
Di halaman samping Yulian tengah melakukan olahraga ringan-yang dilakukan seperti pagi sebelumnya. Yulian hanya tak ingin jika beberapa hari tak berolahraga maka lemak yang ada pada tubuhnya bisa semakin menumpuk dan akan membuat kesehatannya bermasalah suatu saat nanti.
Dan setelah mendengar suara adzan subuh Yulian memutuskan untuk menghentikan kegiatannya itu. Lalu ia kembali menuju ke kamar hendak membersihkan tubuh dari keringat yang mengucur di punggungnya seraya membangunkan Khadijah untuk menunaikan sholat subuh bersama.
“Hubby!”
Deg...
Langkah Yulian terhenti, pendengarnya pun ia tajamkan saat sekilas mendengar suara Khadijah yang memanggilnya.
“Hubby!”
“Arjuna!”
Khadijah tak hentinya berteriak memanggil Yulian dan Arjuna. Bukan hanya nama merekas saja yang Khadijah sebut, hampir seluruh keluarga dipanggil untuk dimintai tolong.
Yulian seketika berlari lalu membuka pintu kamarnya dengan kasar. Terlihat dengan jelas Khadijah sudah ketakutan dengan tubuhy ang ber_gemetar, bahkan Yulian menangkap siapa pemilik tubuh tegap yang semakin mendekati Khadijah.
“Bugh!”
Tinjuan mendarat begitu saja setelah Yulian mengenali siapa lekaki itu, tak lain adalah Alex. Alex sengaja lewat balkon yang pintunya tidak ditutup kembali setelah Yulian dan Khadijah menghabiskan waktu malam di sana sebelum memutuskan untuk tidur.
“Mau apa kamu datang kesini, hah?”
“Kamu menanyakan hal bodoh kepadaku, Yulian. Seharusnya kamu tahu apa tujuanku, tak ada yang lain kecuali ingin berjumpa dengan Khadijah dan Hafizha.” Alex menajamkan tatapannya kepada Yulian.
“Jangan harap itu akan terjadi, Alex. Karena aku tidak akan membiarkan kamu mendekati mereka apalagi hanya sekedar bertemu. Jangan mimpi!”
“Bugh!”
Yulian memukul perut Alex begitu saja, hingga membuat Alex meraung kesakitan sembari memegangi perutnya.
__ADS_1
Rasanya begitu berat untuk Yulian melakukan tindakan kekerasan, apalagi setelah mendalami islam. Yulian jarang sekali terjerat adu mulut, perkelahian dan hal buruk lainnya saat hatinya merasa tenang dan terjaga. Namun, saat ini hatinya terasa begitu nyeri yang menusuk hingga sanubarinya saat mengingat berapa kejamnya perilaku Alex di masa lalu.
“Biarkan aku bertemu dengan Khadijah dan Hafizha, Yulian. Kamu... tidak ada hak untuk melarangku.”
“Kamu pikir aku bodoh! Jika tujuanmu baik, tak apa. Tapi ... mengingat apa yang terjadi sebelumnya, jangan pernah berharap jika aku akan mengijinkan mulai, Alex.”
“Dan tadi kamu bilang apa, hah? Aku sangat memiliki hak untuk melindungi anak dan istriku, Alex. Apa kamu lupa tentang hal itu?”
“Maaf jika aku harus berbuat kasar terhadapmu_orang yang lebih tua. Dan seharusnya aku bersikap lebih sopan, tapi... orang sepertimu tidak pantas untuk dihormati.”
Yulian mengangkat kerah baju Alex dan hendak memberikan tinjuan lagi kepada lelaki paru baya itu. Tapi, disaat yang tepat Arjuna dan Ahtar mampu mencegah aksi Yulian. Perkelahian itupun mampu di lerai, hingga keadaan pun terasa hening sejenak.
Yulian dan Alex masih saling adu tatap meskipun jarak mereka kini tidak lagi sejajar. Ahtar memegangi Alex agar tidak memancing kemarahan lagi di rumah itu.
“Argh, sakit!”
“Sakit!”
Alex tiba-tiba memegangi dadanya, perlahan tubuhnya merosot ke bawah hingga tergeletak di lantai. Dan semua orang pun seketika merasa panik, kecuali Ahtar yang memang seorang dokter dan sedangkan Yulian segera meminta ambulans untuk datang ke rumahnya.
