
Setiba di rumah Yulian langsung menuju ke kamar hendak membersihkan tubuh nya yang sudah berkucur keringat setelah beraktivitas hampir jam sepuluh pagi. Sedangkan Abdullah harus bersiap kembali ke sekolah Garda dan Hafizha untuk menjemput mereka setelah meminta ijin kepada pihak sekolah. Untung saja diijinkan atas permintaan yang darurat, jadi keduanya bisa ikut mengantarkan Yulian, Khadijah, Alex dan Abizzar ke Bandara Edinburgh.
“Sudah siap, Neng?” tanya Yulian setelah mendapati Khadijah yang masih duduk di depan layar kaca rias.
“Sudah, Hubby.” Khadijah mengangguk pelan.
Bik Inem pun diminta untuk membantu membawakan peralatan Abizzar yang dimasukkan ke dalam koper kecil, sedangkan Arjuna dan Ahtar siap membawakan koper Khadijah dan Yulian yang cukup besar. Setelah itu ke empat koper dimasukkan ke dalam bagasi.
Semua masuk ke dalam dua mobil yang sudah disiapkan sedari tadi. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama lagi mobil pun dilajukan dengan kecepatan rata-rata, lalu membelah jalan raya Edinburgh yang tak cukup ramai siang itu.
“Neng pasti akan rindu suasana di sini.” Di sepanjang perjalanan Khadijah selalu mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan raya melalui kaca mobilnya.
“Sama, Neng. Hubby pasti juga akan merindukan suasana di sini, terutama... tempat di mana kita dipertemukan.” Yulian merengkuh jemati Khadijah.
Khadijah pun menoleh, menatap lekat wajah yang masih tampan rupawan itu. Meskipun kini Yulian memiliki bulu halus di rahangnya, tetapi Khadijah tetap menyukai kharisma seorang Yulian, yang selalu menjadi lelaki idamannya.
Setiba di Bandara kembali Arjuna dan Ahtar membantu membawakan ketiga koper besar itu dan juga koper kecil milik Abizzar.
“Abi minta jaga diri kalian masing-masing saat Abi tidak ada disamping kalian semua. Dan untuk kamu Arjuna_sebagai Abang tertua kamu harus bisa memberikan penjagaan seeta oenuturan yang baik bagi adik-adik mu.” Yulian menatap tajam Arjuna yang berdiri di hadapannya.
“InsyaAllah, Abi. Juna akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.”
Yulian merengkuh tubuh Arjuna yang tak kalah tegapnya dengan Yulian. Bertubuh maco bak atletis, ditambah lagi dengan perut sobeknya yang semakin menambah keren saja.
Setelah melerai pelukan dengan Arjuna, Yulian beralih ke Ahtar. Dan pesan yang hampir sama juga diberikan kepada Ahtar, lalu beralih lagi ke Hafizha yang berdiri di sisi samping kanan Ahtar.
“Putri Abi, dulu yang kecil kini sudah beranjak remaja. Meskipun begitu Abi harap kamu bisa menjaga marwah mu sendiri, Nak. Dan jangan lupa untuk selalu menjaga pandangan. Kalau membutuhkan apapun bilang sama kedua Abang mu dan Kakakmu.” Yulian mengusap kepala Hafizha, lalu mengecup keningnya_tanda sayang seorang ayah kepada putrinya.
“Iya, Abi. Hafizha akan menjaga apa yang wajib Hafizha jaga.” Hafizha mengangguk.
Obrolan dan saling memberi pelukan kini telah berakhir setelah Yulian, Khadijah, Alex dan Abizzar masuk ke dalam badan pesawat. Dan tidak lama kemudian pesawat pun telah lepas landas menuju ke Indonesia, tepatnya kota Medan_Bandar Udara Internasional Kualanamu.
Saat pesawat masih mengudara tak ada yang bisa diobrolkan di dalam sana, hanya suara hati yang terus melantunkan dzikir dari bibir hamba Allah. Yulian merengkuh jemari Khadijah yang sedang memangku Abizzar, lalu kembali menatap ke depan sembari terus berdzikir. Hal sama juga dilakukan oleh Khadijah dan Alex serta beberapa di sana yang memang menganut Islam.
“Alhamdulillah... akhirnya kita sampai juga,” pekik Yulian.
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya pesawat telah landing di Bandar Udara Internasional Kualanamu. Dan setelah menuruni badan pesawat keluarga Yulian sudah disambut oleh papa Adhi bersama ajudannya.
__ADS_1
“Assalamu'alaikum, Pa.” Yulian meraih tangan papa Adhi lalu menyalaminya.
“Pa,” sapa Khadijah.
Khadijah pun ikut menyalami papa Adhi, lalu berlanjut Alex_yang berjabat tangan layaknya besan tengah bertemu.
“Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai juga di sini. Bagaimana sekarang, apa kalian mau lanjut pulang saja atau...?”
“Pulang saja dulu, Pa. Takutnya Abizzar sudah kelelahan,” potong Yulian.
Papa Adhi mengangguk, tanda ia menyetujui keputusan Yulian. Begitu juga dengan Khadijah dan Alex, mereka juga tidak mau jika Abizzar akan jatuh sakit lagi jika terlalu lelah dalam perjalanan. Dan kemudian mobil melaju menuju ke rumah mewah di Griya Riatur Medan.
