
Panggilan pun telah diakhiri karena Khadijah ingin menjenguk Adam yang masih dirawat di rumah sakit. Khadijah pergi bersama Ahtar dan Alex tentunya. Dan Hafizha harus bersekolah, Cahaya memilih tinggal di rumah bersama bik Inem dan Abizzar, sedangkan Arjuna sudah lebih dulu berangkat karena ada jadwal operasi caesar pada pukul 07.30.
“Selamat pagi, Adam!” ucap Ahtar menyapa.
“Pagi, Dokter Ahtar.” Adam mengembangkan senyum.
“Saya periksa dulu kondisi kamu hari ini, ya!”
Adam pun mengangguk, membiarkan stetoskop menempel di dadanya sebentar. Hingga Ahtar menyatakan kondisi Adam sudah stabil pascabayar operasi beberapa hari lalu. Dan siang itu Adam sudah diijinkan untuk pulang. Namun, Ahtar tidak melihat keberadaan Zuena di sana.
“Adam, kenapa saya tidak melihat Zuena? Kemana Dia?”
‘Emm... Tidak mungkin jika aku mengatakan keberadaan Zuena saat ini. Jika Ahtar tahu tentang siapa Zuena... kasihan juga Zuena tidak bisa memiliki orang yang dicintainya nanti.’ Adam bermonolog dalam hati.
“Ah Dia... itu... Lagi pulang ke kos-kosan tadi. Soalnya masih ada perlu sama Ibu kos nya.” Adam memberikan jawaban alibinya.
“Oh...” Ahtar hanya ‘Oh’ berkepanjangan saat merespon ucapan Adam.
Ahtar memutuskan pergi ke ruangannya dan menyelesaikan tugasnya hari itu. Sedangkan Khadijah dan Alex membantu Adam membereskan beberapa barang yang harus dibawa pulang.
‘Ya Tuhan, mengapa ada orang baik seperti keluarga Abi Yulian? Kenapa mereka begitu baik? Dan ini membuatku ingin selalu berada di tengah-tengah mereka.’
Adam menunduk, menyembunyikan air mata yang menggenang dipelupuk matanya. Dan ketika air mata itu sudah hampir jatuh Adam segera menyeka agar Khadijah dan Alex tak akan pernah tahu rasa hari yang kini tengah dirasakannya itu.
“Alex, kira-kira Zuena nanti datang jemput kamu, kan?” tanya Khadijah memastikan.
“Sepertinya begitu, Bunda. Tapi... Adam juga tidak tahu pasti, karena Adam tidak tahu Zuena masih ada urusan di luar atau tidak.”
”Tak apa jika Zuena tidak bisa menjemput kamu, Adam. Kamu tenang saja, ada Opa dan Bunda Khadijah yang akan mengantarkan kamu pulang.”
“Tapi... Bagaimana jika kamu tinggal di rumah Yulian saja? Agar lebih mudah dikontrol kesehatannya sama Ahtar.”
Alex menawarkan hal yang begitu diinginkan oleh Adam. Dalam hati Adam pun ingin mengitakan dan bersorak hore, tapi rasanya tensis. Ada sedikit rasa malu jika berada dalam lingkungan keluarga Yulian yang begitu kental dalam beragama Islam.
“Ah tidak perlu repot begitu, Opa. Biar Adam pulang ke kos saja. Nanti juga ada Zuena yang bisa mengantarkan aku waktu kontrol nanti.”
__ADS_1
“Terserah kamu saja, tapi ingat! Jika kalian berdua memerlukan bantuan Opa dan yang lainnya jangan pernah sungkan untuk menghubungi kami.” Alex menepuk pelan bahu Adam.
Adam hanya mengangguk saja, dan setelah usai bersiap Khadijah ingin mengantarkan Adam pulang. Tetapi Adam lagi-lagi menolak, karena Adam tidak mau jika Khadijah maupun Alex tahu dimana sebenarnya ia tinggal.
“Tring... Tring...”
Ponsel Khadijah pun berdering, dan jelas itu panggilan dari siapa kalau bukan Yulian yang berada di seberang sana.
“Halo, assalamu'alaikum, Neng!” sapa Yulian.
“Walaikumsalam, Hubby.” Khadijah memperlihatkan matanya yang menyipit, tanda bahwa jika Khadijah tengah tersenyum.
”Lagi dimana itu, Neng? Kenapa ada Adam juga?”
“Neng lagi jenguk Adam, Hubby. Terus Adam nya sudah boleh pulang sama Ahtar, tapi ini masih menunggu kedatangan Zuena yang akan menjemput Adam.” Khadijah memperlihatkan kameranya ke arah Adam dan Alex.
Berhubung Yulian tidak mau dicap sebagai menantu durhaka seketika Yulian mengucapkan salam kepada Alex setelah melihat Alex dalam panggilan video dengan Khadijah.
