
’Maafkan aku Yulian dan Khadijah, karena aku sudah melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan kepada kalian. Bukan maksudku untuk menjerumuskan kalian ke lubang dosa, tapi untuk menurunkan ego kalian, maka ini adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan.’
Abdullah sejenak menghentikan mobilnya, tetapi selang satu jam kemudian ia melajukannya kembali dan memutar arah. Abdullah menelusuri jalan untuk mencari keberadaan Yulian dan Khadijah. Lalu, berhenti setelah Abdullah melihat Yulian dan Khadijah tengah meringkuk dalam rasa dingin yang menerpa malam.
----------
”Astaghfirullah hal azim, kenapa kalian tidur disini?”
Suara seorang lelaki yang melontarkan pertanyaan dengan nada yang keras seketika membuat Yulian dan Khadijah terbangun dari tidur yang lelap. Dan dengan segera keduanya pun berdiri dari lalu, mereka sejenak saling pandang. Menyadarkan diri bahwa mereka benar-benar sudah bermalam di masjid itu.
”Pak Kyai, maafkan kami! Kami...”
”Kami tidak sengaja memilih untuk tidur di masjid ini, Pak. Karena kami tidak memiliki pilihan lain selain bermalam disini, sedangkan rumah kami jauh dan berbeda arah.” Yulian menyela ucapan Khadijah dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi kepada Pak Kyai Hasyim.
”Jelaskan semuanya kepada saya nanti! Sekarang kalian pergilah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan ambilah air wudhu sebelum banyak jama'ah subuh yang akan hadir.”
”Baik, Pak.” Yulian dan Khadijah mengangguk, lalu pergi ke kamar mandi yang sudah dipisahkan.
Pak Kyai Hasyim hanya menggelengkan kepala atas apa yang baru saja dilihat oleh netranya. Meskipun itu tidak seperti kenyataannya, tetapi jika orang lain yang memandang maka akan menimbulkan fitnah.
Setelah beberapa menit kemudian Yulian kembali dan menemui Pak Kyai Hasyim. Sedangkan Khadijah, ia langsung menuju di bilik sebelah, di mana tempat itu dipisahkan dari kaum adam yang akan melakukan sholat dengan tembok besar sebagai pemisah nya.
”Kumandangkan adzan subuh sekarang juga, nak Yulian!”
”Baik, Pak.”
__ADS_1
Adzan pun telah dikumandangkan dengan suara yang lantang dan merdu. Menyerukan suara dalam mengingatkan pada kaum Muslim untuk segera menunaikan ibadah sholat subuh. Dan ketika suara adzan mulai dikumandangkan membuat Abdullah terbangun setelah bermalam di dalam mobil.
”Itu ... seperti suara Yulian.” gumam Abdullah.
Abdullah segera masuk ke masjid tetapi, sebelum itu ia pergi untuk mengambil air wudhu. Dan silih berganti banyak kaum adam dan hawa datang untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah.
Begitu banyak dari kalangan muslim dan muslimah yang berbondong-bondong untuk menunaikan ibadah sholat secara berjamaah. Entah itu dari kalangan muda maupun tua, mereka memilih untuk bangun dan segera menjalankan perintah Allah SWT.
”Permisi Pak Kyai!”
”Permisi Pak Kyai!”
Banyak orang menyapa Pak Kyai Hasyim setelah mereka harus kembali pulang untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, tidak dengan Yulian dan Khadijah, karena mereka harus menemui Pak Kyai Hasyim sebelum pergi. Begitupun dengan Abdullah, ia memilih untuk tetap tinggal di masjid itu, tetapi bersembunyi dari ketiga orang itu.
”Maafkan kami Pak Kyai, kami bisa menjelaskan semuanya kepada Anda.”
”Seperti apa yang saya pikirkan? Memangnya kalian berdua tahu apa yang sedang saya pikirkan, hmm?” pekik Pak Kyai Hasyim.
Seketika Yulian dan Khadijah terdiam, sejenak mereka saling pandang dengan rasa malu-malu yang sengaja disembunyikan. Diam, itulah yang dilakukan keduanya saat pertanyaan Kyai Hasyim membuat mereka bingung. Entah apa. yang sedang dipikirkan oleh Kyai Hasyim? Apakah sama dengan apa yang dipikirkan oleh mereka saat itu?
Dibalik tembok, di bagian sisi kanan ada Abdullah yang tengah tertawa terbahak tapi tanpa suara setelah mendengar pertanyaan Kyai Hasyim yang ditujukan kepada Yulian dan Khadijah.
’Dasar Yulian sok tahu. Memang enak kalau sudah di skak sama Pak Kyai?’ gumam Abdullah.
