
Kaki kembali terhenyak dari tempat yang baru saja dikunjungi oleh Yulian bersama Abdullah. Dan kini menuju ke sebuah masjid besar yang menjadi satu-satunya masjid di sana, kota Edinburgh. Yang semakin lama banyak masyarakat nya yang menganut agama Islam, sehingga tidak asing lagi bagi semua orang di sana tentang islam.
”Abdullah, lebih baik kamu parkir kan mobilnya di sini saja. Karena lebih baik lagi jika kita berjalan kaki saat menuju ke masjid.” Abdullah mengatakan ucapan Yulian dengan menganggukkan pelan kepalanya.
Kaki yang menjulang kembali melangkah secara gontai dan Abdullah mengekori Yulian dari belakang. Menunduk, itulah yang dilakukan Yulian saat di hadapannya ada beberapa segerombol komunitas anak gadis ataupun wanita dewasa yang memandanginya. Karena bagi Yulian wajahnya bukanlah hal yang menjadi tontonan belaka bagi kaum hawa. Tapi... wanita mana yang tidak jatuh hati terhadap Yulian pada pandangan pertama.
Yulian mengambil air wudhu untuk melakukan sholat sunnah di lagi hari. Saat rambutnya yang terlihat basah karena air wudhu membuatnya semakin terlihat tampan rupawan, sehingga membuat kaum hawa semakin menggila saat melihat pesona seorang Yulian.
Dua rakaat pun telah Yulian laksanakan dengan khusu'. Dan setelah usai melakukan sholat dhuha, Yulian sejenak membaca mushaf yang dilantunkan dengan merdu. Sedangkan Abdullah, ia masih berdzikir untuk mengingat Allah dalam peraduan.
--------
Setelah memberikan fotocopy kepada temannya, Khaira memutuskan mencari udara segar sebentar saja, sebelum kota diramaikan dengan kendaraan bermesin. Khaira begitu menikmati setiap langkahnya, meski cahaya matahari mulai meninggi. Mungkin jika di Indonesia kebanyakan orang tidak akan merasa betah jika memakai pakaian yang tertutup dengan warna serba hitam. Bahkan akan terasa aneh saat berada di sana.
”Masjid? Bukankah... ini sudah waktunya untuk melaksanakan sholat dhuha?”
Kaki Khaira terhenyak dari tempatnya berdiri mematung, kini ia menuju ke masjid besar itu. Lalu, ia mengambil air wudhu pada bagian khusus untuk wanita. Sehingga ia merasa bebas jika harus membuka cadar dan juga jilbabnya.
Setelah usai mengambil air wudhu Khaira mengambil mukena beserta sajadah yang berada di dalam almari masjid tersebut. Lalu ia membentangkan sajadah itu untuk segera melaksanakan sholatnya.
__ADS_1
-------
Yulian sejenak menghentikan bacaannya ketika ia mendengar seorang wanita sedang membaca mushaf dengan merdu. Rasa penasaran pun mengeruak dalam jiwanya, tetapi ia tidak mungkin melihat siapa yang berada dibalik tembok besar yang memisahkan ruang antara laki-laki dengan wanita.
”Ya Allah, begitu merdu sekali bacaannya. Siapakah Dia? Jika engkau mengijinkan, pertemukanlah aku dengannya, walaupun hanya dalam mimpi atau... berikanlah aku petunjuk dalam peraduan malam.” Abdullah hanya menyimpan tawa saat mendengar suara lirih Yulian.
’Yulian ... tanpa kamu sadari ... kamu sudah mulai membuka hatimu. Bukankah sudah pernah aku bilang untuk tidak menipu Allah? Tapi keegoisan mu terlalu tinggi untuk mengakuinya,’ batin Abdullah.
Setelah cukup lama berada di dalam masjid kini Yulian memutuskan untuk berpindah tempat menuju ke kantor. Sejenak Yulian mendudukkan pantatnya di serambi masjid untuk memakai sepatu hitamnya yng mengkilap. Begitupun halnya dengan Abdullah, memakai sepatunya yang beberapa hari lalu dibelikan oleh Yulian.
’Wanita bercadar? Mungkinkah jika ... wanita itu yang membaca mushaf tadi?’ tanya Yulian dalam hati kecilnya.
