Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 54


__ADS_3

Dan liburan kali ini Cahaya diperbolehkan ikut oleh Arjuna, karena Arjuna juga ingin membahagiakan istrinya, meskipun saat tiba di tempat itu Cahaya hanya duduk saja. Namun hal itu sudah membuat Cahaya merasa senang dan bahagia.


Semuanya tengah bersiap-siap untuk keberangkatan acara liburan mereka ke tempat penunggang kuda. Khadijah pun masih bertahan di depan almari untuk memilih pakaian yang pas untuknya. Tapi tetap saja hanya gamis yang dipunyai, dan tidak mungkin pula jika ia akan memakai pakaian yang terbuka.


”Neng kok belum siap-siap, hmm?”


”Iya nih Hubby, Neng masih bingung mau pakai baju apa. Hubby bisa pilihan untuk Neng, tidak?”


”Baiklah, Hubby akan pilihkan. Neng tunggu saja sambil duduk.”


Yulian mengulas senyum dan mengusap lembut puncak kepala Khadijah lalu setelah itu mencarikan gamis yang pas untuk dipakai Khadijah menunggang kuda. Dan Yulian pun memilih gamis berwarna hitam sedikit ada motif bunga dan di bagian bawahnya begitu lebar. Sehingga memudahkan Khadijah saat naik kuda nanti. Begitupun dengan Khadijah yang menyetujui akan hal itu.


Sebelum berangkat dan melakukan perjalanan tidak lupa untuk mereka semua melakukan aktivitas di pagi hari. Sarapan bersama harus digelar agar ada tenaga saat melakukan perjalanan dan melakukan aktivitas setiba di sana.


”Bismillahirrahmanirrahim. Allohumma bariklana fii maa rojaktana wakinna adzabannar.”


Sebagai seorang muslim sekaligus kepala rumah tangga yang baik Yulian mengajarkan membaca doa sebelum makan kepada anggota keluarga. Hingga tercipta rasa syukur dan kenikmatan saat memyantap makanan apapun itu.


Sekitar setengah jam sudah mereka melakukan sarapan pagi bersama, kini mereka menyiapkan beberapa hal untuk dibawa ke dua tempat yang akan menjadi tujuan mereka. Glendevon dan Pentland adalah tempat untuk naik kuda yang indah, sehingga Yulian memutuskan untuk pergi kesana bersama semuanya.


”Uwek...”


”Uwek...”


Ketika semuanya sudah siap untuk masuk ke mobil, tetapi Yulian harus tertahan di kamar mandi, di depan wastafel Yulian kembali memuntahkan makanan yang sudah dicerna olehnya. Dan dengan setia Khadijah memijat tengkuk Yulian.


”Ya Allah, Hubby...”


”Uwek...”


”Uwek...”


Ada rasa iba dalam hati Khadijah saat melihat Yulian mengalami morning sickness setiap pagi. Karena sebelumnya masa kehamilan pertama dalam hidup Khadijah, hanya ia saja yang mengalaminya dan tidak ada yang spesial saat itu. Karena Khadijah sendiri menyesal telah mengandung anak yang ada di dalam janinnya. Akan tetapi Khadijah sangat berusaha untuk menerima kehadiran kehamilannya sampai ia benar-benar melahirkannya ke dunia. Dan kini anak itu tumbuh dengan agama Islam yang begitu mengental dalam kesehariannya.


”Sudah muntah nya, Hubby?” tanya Khadijah meyakinkan.


”Alhamdulillah sudah, Neng. Yuk, kita lanjut masuk mobil saja.”


”Muntah kok alhamdulillah sih, Hubby. Neng yang tidak kuat lihatnya.”


Yulian pun tertawa melihat Khadijah yang sedikit mengerucutkan bibirnya. Yulian tahu bagaimana rasa khawatir dalam diri Khadijah telah tercipta. Karena seharusnya yang mengalami morning sickness tak lain adalah Khadijah itu sendiri. Tetapi Allah adil, memberikan keduanya rasa yang luar biasa dalam kehamilan Khadijah saat ini.

__ADS_1


”Neng... kenapa tidak kuat melihatnya? Kan, ini adalah keadilan untuk kita yang diciptakan oleh Allah saat merasakan kehadirannya. Hubby ikhlas mengalami hal ini setiap pagi.” Yulian manoel janggut Khadijah.


