Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 79 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Ahtar mulai membuat dengan pertama menuangkan tepung tapioka ke dalam baskom. Setelah itu diberi bumbu lengkap tak lupa air hangat untuk melembutkan adonan. Dan saat adonan belum merata, Hafizha mengambil sedikit lalu di colek kan ke hidung Ahtar yang mancung.


“Dek, kotor. Apa-apaan sih?”


Ahtar merasa jengkel hidungnya terlihat kotor karena tepung. Dan Ahtar ber antusias ingin membalas perbuatan Hafizha yang ikut mencolek hidung Hafizha dengan tepung yang sama. Sehingga adonan cilok tak selesai dibuat karena kebanyakan canda dan tawa di antara Ahtar dengan Hafizha. Dan saat itu ada bibir yang tertarik dengan sempurna saat melihat tawa lepas itu.


‘Hafizha, kamu begitu beruntung mendapatkan keluarga yang menyayangimu dengan setulus hati. Bunda... bahagia melihatmu sedekat itu dengan kakak sambung mu.’


Khafijha merasa haru saat melihat kedekatan Ahtar dengan Hafizha, layaknya adik kakak yang memiliki hubungan darah. Meskipun sebenarnya Hafizha sendiri adalah anak di luar nikah, sedangkan ayahnya sendiri adalah kakek nya. Khadijah yang mengingat masa itu kembali merasa pilu. Bahkan kelopak matanya tidak bisa membendung air mata yang siap tumpah saat itu juga.


“Yaa Allah, hatiku sakit mengingat memori hitamku. Aku... tidak bisa membiarkan Hafizha tahu siapa ibu kandungnya dan bagaimana masa lalunya. Biarkan Hafizha tahu siapa diriku yang sekarang. Hiks... hiks... hiks...”


Khadijah berlari ke luar rumah, saat itu Yulian melihat Khadijah meskipun hanya sekelebat. Dan seketika Yulian mengikuti Khadijah yang entah kemana saat itu. Namun cahaya tamaram membuat Yulian menarik perhatiannya, karena bayangan Khadijah nampak terlihat di balik pohon taman depan.


”Ada denganmu, Khadijah?” tanya Yulian yang hendak mendekati posisi Khadijah berada.

__ADS_1


Namun Yulian kalah cepat, Khadijah kembali berlari hingga ke tengah jalan. Bahkan hampir saja sebuah motor menabrak tubuh Khadijah yang berjalan tanpa mengedarkan pandangannya ke sekitar jalan itu. Untung saja Yulian bisa tepat waktu menyelamatkan Khadijah.


“Neng, ada apa? Kenapa Neng menangis seperti itu? Sadar Neng, lihat motor itu hampir saja menabrak Neng.” Yulian memeluk Khadijah untuk berusaha menenangkannya.


Khadijah melerai pelukan Keenan, dengan derai air mata yang masih mengalir deras Khadijah mengudarakan suara seraknya.


“Hubby, Neng hanya sedih dan Neng merasa tidak siap jika Hafizha tahu siapa ibu kandungnya dengan masa lalu hitam yang amat kelam untuk sekedar diceritakan. Itu benar-benar memilukan hati Neng, Hubby. Hiks... Hiks... Hiks...”


Yulian melingkarkan tangannya ke pinggang Khadijah lalu merengkuh tubuh Khadijah dalam dekapannya. Yulian merasa sesak, perasaannya campur aduk saat dirinya ikut merasakan kepiluan Khadijah dalam masa lalunya itu.


“Coba lihat Hubby, apakah Hubby mempermasalahkan semua itu, hmm? Bukankah Hubby sudah pernah mengatakan kepada Neng, jangan pikirkan hal itu. Biarkan saja waktu yang berjalan apa adanya, jika tiba waktunya mengatakan siapa ibu kandung Hafizha, maka Neng bisa mengatakannya kepada Hafizha setelah dewasa nanti.” Yulian menyeka air mata Khadijah yang membasahi cadar nya.


Khadijah mengangguk, ia berusaha menenangkan hati dan jiwanya yang sempat mengalami kekacauan. Dan setelah cukup merasa tenang Khadijah kembali masuk ke dalam rumah bersama Yulian.


“Bunda... Abi, kalian darimana? Kok berduaan saja?” tanya Hafizha bertubi-tubi.

__ADS_1


“Bunda dan Abi dari depan sebentar. Tadinya Bunda mau beli sesuatu di warung depan sendirian, eh taunya Abi kalian mengikuti Bunda dari belakang.” Khadijah mencoba memebeikan jawaban alibi kepada Hafizha dan Ahtar yang tengah duduk di ruang tengah.


Hafizha haya ber oh kepanjangan sambil manggut-manggut.


“Itu tandanya Abi adalah suami yang... setia.” Ahtar tersenyum sembari mengacungkan dua jempolnya.


Khadijah dan Yulian seketima terkekeh mendengar ucapan Ahtar yang kini seharusnya sudah menempuh kehidupan baru dengan berumahtangga. Namun ya... Allah belum mempertemukan Ahtar dengan jodohnya. Dan pembaca pasti penasaran siapa jodoh Ahtar, kan? Pantengin terus setiap episodenya ya!


“Sini Abi ... Bunda, makan cilok buatan bang Ahtar.” Hafizha memamerkan semangkuk cilok buatan Ahtar.


“Cilok? Sejak kapan kamu bisa membuat cilok, Ahtar? Abi saja tidak pernah melihatmu ... masak.” Yulian terkekeh.


“Sejak tuh adek Ahtar minta, Bi. Dan berhubung di sini hampir tidak ada yang jualan itu makanan, ya... Ahtar mencoba membuatnya. Dan hasilnya... tak kalah nikmat sama buatan babang cilok yang di Indonesia.” Ahtar tertawa dengan ucapannya sendiri.


Tawa itupun menular ke Hafizha, Yulian, Khadijah dan juga Humaira yang tidak sengaja melihat Ahtar melepas tawanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2