
Dokter yang memeriksa wanita itu keluar, lalu dengan segera Yulian menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan wanita yang ditolongnya tadi. Dan setelah dokter menyatakan bahwa wanita itu baik-baik saja, tidak mengalami luka yang parah, hanya saja syok membuatnya jatuh pingsan.
”Sampai kapan kita akan menunggu wanita ini sadar, Yulian? Ingat, Dia bukan mahram kita.” Yulian mengalihkan pandangannya. Karena ucapan Abdullah seakan menjadi hal yang seolah tengah menyindirnya.
”Entahlah! Keluarganya saja aku tidak tahu. Tidak mungkin kan, jika kita meninggalkan nya begitu saja dan lepas tanggungjawab?”
”Ah iya, kamu benar juga... kita yang sudah membawanya kemari.”
Yulian dan Abdullah memutuskan untuk duduk di kursi tunggu, karena mereka merasa tidak nyaman untuk menunggu wanita itu di dalam ruangan. Ketika Yulian dan Abdullah tengah menunggu di luar, mereka hanya menandangi orang yang berlalu lalang di hadapan mereka. Bagaikan orang yang tidak berguna saja.
”Ada apa denganmu, Yulian? Kamu sedang mencari apa?” tanya Abdullah penasaran.
”Aku ... Abdullah, kamu tahu dimana handphone ku? Di saku celana dan jasku tidak ada.” Abdullah seakan ikut mencari di dalam sakunya.
”Tidak ada di saku ku. Apa mungkin kamu meninggalkan nya di dalam?”
Yulian kembali mengingat dimana ia meninggalkan ponselnya. Dan setelah beberapa menit kemudian Yulian masuk ke dalam ruangan untuk memastikan yang seperti ia ingat. Ternyata benar, ponsel Yulian berara di atas nakasnakas dekat brankar. Dengan segera Yulian mengambil ponselnya dan tepat saat berada di dalam. genggaman tangannya benda pipih itu berdering.
”Assalamu'alaikum, Farhan.” Sapa Yulian.
”Wa'alaikumsalam, Yulian. Apa kamu sedang sibuk saat ini?”
”Ah tidak. Aku ... hanya duduk santai saja. Bagaimana? Apakah kamu sudah mengetahui siapa lelaki itu?”
”Sudah. Oleh karena itu aku menghubungi mu, Yulian.” Yulian memincingkan kepalanya, penasaran tiba-tiba hadir dalam benaknya.
Saat Farhan hendak menjelaskan siapa lelaki yang sudah melukai wanita bercadar itu tiba-tiba saja Yulian mendengar wanita yang berada di atas brankar sedang mengigau, menyebut nama Hafizha dengan begitu lirih. Dan seketika Yulian pun menajamkan pendengarannya, memastikan dengan benar nama siapa yang dipanggil oleh wanita itu.
”Tidak.Tidak mungkin jika itu ... Alex.” Kembali wanita itu mengigau... memanggil nama Hafizha.
__ADS_1
”Iya Yulian, lelaki itu bernama Alex. Dia baru saja keluar dari penjara setelah tiga tahun lalu. Dan kemungkinan ... wanita yang dianiaya itu tak lain adalah wanita yang sudah melaporkan dirinya tiga tahun lalu.” Yulian mulai memutar otaknya.
Percakapan itupun berakhir setelah Yulian meminta Farhan untuk kembali menyelidiki Alex. Dan setelah itu, Yulian memberanikan diri untuk manatap wajah wanita yang berada disampingnya. Lalu, Yulian berpikir bahwa itu bukanlah wanita yang asing baginya.
”Jika wanita ini berhubungan dengan Alex, makan Dia adalah ... Khadijah.”
Deg...
Hati Yulian berdenyut nyeri, rasa sakit hati kembali mengeruak ketika mendengar tentang Alex yang sudah berani menyakiti Khadijah lagi. Dan kembali Yulian mengingat Aisyah saat berbaring di atas brankar dengan tubuh yang terbujur kaku, wajah pucat dengan mata yang tetap terpejam.
”Ya Allah, kenapa terjadi lagi hal seperti ini?”
Tanpa sadar air mata Yulian meluruh begitu saja, melihat Khadijah yang terbaring lemah tidak berdaya. Dan saat sepasang matanya masih menatap Khadijah, perlahan Yulian melihat mata Khadijah yang berkedip secara pelan.
