
Yulian dan Khadijah mengangguk, membiarkan Papa Adhi pergi ke kamarnya yang hendak beristirahat. Karena malam itu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam di kota Skotlandia.
Yulian dan Khadijah pun merebahkan tubuh mereka di atas ranjang, karena kantung mata Khadijah tidak bisa menahan kantuk yang mendera. Meskipun tadi sudah tertidur sedikit, tetapi rasa lelah tidak bisa menipu wajah Khadijah hingga kantuk pun datang. Begitu halnya dengan Yulian. Dan mereka akhirnya terlelap membangun cinta di alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Assalamu'alaikum, maaf jika saya sudah lancang mengirim pesan kepadamu, bang Ahtar. Tapi... sungguh sikapmu membuatku tidak tenang. Hatiku gelisah karena kamu tidak kunjung mengirim balasan dari sederet pesanku. Tolong di balas, meskipun satu kali saja.”
Kembali Humaira mengirim pesan kepada Ahtar melalui benda pilih yang sekali dibawanya. Dan hasilnya masih sama, Ahtar tidak kunjung membalas pesannya itu. Hingga membuat Humaira tidak bisa tidur karena rasa yang bercamkur aduk menjadi satu tengah ia rasakan. Antara rasa penasaran dengan rasa bersalah membuat Humaira tidak bisa tertidur malam itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Nah ini... kenapa kak Humaira mengirim pesan kepada bang Ahtar? Apa mungkin ini alasan bang Ahtar membiarkan ponselnya tertinggal di kamarku?”
Ahtar sengaja meninggalkan ponselnya di dalam kamar Hafizha agar ia terhindar dari pesan-pesan yang sudah dikirim Humaira kepadanya. Dan malam itu justru Hafizha lah yang membuka pesan dari Humaira. Bukan. maksud Hafizha lancang, tetapi ia ingin tahu seberapa beraninya Humaira.
“Sederet pesanmu sudah kamu bumbui cinta, kak Humaira. Dan aku... menyayangkan semua itu,”
Hafizha mengabaikan pesan yang dikirim Humaira. Dan setelah mengerjakan tugas akhir semesternya Hafizha memutuskan untuk mengakhiri aktivitas begadangnya itu dengan menggosok gigi lalu mengambil air wudhu sebelum lekas tidur. Dan tidak lupa ia selalu membaca doa sebelum tidur agar tidurnya pun terjaga dari godaan setan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sudah jam setengah dua malam.” Yulian menatap jam yang berada di nakas.
Yulian beringsut dari tangan Khadijah yang memeluknya, karena ia ingin menunaikan sholat tahajud di sepertiga malam. Dan Yulian melakukan dengan khusu' dalam setiap gerakan sholatnya.
“Subhaana robbiyal 'adziimi wabihamdih.” Yulian membaca sebanyak tiga kali.
Artinya bagi yang lupa ya wahai pembaca, “Maha suci tuhan yang maha agung serta memujilah aku kepadanya.”
Dan saat melakukan gerakan rukuk Yulian memperpanjang bacaannya. Dan setelah itu kembali Yulian berdiri seraya mengucapkan takbir. Lalu dilanjut dengan bersujud dalam waktu kian panjang.
“Subhaanallaah wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar.” Yulian membaca sebanyak tiga kali.
Artinya: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha besar.
Dalam setiap gerakan ruku dan sujud Yulian selalu memperpanjang durasinya, karena di saat ruku dan sujud lah dosa-dosa setiap manusia telah digugurkan oleh Allah SWT. Bahkan setiap ruku dan sujud kita bisa bertemu dengan Nabi Muhammad dalam memenuhi panggilannya.
Perlu dicatat loh ya pembaca ku. Jadi jangan sampai sholat kita tergesa-gesa saat menunaikan nya.
Dan oh ya, nanti akan ada cerita baru generasi Yulian, tak lain Ahtar dengan jodohnya. Ditunggu saja ya!
“Ya Allah... hamba tidak pandai dalam bersyukur, tapi dengan segala kecukupan yang Engkau berikan kepada hamba... hamba mampu melangsungkan serangkaian acara sesuai yang ada dalam syari'at-Mu. Dan berkatilah hamba dalam setiap langkah serta tintunlah hamba selalu ke dalam jalan-Mu yang benar.”
