Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 143 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Bukankah itu... Humaira? Kenapa mereka hanya berdua saja di sana? Haruskah aku kesana?” monolog Khadijah.


Khadijah tidak mau jika Ahtar ataupun Humaira tidak bisa menjaga marwah masing-masing karena mengingat dari pihak ketiga yaitu, setan. Dan untuk menghindari hal tersebut Khadijah memutuskan untuk turun ke bawah menemui keduanya.


‘Lebih baik aku dengarkan obrolan mereka dari sini dulu.’ Monolog Khadijah dalam hatinya.


Khadijah tidak langsung menemui keduanya dan memutuskan untuk berdiri di balik tembok berwarna putih itu.


“Bang Ahtar yang sabar dengan semua yang sudah terjadi. InsyaAllah, Abi akan tenang di surga-Nya Allah.” Humaira memulai obrolan malam itu dengan Ahtar.


Ahtar tidak memberikan respon sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh Humaira. Bahkan Ahtar tidak bergeming sama sekali, ia tetap berada di posisi yang sama seperti tadi tanpa memandang ke arah Humaira nyang berdiri di sampingnya.


“Bang Ahtar kenapa? Apa bang Ahtar masih marah sama saya dengan kejadian beberapa bulan lalu?”


“Baiklah, jika itu masalahnya... saya minta maaf dengan semua itu. Bisa kah, kita perbaiki semuanya dari awal?”


Humaira menoleh ke arah Ahtar yang masih menyimpan suaranya dengan rapat. Humaira menghembuskan napas beratnya, ia benar-benar ingin dekat dengan Ahtar meskipun tak bisa menjadi pendamping hidup lelaki berparas tampan itu.


Hening...


“Tidak perlu minta maaf dan tidak perlu saling memaafkan. Karena kita tak punya salah apapun. Anggap saja di antara kita tak pernah terjadi apapun, lupakan! Lupakan semuanya dan apapun itu anggap kita berakhir, benar-benar berakhir.” Ahtar memberikan penekanan pada kalimatnya yang telah lolos keluar dari bibirnya.


Setelah mengatakan hal itu Ahtar pun pergi meninggalkan Humaira yang masih berdiri mematung di posisi yang sama. Dan ucapan Ahtar menohok hati Humaira hingga terdalam. Tanpa Ahtar sadari ia sudah menyakiti hati Humaira. Begitu juga dengan Humaira, seharusnya bisa menjaga sikapnya sebagaimana ia menjaga marwahnya.


“Ahtar, berhenti!” ucap Khadijah menengahi.


Ahtar yang mendengar suara Khadijah seketika menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Bunda?! Bunda sedang apa di situ? Apa Bunda... mendengar semuanya?” tanya Ahtar memastikan.


Khadijah mengangguk, lalu menghampiri Ahtar dan mengulas senyum di balik cadarnya.


“Minta maaf lah sama Humaira. Bunda tahu, maksud kamu berkata seperti itu agar Humaira menjauh dari kehidupan putra Bunda ini. Tapi... pengucapannya tidak harus sekasar itu. Jika hatinya terluka, maka kamu yang bersalah dalam. hal ini.”


“Pesan Bunda hanya satu, jangan pernah sakiti seorang perempuan mana pun dan siapapun itu.”


Khadijah mengusap lembut lengan Ahtar, membuat Ahtar menyadari kesalahannya setelah menelaah setiap kata yang diucapkan Khadijah. Khadijah mengangguk, tanda jika ia meminta Ahtar untuk mengucapkan kata maaf. Begitu juga dengan Ahtar, ia membalas anggukan kepada Khadijah.


“Bunda temani kamu, agar tidak ada setan dari pihak ketiga. Dan Bunda akan meminta Humaira untuk menjauh dari kehidupan putra Bunda ini. Bagaimana, setuju?” tawar Khadijah yang diangguki Ahtar.


Ahtar dan Khadijah kembali menghampiri Humaira yang masih termangu di dekat taman itu. Lampu yang temaram membuat Humaira bisa melampiaskan kesedihannya di sana, bahkan air mata yang tertahan kini telah mengucur deras, sampai membuat Humaira menangis sesenggukan.


Di belakang kursi panjang yang berada dipinggir taman itu ada Khadijah dan Ahtar yang sedang melihat Humaira tengah menangis. Khadijah memberikan kode anggukan kepada Ahtar agar Ahtar segera meminta maaf kepada Humaira atas luka yang diberikan kepada Humaira.


“Iya, Humaira. Maafkanlah Ahtar, putra Bunda. Mungkin maksud Ahtar tidak mengusir kamu dalam kehidupannya, tetapi... Bunda harap kamu mengerti jika perasaan cinta itu tidak mudah dipaksakan. Cinta itu tumbuh dari dalam hati yang terdalam. Cinta itu akan bergerak dengan sendirinya tanpa kita sadari. Dan Bunda harap, kamu bisa melupakan cinta kamu kepada Ahtar. Karena, cinta kalian berdua berbeda dan tidak sejalan.”


