
Yulian juga selalu membawakan bingkisan kecil untuk diberikan kepada Khadijah. Karena pada dasarnya seorang istri akan merasa senang dibawakan bingkisan dari suami, meskipun di dalamnya hanyalah hal kecil, seperti sebuah buku tentang islam, buku novel dan buku bacaan lainnya. Karena Khadijah setelah dinyatakan hamil, ia selalu menggeluti hobinya, menjadi penulis novel islami dan ada juga beberapa diantara lainnya. Dan menjadi pengajar sudah Yulian larang, karena Yulian tidak mau Khadijah merasa kelelahan.
“Assalamu'alaikum,”
Yulian mengucapkan salam saat hendak masuk ke dalam rumah. Dan tidak lama kemudian Khadijah memberikan balasan dari arah dapur.
“Wa'alaikumsalam,”
Khadijah mengembangkan senyumnya untuk menyambut kedatangan sang suami. Lalu meraih tangan Yulian dan mencium punggung tangan Yulian sebagai tanda hormatnya istri kepada suami. Hal sama pun dilakukan Yulian, mencium kening Khadijah sebagai tanda cinta dari suami kepada istri.
Setelah melakukan hal wajib keseharian meraka, Yulian menyodorkan bingkisan kecil kepada Khadijah. Dengan senyum mengembang Khadijah menerima bingkisan itu.
“Terimakasih, Hubby.”
“Sama-sama. Neng, sibuk apa di dapur?”
“Neng tadi mau masak untuk makan malam nanti, Hubby. Tapi tak ada yang bantu, agak susah kalau sedang hamil seperti ini. Kadang suka sensi sama bau yang tidak sedap di hidung Neng. Sedangkan bik Inem sedang menemani Hafizha membeli peralatan sekolahnya yang sudah habis.” Khadijah nyengir.
“Ya sudah, Neng duduk saja. Biar Hubby yang masak.”
“Tapikan, Hubby baru pulang dari kantor. Nanti capek,”
“Tidak, kok. Neng duduk saja,”
Tanpa bantahan Khadijah menurut saja saat Yulian menuntunnya ke kursi meja makan dan memintanya untuk duduk di sana. Sedangkan Yulian, ia mencuci tangannya terlebih dahulu lalu beraksi dengan tugasnya di dapur. Yulian melakukan tugas itu dengan mudah, tetapi saat hendak memasukkan ayam di wajan penggoreng tiba-tiba tangannya terkena api kompor dan juga minyak yang lagi panas-panasnya.
“Aduh,” rintih Yulian dengan lirih.
Seketika Khadijah berlari dan mendekati Yulian saat melihat Yulian tengah merintih kesakitan. Lalu Khadijah meraih tangan Yulian yang terkena api dan percikan minyak panas. Dan Khadijah segera meniup tangan Yulian yang sudah terlihat membiru dan sedikit melepuh.
“Dasar, istri aneh.”
Yulian menahan tawa dan sakit yang dirasakannya. Ingin melepaskan tawa itu, tetapi takut jika Khadijah akan tersinggung. Tapi terlihat aneh jika dipandang.
“Bunda, lagi apa? Terus itu tangan Abi memangnya kenapa?”
“Ini loh, Cahaya ... tangan Abimu tadi kena percikan api sama minyak. Terus ini Bunda lagi meniupinya.”
“Tapi ... niupnya kok ketutup cadar sih, Bun?”
“Oh iya, ya ... Bunda lupa.” Seketika Khadijah menunduk.
Khadijah jelas merasa malu saat berada di depan Yulian. Ia merutuki kebodohannya sendiri, mengapa bisa lupa jika saat itu ia masih memakai cadar yang menutupi wajahnya. Akan tetapi, meskipun tertutupi cadar, tiupan Khadijah begitu dirasakan oleh Yulian.
“Kenapa Hubby tidak bilang sih, malu kan jadinya sama Cahaya.” Khadijah mencubit perut Yulian.
“Aw, sakit Neng, dicubit seperti itu. Kenapa juga nyubit sampai begitu.”
“Biarin saja, habis Hubby juga sih yang tidak bilang.”
__ADS_1
‘Tuh kan, salah lagi dan merajuk lagi.’ batin Yulian.
Khadijah melanjutkan acara masaknya yang belum kelar. Dan adegan romantisnya pun hilang dalam sekejap, karena kesalahan kecil. Akan tetapi, Yulian tidak kesalahan itu akan semakin membesar jika ia tidak membujuk Khadijah dengan segera.
