Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 9


__ADS_3

Acara yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Semua ruangan telah dihiasi dengan indahnya pernak-pernik yang bernuansa putri raja. Tidak luput pula dengan balon yang berhias frozen, sinema kartun yang banyak disukai gadis kecil. Begitupun dengan Hafizha yang memakai gamis bergambar frozen. Terlihat anggun dengan jilbab yang selalu menempel di kepalanya.


”Anak Abi sudah cantik. Sekarang main dulu sama bik Inem ya!” ujar Yulian.


Yulian pun mengusap lembut kepala Hafizha sebelum Hafizha lepas dari dalam pelukannya. Setelah itu, Yulian beranjak dari posisi ternyaman nya dan menuju ke kamar untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian.


Yulian merasa bahagia hati itu, karena semua anaknya berkumpul dalam nuansa bahagia. Arjuna dan Cahaya pun menghadiri acara ulang tahun Hafizha yang ke tiga tahun. Bukan hanya mereka saja, melainkan Ahtar pun juga datang ke Edinburgh dan akan tinggal beberapa hati di sana.


”Bagaimana Arumi, sudah bisa dimulai?” tanya Yulian memastikan.


Arumi manggut-manggut untuk memberikan jawaban kepada Yulian. Dan tidak lama kemudian acara pun dimulai dengan ucapan basmalah. Lalu, satu persatu rangkaian acara pun telah dilakukan dengan suasana yang bahagia. Dan di sela-sela rasa bahagia itu Arumi tengah membicarakan hal penting dengan Ahtar.


”Bagaimana, Mama Arumi? Apakah benar jika perempuan itu ... Bunda Khadijah?”


”Mama rasa itu benar, Ahtar. Tapi ... Mama juga belum bisa memastikan dengan benar siapa perempuan itu. Dan kini ... Mama tengah menyelidikinya.” Ahtar mendesah pelan, ada rasa sedih dalam benaknya.


”Jangan bersedih seperti itu! Kami akan terus berusaha untuk mencarinya. Dan satu hal lagi ... yakinkan Abi mu untuk menerima Khadijah.” Tristan menepuk pelan bahu Ahtar. Begitu terasa sulit bagi Ahtar sendiri untuk meyakinkan Yulian menikah lagi. Apalagi dengan Khadijah, ibu kandung Hafizha.


Ahtar mengiyakan permintaan Tristan dengan anggukan pelan. Setelah perbincangan yang tersembunyi itu dilakukan kini mereka berpencar kembali dan masuk dalam tawa riuhnya pesta yang masih berlangsung.


Hari pun sudah berganti sore, pesta yang terlaksana kini sudah berakhir. Semua petugas dekor rias pun telah sibuk mengemasi kembali barang-barangnya. Hafizha juga sudah berganti pakaian dengan yang biasa dipakai saat berada di dalam rumah. Sedangkan para tetua tengah mengobrol di ruang keluarga bersama Ahtar, Arjuna dan Cahaya. Sedangkan anak Tristan dan Arumi tidak ikut hadir dalam acara tersebut, karena ia harus menjalankan tugasnya sebagai guru mengaji.


”Ahtar, kamu sudah memasuki semester ke berapa?” tanya Tristan basi-basi.

__ADS_1


”Emm ... sudah ke empat, Om. Sebentar lagi lulus dan siap untuk menjadi dokter.” Seketika tawa pun telah terdengar dari dalam ruangan itu.


Percakapan demi percakapan telah membuat mereka semakin akrab dalam hubungan keluarga. Dan percakapan yang terakhir telah membuat Yulian terdiam tanpa bergeming dari tempatnya, duduk di sofa. Kata setiap lontaran kata dari Ahtar membuat Yulian tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa mendengarkan saja. Meskipun di dalam hatinya tengah memendam kemarahan, tapi tidak mungkin jika ia akan melupakannya begitu saja.


”Bi, tidak bisakah Abi menikah lagi?” tanya Ahtar penuh kehati-hatian.


”Tidak bisa. Umi kamu hanya satu, Umi Aisyah. Dan tidak ada yang lagi selain Dia.” Semuanya mendesah, merasa kecewa dengan jawaban Yulian yang selalu sama.


”Lalu ... bagaimana dengan Hafizha, Bi? Dia masih terlalu kecil, masih sangat membutuhkan kasih sayang dari sosok ibu ... terutama bunda Khadijah.” Yulian menatap tajam Ahtar saat mendengar nama Khadijah telah disebut.