Yulian melangitkan doa sebelum menyudahi sholat tahajud nya. Dan setelah usai, sejenak Yulian membaca mushaf walaupun hanya satu jus saja. Karena Yulian merasa takut jika. saja ia akan lupa dengan bacaan Al-Quran selama dua hari tidak membacanya.
‘Keberuntunganku karena-Mu. Cinta yang Engkau hadirkan untuknya tidak akan melebihi Cintaku kepada-Mu, karena berkat Engkau pula Dia datang menemuiku dengan sejuta cinta.’ Khadijah bermonolog dalam hati.
Saat Khadijah menyadari Yulian tidak sedang berada di sampingnya, ia mengeejapkan kedua matanya lalu menyempurnakan kesadarannya di saat rasa kantuk masih ia rasakan sedikit. Dan setelah mendapatkan keberadaan Yulian, netra teduhnya tidak berhenti menatap Yulian dengan tatapan penuh cinta.
‘Tampan dan menawan dalam setiap sudut yang Engkau ciptakan pada lelaki yang berdiri di hadapan hamba.’ Khadijah masih menatap penuh kekaguman kepada Yulian.
Sesekali Khadijah tersenyum sendiri dan dibuat tersipu malu saat melihat bagaimana Yulian yang tanpa busana. Hanya memakai celana pendek saja setelah melepas baju koko dan sarungnya. Hal itu pun membuat Khadijah terpaku bahkan ngences melihat perut Yulian yang berbentuk bak roti sobek itu. Seperti yang ada di dalam. gambar susu El-men.
‘Tidak, jangan sampai ketahuan.’
Khadijah segera menyelimuti kembali tubuhnya dan segera memejamkan kembali kedua matanya untuk berpura-pura tidur agar Yulian tidak merasa curiga dan mengetahui bahwa sedari tadi ia memperhatikannya, bahkan ketika Yulian tanpa busana hanya celana pendek saja.
“Neng, jangan berpura-pura tidur seperti itu. Hubby tahu kalau sedari tadi Neng sudah melotot saat Hubby tidak memakai baju.” Yulian duduk di sisi Khadijah.
Khadijah yang mendengar suara Yulian pun sejenak membuka salah satu matanya, dan akhirnya ia tidak bisa berbohong lagi. Lalu ia membuka dengan sempurna kedua matanya.
“Dengarkan Hubby, Neng bukan ahli dalam berbohong dan Hubby juga bukan ahli dalam menebak. Hanya saja... Hubby melihat pantulan gambar Neng dari cermin almari itu.” Yulian menunjuk ke arah cermin itu berada.
__ADS_1
Seketika Khadijah merasa malu saat dirinya memang ketahuan oleh Yulian. Dan ia tidak bisaemberi alasan yang alibi untuk menipu Yulian. Seperti yang dikatakan Yulian, Khadijah tidak pandai berbohong.
Dan saat itu juga Khadijah merutuki kebodohannya, tanpa teliti ia melakukan hal itu tanpa ia tahu bagaimana resikonya, yaitu malu.
“Baiklah, Neng akan selalu jujur kepada Hubby, karena Neng tidak ahli dalam berbohong. Dan Neng juga meminta kepada Hubby untuk selalu jujur kepada Neng.” Bagaikan anak kecil saja, Khadijah membuat janji kelingking dengan Yulian.
Karena jam masihenunjukkan pukul setengah tiga di Skotlandia, maka Yulian meminta Khadijah untuk kembali tidur. Karena mau meminta Khadijah untuk sholat tahajud pun tidak mungkin, justru akan menimbulkan dosa saja. Dan dalam dekapan Yulian Khadijah kembali tidur.
“Kapan kalian tidak sibuk?” tanya Yulian kepada Ahtar dan Arjuna.
Seusai sholat subuh Yulian kembali meminta kedua putra nya itu tinggal bersamanya di mushola keluarga. Dan obrolan ringan menemani mereka sampai matahari menyingsing dengan sempurna.
“Kita itu tidak pernah libur Abi, kita dokter. Yang setiap saat akan dipanggil jika ada pasien mendadak.” Ahtar nyengir.
“Berarti... jika Abi ingin mengajak kalian ke makam Umi, kalian tidak bisa ya?”
Seketika Arjuna dan Ahtar menoleh ke arah Yulian yang berada di tengah mereka.