”Maaf Pak Kyai, tapi apa yang sedang Anda pikirkan tentang kami?” tanya Yulian dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
Sejenak Kyai Hasyim tersenyum, secara bergantian menatap ke arah Yulian dan Khadijah. Lalu dengan begitu lembut dan santun Kyai Hasyim berkata kepada mereka. Entah menjadi nasehat yang akan membuat masalah mereka selesai, atau mereka akan tetap pada pendirian yang sama-sama mementingkan ego masing-masing.
”Saya itu hanya terkejut melihat kalian sedang tidur di serambi Masjid. Sedangkan yang saya tahu, Nak Yulian adalah seorang lelaki yang memiliki banyak fasilitas.”
”Begitupun dengan kamu, Nak Khadijah. Saya terkejut melihat kamu tidur di serambi Masjid, sedangkan saya tahu betul kamu memiliki tempat untuk berteduh setiap hari.”
”Dan sekarang saya bertanya kepada kalian. Apa kalian tengah merencanakan semua itu bersama atau secara kebetulan saja?”
Yulian merasa bingung untuk memberikan jawaban seperti apa kepada Kyai Hasyim. Ingin berkata jujur tapi merasa malu dan takut jika dicap sebagai lelaki yang tidak bertanggungjawab. Tetapi jika tidak dijawab dengan jujur, bagaimana cara meyakinkan Khadijah bahwa ia menginginkan Khadijah untuk kembali ke rumahnya.
'Harus aku menjawab apa?’ batin Yulian.
Sejenak Yulian menatap ke arah Khadijah, seolah meminta Khadijah untuk membantu memberikan jawaban kepada Kyai Hasyim. Namun, Khadijah hanya diam saja seraya menggelengkan kepalanya pelan, sangat pelan. Sehingga Kyai Hasyim tidak melihatnya.
”Sebenarnya kami sengaja merencanakan semua itu Pak Kyai. Karena kami tidak tahu lagi harus bermalam dimana, sedangkan tempat tinggal saya jauh dan tempat tinggal Khadijah telah dikunci. Oleh karena itu ... kami memutuskan untuk bermalam di serambi Masjid ini. Tapi ... kami tidak melakukan hal yang bodoh ... yang akan menimbulkan dosa, Pak Kyai.”
”Mungkin saya akan percaya kepada kalian, karena saya tahu betul bahwa kalian adalah orang baik. Kalian benar-benar menanamkan agama Islam dan mempelajarinya dengan sebaik mungkin. Tapi ... saya berharap kepada kalian untuk tidak melakukannya lagi. Setelah mengingat bahwa Nak Yulian sudah lama menduda dan Khadijah tidak memiliki pasangan pula. Saya khawatir, akan ada fitnah nantinya.”
Sejenak Yulian dan Khadijah terdiam, mencerna apa yang sudah dituturkan Kyai Hasyim kepada mereka. Iya, selama Khadijah meninggalkan Hafizha bersama Aisyah, selama itu pula Khadijah tidak tertarik untuk menikah ataupun sekedar mengenal seorang pria. Yang menjadi kesibukannya adalah merubah diri menjadi orang yang lebih baik dari masa yang dulu.
Setelah berpikir cukup panjang Yulian memutuskan sesuatu hal bagaimana untuk ke depannya nanti. Akan tetapi, ketika ia ingin mengatakan hal itu tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan masuk yang harus segera diterima olehnya.
”Maaf Kyai, bolehkah saya ijin menerima telepon sebentar?”
”Silahkan, Nak Yulian!”
__ADS_1
Yulian pun keluar dari masjid untuk menerima panggilan telepon tersebut. Sedangkan di dalam masjid masih ada Khadijah bersama Kyai Hasyim. Banyak lontaran pertanyaan yang diutarakan Kyai Hasyim kepada Khadijah dan Khadijah pun menjawabnya dengan kejujuran, karena sedari dulu Khadijah tidak bisa berbuat bohong terhadap Kyai Hasyim.
Khadijah menceritakan segalanya kepada Kyai Hasyim apa yang menjadikan dirinya merencanakan bermalam di masjid bersama Yulian. Dan semua tentang Hafizha yang tinggal bersama Yulian pun telah diceritakan oleh Khadijah kepada Kyai Hasyim. Dan Kyai Hasyim pun memberikan nasehat kepada Khadijah, tetapi nasehat yang diberikan Kyai Hasyim kepada Khadijah benar-benar tidak bisa dilakukan olehnya. Dan itu sudah menjadi kegigihan Khadijah untuk tidak ikut campur lagi dalam kisah Yulian.