
Yulian meminta Khadijah untuk membuka mulutnya, tetapi sesuatu hal telah terjadi saat itu juga.
“Prakkkcahh...”
Khadijah menepis tangan Yulian, bahkan piring yang dipegang oleh Yulian seketika terjatuh dan pecah di lantai, hingga makanannya pun berserakan di mana-mana.
“Khadijah, apa maksud kamu menampiknya seperti itu?” tanya Yulian.
“Jangan perdulikan Neng lagi, Hubby. Neng sudah lumpuh. Neng tidak bisa... hiks... hiks... Neng tidak bisa menjadi seorang istri yang sempurna untuk Hubby.”
Hati Yulian merasa teriris saat melihat Khadijah melakukan semua itu. Rasa iba pun telah singgah di dalam sanubari Yulian dan kini ia harus lebih ekstra sabar untuk menghadapi setiap perilaku Khadijah yang bagaikan anak kecil.
Yulian termenung, ikut meratapi kesedihan yang dialami Khadijah. Dan sebagai seorang suami ia tidak bisa melakukan sesuatu hal untuk menghibur Khadijah. Namun, segala cara akan Yulian usahakan untuk menenangkan hati Khadijah. Karena saat ini ketenangan Khadijah jauh lebih penting dari apapun.
“Neng, tidak baik meminta suami untuk tidak perduli seperti itu.” Yulian beringsut secara pelan dan mendekati Khadijah.
“Tidak, Hubby. Neng sudah lumpuh, tidak bisa melayani suami dengan baik. Yang ada nanti Neng hanya merepotkan banyak orang.” Khadijah memalingkan wajahnya.
Yulian menarik nafas panjang, ia berpikir sekeras mungkin untuk bisa membujuk Khadijah. Mungkin kemarahan dan rasa kecewa saat ini menyelimuti Khadijah, sehingga Yulian ingin memberikan waktu sendiri untuk Khadijah.
“Neng, tidak ada makhluk Allah SWT yang diciptakan dengan kesempurnaan. Dulu, Cahaya juga seperti itu... tidak bisa berjalan dengan normal. Tetapi Aisyah meyakinkan Hubby untuk menerima Cahaya sebagai menantu.”
“Cahaya senang bisa menjadi keluarga Atmajaya yang ternama, tanpa memandang fisiknya kami memang menerimanya dengan sangat senang hati. Bahkan kami meminta Arjuna untuk mengantarkan Cahaya ke tempat pengobatan seperti terapi. Alhamdulillah, semangat yang tinggi dari Cahaya mampu membuat Cahaya berdiri kembali.”
“Karena Allah SWT akan mempermudah urusan hambanya yang bersungguh-sungguh. Sekarang terserah Neng mau bagaimana, tetap seperti ini tanpa ada rasa semangat? Hubby akan memberikan waktu untuk Neng sendiri. Assalamu'alaikum,”
Yupian pergi dari ruangan Khadijah, lalu ia memutuskan untuk ke mushola yang ada di rumah sakit dan menenangkan diri di sana. Karena yang dibutuhkan saat ini hanya berdoa, memohon ampun kepada Allah dan meminta kepada Allah untuk membantu dalam setiap urusannya.
“Alhamdulillah, air wudhu ini setidaknya mampu menyegarkan wajah, hati dan menjernihkan pikiran yang penat ini,” ucap Yulian setelah mengambil air wudhu.
Yulian memutuskan untuk membaca mushaf saja sembari menanti sholat maghrib yang sebentar lagi adzan akan dikumandangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
”Sebentar lagi maghrib, tapi pasien masih banyak yang harus dilakukan pemeriksaan ulang. Apa... sebaiknya aku tunda dulu saja, ya?”
Ahtar merasa bimbang sendiri melihat waktu maghrib yang sebentar lagi aka tiba dan sedangkan data pasien yang harus dilakukan pemeriksaan ulang ada sepuluh orang lagi.
“Tok... Tok...”
“Masuk!”
“Permisi Dokter Ahtar, ada seorang wanita yang bernama Maria ingin bertemu dengan Anda.”
Ahtar menautkan alisnya, ia kembali berpikir dengan nama Maria. Dan Ahtar juga tidak mau jika ia akan tertipu seperti tadi siang. Daftar pasien bernama Maria tetapi yang masuk dan konsultasi justru seorang lelaki.
