
Khadijah memalingkan pandangannya ke arah lain dari tatapan Yulian. Dan itu membuat Yulian sejenak menghenbuskan nafas beratnya tetapi ia tidak akan menyerah saat itu juga.
“Neng, pernah ingat tidak... tentang ayah dan ibu Neng yang selalu ada dulu untuk Neng. Bahkan, tapa adanya mereka Neng pun tidak akan pernah lahir di dunia. Dan surga kita sebagai seorang anak ada pada kaki ibunya. Sedangkan seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuan.”
“Dan... tanpa Neng sadari Neng itu sudah menolong Alex, ayah kandung Neng dari api neraka. Neng tahu tidak alasannya apa?”
Seketika Khadijah menatap Yulian dengan alis yang saling bertaut, seolah tengah memikirkan jawaban dari pertanyaan Yulian.
“Neng tidak tahu, Hubby.” Khadijah meggelengkan kepalanya. “Memangnya apa alasannya?”
Yulian tersenyum tipis, diusapnya puncak kepala Khadijah dengan lembut. Lalu tak lupa Yulian mengecup kening Khadijah penuh dengan cinta.
“Karena Neng sudah memakai pakaian yang tertutup. Neng memakai hijab yang panjang menjuntai, gamis yang lebar dan memakai cadar.”
“Seorang anak perempuan akan menutup pintu neraka bagi Ayahnya, saudara lelakinya, suaminya dan juga putranya jika, memakai jilbab yang mampu menutup auratnya.”
“Apa neng sudah paham sekarang, hmm?”
Khadijah mengangguk, tanda ia mengerti dengan penjelasan Yulian. Meskipun panjang tetapi mudah dipahami oleh Khadijah. Dan itupun membuat Khadijah meluruhkan air matanya.
“Tapi... bagaimana dengan dosa Papa yang sudah diperbuat? Mana bisa masuk surga semudah itu?”
“Bukan seorang manusia yang bisa menghakimi bagaimana perbuatan manusia itu sendiri di dunia. Tapi ingat... ada Allah SWT yang meminta malaikat untuk mencatat amal kebaikan dan amal keburukan umat-Nya.”
“Allah SWT itu Maha Pemaaf bagi hamba-Nya yang benar-benar melakukan taubat. Selama Alex mau merubah diri untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi, insyaAllah Allah akan melancarkan perjalanan di akhirat kelak jika sudah tiba waktunya untuk memenuhi panggilan Allah SWT.”
Kembali Khadijah mengangguk, membenarkan ucapan Yulian. Dan setelah berdamai dengan kebencian terhadap Alex di masa lalu, Khadijah akhirnya mampu memberi maaf kepada Papa nya itu.
Yulian mendorong kembali kursi roda Khadijah menuju ke UGD dan duduk di ruang tunggu. Yulian tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Khadijah. Karena Yulian tahu, genggaman yang ia berikan sungguh berarti bagi Khadijah untuk diadikan sebagai kekuatan.
Setelah dua puluh menit kemudian Ahtar pun keluar dari dalam ruang UGD. Dan Yulian pun menyambut Ahtar setelah Ahtar berada di luar ruangan.
“Bagaimana kondisi... Alex?”
“Sudah stabil kok, Bi. Setelah ini perawat akan memindahkan ke ruang rawat. Abi... mau nya dipindahkan ke ruangan biasa atau...” Ahtar menggantungkan ucapannya ke udara.
“VIP saja, agar kita lebih mudah mengawasi gerak-geriknya.”
Yulian mengurus di bagian administrasi, sedangkan Khadijah ditemani Arjuna, Cahaya dan Hafizha ikut ke ruangan VIP yang akan dijadikan ruang rawat inap Alex selama masa penyembuhan.
Ahtar menuju ke ruangannya hendak mengganti pakaian dan juga meminta dokter lain untuk menjahit kali perutnya yang mengalami robek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
‘Rasanya... begitu lama tak melihatnya. Padahal juga masih dua hari.’ Zuena menghembuskan napas beratnya.
Zuena hanya berdiri di depan ruangan Ahtar, menatap dengan binar kerinduan. Rasa harap untuk bertemu hadir begitu saja dalam hati Zuena. Namun rasa itupun segera ia tepis jauh dalam angan yang tak mungkin bisa terjadi.
“Zuena!” panggil Ahtar lirih.
