khadijah masih dalam pantauan dokter Jhonson. Meskipun tidak memiliki masalah di kepala, tetapi Khadijah perlu perawatan secara intensif mengingat kakinya yang mengalami lumpuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nanti kamu yang bergilir menjaga Bunda, dek. Dan besoknya lagi giliran Abang. Bagaimana?”
“Tidak masalah, aku siap kok.”
Setelah mengobrol sebentar di teras samping Ahtar berlanjut dengan olahraga paginya. Dan hari itu Ahtar cukup leluasa memakai celana pendek dengan kaos tanpa lengan. Karena hati itu Humaira tidak tinggal lagi di rumahnya, sehingga tidak ada mata yang akan menatapnya dengan pakaian seperti itu.
Berasa burung yang keluar dari kandangnya ya Ahtar. Wkwkwk
“Hafizha, kamu tidak sekolah? Kok belum rapi dengan pakaian seragam mu?” tanya Cahaya
“Tidak kok, Kak. Hafizha hari ini libur sekolah jadi... bisa tengok Bunda di rumah sakit nanti.” Terang Hafizha yang sekolahnya libur karena ada kegiatan lain.
__ADS_1
Cahaya manggut-manggut, lalu ia kembali melanjutkan aktivitas di dapur membantu bik Inem. Selama Khadijah di rumah sakit pekerjaan rumah sedikit riweh, apalagi Cahaya harus menguris Garda yang usianya sudah enam tahun, sedangkan Abizzar yang usianya sudah satu tahun. Begitu luar biasa riweh nya mengurus anak yang super aktif, karena Garda dan Abizzar sama-sama memiliki keaktifan di luar kendali.
Bersambung...