“Neng, jangan marah begitu, dong!”
Khadijah tidak bergeming, ia tetap bertahan dalam diamnya. Dan saat hendak mengangkat ayam dari wajan penggoreng tiba-tiba saja lantai itu licin, membuat Khadijah hampir terpeleset. Untung saja Yulian siap siaga menangkap tubuh Khadijah, sehingga tubuh Khadijah menindih tubuh Yulian.
“Bagaimana, enak tidak tidur di atas seperti itu?” tanya Yulian saat melihat Khadijah masih terpejam dan belum menyadari berada di atas tubuhnya.
“Hubby, maaf!”
Seketika Khadijah terperanjat dari posisinya itu, lalu membantu Yulian untuk berdiri dan Khadijah sering mengatakan permohonan maaf kepada Yulian karena sudah menindihnya.
“Hubby, maafin Neng ya! Neng tidak sengaja, tadi.”
“Tidak apa-apa, Neng. Harusnya Neng lebih hati-hati, coba kalau tadi tidak ada Hubby, kalau jatuh ke bawah bagaimana, coba ... hmm?”
“Tapi ... lain kali dicoba pas di ranjang saja bagaimana?”
Sontak membuat Khadijah menajamkan tatapannya, dan tabokan pun melayang ke lengan Yulian. Membuat Yulian merintih kesakitan saat tanpa sengaja tabokan itu mengenai tangannya yang terluka.
Khadijah kembali merasa bersalah sudah membuat Yulian merintih kesakitan. Dan dengan segera Khadijah membawa Yulian duduk di kursi setelah itu, Khadijah mengambil kotak P3K yang disediakan di rumah itu untuk mengobati luka yang ada di tangan Yulian.
“Aw...” rintih Yulian pelan.
Saat rasa khawatir membuncah dada Khadijah, justru itu membuat Yulian semakin mengembangkan senyum.
‘Ya Allah ... betapa cantiknya Dia. Lindungilah Dia dalam setiap waktu...’
Yulian terus mengembangkan senyum saat Khadijah tengah menatap luka di punggung tangan kanannya yang kian melepuh. Tiupan pelan dari Khadijah membuat Yulian serasa berdesir, hasrat pun kian memanas saat desiran kian merajalela di darahnya. Jiwa Yulian kian meronta saat itu juga.
“Neng...”
Panggil Yulian dengan begitu lirih, tetapi masih didengar oleh Khadijah.
“Apa, Hubby? apa masih terasa sakit?”
“Tidak. Tapi ...”
“Tapi apa sih, Hubby?” tanya Khadijah dengan membulatkan sempurna kedua matanya.
“Hubby ... mau itu, mumpung belum terdengar adzan maghrib. Mau tidak, Neng?”
Khadijah tahu hasrat nya pun kian menggebu, tidak bisa ditahan setiap gejolak yang ada dihatinya. Rindu akan hal itu sudah pasti, karena hampir tak ada waktu untuk melakukannya. Yulian yang terlalu sibuk dengan bisnisnya membuat Yulian merajuk dengan laptopnya hampir setiap malam. Dan ketika hendak meminta, target pun sudah ngorok duluan.
Tanpa menolak Khadijah mengangguk penuh kemantapan. Dan tahan lagi, ingin rasanya meluapkan setiap gairah. Hingga Yulian dan Khadijah terhanyut dalam ranjang yang sama.
Sensor... sensor... sensor...
__ADS_1
“Pelan-pelan, Hubby.”
“Tahan ya, rileks saja.”
Kembali Khadijah mengangguk. Biarpun merasakan sakit, tetapi Khadijah tetap menikmatinya. Jatuh ke dalam buaian cinta Yulian yang kian menggebu.
Setelah saling memuaskan mereka masih melanjutkan kebersamaan mereka di dalam kamar mandi. Melakukan sunnah Rosul dengan cara mandi bersama di dalam kamar mandi yang sama.
Di bawah kucuran air dingin Yulian melayangkan pelukan untuk Khadijah dari arah belakang. Karena sangat tidak mungkin jika memberikan pelukan dari depan, sedangkan perut Khadijah sudah terlihat membuncit. Di usia kandungan yang hampir enam bulan itu sudah membuat Khadijah merasa berbeda.
“Neng, Hubby makannya nanti saja ya...”
“Loh, kenapa? Kan, tadi Hubby sendiri yang sudah masak. Masa iya biarin Neng cuma makan bersama Cahaya saja?”