”Tapi Hubby, seharusnya Neng yang mengalaminya. Bukan Hubby,”


”Hubby tahu akan hal itu, tapi kali ini kehamilan Neng adalah hal yang spesial, bukan? Neng yang hamil, Hubby yang mengalami morning sickness, Hubby yang mengalami nyidam dan Hubby juga merasakan kehadirannya.” Yulian megusap perut Khadijah yang mulai membuncit.


Setelah memberikan pengertian kepada Khadijah, Yulian mengajak Khadijah untuk segera masuk ke dalam mobil. Karena semuanya sudah menunggu mereka. Dan setiba di halaman depan keluarga dan para sahabat Yulian menahan tawa. Karena melihat wajah Yulian yang sedikit memucat setelah mengalami morning sickness.


’Yulian, takdirmu begitu indah. Bahkan Allah begitu baik kepada kalian berdua, mengeratkan hubungan rumah tangga kalian dengan keduanya merasakan kehadiran calon sangat buah hati.’ Papa Adhi tiada hentinya memandangi Yulian dengan Khadijah melalui kaca spion.


”Kita akan ke Glendevon terlebih dahulu, Abdullah.” Ujar Yulian yang di balas anggukkan oleh Abdullah.


Abdullah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan mobil Yulian adalah rombongan yang paling depan di antara yang lain. Kedua adalah mobil Tristan bersama Arumi dan Humaira. Yang ketiga adalah mobil Arjuna bersama istri dan adiknya yang tampan.


”Dek, nanti kamu temani Abang ya.”


Sebuah pesan singkat telah terkirim ke ponsel Ahtar.


”Kemana, Bang? Bukannya sudah ada kak Cahaya dan Garda? Tidak mungkin kan, kalau aku jadi obat nyamuk di antara kalian.”


”Iya, Abang tahu itu. Tapi maksud Abang ... temani Abang waktu mau membelikan hadiah kecil untuk kakak kamu. Mau, kan?”


”Baiklah, apa sih yang tidak buat Abang Juna.” Balas Ahtar dengan caption tawa.


Dan setelah melakukan perjalanan sekitar satu jam setengah akhirnya para rombongan tekah tiba di lokasi. Glendevon adalah pilihan Yulian menjadi tempat pertama yang mereka kunjungi untuk menunggang kuda.


”Kita istirahat sebentar dulu! Aku akan mengurus ke penjaganya.”


”Dan Neng, mau ikut Hubby atau istirahat?”


”Emm ... Neng ikut saja.”


Yulian dan Khadijah berjalan kaki menuju ke tempat penjaga kuda untuk mendaftarkan nama mereka semua untuk menjadi penunggang kuda di hari itu. Meskipun Yulian sudah menyewa tempat itu, ia jiga harus memastikan juga anggota keluarga dan para sahabatnya menikmati naik kuda pada momen liburan di tahun itu.


”Neng mau naik kuda sama, Hubby?”


”Iya, nanti Hubby yang jagain Neng. Neng tidak mau jika sama lelaki lain.”


”Istri pintar...”


Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah, dan Khadijah hanya tersenyum mendengar kalimat itu dari bibir Yulian. Yang menandakan ada rasa cemburu di kala Khadijah memilih penjaga kuda yang akan menemaninya saat menunggang kuda.

__ADS_1


Semua bersiap untuk menunggang kuda dengan pasangan mereka masing-masing. Dan para lelaki, mereka duduk di belakang untuk menjaga istri mereka masing-masing.


”Bang, kak Cahaya ... kalian pergi saja. Menikmati menunggang kuda, biar aku yang jaga Garda disini.”


”Kamu yakin, dek? Kamu itu laki-laki loh, masa iya mau menunggu Garda disini. Bagaimana kalau nanti ada cewe yang lihat dan berniat P... D... K...T sama kamu terus tidak jadi. Karena mereka tahu kamu bawa anak.” Tanya Cahaya memastikan.


Seketika tawa Ahtar pun lepas begitu saja. Yang membuat sepasang mata mengalihkan pandangannya dan memberanikan diri untuk menatap Ahtar yang begitu tampan seperti Yulian, karena buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Wkwkwk... mbak penulis berusaha membuat para lelaki yang berperan selalu tampan. Akan tetapi ketampanan yang sempurna selalu ditampilkan oleh Yulian Atmajaya.