__ADS_1
”Minta Dia masuk! Tapi... bilang sama Dia untuk menunggu saya di dalam ruangan ini, karena saya mau sholat dulu.” Ahtar akhirnya menerima pasien itu, tetapi adzan maghrib telah menderu dan membuat Ahtar harus menunaikan sholat terlebih dahulu sebelum memeriksa pasien itu.
“Baik, Dok. Saya akan sampaikan kepadanya.” Perawat kembali keluar dan menemui pemilik nama Maria.
Sedangkan Ahtar, ia mengambil air wudhu dan setelah itu bersiap dengan baju koko, peci, sarung serta sajadah nya yang selalu dibawa saat bekerja di rumah sakit.
Tiga rakaat telah dijalani setelah sajadah panjang telah dibentangkan. Dan saat itu pula wanita yang bernama Maria masuk ke dalam ruangan Ahtar.
“Dia... sholat. Baru kali ini aku menemukan Dokter yang mengutamakan ibadahnya. Ya sudahlah, aku duduk dan menunggunya saja.” Maria duduk di depan meja kerja Ahtar.
Sepasang mata bulat itu tetap mengarahkan pandangannya ke arah Ahtar yang sedang khusu' beribadah. Decak kagum tak hentinya diucapkan Maria saat netranya memidai setiap pergerakan ibadah sholat yang dilakukan oleh Ahtar.
“Dokter yang rajin dan tampan,” ungkap Maria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hal sama juga dilakukan oleh Yulian, menunaikan tiga rakaat menjelang malam. Dengan se_khusu' mungkin Yupian memohon ampunan kepada Allah, karena Allah lah Maha Pengampun dan Maha dari segala Maha.
“Allahummagfirli khothiatiy wa jahliy wa isrofiy amriy wa maa anta a'lamu bihi minniy. Allahummaghfirliy hazliy wajidiy wa khothooyaaya wa 'amdiy wa kulli dzalika 'indiy.”
“Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, perbuatanku yang melampaui batas di setiap urusanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku, canda tawaku, kesungguhanku, kesalahanku, kesengajaanku dan setiap perkara yang ada padaku.”
Doa itulah yang sering dilangitkan Yulian dalam setiap penghujung doa nya.
Setelah menunaikan sholat maghrib Yulian memutuskan untuk kembali ke ruangan Khadijah, memastikan jika Khadijah sudah tenang. Akan tetapi jika tidak ada perubahan, maka Yulian harus kembali memohon kepada Allah dengan usaha bujuk rayunya untuk melembutkan hati Khadijah.
Pintu dibuka pelan oleh Yulian, terlihat di atas brankar Khadijah masih termangu sembari merebahkan tubuhnya yang menghadap ke arah tembok sisi kanannya.
“Dia sedang tidur atau... sedang apa ya kira-kira?” gumam Yulian.
Yulian merasa ragu untuk menyentuh Khadijah, bahkan mengudarakan suara saja Yulian tidak berani. Yulian tidak mau jika kemarahan dan rasa kecewa Khadijah masih singgah dalam dirinya.
Yulian memutuskan untuk duduk di kursi samping brankar dengan seribu diamnya dan menanti Khadijah membalikkan badan lalu menatap ke arahnya.
‘Entah kenapa perutku merasa sangat lapar sekali. Baru kali ini mau makan saja rasanya tidak enak, apalagi saat melihat Khadijah yang berperilaku sedemikian rupa. Sungguh membuat nafsu makanku turun saja.’ Yulian bermonolog dalam hati.
Yulian mengelus perutnya yang sudah sering mengeluarkan bunyi. Dan ingin rasanya Yukian segera memberi amunisi tetapi hati dan pikirannya telah sukses dibuat kacau. Sehingga nafsu makan pun hanya lewat begitu saja.
“Krukukukuk...”
Khadijah yang saat itu memang tidak sedang tidur mendengar begitu keras perut Yulian yang sedang berbunyi sampai beberapa kali.
‘Jika merasa lapar ya makan saja. Sudah kubilang bukan, jangan perdulikan aku.’ umpat Khadijah dalam hati.
“Neng, merasa lapar tidak? Sudah waktunya untuk makan malam, dari siang Neng juga belum makan. Hubhy suapin saja, ya!”
__ADS_1
Hening...
Tidak ada jawaban sama sekali dari Khadijah, bahkan Khadijha masih bertahan dengan posisinya itu. Membut Yulian kembali mendesah, karena ia harus melebihkan rasa baranya lagi untuk membujuk rayu Khadijah.