Yulian menghembuskan pelan nafasnya, lalu ia merasa tak tega jika membiarkan Khadijah hanya makan berdua saja bersama Cahaya. Karena mala itu, Hafizha meminta ijin untuk makan diluar bersama bik Inem, papa Adhi dan juga Abdullah. Sedangkan Ahtar dan Arjuna sudah pasti mereka belum pulang di jam segitu, terutama Ahtar. Karena ia harus menjalani operasi darurat.
“Ya sudah, kalau begitu Hubby temani Neng. Tapi setelah makan, Hubby harus bertemu dengan Tristan. Ada pekerjaan yang harus segera di urus.”
Khadijah mengangguk, mengiyakan Yulian. Sebagai istri ia harus bisa mengerti kesibukan suami, meskipun ia sendiri juga ingin diperhatikan dan dimanja lebih di masa kehamilannya yang sudah membesar.
Makan malam pun sudah dilaksanakan, Khadijah kembali merajuk menatap layar laptopnya untuk membuat bab baru dalam cerita novel yang kini sedang dibuat. Yang pastinya tidak kalah menarik dengan cerita tahajud cinta. Wkwkwk...
Jam dinding pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan Yulian masih meninjak lanjuti masalah yang membobol supermarket mimi miliknya. Disini dalam arti meninjak lanjuti, Yulian bersama Tristan ingin melihat secara langsung siapa yang orang dibalik kamera CCTV itu. Dan jika sudah tertangkap, Yulian ingin bertanya kepada orang tersebut.
“Bagaimana ini, Yulian? Sampai jam sepuluh belum ada tanda-tanda pergerakan dari orang itu.”
“Sabar dulu, lah. Bukannya ini belum tengah malam. Biasanya orang yang seperti itu akan melakukan aksinya ketika orang sekitar sudah tidur semua.”
“Wah, kamu ternyata mengamati sampai segitunya. Jangan-jangan ... kamu pernah melakukan hal itu dulu, ya?” pekik Tristan.
“Astaghfirullahalazim ... tidak seperti itu juga, Tristan. Tapi ... aku rasa pernah satu kali melakukan hal itu saat aku ... ingin mendengar suara merdu Khadijah saat menyamar dulu. Bukankah, kamu ingat saat aku menceritakan hal itu?”
Yulian melengkungkan bibirnya saat memorinya kembali mengingat malam itu. Suara merdu yang dimiliki Khadijah saat membaca mushaf tanpa sadar membuat Yulian jatuh hati.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Yulian dan Tristan masih setia memantau keadaan di supermarket mini milik Yulian. Sedangkan Khadijah sudah tertidur pulas di atas ranjang. Karena kantuk yeng mendera tidak dapat ditaha lagi.
Dan setelah beberapa jema berada di sisi samping supermarkat miliknya, akhirnya Yulian dan Tristan melihat orang yang telah dinanti kembali beraksi. Karena Yulian tidak melapor ke polisi maka orang itu mengira bahwa perbuatannya masih aman dan tidak akan tertangkap.
Namun kenyataannya, Yulian dan Tristan sedang mengintai dua lelaki yang tengah beraksi. Di mana yang satu masuk dan membobol gerbang supermarket, sedangkan satunya lagi mengamankan keadaan di luar supermarket.
“Bagaimana ini, Yulian? Haruskah kita masuk saja dan menggrebek mereka?” tanya Tristan yang sudah merasa geram dengan kedua pencuri itu.
“Jangan gegabah, Tristan. Jika kita keluar, kita tidak tahu apa tujuan mereka mencuri semua yang mereka bawa. Kita harus tahu mereka akan membawa kemana uang dan beberapa barang itu.”
“Tapi ini sudah malam, Yulian. Tidak mungkin rasanya ... jika kita tetap berada di sini dan mengikuti kemanapun mereka pergi. Ingat, ada istri yang sedang berada di rumah tengah menanti kepulangan kita. Apalagi Khadijah sedang hamil tua, perutnya sudah mblendung besar, Yulian.”
Yulian terdiam, tengah memikirkan apa yang dikatakan Tristan ada benarnya juga. Bayangan Khadijah yang terkadang memijat kakinya sendiri terlintas dalam pelupuk mata Yulian.
Tanpa menanti bagaimana kelanjutan aksi pencuri itu, Yulian menyalakan mesin mobilnya malu dilajukan dengan kecepatan sedang.
__ADS_1