Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 26


__ADS_3

”Kenapa tidak menunggu Abi tadi? Jam berapa penerbanganmu, Ahtar? Jika bisa Abi akan segera ke bandara.”


”Masih sekitar lima belas menit kok, Bi. Maaf, tadi Ahtar hanya tidak mau mengganggu waktu istirahatnya Abi.”


Dengan mengucap salam panggilan pun telah berakhir dan Yulian meminta Abdullah untuk segera menuju ke bandara. Akan tetapi saat mobil hendak dilakukan tiba-tiba ada seorang wanita yang berdiri di depan mobilnya seraya merentangkan tangan.


”Khadijah?”


”Iya Yulian, itu benar Khadijah. Tapi ... apa yang dilakukannya di sana?”


”Entahlah! Aku akan turun untuk menemuinya, kamu tunggu saja disini.” Pandangan Abdullah memidai derap langkah kaki Yulian yang menghampiri Khadijah.


Yulian menuruni mobilnya sembari membawa payung untuk melindungi diri dari air hujan. yang tak kunjung reda. Di bawah payung yang sama Yulian dan Khadijah saling beradu tatap. Sejenak tatapan itu mengunci mereka, hanya mata dan hati yang mampu berbicara kala itu. Meskipun bibir berkata tidak, seribu kali pun hati akan mengatakan iya untuk menerima satu sama lain.


”Apa yang kamu lakukan disini dengan tidak membawa payung, Khadijah? Jangan bertindak bodoh, ini akan membuatmu sakit. Kembalilah masuk ... aku akan mengantarmu.” Yulian menatap tajam Khadijah.


”Kalau kamu tahu ini akan membuat sakit, lalu apa yang kamu lakukan tadi? Kebodohan, Yulian. Kalau kamu mampu bertindak bodoh, mengapa aku tidak bisa? Aku mau ikut kamu ke bandara, karena ada sesuatu hal yang ingin aku katakan kepada Ahtar.”


”Aku mohon, ijinkan aku ikut denganmu! Tenang saja, aku akan membawa Rahma ... agar kita tidak akan menimbulkan fitnah apapun.”


Yulian akhirnya mengangguk pelan dan mengiyakan permintaan Khadijah. Dan dengan segera mereka pun masuk ke dalam mobil. Lalu, mobil pun dilajukan dengan kecepatan tinggi. Karena hujan yang deras membuat jalanan tidak akan membuat mereka terjebak macet. Akhirnya mereka pun sampai di bandara dengan memakan waktu sekitar dua puluh menit.


Yulian menerobos orang-orang yang berlalu lalang di dalam bandara untuk segera menemukan keberadaan Ahtar. Dan akhirnya mereka pun bertemu sebelum ada kata terlambat di antara mereka.


”Abi minta maaf, karena Abi sudah terlalu bersikap egois kepadamu. Abi ... akan segera mengajukan lamaran kepada Khadijah. Restui lah keputusan Abi, Ahtar.” Ahtar mengangguk bersemangat dan dua ujung bibirnya ia tarik untuk mengulas senyum yang sempurna.

__ADS_1


”Jangan pernah sia-siakan waktu yang akan pergi begitu saja, Bi. Jika Abi memang memiliki niat baik, pasti Allah SWT akan membantu Abi. Jangan lupa untuk selalu melangitkan do'a dalam penghujung malam, Bi.”


”Siap! Abi akan usahakan untuk menjaga waktu dengan sangat baik.”


 


Setelah Yulian melerai pelukannya dengan Ahtar, sosok Khadijah telah berdiri di belakang Yulian dengan baju yang basah. Hal itupun membuat Ahtar mengalihkan pandangannya dan menatap Khadijah dengan penuh tanda tanya. Dan dengan rasa bahagia yang sejenak singgah dihatinya, Ahtar menghampiri Khadijah yang masih terdiam terpaku di posisi yang sama.


"Ahtar bahagia karena ... Bunda Khadijah sudah sudi menemui saya sebelum berangkat ke Korea. Terima kasih, atas perhatian Bunda kepada Abi.”


Ingin rasanya Khadijah memeluk Ahtar seperti anaknya sendiri. Namun, itu bukanlah kewajiban bagi mereka yang berhubungan tanpa adanya sebuah ikatan. Bahkan akan menjadi dosa jika Khadijah menangis dalam pelukan Ahtar. Hanya beberapa kata yang mampu dikatakan oleh Khadijah sebagai tanda rasa kasihnya kepada Ahtar yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri.


”Bunda sudah membacanya dan Bunda ... mengucapkan banyak rasa terima kasih kepadamu, Ahtar. Karena selama ini ... kamu mampu menjaga surat dan janjimu untuk Aisyah.”