Akan tetapi ... Yulian hanya diam dengan tatapan yang lama kemudian teralihkan. Dan dalam diamnya, Ahtar tak hentinya memojokkan Yulian. Seakan pernikahan yang kedua memang harus dilaksanakan demi menjaga kasih untuk Hafizha.


”Ahtar tahu, Ahtar tidak bisa lebih dalam mencampuri urusan pribadi Abi. Tapi ini semua demi Hafizha, gadis kecil yang kurang beruntung. Sejak kecil Hafizha sudah ditinggalkan ibu kandungnya dengan segala keterpaksaan, demi menjaga keutuhan rumah tangga Abi dan Umi.”


”Mungkin memang benar, Ahtar dan kak Juna hanya memiliki satu ibu. Tapi tidak dengan Hafizha, karena ibu kandungnya masih hidup.” Yulian sontak merasa terkejut setelah mendengar ucapan Ahtar yang penuh dengan penekanan.


Hati Yulian seketika bergemuruh, ada kobaran api yang seakan ingin menguasainya dan ada sisi lain yang baik, yang ingin menghentikan amarahnya. Dan Yulian merasa kini ia harus meredam amarahnya, sehingga ia memutuskan untuk pergi begitu saja dari mereka, terutama Ahtar.


Ahtar kembali mendesah setelah kepergian Yulian. Sesekali ia mengucap istighfar, karena telah membuat Yulian merasa marah atas setiap ucapannya yang kurang santun. Tapi ... mau bagaimana lagi, jika tidak seperti itu maka Yulian tidak akan pernah mengerti akan perasaannya sendiri yang memang masih membutuhkan sosok pendamping.


-----


Mobil telah dilajukan dengan kecepatan sedang oleh Abdullah, sebagai sopir pribadi Yulian. Dan sesekali Abdullah bertanya kepada Yulian, hendak pergi kemana. Tetapi, Yulian hanya berkata terus ... tanpa tujuan yang pasti. Sehingga membuat Abdullah merasa kesal atas sikap Yulian yang ambigu.

__ADS_1


”Kenapa berhenti, Abdullah? Bukankah aku sudah memintamu untuk terus berjalan.” Abdullah menatap Yulian dari kaca spion.


”Lihatlah dirimu saat ini, Yulian! Betapa bodohnya kamu telah dikuasai bisikan setan. Tidak sadarkah dirimu jika ... kamu telah goyah?”


”Apa maksud kamu, Abdullah?”


”Kamu masih belum menyadarinya, hah?”


Abdullah benar-benar tidak habis pikir bahwa Yulian bisa dikuasai bisikan setan yang membuatnya sulit menahan amarah yang bergemuruh dalam hatinya. Dan mobil yang dijadikan kendaraan oleh mereka, tidak akan pernah melaju sampai Abdullah merasa yakin bahwa Yulian sudah memahami kesalahannya.


Yulian terdiam dalam kebisuan nya. Seakan ia tengah berpikir apa yang membuat Abdullah sampai semarah itu terhadapnya. Sedangkan Yulian merasa tidak melakukan kesalahan apapun kepada Abdullah. Karena merasakan buntu dalam berpikir, Yulian membuka kaca mobilnya untuk menghirup udara diluar sana.


”Masjid?”


”Iya, itu adalah Masjid. Baru sadarkah kamu jika kita sedari tadi berhenti di depan Masjid, Yulian?”


”Astaghfirullah hal azim, apakah kemarahanku telah membutakan mataku, Ya Allah?”


Yulian merasa begitu bodoh sebagai manusia muslim. Baru kali itu ia benar-benar marah atas ucapan yang terlontar dari Ahtar, putranya. Setelah menyadari kesalahannya, Yulian meminta ijin kepada Abdullah untuk melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu. Bukan hanya Yulian saja yang ingin melaksanakan sholat ashar, begitu pula dengan Abdullah. Abdullah mengekori Yulian dari belakang.


Sholat empat rakaat pun telah dilaksanakan secara berjama'ah. Yulian dan Abdullah begitu khusu' mengikuti imam. Setelah usai melakukan sholat, mereka tidak langsung pergi dari Masjid yang kini membuat Yulian merasa nyaman dan enggan untuk segera meninggalkannya.


Yulian mengambil kitab suci dan membaca beberapa ayat. Sedangkan Abdullah, ia belum menghentikan dzikir nya. Begitulah kehidupan mereka jika tidak ada kegiatan lain, menghabiskan waktu hanya untuk memperbanyak amal ibadah sebagai bekal di akhirat nanti.

__ADS_1


__ADS_2