“Neng, makan yuk! Jaga kesehatan agar cepat pulih, ingat di rumah ada Abizzar yang membutuhkan kehadiran Neng setiap waktu. Dan ingat pula dengan Hafizha, jika Dia... sudah beranjak remaja.” Yulian kembali membujuk Khadijah.
Khadijah sejenak berpikir, membenarkan apa yang dikatakan Yulian. Akan tetapi Khadijah masih merasa tidak adil, bahkan ia merasa jika ia sudah tidak pantas lagi menyanding Yulian sebagai istrinya.
“Seorang istri itu tidak baik mendiamkan suaminya terlalu lama, apa Neng tidak takut dosa, hmm?”
“Asalkan Neng tahu juga, dari tadi pagi Hubby jiga belum makan. Rasanya tidak enak jika makannya sendiri tanpa ada Neng yang menemani. Apalagi Neng marah seperti ini, makin terasa tidak enak saja mau makan.”
“Neng...”
“Neng...”
Hening...
Khadijah masih setia dengan diamnya. Tidak ada keinginan untuk membalikkan tubuhnya dan menatap Yulian yang sudah memelas.
Yulian, jangan patah semangat ya! Ini ujiannn, ingat setiap kehidupan pasti akan diselingi dengan ujian.
“Maafkan Hubby jika celoteh Hubby sedari tadi mungkin saja membuat Neng risih. Tapi asalkan Neg tahu, sekeras apapun Neng mengabaikan Hubby maka... sekeras apapun Hubby akan perduli dengan Neng. Karena Hubby sangat menyayangi Neng dan anak-anak kita.”
Yulian beranjak dari tempat duduknya, tetapi ketika hendak melajukan langkah Yulian merasa lengannya tengah dicekal. Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan itu lalu membalikkan tubuh dan memastikan jika memang Khadijah lah yang menghentikan langkahnya itu.
“Neng,” pekik Yulian.
“Jangan pergi dari sini, Hubby. Neng... butuh Hubby di sini.” Khadijah akhirnya mau mengudarakan suaranya.
Yulian merasa sangat senang setelah bersusah payah membujuk Khadijah akhirnya hati Khadijah luluh juga. Bahkan cara bicara dan sikap Khadijah pun sudah lembut, bukan Khadijah yang seolah kerasukan setan secara tiba-tiba.
Bukan kerasukan setan itu mah namanya. Rasa sedih, kecewa dan merasa jika tidak sempurna seperti dulu itu wajar jika beradu menjadi satu dalam diri Khadijah.
“Tapi... benarkan, jika Hubby sayang dan cinta kepada Neng? Meskipun...” terhenti.
”Jangan pernah mengatakan jika Neng sudah tidak sempurna lagi untuk Hubby. Bahkan memiliki pikiran jika Neng tidak pantas bersanding dengan Hubby mu ini. Ingatlah Neng, kesempurnaan itu akan tetap menjadi milik Allah SWT. Dan Hubby akan tetap sayang dan cinta kepada Neng dalam setiap kondisi apapun dan dalam setiap keadaan.”
Yulian melayangkan pelukannya untuk memberikan tanda agar Khadijah yakin jika ia bersungguh-sungguh menyayangi dan mencintai Khadijah. Tidak lupa juga kecuoan di kening dilakukan oleh Yulian, karena wanita akan merasa sangat dicintai jika suami melayangkan kecupan di kening mereka.
“Hiks... hiks... hiks... Neng sayang dan cinta sama Hubby serta anak-anak kita.” Dalam rengkuhan Yulian Khadijah menangis tersedu-sedu.
“Neng, jangan menangis seperti itu. Disaat Neng sedih, hati Hubby ikut merasakan sakitnya. Jika Neng bahagia, maka... tawa yang akan menular di bibir Hubby.” Yulian membelai Khadijah dalam kelembutan.
Yulian melerai pelukannya, dengan lembut tangannya menyeka air mata yang sudah membasahi pipi Khadijah. Hal itulah yang sangat disukai Khadijah dari dalam diri Yulian. Penuh kelembutan dalam setiap momen.
__ADS_1
“Sekarang, makan yuk! Dari tadi siang belum makan, kan?” pinta Yulian.
Khadijah pun mengangguk, mengiyakan permintaan Yulian. Dan dengan penuh kesabaran serta ketelatenan Yulian menyuapi Khadijah.