“Bunda yakin, jodoh dari Allah akan lebih indah jika sudah tiba waktunya. Bersabar dan berusaha itulah kunci kita sebagai manusia dalam arti ‘menunggu’.”


Khadijah mengusap punggung Humaira dengan lembut. Khadijah berusaha untuk memberikan ketenangan dalam hati Humaira yang sedang potek karena Ahtar berkali-kali menolaknya.


Humaira benar-benar tertampar dengan setiap kata yang diucapkan Khadijah. Dan itu memang kenyataannya, cinta tak akan mudah didapatkan sekalipun kita sudah seribu kali berusaha jika, cinta itu memang bukan jodoh yang dipilihkan dari Allah. Dan jika cinta dipaksakan maka, hubungan yang terjalin dapat dipastikan tak akan lebih lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam heningnya malam Khadijah memutuskan untuk melepas rasa kantuk yang sudah ia rasakan. Khadijah mengambil posisi yang akan memeluk Abizzar dari samping dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya dan juga tubuh Abizzar. Sebelum benar-benar terlelap dalam tidurnya, Khadijah tak lupa membaca doa agar tidurnya dalam penjagaan Allah.

__ADS_1


“Semoga saja kelak kamu tumbuh menjadi lelaki yang berwibawa, bijaksana, adil dan juga... sholeh. Seperti Abi mu dan juga kedua abangmu, Arjuna dan Ahtar. Aamiin.”


Khadijah mengecup kening Abizzar yang terlelap. Dan tak lama kemudian Khadijah pun ikut damai dalam malam, melepas kerinduan yang menyiksa, melepas penat yang menjadi beban pikiran dan melepas rasa lelah yang menyelimutinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa ini benar-benar sudah menjadi keputusanmu, Zuena? Apa kamu tidak merasa kasihan kepada keluarga Abi Yulian terutama, dokter Ahtar?” cecar Adam dengan becibun pertanyaan.


Zuena menghembuskan napas kasarnya. Ia merasakan begitu sesak di dadanya saat kembali mengingat malam itu. Malam yang menjadi malam terakhir pertemuan antara dirinya dengan Ahtar dalam suasana duka yang mendalam.


“Aku tahu ini akan terlalu menyakitkan untuknya yang memiliki perasaan cinta. Tapi, aku tidak ada pilihan lain lagi selain pergi jauh dari kehidupannya, Adam. Terlalu kotor kehidupanku jika disandingkan dengan kehidupannya. Kita tak akan pernah bersatu dalam ikatan cinta.”


“Kata islam, jodoh itu dari Allah, bukan? Maka, biarkanlah Allah yang menentukan jodohnya. Dan aku, aku akan melupakan perasaan yang pernah ada ini.”


Zuena beranjak dari tempat duduk yang membuatnya merasa nyaman. Lalu ia berdiri di depan jendela sembari menatap langit malam yang mendung. Seolah semesta telah tahu bagaimana perasaannya saat ini, hancur melebur saat memutuskan untuk pergi ‘selamanya’. Tapi, kita juga tidak tahu dari kata ‘selamanya’, di mana memiliki dua arti. Selamanya akan pergi menjauh dan taka akan ada pertemuan lagi di lain hari atau... selamanya menjadi cinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa, dalam sepertiga malam Khadijah bangun dari tidurnya hendak menunaikan sholat tahajud. Meskipun Yulian tak bisa lagi menemaninya dan menjadi imam dalam sholat itu, tetapi Khadijah akan tetap menjalaninya. Karena dalam sholat Khadijah merasa begitu dekat kepada Allah, lalu kesempatan itu Khadijah gunakan untuk meminta kepada Allah agar keinginannya bisa disampaikan kepada Yulian di surga sana.


“Ya Allah... jika ini adalah jalan takdir yang Engkau tentukan maka, katakan pada suamiku di sana aku ikhlas menerima. Sampaikan rindu tanpa syarat ini padanya Ya Allah. Semoga kamu tenang di sana Hubby.”


Air mata kembali menetes dan membasahi mukena yang saat itu Khadijah pakai untuk membalut tubuhnnya. Tetapi, setelah sholat tahajud itu ia lakukan dengan ‘cinta’, seolah ia mendapatkan kekuatan dan ketegaran yang Allah berikan. Agar pundak nya kemball kokoh untuk menerima cobaan yang entah itu berbentuk apa, karena sebagai manusia kita tidak bisa mengubah jika memang takdir itu bisa dirubah oleh manusia itu sendiri.


Untuk menenangkan hatinya Khadijah memutuskan untuk membaca mushaf sejenak. Lalu, dilanjut lagi dengan kegiatan lainnya. Karena, Khadijah harus menyiapkan beberapa makanan dan sebelum pukul 07.00 makanan harus sudah tersaji di atas meja makan, mengingat para sahabatnya akan kembali ke kota Edinburgh.


‘Semoga ‘selamanya’ cinta ini menjadi milikmu saja. Hanya namamu yang mampu mengisi ruang kosong saat ini. Dan semoga aku bahagia dengan cinta sendirian.’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2