”Kak, biarin saja kalau memang mereka mengira Ahtar sudah punya anak. Biar cinta mereka diuji, bukan hanya Ahtar saja yang menguji mereka ada Allah yang sudah mengatur skenario. Eh bukan, ada mbak penulis yang sudah mengatur skenario kita dalam cerita ini.” Terang Ahtar dengan cengiran.


Namun dibalas tawa oleh Cahaya dan Arjuna. Dan ketiga saudara itupun selalu menghiasi dengan tawa dalam setiap momen. Begitulah Yulian mendidik putra-putrinya untuk saling mengasihi dan mencintai saudara.


Akhirnya Arjuna mengajak Cahaya untuk menunggangi kuda. Hingga mereka semua menikmati momen itu dengan gelak tawa dan keromantisan. Begitupun dengan Hafizha dan putra Abdullah, biarpun mereka masih anak-anak mereka tidak mau kalah dengan para tetua. Dan Yulian sudah menyiapkan tempat khusus untuk para anak mereka.


Pooles adalah wahana menunggangi kuda dengan kendali jarak pendek khusus untuk anak-anak. Dan kedua anak itu di temani oleh penjaga di sana.


”Bagaimana, senang?”


”Iya Hubby, makasih ya sudah mau memenuhi keinginan Neng.”


”Sama-sama. Itu kewajiban Hubby untuk memenuhi kebutuhan Neng secara hayati. Menjaga tawa Neng adalah tugas Hubby.”


Khadijah merasa tersanjung akan kata-kata Yulian yang membuatnya merasa menjadi wanita yang selalu diutamakan oleh Yulian. Sekali lagi Khadijah merasa bersyukur sudah menjadi istri Yulian seutuhnya. Bukan berarti Khadijah melupakan Aisyah, tidak mungkin itu dilakukan olehnya. Karena Aisyah adalah perantara untuk mereka agar bisa mengeratkan hubungan dalam ikatan yang sakral.


”Sudah capek belum, Neng? Kalau capek kita istirahat saja.”


Biarpun kuda itu berlari dengan begitu pelan, Yulian tidak mau Khadijah merasa capek yang akan mempengaruhi kehamilannya. Karena bulan itu adalah bulan yang dikuasai dengan musim panas. Jika Yulian tidak menyewa tempat itu maka akan banyak pengunjung di sana yang ingin menunggangi kuda.


”Ya sudah Hubby, kita istirahat saja ya! Lagipula sudah hampir setengah hari Neng menunggangi kuda ini. Kasihan... beban kita kan, berat.” Khadijah nyengir.


Yulian memutar balik arah agar kuda itu berlari ke tempat awal. Dan setiba di sana Yulian membantu Khadijah turun dari atas kuda. Lalu mereka mengambil duduk dekat dengan Ahtar, papa Adhi, bik Inem dan juga Humaira. Karena mereka berempat tidak tertarik dengan kegiatan itu, hanya saja mereka ingin menciptakan kebersamaan saat momen itu bisa saja tidak akan terulang.


”Duduklah, Neng. Hubby akan membelikan minum.”


Khadijah mengangguk pelan, dan ia memilih duduk di depan Garda seraya berceloteh kepada Garda dengan panjang dan lebarnya, meskipun Khadijah sendiri tahu bahwa Garda masih terlalu kecil, bahkan bicara pun belum bisa. Hanya saja sepasang mata yang terus menggeliat.


”Bun, Ahtar ijin angkat telpon sebentar. Titip Garda sebentar ya!”


Tiba-tiba Ahtar menerima panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dan saat Ahtar melangkah pergi, kembali ada sepasang mata yang dengan berani untuk menatap setiap langkah itu.


’Mengapa aku ... merasakan kagum padanya Ya Allah? Apakah salah jika hamba merasakan hal itu? Hamba hanyalah manusia yang terkadang tidak bisa menahan dan melawan gejolak rasa yang dibumbui nafsu yang menggebu. Ampunilah hamba Ya Allah, biarkanlah rasa ini tumbuh di hati hamba.’

__ADS_1


Khadijah melihat tatapan itu dengan penuh rasa kagum. Karena tatapan itu tidak bisa menipu siapapun yang melihatnya.


__ADS_2