Zuena yang merasa tengah disebut namanya seketika menolah. Dan Zuena terkejut tanpa ia sadari Ahtar sudah berdiri di belakangnya. entah sejak kapan.
“Maaf! Dok. Saya... tidak bermaksud untuk...” Zuena menggantungkan ucapannya.
“Tidak apa-apa.” Ahtar berusaha bersikap biasa saja.
Hening...
Ahtar berusaha tersenyum ramah di depan Zuena meskipun saat itu ia tengah merasakan sakit di perutnya. Sedangkan Zuena lebih memilih untuk menundukkan pandangannya karena merasa tak enak hati.
”Dokter Ahtar, kita masuk sekarang! Akan ku jahit lukamu lagi,” ucap Dokter Galih.
Ahtar mengangguk, mengiyakan permintaan dokter Galih. Dan Ahtar juga tidak bisa menahan rasa nyeri di perutnya lagi, karena darah yang merembes semakin banyak. Bahkan darah itupun menempel di baju dan juga tangan Ahtar.
__ADS_1
“Mau ikut masuk ke dalam?”
Suara Ahtar yang berciri khas lelaki dewasa telah membuat Zuena seketika menatapnya. Bahkan tatapan keduanya saling mengunci, walaupun tatapan itu hanya sebentar tetapi membuat Ahtar dan Zuena salah tingkah.
“Aku?” tanya Zuena sembari menunjuk wajahnya.
Ahtar hanya mengangguk saja, meyakinkan Zuena.
“Tenang saja, ada Dokter Galih di dalam. Jadi, kita tidak hanya berdua saja. Dan... percayalah! Kami tidak akan melakukan apapun terhadapmu.”
Zuena membulatkan kedua matanya, ia tidak mengerti apa yang dimaksud Ahtar. Tetapi ia mengekori Ahtar dari belakang dan menemani Ahtar di dalam ruangan serta melihat Ahtar yang tengah dijahit bagian perutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengurus bagian administrasi Yulian menuju ke ruangan Alex. Dan setiba di sana Alex sudah memperlihatkan jika akan sadarkan diri.
Jari Alex bergerak perlahan, lalu kedua matanya mulai terbuka. Tetapi kesadarannya belum sepenuhnya kembali, dan yang mampu ditangkap hanya langit-langit bernuansa putih.
‘Dimana aku saat ini?’ tanya Alex dalam hati.
“Papa,” panggil Khadijah.
Perlahan Alex menoleh ke pusat suara yang berada di sisi kanannya. Dan Alex pun menangkap keberadaan Khadijah, di sisi Khadijah ada Yulian, Arjuna, Cahaya dan di sisi paling ujung ada Hafizha.
Alex pun tersenyum, rasa harus menyeruak dalam hatinya. Terlihat mata kecoklatan Alex di penuhi dengan air mata yang menggenang_memenuhi pelupuk matanya.
“Terimakasih! Karena kamu tidak benar-benar membiarkan aku mati di rumahmu... menantu.” Alex tersenyum tipis.
Sontak ucapan Alex membuat Yulian, Khadijah, Cahaya, Arjuna dan Hafizha terkejut. Merekantidak percaya jika Alex akan menganggap Yulian adalah menantu baginya. Bukanlah musuh yang selama ini Yulian pikirkan.
“Sama-sama. Sebagai sesama hamba Allah SWT diwajibkan untuk saling membantu dan menolong.” Yulian melengkungkan bibirnya dengan sempurna.
“Juna... akan panggil Ahtar dulu untuk memeriksa kondisi pak Alex.” Arjuna bergerak keluar dan mencari keberadaan Ahtar.
“Khadijah, maafkan Papa mu ini, Nak.” Alex mengangkat tangannya hendak meraih tangan Khadijah.
Khadijah yang tidak terlalu dekat dengan sisi branker seketika mendekat. Dan setelah itu Khadijah meraih jemari Alex yang disertai dengan anggukan pelan.
“Khadijah sudah memaafkan semuanya, Pa. Karena Allah mengajarkan kepada umat-Nya untuk saling memaafkan.”
Alex mengangguk, lalu berganti menatap Yulian yang berdiri di belakang Khadijah.
“Terimakasih! Karena kamu mau menikahi, menjaga dan selalu setia mendampingi Khadijah dan Hafizha selama ini, Yulian.”
