Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 88 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Dan saat berjalannya oprasi, Yulian dan anak-anak nya tidak berhenti merendah kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar dipermudah segala urusan Khadijah di dalam ruangan yang amat mencekam.


“Dokter, bagaimana dengan operasinya?” tanya Ahtar dengan segera setelah dokter Jhonson baru keluar dari ruang operasi.


“Iya, bagaiamana dengan operasi dan kondisi istri saya saat ini, Dok?” imbuh Yulian yang ikut penasaran.


“Nyonya Khadijah...”


“Dok, tidak terjadi sesuatu dengan Bunda saya, kan?” tanya Hafizha.


“Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Tapi... Nyonya Khadijah mengalami kelumpuhan. Saya mohon maaf, saya tahu hal ini setelah operasi.”


Pertahanan Yulian telah luluh lantah, bagaikan petir yang begitu keras telah menyambar nya saat itu juga. Berulang kali Yulian mengucapkan istighfar, kembali menguatkan hatinya untuk saat berada di hadapan semua anaknya.


‘Ya Allah, kenapa Engkau tidak menghukumku saja? Kenapa semua itu harus terjadi kepada Khadijah, wanita yang sudah berhasil membuat hatiku berpaling dari Aisyah.’


Yulian mengepalkan erat jemarinya, mengingat saat mobil itu menghantam tubuh Khadijah dengan sangat kuat. Dan saat itu juga Yulian merasa bersalah tidak bisa menjaga Khadijah.


‘Apa aku akan terus gagal dalam melindungi istriku? Seperti Aisyah dulu, yang tidak pernah aku ketahui sakit yang dideritanya. Dan sekarang, kecelakaan itu membuat luka baru.’


“Abi, Juna yakin Abi kuat dalam menghadapi semua ini. Jika Abi lemah, bagaimana kita bisa kuat dan bagaimana Abi bisa menguatkan Bunda jika nanti bangun?”


Yulian menatap Arjuna, Ahtar dan Hafizha, lalu melayangkan pelukan kepada ketiganya. Mereka saling menguatkan dan detik itu juga Yulian memutuskan untuk mengungkap semuanya kepada Hafizha.


”Abi mau bicara sama kalian, Ahtar dan Arjuna bisa ikut Abi sebentar?”


Arjuna dan Ahtar saling tatap, mereka diam sejenak untuk berpikir. Dan mereka rasa hanya satu alasan mengapa Yulian ingin bicara dengan mereka.


Arjuna dan Ahtar mengekori Yulian dari belakang dan langkah pun terhenti setelah mereka berada di kantin rumah sakit. Karena bagi Yulian itu adalah tempat yang tidak mencurigakan jika mereka bertiga akan bicara di sana.


“Abi... mau bicara tentang Hafizha. Abi sudah merasa yakin harus mengatakan semuanya kepadanya sebelum terlambat.” Putus Yulian yang sudah mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan Khadijah.


“Apa itu tidak terlalu menyakiti hati Hafizha, Bi? Hatinya saat ini hancur mendengar Bunda Khadijah mengalami kelumpuhan,” ucap Arjuna.


“Iya Abi, kita harus memikirkan apa yang saat ini dirasakan oleh Hafizha. Kita tidak bisa memaksa hatinya untuk menerima kenyataan jika Dia... bukan anak kandung Abi dan Umi Aisyah.”


Hening...


Yulian kembali bimbang setelah merasa yakin akan mengatakan semuanya. Ketiga nya kembali berpikir untuk memutuskan yang terbaik demi masa depan dan keselamatan Hafizha. Yulian takut jika Alex tahu Hafizha adalah putri Khadijah maka keselamatan Hafizha akan bahaya.


“Baiklah, privasi ini kembali kita tutup rapat. Abi harap kalian bisa menjaga Hafizha dan Abizzar. Alex sudah berkeliaran di mana-mana, takutnya kembali menyerang mengingat kasus itu.”


“Baik, Abi.” Arjuna dan Ahtar mengangguk.


Yulian, Arjuna dan Ahtar kembali menemui Hafizha yang duduk sendiri di depan rumah ICU. Sedangkan Cahaya sudah berpamitan hendak pulang terlebih dahulu, karena ada Garda dan Abizzar yang memang memerlukan dirinya.


“Dek, sebaiknya kamu pulang sama bang Juna. Biarkan Bunda bang Ahtar dan Abi yang jaga.” Selembut mungkin Ahtar meminta kepada Hafizha untuk ikut pulang bersama Arjuna.


“Tapi...”