“Memangnya... Abi mau ke Medan? Bagaimana dengan Bunda?”
“Kita bisa menunggu sampai Abizzar sudah memungkinkan untuk naik pesawat. Mungkin... sekitar tujuh bulan lagi. Apa kalian bisa mempersipakan perencanaan itu mulai dari sekarang?”
“Kita akan usahakan, Bi. Tapi kita juga tidak bisa janji.” Arjuna dan Ahtar saling pandang. “Karena sumpah yang sudah kami ucapkan tidak mungkin kita langgar.”
Yulian manggut-manggut, ia menyukai sikap profesional kedua putranya itu. Menjalankan tugas sebagai seorang dokter memanglah bukan hal yang mudah, yang hanya bisa menggerakkan stetoskop saja tanpa ada trip lainnya.
‘Lihatlah Aisyah, kedua putra kita sudah mampu bersikap profesional atas pekerjaan yang dipilihnya. Dan aku tidak akan memaksa anak-anak kita untuk meneruskan perusahaan. Akan aku biarkan mereka memiliki cita-cita yang menjadi keinginan mereka.’ Yulian bermonolog dalam hati.
Yulian menggendong Abizzar setelah Abizzar selesai dimandikan oleh Khadijah. Lalu Yulian menjemur Abizzar di bawah cahaya matahari yang mulai menghangatkan kota Skotlandia.
“Yulian, biarkan Papa saja yang menjemur Abizzar. Kamu bersiap saja sana gih!”
“Bersiap untuk apa, Pa? Bersiap untuk membuat cucu lagi?” tanya Yulian menggoda.
“Ingat umur Yulian, sudah tua. Sudah TU... A, anak yang paling bontot saja masih belum genap satu bulan mau buat anak lagi.” Papa Adhi mencebik.
“Tak apa kan, Pa. Mumpung Yulian belum tua-tua amat, meskipun sudah jadi kakek satu cucu.” Yulian terkekeh.
Yulian meninggalkan Papa Adhi bersama Abizzar di halaman samping rumahnya. Lalu Yulian menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Karena hari itu Yulian harus kembali bekerja mengurus beberapa dokumen yang terbengkalai beberapa hari lalu.
“Alhamdulillah Ya Allah, punya istri begitu pengertian.” Yulian melihat pakaian kerjanya sudah siap di atas kasur.
Yulian pun berganti pakaian setelah lima belas melakukan ritual di kamar mandi. Kemeja putih yang dipadukan dengan celana hitam dan sebagai pelengkap dasi biru tua serta jas yang berwarna navy sungguh membuat Yulian menjadi seorang lelaki yang penuh dengan kharismatik.
“Sudahlah, Hubby jangan berlebihan seperti itu. Ingat umur, sudah TU... A.” Khadijah merasa kesalelihat tingkah Yulian yang tak hentinya berada di depan layar kaca.
“Apa... Neng cemburu?”
“Jelas itulah, tidak perlu ditanya lagi. Istri Nabi saja pernah merasa cemburu, apalagi Neng yang hanya perempuan biasa.” Khadijah mengerucutkan bibirnya.
Yulian mendekat dan memeluk Khadijah dari belakang, membuat Khadijah seketika terkejut tetapi menyukainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bang!” panggil Hafizha pelan.
Ahtar yang mendengar suara Hafizha segera mendekat.
“Ada apa, hmm?” tanya Ahtar dengan gerakan tangan saja.
“Ini.” Hafizha menunjukkan ponsel Ahtar yang sedang dipegangnya.
‘Apa Hafizha sudah tahu? Jika pun tahu tak apalah, setidaknya Dia menjadi saksi jika aku tidak membalas satu pesanpun dari Humaira.’
__ADS_1
Ahtar mengambil ponselnya dari tangan Hafizha. Dan ketika Ahtar hendak menuju ke kamarnya tidak sengaja bertemu dengan Humaira yang baru saja dari arah dapur. Tetapi Ahtar berusaha untuk berperilaku biasa saja, menjaga pandangannya agar matanya tidak jelalatan dan akan tamak dengan kecantikan Humaira yang tertutupi dengan sehelai kain cadar.