”Itu sudah kewajiban aku untuk memenuhi janji itu, Bunda. Satu yang masih membuat hati Ahtar merasa tidak tenang ... karena Ahtar takut jika ... Bunda akan menolak lamaran Abi nanti.” Khadijah terbelalak atas apa yang baru saja dikatakan oleh Ahtar.


Khadijah seketika menepiskan rasa bahagia yang sejenak singgah dalam hatinya. Karena ia tidak mau melambung terlalu tinggi jika Yulian memang akan mengajukan lamaran untuknya. Begitu mustahil bagi Khadijah jika Yulian akan melakukan hal itu dengan tulus.


”Ahtar berangkat dulu. Kalian hati-hati selama disini. Dan Abi, jangan lakukan kesalahan yang sama.” Yulian mengangguk. Laku memberikan pelukan sejenak sebelum Ahtar masuk ke dalam badan pesawat.


”Ahtar, kamu hati-hati selama di sana. Bunda ... akan mengabari kamu setelah itu terjadi.” Ahtar mengangguk pelan.


Derap langkah kaki Ahtar pun sudah memasuki badan pesawat. Dan Ahtar mengambil duduk sesuai dengan nomornya. Lalu pesawat pun telah mengudara sampai ke atas. Sedangkan Yulian, ia tiba-tiba kembali merasa pusing. Karena air hujan terlalu lama membgutur tubuhnya.


”Huaacih... hiaacihh...”

__ADS_1


Khadijah tiba-tiba merasa pusing dan hidungnya beberapa kali bersin. Mungkin itu karena air hujan sejenak membasahi tubuhnya. Sehingga flu pun melanda keduanya, bahkan Yulian dan Khadijah sama-sama demam. Sehingga Abdullah memutuskan untuk segera membawa mereka pulang agar beristirahat.


”Yulian, haruskah kita kembali ke rumah Khadijah? Atau kita beristirahat di hotel saja?”


”Tidak enak jika dirasa harus kembali ke rumah Khadijah, Abdullah. Sebaiknya kamu hentikan mobilnya setelah kamu menemukan hotel yang layak.”


Tugas itupun dilakukan dengan sangat baik oleh Abdullah. Dan hujan di malam yang kian melarut telah mereda. Kini hanya hembusan angin kencang yang menusuk tubuh semua orang di saat berada diluar sana.


Beberapa menit kemudian akhirnya kendaraan bermesin milik Yulian pun berhenti di depan area hotel terdekat. Dan Abdullah harus mengurus pendaftaran terlebih dahulu sebelum menuju ke kamar mereka untuk segera merebahkan tubuh yang terasa lelah.


”Permisi, Mbak!”


”Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?”


”Begini Mbak, saya membutuhkan dua kamar untuk malam ini. Apakah masih ada?”


”Sebentar ya Pak, saya akan mencarinya terlebih dahulu.” Abdullah pun mengangguk.


Saat Mbak kasir masih meneliti tamu dan kamar yang masih kosong, tiba-tiba Yulian menghampirinya dengan tatapan yang tidak seperti biasanya.


"Abdullah, saya mau meminta tolong kepadamu setelah mengurus kamar untuk kami. Tolong belikan baju gamis yang longgar untuk Khadijah, aku rasa ... bajunya basah.”


”Ah iya, baiklah! Tapi ... haruskah aku juga membeli pakaian dalamnya?”


Pukulan dari Yulian ke bahu Abdullah seketika telah melayang setelah bisikan Abdullah begitu memekik telinganya. Malu sudah jelas dirasakan oleh Yulian, karena tidak mungkin juga jika ia kan meminta Abdullah untuk membeli pakaian dalam Khadijah. Akan tetapi... setelah dirasa pakain dalam Khadijah pasti ikut basah, setelah hujan telah mengguyur nya sejenak.

__ADS_1


”Maaf permisi, Pak! Saya ingin memberitahukan kepada Anda bahwa kamar di hotel ini tinggal satu ruangan saja. Bagaimana?”


Seketika merasa terkejut setelah Khadijah dan yang lainnya termasuk Yulian sudah mendengar seorang supervisor hotel mengatakan bahwa hanya dmada kamar satu-satunya di hotel malam itu. Akan tetapi, jika mereka menolak maka akan lebih jauh untuk kembali ke rumah Khadijah. Begitu pula dengan rumah Yulian, akan semakin jauh jika pergi ke sana. Entahlah! Kita nyimak saja bagaimana penulis membolak-balikan hati mereka.


__ADS_2