“Ingat, besok kamu juga harus sekolah. Tidak baik mengabaikan pendidikan yang amat penting. Jika ada apa-apa sama Bunda, bang Ahtar akan segera menghubungimu.” Ahtar mengangguk untuk meyakinkan Hafizha.


Sejenak Hafizha mendesah, ada rasa tidak tega dalam hatinya jika harus meninggalkan rumah sakit. Namun apa yang dikatakan Ahtar ada benarnya juga, sehingga Hafizha pun ikut pulang bersama Arjuna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku ingin kamu terus lindungi Hafizha dan Arjuna dalam perjalanan pulang. Jangan sampai Alex terus menerus mendekati keluargaku.” Yulian memerintahkan seseorang yang berada di seberang untuk menjadi pengawal pribadi Hafizha.


Yulian duduk dan mendampingi Khadijah, jika saja Khadijah akan sadar ia langsung bisa menghibur Khadijah dengan kehadirannya. Sedangkan Ahtar lebih memilih untuk duduk di luar.


“Neng, cepat bangun. Hubby mu ini sudah rindu berat, apalagi Abizzar dan Hafizha. Apa kamu tidak ingin melihat mereka, hah?”


Yulian merengkuh jemari Khadijah yang masih lemas, lalu mengecupnya dan menatap wajah Khadijah yang masih pucat. Dalam hati Yulian, ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa melindungi Khadijah dari kecelakaan itu.

__ADS_1


“Andai saja sore itu Neng tidak keluar, maka... kecelakaan itu tidak akan terjadi.”


“Ya Allah, jika Khadijah sadar nanti semoga Engkau perbesar rasa sabarnya dalam menghadapi cobaan-Mu.”


Ada rasa nyeri dalam hati Yulian mengingat kelumpuhan Khadijah. Ia tidak tahu harus mengatakan apa jika Khadijah menanyakan kakinya yang tidak bisa digerakkan secara leluasa. Dan Yulian tidak tahu bagaimana Khadijah nanti jika mengetahui akan hal itu.


Rasa kantuk tidak bisa ditahan lagi oleh Yulian, mata yang sembab membuat Yulian memejamkan matanya dengan menyandarkan kepalanya di atas brankar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


”Ya Allah apa yang membuat hatiku merasa gelisah? Jodoh, tidak sepantasnya aku memikirkan jodoh dikala Bunda Khadijah menghadapi musibah yang besar.”


Sesaat Ahtar sempat tertidur pada pukul dia belas malam. Namun setelah lima belas menit ia terbangun kembali setelah mengalami mimpi buruk yang membuat hatinya merasa gelisah.


“Ting... Ting...”


Sebuah pesan telah masuk ke nomor ponsel Ahtar, dan setelah dilihat pesan itu dari Hafizha. Ahtar pun mengembangkan senyum nya setelah membaca pesan itu.


[Assalamu'alaikum, Bang. Sudah tidur belum? pasti sudah ya! Ah tidak, bang Ahtar pasti sedang memikirkan gadis itu. Jika jodoh yakin saja bang, Allah akan mempermudah pertemuan kalian nanti.]


[Bang, bagaimana Bunda? Apa sudah membaik? Besok Izha mau ke rumah sakit pagi-pagi sebelum berangkat sekolah. Bang Ahtar siapin sarapan untuk Izha ya! Izha kangen disuapin Abi.]


[Bang... Izha tak bisa tidur.]


Ahtar merasa tidak tega jika mengabaikan pesan adik kesayangannya itu. Sehingga ia memutuskan untuk membalas pesan Hafizha hanya satu kali saja, agar Hafizha segera tertidur megingat jam yang sudah memasuki pukul setengaj satu malam.


[Wa'alaikumsalam adek Abang. Kenapa tidak bisa tidur? Mending ambil air wudhu gih, lalu sholat sebentar dan lekas tidur. Jangan sampai telat bangun dan meninggalkan sholat subuh!]


Pesan pun telah dikirim oleh Ahtar. Namun tidak ada balasan lagi dari Hafizha, karena dapat dipastikan jika Hafizha melakukan perintah Ahtar setelah membaca pesan darinya.


“Dokter Ahtar kenapa senyum-senyum sendirian begitu?” sapa seorang petugas kebersihan.


“Ah tidak, hanya membalas pesan dari adik saja. Kenapa masih bekerja di malam seperti ini?”


”Tak apalah, Dok. Mengais rejeki receh seperti saya itu yang seperti ini, tidak mengenal waktu yang pasti dapat rejeki.”


“Lebih baik sekarang kamu duduk disini dan temani saya, karena itu sudah termasuk pahala.” Ahtar menepuk kursi kosong di sampingnya.