‘Begitu dingin, sedingin es yang begitu lama dalam proses melelehkannya. Tapi tak apa, aku akan terus berusaha. Dan aku akan kerasa beruntung jika bang Ahtar lah yang akan menjadi imamku kelak.’
“Hayo, ngapain kak Humaira senyum-senyum sendirian seperti itu?”
Suara Hafizha mengagetkan Humaira, bahkan membuyarkan angan-angan yang sempat menjadi impian Humaira.
“Tidak kok, Kakak ... habis nonton kartun saja. Terus keingat adegan yang paling lucu.” Humaira memberi alasan alibinya.
“Tidak perlu berbohong, karena aku tahu alasannya.” Hafizha meninggalkan Humaira.
Humaira mencoba mencerna apa yang dikatakan Hafizha baru saja sebelum mengakhiri obrolan mereka di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarapan telah dilangsungkan, semua menyendok nasi itu sedikit demi sedikit masuk ke mulut mereka. Dan lima belas menit sudah mereka melangsungkan sarapan pagi bersama. Akhirnya tiba waktunya untuk ketiga laki-laki di sana kembali bekerja dalam bidang masing-masing.
“Hati-hati di jalan , Hubby... Arjuna dan Ahtar.” Khadijah menyunggingkan senyum.
“Iya Neng, Neng juga hati-hati di rumah. Jangan lupa ikut istirahat jika Abizzar sudah tertidur.” Yulian mencium kening Khadijah.
Arjuna melakukan hal sama kepada Cahaya seperti yang Yulian lakukan sebelum berangkat bekerja. Sedangkan Ahtar sudah melajukan motor sport nya setelah menyalami Khadijah dan papa Adhi.
‘Maafkan aku Humaira, jika saja sikapku tidak kamu sukai. Tapi ini aku lakukan demi kita.’
Ahtar tetap melakukan motornya dengan kecepatan sedang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Permisi Pak, ini berkas-berkas yang Pak Yulian minta tadi.” Asisten Yulian memberikan beberapa dokumen yang tertata rapi dalam satu map merah.
“Baiklah, terima kasih. Dan oh iya, nanti kamu ikut denganku untuk menggantikan Pak Tristan.”
“Baik, Pak.”
Temu janji dengan klien dari Jepang pun akan segera dilakukan di restoran Tattu, Edinburgh. Dan Yulian akan ditemani oleh asisten nya yang bernama Aidan. Karena Yulian tidak mau jika yang menjadi asistennya seorang wanita.
“Aidan, duduklah di sini! Kita tunggu saja Tuan Xiongnu tiba.”
Aidan mengangguk, lalu ia mengambil duduk di sebelah Yulian. Dan sembari menunggu kedatangan Tuan Xiongnu, Yulian merajuk dengan ponselnya sejenak. Lalu ia mengirim pesan singkat kepada Khadijah.
“Assalamu'alaikum, Neng.”
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Empat menit...
Dan yang ke lima menitnya barulah Yulian mendapatkan balasan dari Khadijah. Yulian dan Khadijah pun telah bertukar pesan hingga datanglah Tuan Xiongnu di restoran Tattu sebagai tempat untuk mereka membahas pembangunan proyek besar di Jepang.
“Saya sangat setuju dengan apa yang asisten Anda terangkan tadi, Pak Yulian. Dan saya menyetujuinya, maka dari itu silahkan tanda tangani surat perjanjian kita.” Asisten Tuan Xiongnu menyodorkan berkas yang berisi perjanjian kerjasama.
Yulian menandatangani surat itu, dan pertemuan pun telah diakhiri setelah mendapatkan sebuah titik temu yang menjadi hasil pertemuan mereka. Dan saat Yulian hendak keluar dengan Aidan tanpa sengaja ia melihat Himaira yang duduk di sisi pojok kanan restoran itu dengan seorang lelaki. Akan tetapi Yulian tidak dait melihat siapa lelaki itu dengan jelas, karena wajah lelaki itu tertutupi oleh tiang.
‘Kira-kira siapa lelaki itu? Mengapa tidak jelas wajahnya?’
Rasa penasaran pun memuncak, hingga membuat Yulian kembali mencari duduk di sisi kiri Humaira untuk mencari tahu siapa lelaki itu.
Bersambung sajalah... biar pembaca penasaran dengan lelaki yang bersama Humair, seperti Yulian. Wkwkwk...
__ADS_1