“Dan mungkin... kesalahanku amatlah besar. Aku sudah berbuat dosa yang yang bisa saja tidak dimaafkan oleh Tuhan.”
“Tidak, Pak. Allah SWT itu Maha Pemaaf bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat.”
“Apa masih pantas aku disebut seorang hamba sedangkan aku adalah seorang pendosa, Yulian? Dan pantaskah aku jika berada di dekat kalian?”
Alex memalingkan pandangannya, ia tidak mau jika semuanya tahu kini dalam pelupuk matanya ada air mata yang kembali menggenang. Alex merasa tak pantas berada di tengah-tengah keluarga Yulian yang sudah berbaik terhadap dirinya.
Khadijah yang melihat hal tersebut seketika hatinya terenyuh, bahkan tenggorokannya terasa tercekat dan rongga dadanya pun merasa begitu sesak. Akan tetapi, ia tidak mampu berkata apapun untuk menyikapi perbuatan Alex di masa lalu. Karena semua keputusan bagi Khadijah ada pada Yulian_yang sebagai suaminya dan juga kepala rumah tangga.
“Pak! Jangan pernah mengatakan hal seperti itu, karena sesungguhnya kita adalah keluarga. Anda saat ini... mertua saya.”
Yulian merubah cara bicaranya dengan Alex, sopan santun kembali Ian terapkan saat mengobrol dengan Alex sebagai orang yang lebih tua daripada dirinya.
Alex yang mendengar ucapan Yulian kembali merasa terharu, meskipun ia sudah beberapa kali ingin menyelakai keluarga Yulian tetapi kini Yulian justru memperlakukan dirinya sebaik mungkin.
“Bapak mertua? Apakah saya pantas menjadi mertuamu, Yulian? Sedangkan aku sudah melakukan perbuatan itu kepada Khadijah, putri kandungku sendiri. Dan sekarang pun... aku tidak tahu harus menyebut diriku sebagai ayah atau kakek bagi... Hafizha.” Alex mengalihkan tatapannya kepada Hafizha yang berdiri di ujung.
Hafizha yang disebut namanya menundukkan kepala. Ia tidak mau dikuasai dengan amarah yang berlebih, karena sebelumnya sudah berjanji kepada Ahtar kala malam itu.
__ADS_1
“Itu akan tetap menjadi pantas dan wajib bagi saya, Pak. Karena Khadijah adalah anak Anda, sedangkan Hafizha... Anda berhak memanggilnya sebagai anak Anda.”
“Tidak, Yulian. Yulian, aku mau... kamu yang tetap menjadi ayah dari Hafizha. Biar aku yang menjadi kakek untuknya. Karena aku yakin, kamu dan Aisyah sudah merubah akta daripada Hafizha. Dan aku tidak mau merubah itu semua.” Alex mengangguk, meyakinkan Yulian akan hal yang diucapkannya.
Hafizha yang mendengarnya pun turut bahagia, tidak sangka jika Alex akan berbaik hati dan begitu mulia.
Yulian memgangguk, tanda jika Yulian menyetujui keputusan yang sudah diucapkan oleh Alex. Dan bagi semuanya itu adalah keputusan yang baik, demi masa depan Hafizha agar tidak mendapatkan bully-an dan cemooh tak baik dari teman-temannya yang lain.
Dan saat itu juga Alex telah berdamai dengan Yulian, Khafijah dan Hafizha. Sedangkan Cahaya sebelumnya mereka tidak terpaut masalah apapun dengan Alex, sehingga tidak ada dendam ataupun kebencian di dalam hatinya. Dan saat itu juga Yulian memutuskan untuk menganggap Alex sebagai mertunya yang wajib untuk dihormati dan disayangi.
Arjuna dan Ahtar pun masuk ke dalam ruangan, tidak lama kemudian Zuena pun ikut masuk dan berjalan di belakang Ahtar dan juga Arjuna.
Sontak Yulian dan semua yang ada di sana terkejut melihat kedatangan Zuena yang bersama dengan Arjuna dan Ahtar.
“Zuena,” panggil Yulian pelan.
“Iya, Om. Ini... Zuena.” Zuena menunduk, merasa malu saat ditatap tajam Yulian.