Obrolan ringan pun telah menyelingi keheningan malam. Karena Ahtar yang tidak bisa tidur kini ada yang menemani dan menghiburnya. Setidaknya Ahtar bisa melupakan tentang jodoh yang masih belum dipertemukan dengannya oleh mbak penulis. Membuat hati Ahtar merasa resah pula.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kantuk yang mendera hebat membuat Yulian tidak terbangun sama sekali. Bahkan saat adzan subuh telah berkumandang pun Yulian enggan mengerjapkan kedua matanya, maunya hanya bermalas-malasan saja.


Ahtar masuk ke ruang ICU untuk menengok Khadijah. Dan setelah berada di dalam Ahtar hanya berdiri menatap Yulian yang masih tertidur dengan pulas.


“Abi... jika Ahtar sudah berkeluarga nanti ingin rasanya Ahtar seperti Abi. Kesetiaan itu mahal, yang harus dijaga dan ditepati oleh seorang lelaki.” Ahtar menyunggikan senyum dengan harapan segera dipertemukan dengan jodohnya.


Ahtar melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, karena jam sudah menunjukkan pukul lima subuh maka Ahtar segera membangunkan Yulian dan meminta Yulian untuk segera menjalankan sholat yang hanya dua rakaat.


“Maafkan Abi, kantuk nya tidak bisa hilang.” Yulian beranjak dari tempat duduknya lalu menuju ke mushola.


Ahtar hanya menggelengkan kepala saja saat melihat tingkah Yulian, lekai paru baya tetapi masih saja berkharisma.


‘Aku lupa tidak membawa baju. Lebih baik aku telefon bang Juna saja dan memintanya untuk membawakan pakaian ku kemari.’ batin Ahtar sambil memencet tombol telefon.


Tut... Tut... Tut...


Ahtar mengerutkan keningnya, merasa heran jika Arjuna tidak mengangkat panggilannya. Sedangkan jam sudah menunjukkan puk setengah enam pagi. Tidak mungkin rasanya jika Arjuna maupun yang lainnya belum bangun.


Ahtar mencoba untuk menghubungi Arjuna kembali, dan setelah ketiga kalinya Ahtar berusaha akhirnya panggilan itupun telah diterima oleh Arjuna.


“Assalamu'alaikum, akhirnya... diangkat pula sama bang Juna.”

__ADS_1


“Wa'alaikumsalam, ada apa memangnya Dek? Apa terjadi sesuatu dengan Bunda?”


“Tidak kok, Bang. Ahtar hanya mau minta tolong sama bang Juna untuk membawakan pakaian ganti untukku. Soalnya... aku lupa tidak bawa.”


“Baiklah, nanti Abang akan kesana bersama Hafizha. Katanya Dia mau menengok Bunda dulu sebelum ke sekolah.”


“Iya, bang. Ahtar tunggu dan jangan sampai telat! Bau badannya sudah menyengat ini, masa iya dokternya tak mandi. Kan, tidak etis nanti.” Ahtar menggaruk tengkuknya nyang tidak gatal.


Setelah Yulian sudah kembali ke ruang ICU Ahtar berpamitan hendak ke ruangannya. Membereskan beberapa berkas yang masih berantakan di atas mejanya. Bisa- isa dicap sebagai dokter yang tidak memiliki kerapian jika belum dirapikan dan pasien pun tidak akan tertarik dengannya.


“Khadijah, aku ingin kamu bangun sekarang! Aku merindukan tawa dan candamu... aku merasa kesepian. Jangan kamu patahkan hati ini setelah menetap untuk berlabuh hanya padamu. Dan Allah sudah memberikan jawaban itu dalam tahajudku.” Yulian mengusap puncak kepala Khadijah, membelai lembut pipinya yang tidak tertutupi akan cadar.


“Ya Allah, jangan buat Dia terlalu lama terpejam. Bangunkan Dia dengan segera, aku tidak mau kehilangannya secepat ini.” Di dalam hati Yulian terus meminta kepada Allah untuk memberikan pertanda kesadaran Khadijah.


Yulian beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil air wudhu hendak membaca mushaf sembari menanti kehadiran Hafizha dan Arjuna.


Lantunan setiap ayat yang dibaca oleh Yulian begitu terdengar merdu. Membuat hati menjadi merasa damai saat membaca maupun mendengarnya. Hal itulah yang sering dilakukan Yulian saat merasa dirinya lemah tak berdaya, hanya berserah kepada Sang Pencipta agar diberikan kemudahan dan kesabaran dalam menghadapi segala Ujian Tuhan.


“Fa inna ma'al-'usri yusra'...”


“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”


“Inna ma'al-'usri yusra'...”


