Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 32


__ADS_3

Sesampai di hotel Khadijah duduk ber selonjor di atas kasur. Perlahan tangannya bergerak untuk memijat pelan kakinya yang terasa pegal setelah melakukan perjalanan seharian. Senang memang ia rasakan bahkan bayangan tentang Yulian yang selalu membuatnya tertawa lepas menari-nari dalam pelupuk matanya. Sesekali Khadijah tersenyum, tanpa disadari sepasang mata tajam telah memperhatikannya sedari tadi.


’Ya Allah, melihatnya tersenyum seperti itu entah mengapa hatiku merasa damai. Dan ku mohon tumbuhkan lah cinta itu dalam hati ini,’ batin Yulian.


Yulian menghampiri Khadijah yang masih memijat kakinya. Lalu Yulian menggerakkan tangannya dan melakukan pijatan pelan pada kaki Khadijah.


”Yang mana, yang masih terasa pegal? Biar aku pijitin.” Sontak Khadijah merasa terkejut ketika tangan Yulian menyentuh kakinya.


Khadijah menarik kakinya dan menutupinya dengan gamis panjang yang ia kenakan. Hal itupun membuat Yulian tertawa tapi tidak mengeluarkan suara.


”Kenapa? Apa kamu masih canggung untuk bersentuhan denganku?”


Khadijah terdiam seraya menundukkan pandangannya. Masih merasa malu dan tak enak hati.


”Tak apa jika itu masih belum membuatmu merasa nyaman di sisiku. Aku tidak akan memaksa. Tapi aku merasa yakin, di dalam hatimu ada cinta untukku. I love you, Humaira ku.”


Khadijah mengangkat wajahnya, lalu dengan sendirinya bibir pun membalas ungkapan cinta Yulian.


”Ahabbatalladzi ahbabtani lahu.” Seketika Yulian menarik dua ujung bibirnya dengan sempurna setelah mendengar ucapan Khadijah sebagai balasan dari ungkapan isi hatinya.


Malam telah meminta mereka untuk segera mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah. Khadijah terlebih dahulu merebahkan tubuhnya di atas kasur, tanpa mengurangi sopan santunnya Yulian meminta ijin kepada Khadijah untuk menghargai Khadijah sebagai istrinya.


”Bolehkah aku ... tidur disampingmu? Tapi jika tidak diijinkan, aku akan tidur di sofa.”


”Boleh, silahkan!”


”Apa akan ada pembatas lagi?”


”Terserah Hubby saja,”

__ADS_1


”Kalau terserah aku ... apa aku bebas memelukmu seperti kemaren malam?”


Khadijah membulatkan kedua matanya dengan sempurna, mencerna apa yang dikatakan Yulian. Entah itu sebuah kata-kata saja atau Yulian memang ingin melakukannya. Dan hal itu membuat Khadijah tak mampu mengatakan apapun lagi, selain mengiyakannya. Karena ia tahu betul bagaimana hubungan suami istri itu tercipta dan terbina. Namun, jika Yulian meminta untuk melayaninya malam itu, Khadijah benar-benar akan menolaknya, bukan berarti Khadijah ingin melakukan sebuah dosa, melainkan Khadijah belum siap untuk menyerahkan dirinya kepada Yulian dengan sepenuhnya.


”Baiklah, kalau begitu tidurlah dalam dekapanku. Dan ... ijinkan aku membuka cadarmu, tidak baik seorang istri mengenakan cadar saat tidur bersama suaminya.”


Lagi-lagi Khadijah mengangguk, memberikan ijin keoada Yulian untuk membuka cadar yang selalu menutupi auratnya. Dengan debaran yang begitu kencang, Yulian meraba jilbab Khadijah bagian belakang untuk mencari tali cadar lalu melepasnya. Begitu pula dengan Khadijah, yang merasakan hal sama seperti Yulian. Jantungnya berdetak, seolah siap untuk melopat bsgutu saja. Apalagi saat Khadijah merasakan nafas Yulian dengan jarak yang begitu dekat. Membuat Jantung Khadijah berdisko ria di dalam sana.


”Cantik,”


Satu kata yang terlontar dari bibir Yulian sukses membuat pipi Khadijah memerah. Dan ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya. Namun, ujung jari Yulian menempel di dagu Khadijah lalu mengangkat wajah berseri dan cantik tanpa polesan make up yang berlebihan.