“Ya sudah, jangan lupa makan siang, Neng. Sekarang Hubby mau menyiapkan data dulu untuk pertemuan besok dengan Mr. Bara lagi.”
Sebenarnya Khadijah tidak ingin mengungkit masalah foto, tetapi ia jiga tidak mau memendam api cemburu seperti kemaren.
”Neng tenang saja, biarpun Hubby bertemu tapi yang ada di hati Hibby hanya satu... Neng seorang.” Yulian mengeluarkan jurus rayuan recehnya.
Lagi-lagi Khadijah mengangguk saja, ia terlanjur mempercayai apa yang dilakukan Yulian. meskipun jauh di sana. Karena Khadijah yakin Yulian tidak akan membohonginya dan selalu memegang janji yang sudah diucapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tenang saja, Neng. Di sini hanya ada pekerjaan saja, bukan urusan yang lain. Dan Hubby janji, setelah semua proyek ini selesai Hubby akan pulang.”
Tidak hentinya Yulian menatap foto Khadijah yang dijadikan wallpaper di ponselnya. Bahkan saat memandangi saja Yulian selalu menarik dua pangkal ujung bibirnya hingga terbentuk senyuman yang indah. Dan hak itu sebelumnya tidak pernah Yulian lakukan setelah menduda beberapa tahun.
Yulian melanjutkan merajuk di depan laptopnya. Beberapa bentuk dan harga properti yang akan diajukan kepada Mr. Bara sudah dicantumkan dalam berkas pentingnya.
Kesibukan itupun membuat Yulian lupa akan waktu, bahkan siang itu saja Yulian hampir melewatkan makan siangnya. Akan tetapi Yulian tidak pernah melewatkan dalam mengingat Allah, Yulian menjalankan ibadah sholat dzuhur lalu berlanjut merajuk di depan laptopnya.
__ADS_1
“Alhamdulillah... akhirnya selesai juga,” pekik Yulian.
Laptop pun segera ia matikan, lalu sejenak saja ia meregengkan otot yang terasa kaku dan lelah. Setelah itu Yulian mencoba menghubungi Tristan hendak mengajak makan di luar. Tetapi sayang, Yulian harus melewatkan makan siang sendirian saja, karena Tristan sudah makan siang bersama anak dan istrinya.
”Sabar Yulian... ini memang nasib mu untuk makan sendiri saat jauh dari anak dan istrimu. Percayalah! Pasti akan ada waktunya kebersamaan itu kembali,” ujar Yulian dalam hati.
Yulian memesan makan di restoran hotel dan akan makan siang di sana sembari menikmati suasana hotel yang indah.
“Bismillahirrahmanirrahim...” Yulian mulai menyiapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
Saat itu juga Yulian merasa begitu merindukan suasana saat di rumah yang begitu ramai dan selalu diselingi canda tawa riuh yang memekakkan telinga. Namun hal itu harus ia lewatkan sampai beberapa hari ke depan demi urusan pekerjaannya yang tidak bisa ditunda sebagai CEO ternama.
“Alhamdulillah...” Yulian mengakhiri makan siangnya dengan bacaan hamdalah sebagai ucapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya siang itu.
Yulian sejenak menatap jam yang melingkat di pergelangan tangannya, di mana jam sudah menunjukkan pukul 02.30 sore. Dan Yulian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan lain.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama bagi seorang Yulian saat berada di dalam kamar mandi. Hanya memerlukan kurang lebih lima belas menit saja untuk menjalankan rutual di dalam sana.
Setelah usai mandi Yulian lebih memilih untuk tinggal di dalam hotel sembari menanti waktu ashar tiba. Karena Yulian tidak mau jika harus menunda sholat saat perjalanan nanti.
Dua jam kemudian Yulian menunaikan sholat ashar, setelah itu dilanjutkan dengan membaca mushaf sebentar. Dan setelah lima belas menit membaca mushaf Yulian memutuskan untuk jalan-jakan sore disekitar hotel. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati suasana sore di sana, tempat itupun sudah terasa begitu indah dan nyaman untuk Yulian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dug... Dug... Dug...
Tiba-tiba Khadijah merasa jantungnya berdetak lebih cepat daripada sebelumnya. Bahkan Khadijah juga merasa tak ada nyaman dalam benaknya. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, hingga membuatnya merasa gelisah tak menentu.
“Ya Allah... ada apa denganku? Kenapa pikiranku tak pernah lepas dari Hubby? Tolong lindungilah suamiku di mana pun berada, aamiin.”
“Duaarrr... Duaarrr...”
Suara itupun terdengar keras meskipun hanya di dalam saluran televisi. Terasa menyeramkan saat melihat bom telah meledak dan membakar sebuah kota.
Bersambung...
__ADS_1