”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”


Setelah membaca surat pendek Yulian berlanjut membaca dzikir pendek.


“Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin...”


Dan dzikir Nabi Yunus ini terbukti menghilangkan kesusahan, kesulitan dan rasa takut. Sehingga seringkali Yulian melantinkan dzikir Nabi Yunus di kala merasa tengah menghadapi kegelisahan, rasa takut kehilangan dan mengalami kesulitan dalam hal apapun. Dengan kesungguhan Yulian Allah pun memudahkan setiap urusan Yulian.


“Khadijah, aku akan selalu mengingat kata-kata emas dari Ali bin Abi Thalib. Di mana kata-kata emas itu meminta kita untuk tidak berhenti mendoakan orang yang kita cintai. Dan aku akan selalu mendoakan untuk kebaikanmu.” Yulian ingin menjadi suami yang selalu mendoakan kebaikan untuk istrinya.


Senyum terukir begitu indah, beberapa kali pula Yulian mengecup kening Khadijah meskipun Khadijah memang tidak bisa merasakan kehangatan setiap kecupan maupun setiap rengkuhan jemari Yulian. Namun, hati yang ikhlas tidak membuat luntur cinta Yulian yang akan memberikan kasih sayangnya kepada Khadijah meskipun ia tahu betul bagaimana kondisi fisik maupun raga Khadijah.


“Nothing is impossible. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah sudah berkehendak. Aku yakin, Khadijah itu wanita yang kuat.” Tristan menepuk pundak Yulian.


Yulian tidak menyangka jika Tristan akan kembali secepat itu ke Edinburgh setelah menempuh perjalanan bisnis di Amerika. Dan hanya Tristan yang mengerti bagaimana perjuangan Yulian meluluh lantahkan pertahanan Khadijah untuk menerima khitbahnya.


“Kapan kamu kembali ke Edinburgh, Tristan? Dan ... darimana kamu tahu aku ada di sini?”


“Hei kawan, kita berteman sudah lama. Kamu tidak melupakan Abdullah bukan? Dia memberitahukan segalanya kepadaku dan juga Arumi. Dan Dia juga... memberitahukan aku tentang Alex.” Terang Tristan kepada Yulian.


Obrolan ringan tentang bisnis maupun kehadiran Alex yang telah kembali mericuhkan kehidupan keluarga Yulian telah menemani Tristan dan Yulian pagi itu. Namun obrolan sengaja dihentikan setelah mereka melihat Hafizha yang berjalan gontai bersama Arjuna dari ujung koridor rumah sakit.


“Jangan beritahu siapapun termasuk Hafizha. Karena aku takut Alex akan mencelakai nya jika tahu Dia adalah anaknya dengan Khadijah,” pinta Yulian dengan binar mata penuh harap.


Tanpa suara Tristan mengangguk untuk mengiyakan permintaan Yulian. Dan Tristan berjanji dalam hatinya akan membantu Yulian dalam membasmi kejahatan yang terus dilakukan oleh Alex.


“Assalamu'alaikum, Abi... Om Tristan.”


“Wa'alaikumsalam,” balas Yulian dan Tristan bersamaan.


Hafizha dan Arjuna seketika menyalami Yulian dan Tristan yang duduk di ruang tunggu. Dan setelah itu Arjuna menghubungi Ahtar melalui udara, karena tidak mungkin jika Arjuna akan mengantar pakaian gantinya ke lantai dua, sedangkan ruangannya saja di lantai bawah. Akan merepotkan saja jika harus naik ke atas lalu turun lagi ke bawah.


“Assalamu'alaikum, Om Tristan,” sapa Ahtar ketika sudah sampai di lantai bawah.


Ahtar pun menyalami Tristan. Lalu dilanjut dengan memberikan sarapan pagi kepada Hafizha seperti apa yang sudah diminta olehnya.


“Ya sudah Om Tristan dan Abi... Ahtar mau kembali ke ruangan dulu!” pamit Ahtar kemudian.


Yulian dan Tristan hanya mengangguk, setelah itu Yulian harus memanjakan Hafizha yang meminta disuapin sarapan pagi dengan menu daging rendang. Andai kalian tahu bagaimana perjuangan Ahtar saat mencari keinginan Hafizha, sungguh melelahkan. Namun demi adik kesayangan Ahtar mau melakukan semuanya meskipun harus mengelilingi kota Edinburgh dan mengantri sampai berjam-jam.

__ADS_1


“Brukk!”


Saat menuju ke ruangannya Ahtar tidak sengaja menabrak seseorang yang membuat orang itu tersungkur di lantai.


__ADS_2