”Jangan malu seperti itu saat berada di depan Hubby mu. Ingat, kita sudah SAH menjadi suami istri di mata agama dan negara. Bukan hanya status yang kaleng-kaleng.” Khadijah pun terkekeh mendengar ucapan Yulian, dan itu membuat Yulian terpaku dalam tatapannya.


’Ya Allah ... Dia begitu cantik. Bidadari surga-Mu.’ batin Yulian.


”Ayo tidur! Berbaringlah, aku akan memelukmu dari belakang. Dan aku akan membacakan surat Ar-Rahman untukmu sebagai penghantar tidur.”


Di sepertiga malam Khadijah terbangun, karena ia ingin melakukan sholat tahajud. Sebelum beranjak dari tempat tidurnya, perlahan Khadijah memindahkan tangan Yulian yang melingkar di pinggangnya. Karena Khadijah tidak ingin membangunkan tidur Yulian yang terlihat begitu pulas. Khadijah bernafas lega ketika sudah melepaskan tangan Yulian dari pinggangnya, akan tetapi tidak lama kemudian Yulian ikut terbangun setelah mendengar ponselnya berdering.


’Jadi, sia-sia juga aku sudah melepas pelukannya. Niat untuk tidak membuatnya terbangun, malah Dia yang membuat alarm di jam segini.’ batin Khadijah.


Khadijah mengulas senyum tipis ketika Yulian terbangun dan membuka matanya. Lalu, Yulian mengudarakan suaranya.


”Mau sholat tahajud?”


Khadijah mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yulian.


”Ya sudah, kita berjamaah saja.” Kembali Khadijah mengangguk. Lalu mereka bergantian ke kamar mandi.

__ADS_1


Setelah dirasa siap untuk melakukan dua rakaat malam, Khadijah dan Yulian membentangkan sajadah. Dengan se khusus' mungkin mereka menunaikan ibadah sunnah sang Rosulullah. Seperti biasa, mereka melakukan sunah yang kedua setelah usai melakukan atakhiat akhir.


”Mau lanjut tidur atau baca mushaf dulu?”


”Emm ... maunya Hubby bagaimana? Kalau Hubby mengantuk lebih baik lanjut tidur saja, baca mushaf nya besok pagi setelah sholat subuh.”


”Terserah kamu saja, Humaira nya Hubby Yulian.”


”Bagaimana ... kalau lanjut tidur saja? Soalnya masih ngantuk.” Khadijah nyengir.


”Baiklah!”


Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah. Lalu mereka kembali ke atas ranjang untuk melanjutkan perjalanan di dunia mimpi.


’Bilang saja kalau Khadijah merasa nyaman dan hangat didekap oleh Yulian, kan.’ Penulis pun marasa cembukur dan iri tauukkk. Dan hanya berandai, minta satu lelaki seperti Yulian. Wkwkwk.


Seperti apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, membaca mushaf setelah melakukan sholat subuh. Yulian berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang suami, mendidik istrinya untuk mendapatkan surga-Nya.


”Bagaimana rencanamu untuk hari ini? Mau lanjut jalan-jalan, pergi ke suatu tempat atau ...”


”Bertemu Hafizha.” Sahut Khadijah dengan semangat.


”Maksudnya ... pulang?”


”Terserah, yang penting kita bertemu dengan Hafizha. Apa ... Hubby keberatan?”


”Sebenarnya tidak, tapi ... kalau bersama Hafizha kita tidak akan menemukan cinta dan kedekatan. Tapi ya ... terserah kamu sajalah, kalau itu keinginan kamu, aku tidak keberatan.”


Ada rasa tak enak hati di dalam diri Khadijah ketika Yulian mengungkapkan keinginannya yang ingin dekat dan menanamkan cinta dalam hubungan di antara mereka saat ini. Sehingga membuat Khadijah mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Hafizha. Dan akhirnya mereka kembali menikmati masa libur, alias masa bulan madu. Meskipun masih di seputar kota Edinburgh, tak apa bagi mereka asalkan bisa berdua. Dan mereka memilih Royal Mile sebagai tempat yang mereka kunjungi di hati kedua setelah pernikahan mereka.

__ADS_1


...Notes: Ahabbatalladzi ahbabtani lahu, yang memiliki arti ”Semoga Allah mencintaimu dan Dia lah yang membuat engkau mencintaiku, karena-Nya.”...


Sungguh membuat pembaca ikut baper dengan kegigihan Yulian menaklukkan hati Khadijah. Sabar, itulah yang ditanamkan di dalam hati Yulian untuk memahami bagaimana Khadijah dan seluk beluknya.


__ADS_2