Yulian mengulas senyum tipis dari bibirnya, lalu ia kembali berkata dalam hati, ”Ya Allah ... mungkinkah jika aku kini sudah mulai membuka hati? Hanya mendengar suaranya yang mengaji saja membuat jantungku berdenyut nyeri. Ada rasa yang singgah di sana.” Yulian menatap tajam Khaira yang berjalan dengan matanya yang berbinar.
”Sudah pernah aku bilang, kan?"
Yulian sontak merasa terkejut saat Abdullah menepuk pelan bahunya. Bahkan Yulian seketika beristighfar seraya meraba dadanya. Dan saat Abdullah melontarkan pertanyaan kepadanya, lagi-lagi Yulian masih tidak bisa mengerti apa yang dimaksud oleh Abdullah.
”Apa maksud kamu? Sudahlah Abdullah, jangan berbelit-belit seperti ini! Bisa kan, kamu berkata secara to the point saja kepadaku?” pekik Yulian.
__ADS_1
”Ya itu tadi, tanpa sadar kamu mengagumi wanita bercadar itu. Dan itu berarti ... hatimu tidak merasa beku. Aku mohon sama kamu untuk sedikit meluruhkan egomu dalam hal ini. Kamu memang berkata untuk tidak menikah lagi, tapi dalam hati kecil kamu ... kamu masih membutuhkan sosok wanita untuk mendampingi hidupmu. Jadi, jangan menipu Allah, Yulian.” Yulian menatap lekat Abdullah yang kini berada di hadapannya.
Yulian sejenak terdiam dan mencerna tutur kata lembut dari Abdullah. Seakan ia tengah berpikir bahwa hatinya meluruh atas nama cinta. Perasaan yang tiba-tiba hadir tapi seakan sulit untuk diartikan olehnya.
Karena hari sudah sore Yulian memutuskan untuk pulang. Bertemu dengan keluarga tercintanya. Dan tidak hentinya Abdullah selalu menemani Yulian kemana pun ingin pergi tanpa ada rasa bosan.
”Abdullah, ada apa di sana?”
”Emm... saya rasa itu pasti ada pencopet.” Yulian menajamkan tatapannya, berusaha menangkap apa yang terjadi.
”Abdullah, tolong kamu pinggirkan mobilnya terlebih dahulu! Kita cek bersama apa yang terjadi. Karena aku masih belum menemukan titik terang kejadian di sana.” Abdullah perlahan meminggirkan kendaraan bermesin itu.
Yulian dan Abdullah berlari menuju di mana kerumunan itu masih ramai. Dan saat tiba di lokasi, mereka menemukan wanita bercadar tengah tergeletak di jalan. Ada rasa iba dalam diri Yulian, tapi ia tidak mungkin begitu saja membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya.
”Maaf permisi! Ini ... apa yang terjadi?” tanya Yulian tanpa mengurangi sopan santunnya.
”Begini Tuan, tadi terlihat ada pria asing yang bertubuh tinggi dan sedikit berisi mengejar wanita itu. Dan saat sudah dekat, pria itu berbuat jahat terhadap wanita itu sampai jatuh pingsan. Dan kami yang melihat pun seketika menghampiri untuk melerai nya, tapi ... pria itu pergi begitu saja.” Yulian berusaha menerawang bagaimana wajah pria asing itu. Sesuai yang dijelaskan oleh salah satu saksi kejadian itu, Yulian mulai beraksi untuk mencari tahu.
Yulian menuju ke rumah sakit terdekat untuk menolong wanita bercadar itu. Sesekali Yulian membalikkan pandangannya ke arah belakang, bagian kursi penumpang. Namun, yang dilihatnya hanya wanita bercadar yang masih memejamkan matanya dengan rapat. Selain itu, tidak ada hal lain yang mampu dilihat oleh Yulian, selain pakian nya yang tertutup bukanlah kewajiban Yulian untuk menatap wanita itu dengan menerawang ke segala lekuk tubuhnya.
__ADS_1
”Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa dengan wanita itu.” Abdullah mengangguk pelan.
Setelah sampai di rumah sakit kedatangan Yulian disambut oleh beberapa petugas sore itu. Dan dengan segera wanita itu dipindahkan ke atas branker lalu, didorong menuju ke ruang UGD untuk segera diberikan pemeriksaan.