Ahtar berjalan mendekati Alex, lalu ia letakkan stestoskop yang melingkar di lehernya di atas dada Alex. Berlanjut_Ahtar memeriksa ketekanan darah hingga Ahtar menyatakan bahwa kondisi Alex sudah jauh lebih baik dari tadi.
Yulian dan yang lainnya seketika beenapas lega mendengar apa yang dipaoarkan Ahtar mengenai kesehatan Alex. Dan jika sudah diperbolehkan pulang Yulian meminta kepada Alex untuk tinggal bersamanya.
Bukan hanya itu saja, Alex tidak ingin lagi menjadi orang yang terus melakukan dosa hingga masa menuanya. Dan setelah kondisinya benar-benar pulih Alex mau menjadi mualaf.
“Yulian, bantu Papa menjadi seorang muslim dan bantu Papa menjadi hamba Allah yang baik. Apa kamu mau?”
“Yulian tidak salah mendengar kan, Pa?”
“No. Papa serius, Papa ingin masuk Islam.” Alex menjawab disertai dengan anggukan.
“Alhamdulillah,” pekik semua orang yang mendengar pernyataan Alex.
Yulian terlalu bersemangat, ia memberi anggukan dengan senyuman merekah dari bibirnya. Bukan hanya Yulian saja, Khadijah pun tak menyangka jika Alex bisa secepat itu dalam memutuskan untuk berpindah agama. Sedangkan yang Khadijah tahu Alex sendiri tak pernah memiliki ketertarikan yang namanya agama Islam.
“Jika Papa sudah sembuh nanti, Papa bisa ikuti Yulian.”
Obrolan ringan terus bergulir menemani mereka semua. Akan tetapi, ketika Yulian mengingat jika di sana ada Zuena seketika itu Yulian menghentikan obrolan yang masih berlanjut.
“Ahtar... Zuena, bisa keluar sebentar?”
Ahtar dan Zuena saling tatap, lalu mengangguk dan mengikuti Yulian keluar dari ruangan itu. Yulian mencari tempat yang nyaman untuk dijadikan sebagai tempat mengobrol santai ketiganya. Dan pilihan Yulian ada di kantin rumah sakit, karena lokasinya yang masih satu tempat dengan rumah sakit. Selain itu di kantin rumah sakit Yulian tidak akan jauh dengan Khadijah dan yang lainnya, jarak ruangan Alex pun hanya satu kilometer saja.
“Duduklah! Kalian bisa pesan makanan dan minuman sesuka kalian, sekaligus kita sarapan bersama. Perut Abi... sudah keroncongan sedari tadi.”
Yulian menuju posisi warung kantin, lalu memesan makanan yang akan dia jdikan santapan pagi mereka bertiga di kantin itu.
Sarapan yang dipilih Yulia tak jauh-jauh dari masakan khas Indonesia. Apalagi kalau bukan rendang, beberapa hari Khadijah tidak bisa membuat masakan itu sehingga Yulian hanya bisa membeli saja.
Dan Ahtar hanya memesan minuman kopi hangat, sedangkan Zuena hanya air putih saja. Hal itu membuat Yulian berpikir, jika Zuena adalah wanita yang berasal dari kalangan tahta biasa.
“Zuena, kenapa kamu hanya memesan air putih saja? Tenang saja! Abi yang membayarnya nanti,” ucap Yulian ramah.
“Tidak perlu, Abi. Zuena... hanya saja Zuena merasa sudah kenyang. Dan Abi tidak perlu repot membayar semua ini.”
“Tidak masalah. Toh ini Abi yang minta, kamu tidak perlu sungkan.”
‘Kenapa Abi berpikir seperti itu? Apa... Abi mengira aku tak mampu membeli makanan?’ tanya Zuena dalam hati.
Zuena terus menolak permintaan Yulian, hingga Yulian pun menyerah meminta Zuena untuk memesan makanan yang disukainya. Dan disaat menanti pesanan mereka datang Yulian mengobrol ringan dengan Ahtar serta Zuena.
“Mungkin pertanyaan Abi akan terdengar begitu absurd. Tetapi Abi harus tahu kenapa kalian bisa bersama-sama?”
“Aku tidak sengaja melihat Zuena berdiri di depan ruangan ku tadi, terus ya... sekalian saja Aku mengajaknya untuk masuk ke ruangan ku disaat Dokter Galih kembali menjahit perutku tadi.”
__ADS_1
Bersambung....