“Astaghfirullahalazim...” Yupian mengusap wajahnya gusar.
“Semoga saja bisa bertahan sampai di rumah sakit nanti. Diperkirakan lima belas menit lagi ambulans akan tiba.” Ahtar melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ketika semua merasa panik, khawatir tak menentu justru Khadijah tidak. Bahkan keinginannya beetolak belakang yang membuat Yulian, Hafizha, Ahtar, Arjuna dan Cahaya sontak terkejut.
“Biarkan saja jika sudah waktunya Dia akan mati. Dan kita tidak akan repot untuk mencari keberadaannya lagi... kita bisa hidup bahagia,” pungkas Khadijah.
“Neng... tak baik berbicara seperti itu,”
“Kenapa, Hubby? Neng merasa...siap kapan saja untuk kehilangannya. Bahkan Neng saja tidak pernah menganggap Dia... ayah kandung Neng, Hubby.” Jiwa raga Khadijah bergetar hebat, binar matanya memperlihatkan kebencian yang teramat dalam.
__ADS_1
“Tidak apa jika kamu marah, Neng. Tapi berdoa keburukan kepada orang tua sendiri itu tidaklah baik. Bahkan hukumnya dosa loh,” ucap Yulian meluruhkan hati Khadijah.
Tidak lama kemudian ambulans pun datang, dengan segera Arjuna bersama sopir ambulans membantu Alex masuk ke dalam mobil ambulans itu setelah berada di atas brankar.
Seluruh anggota keluarga Yulian ikut mengantar Alex yang di bawa ke rumah sakit. Namun yang ikut masuk serta ke mobil ambulans hanya Ahtar saja, sedangkan yang lain masuk ke dalam mobil Yulian yang di sopir oleh Abdullah.
Setelah tiba di rumah sakit tim medis_yang bertugas pagi itu segera menyambut kedatangan Alex. Dan ketika mendorong brankar Ahtar merasa nyeri di bagian perutnya, jahitan luka tusuk yang di alaminya waktu itu robek_hingga membuat darah kembali merembes di perutnya.
“Arghh!” rintih Ahtar.
Ahtar sejenak berhenti, membiarkan tim medis membawa Alex masuk ke dalam ruang UGD. Dan beberapa detik berikutnya Ahtar kembali menguatkan diri untuk ikut masuk ke dalam ruang UGD dan memeriksa keadaan Alex.
“Dokter Ahtar, lukamu.” Suster Almira menatap luka di perut Ahtar.
“Tak apa, Sus. Kita harus melakukan pemeriksaan terhadap pasien ini. Lakukan tugas kita sebagai dokter.” Ahtar mengangguk, meyakinkan suster Almira.
“Baiklah! Dok.” Suster Almira membalas dengan anggukkan pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kenapa sih, Hubby tidak membiarkan saja Dia mati?”
Khadijah menghentikan Yulian saat mendorong kursi rodanya. Hingga langkah itupun terhenti saat masih berada di ambang pintu masuk di rumah sakit.
“Kalian masuk saja lebih dulu, Abi akan menyusul nanti.”
Arjuna, Cahaya dan Hafizha mengangguk pelan, mereka mengerti apa yang akan dilakukan Yulian. Di mana Yulian akan berusaha untuk menenangkan hati Khadijah dengan penuh kelembutan_agar amarah itupun perlahan akan memudar. Dan Khadijah bisa lapang dada menerima kesalahan yang sudah diperbuat oleh Alex selama ini.
“Neng, Hubby tahu betul bagaimana perasaan Neng terhadap Alex. Tapi dengan marah seperti ini tidak ada gunanya juga, bahkan Allah SWT saja bisa membenci perbuatan Neng yahh seperti ini.”
“Neng harus ingat! Sejahat apapun seorang Ayah bagi anaknya, tetapi anak itupun tidak pernah tahu seberapa besar sayangnya seorang ayah terhadap anak itu sendiri.”
__ADS_1
Yulian berjongkok, lalu ia pun menjajarkan tingginya dengan kursi roda Khadijah _agar lebih mudah untuk membujuk Khadijah.
Bersambung...