Di sepanjang jalan raya Khadijah menatap indahnya kota Medan-yang dipenuhi berbagai bangunan besar, beberapa toko yang sudah memenuhi pinggiran jalan raya. Dan saking serunya tanpa sadar mobil sudah memasuki halaman rumah mewah milik Yulian yang sudah lama ditempati oleh papa Adhi.
“Alhamdulillah, sampai juga di rumah ini lagi.” Air mata menggenang di pelupuk mata Yulian.
Air mata yang hampir jatuh segera di seka oleh Yulian, ia tak ingin jika Khadijah dan yang lainnya tahu saat itu rasa rindu terhadap kenangan bersama Aisyah tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.
‘Lupakan hal itu Yulian, ingatlah ada hati yang harus kamu jaga.’ Yulian bermonolog dalam hati.
“Ayo kita masuk!” ajak Yulian yang diangguki oleh Khadijah.
Pintu pun telah dibuka, peburuh di sana pun telah menyambut kedatangan Yulian dan keluarga barunya dengan kebahagiaan. Dan seketika suasana di sana berubah dengan canda dan tawa yang setia menemani.
“Bik Irah, tolong bantu saya bawa koper nya ke kamar, ya!”
“Siap! Tuan.”
Dengan semangat yang tinggi bik Irah yang sudah lama bekerja di sana membantu Yulian membawakan koper milik Khadijah ke kamar-yang sudah disiapkan.
“Terimakasih ya, Bik!” ujar Khadijah.
“Sama-sama, Nyonya. Itu sudah menjadi tugas bik Irah di sini, kalau mau dibantu lagi bisa panggil bik Irah.”
“Iya, Bik. Sepertinya, saya bisa kok Bik. Lagipula hanya menata baju saja, nanti kalau saya kurang tahu bagaimana di rumah ini saya akan mencari bik Irah.”
Bersikap lembut sudah setiap hari dilakuakn oleh Khadijah, dan hal sama pun dilakukan oleh Khadijah saat bertutur kata dengan bik Irah-yang setara dengan bik Inem. Karena Khadijah tidak ingin membedakan kehidupannya dengan siapapun, baginya sama saja.
__ADS_1
Bik Irah telah berlalu pergi, lalu Khadijah menata beberapa baju yang baru saja dikeluarkan dari dalam kopernya ke almari yang ada di sana. Sedangkan Abizzar sudah beralih ke tangan papa Adhi.
“Kamarnya luas sekali, pasti Yulian sengaja membentuk rumah ini agar Aisyah dan anak-anak nya merasa nyaman termasuk... Hafizha dulu.” Sekelebat bayangan Aisyah melintas begitu saja dalam ingatan Khadijah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa wajahnya begitu, Dek?” tanya Cahaya.
“Tidak apa-apa sih, Kak. Hanya saja... Izha merasa sepi tidak ramai begitu rumahnya. Tidak seperti biasanya.” Hafizha menghela napas lesu.
“Sabar saja! Daripada bengong begitu mending bantuin potong sayur sama dagingnya.” Cahaya menunjuk ke sisi samping kiri Hafizha, di mana daging dan sayur tergeletak di atas meja dapur.
“Baiklah! Daripada nganggur juga, kan.”
Saat Hafizha dan Cahaya disibukkan dengan peralatan di dapur tiba-tiba ponsel Hafizha pun berdering, hingga membuat Hafizha terhenyak saat mendengar sering telponnya.
“Dari siapa, Dek? Apa itu Abi?” tanya Cahaya penasaran.
“Iya, Kak. Tapi sayangnya... bang Ahtar sama bang Juna belum balik dari Masjid. Bagaimana kalau Abi nanti mencari mereka?”
“Kenapa harus risau, bilang sama Abi kalau mereka masih di Masjid. Beres, kan.” Cahaya mengulas senyum.
Hafizha pun mengangguk, lalu ia pencet tombol berwarna hijau sebagai tanda terima dari panggilan Yulian. Tidak lupa Hafizha mengucap salam setelah menerima panggilan itu_yang dibalas dengan lembut oleh Yulian.
“Abi hanya mau mengabarkan jika Abi sudah sampai di Medan. Meskipun di sini sudah pukul sebelas malam, tapi Abi tahu di sana masih pukul lima sore. Jadi, Abi semoatkan untuk menghubungi kalian di sana agar tidak khawatir.”
Setelah mengantarkan Khadijah ke kamar yang hendak menidurkan Abizzar, Yulian pun mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol dengan anak-anaknya yang masih tinggal di Edinburgh. Karena di Medan sudah larut malam Yulian segera mengakhiri obrolan itu.
“Alhamdulillah jika, mereka baik-baik saja di sana. Menghubungi Tristan dan Abdullah besok saja, sekarang aku harus istirahat dulu.” Yulian melangkah menuju ke kamarnya.
Deg...
Yulian dengan netra elangnya menatap tajam Khadijah yang berdiri samping kanan ranjangnya. Dan di hadapan Khadijah pun telah terpajang sebuah foto berbingkai, tidak lain itu adalah foto ... Aisyah.
‘Kenapa aku bisa se-ceroboh ini? Tanpa aku sadari aku tidak meminta Papa untuk melepaskan semua foto Aisyah di rumah ini. Bagaimana jika Khadijah merasa... cemburu?’
Bersambung...
__ADS_1