Kemungkinan Khadijah akan sadarkan diri. Sehingga membuat Yulian segela keluar dari ruangan itu guna untuk memanggil dokter agar segera memeriksa keadaan Khadijah. Dan tidak lama kemudian dokter pun datang.
”Tidak apa-apa, sekarang pasiennya sudah sadar. Jika hari ini sudah pulih, maka diperbolehkan untuk pulang.” Yulian manggut-manggut membenarkan.
”Abdullah, tolong kamu jaga Dia! Aku akan menebus ke bagian administrasi terlebih dahulu.” Abdullah hanya mengangguk pelan.
Yulian melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke bagian administrasi. Dan setelah sampai di sana tidak lupa Yulian menyodorkan selembar kertas itu. Setelah usai mengurusnya Yulian memutuskan untuk segera kembali ke dalam ruangan Khadijah.
Saat berada di depan pintu Yulian mendengar ada suara ribut di dalam sana. Dan tanpa.enunghu lama Yulian segera masuk ke dalam untuk memastikan apa yang terjadi.
”Ada apa ini, Abdullah?”
”Wanita ini merengsek ingin keluar dari rumah sakit. Sedangkan kondisinya masih membutuhkan cairan infus untuk memulihkan tenaganya.”
”Khadijah, dengarkan aku! Jika tidak, maka kamu akan bahaya dengan Alex yang sudah mulai berkeliaran di jalan.” Sontak Khadijah merasa terkejut dengan apa yang diucapkan Yulian.
__ADS_1
”Anda sala sebut saya dengan nama itu. Karena saya bukan Khadijah, tapi Khaira. Yang pernah tinggal dengan Anda.” Pengakuan Khadijah sudah sukses membuat Yulian terkejut.
”Jelaskan saja nanti! Yang terpenting sekarang kamu harus melakukan perawatan sebentar di rumah sakit ini.”
Yulian keluar dari ruangan dan langsung memanggil suster untuk memasang kembali jarum infus ke punggung tangan Khadijah. Dan setelah masalah itu sudah selesai, Yulian sibuk dengan benda pipihnya yang berada di dalam genggaman tangannya.
Beberapa nomor telah dihubungi oleh Yulian dan diminta untuk. datang segera ke rumah sakit. Karena ia membutuhkan bantuan untuk memastikan siapa wanita di hadapannya tadi. Khadijah atau Khaira?
”Aku tidak bisa memaksa wanita itu untuk membuka cadarnya. Tidak mungkin itu aku lakukan. Dan untuk memastikannya hanya Atumi yang tahu.” Yulian menanti kehadiran keluarganya.
--------
Khadijah kembali terbaring di atas brankar dengan jarum infus yang setia menempel di punggung tangannya. Kini ia tidak bisa berkutik untuk keluar dari ruangan itu. Karena di bawah penjagaan Abdullah sebagai asisten Yulian, ia tidak bisa merengsek kembali.
”Bagaimana ini? Aku tidak bisa keluar dengan mudah. Dan bagaimana jika Yulian tahu siapa aku yang sebenarnya?” gumam Khadijah dalam hati.
--------
Tidak lama kemudian Arumi beserta yang lainnya sampai di rumah sakit. Dengan segera Arumi melontarkan pertanyaan kepada Yulian dan memastikan apa yang dikatakan Yulian itu benar apa adanya. Sehingga mereka tidak harus pusing mencari keberadaan Khadijah yang entah kemana.
”Seperti yang aku katakan tadi. Farhan memberitahukan kepada ku bahwa Alex sudah keluar dari penjara. Dan itu akan bahaya untuk Hafizha serta ... Khadijah.”
”Lalu dimana Khadijah sekarang?”
”Dia ada di dalam. Aku meminta Abdullah untuk mengawasinya, karena baru saja Dia merengsek ingin pergi dari rumah sakit.”
”Kenapa?”
”Aku tidak tahu pasti apa alasannya, maka dari itu aku meminta Abdullah untuk mengawasinya.”
__ADS_1
”Biarkan aku masuk dan aku akan meminta Abdullah untuk keluar. Berikan ruang untukku mengetahui siapa Dia sebenarnya.” Yulian mengangguk.
Arumi masuk ke dalam ruangan dan tidak lama kemudian pintu ditutup rapat oleh Abdullah dari luar.