Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 123 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Hari hampir menjelang malam, maskot juga bersiap-siap hendak pergi ke masjid dan akan mengumandangkan adzan maghrib. Namun saat itu juga tak kunjung ada kabar tentang Yulian, Tristan, Arumi dan juga Humaira.


Alex pun tidak hentinya mencari tahu bagaimana kondisi di Beirut, karena Alex tak ingin melihat Khadijah terus bersedih memikirkan Yulian. Hal sama juga dilakukan Zuena.


“Kerahkan semua pengawal untuk mencari tahu kondisi di Beirut. Dan terutama cari tahu bagaimana keadaan Abi Yulian, pastikan jika beliau baik-baik saja. Ingat, ini perintah!”


Tut... Tut... Tut...


Setelah memberikan perintah kepada pengawalnya Zuena menutup telepon lalu menghampiri Adam yang sudah waktunya untuk makan malam.


“Kamu makan dulu, Dam. Aku... mau keluar sebentar.” Zuena meletakkan semangkuk bubur di atas meja.


“Kamu mau kemana, Zuena? Aku harap... kamu tidak akan membahayakan nyawamu sendiri.” Tatapan Adam menajam.


“Jangan khawatir, aku hanya ingin pergi ke rumah Bunda Khadijah dan messtiakn kondisi di sana. Siapa tahu saja Abi Yulian sudah ada kabarnya.” Zuena mengulas senyum.


Adam mengangguk, menyetejui apa yang akan dilakukan Zuena. Dengan pakaian serba hitam seperti biasa yang dikenakan Zuena pun berangkat dengan mengendarai mobilnya.


‘Ahtar, sanggupkah aku melihat kesedihanmu?’ tanya Zuena dalam hati.


Dengan kecepatan tinggi Zuena terus melakukan mobilnya hingga memasuki halaman rumah Yulian yang cukup luas itu. Setelah itu Zuena bertamu di sana untuk melihat bagaimana kondisi keluarga yang mempedulaikan dirinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Pa, apa disini sudah aman?”


“Papa tidak tahu pasti, Ma. Tapi... kita coba saja tetap disini sampai kondisi disini benar-benar aman dan terkendali.”


Arumi dan Humaira tak pernah melepaskan genggaman tangan mereka dan mereka pun selalu bersama karna tak ingin berpisah dalam keadaan apapun. Dan di khawatirkan akan ada serangan bom lagi yang akan membuat mereka berpencar karena ketakutan.

__ADS_1


‘Apa aku akan tiada disini, Ya Allah? Apa ini jawaban dari kisahku bersama bang Ahtar? Karena hal ini Engkau pun tak merestuinya?’


Air mata yang menggenang di pelupuk mata Humaira seketika meluruh. Bayangan Ahtar saat tersenyum bahkan tertawa lepas melintas begitu saja, membuat Humaira bersedih akan sebuah perpisahan untuk selamanya. Karena tak ada yang tahu bagaimana nasib akan membawa kisah mereka.


“Humaira jangan sedih! Mama mohon kamu harus kuat. Yakin sama Allah pasti akan melindungi kita.” Arumi menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Humaira.


“Astaghfirullahalazim...”


Beberapa kali Arumi dan Humaira terus berkomat-kamit melantunkan dzikir, mengingat kebesaran Allah dan meminta perlindungan kepada Allah.


“Cepat! Cepat! Ayo kalian kesini!”


Beberapa kali petugas keamanan berteriak memberi arahan untuk para warga yang masih kesulitan mencari tempat berlindung. Semua petugas yang lain juga bersigap mencari warga jika saja ada korban jiwa saat bom meledak. Bukan hanya itu saja, tim pemadam kebakaran juga ikut terjun memadamkan kobaran api yang semakin besar membakar beberapa restoran dan perumahan lainnya.


“Itu ada petugas, Ma.” Tristan menunjuk salah satu petugas yang berdiri di depannya.


“Iya, Pa. Coba Papa tanyakan bagaimana kondisi Yulian, siapa tahu petugas itu tahu.”


“Sial! Sial! Sial!”


Tristan menghantamkan tangannya ke tembok yang masih cukup kokoh, karena merasa kesal belum bisa menemukan keberadaan Yulian sampai saat itu juga.


Malam semakin gelap, tapi keadaan di Beirut masih riuh dengan beberapa petugas yang berlarian mengarahkan warga untuk segera berlindung dan mencari beberapa warga yang menjadi korban jiwa.


“Kalian disini saja. Papa rasa tempat ini sudah aman, jika terjadi ledakan lagi petugas sudah siaga membantu dan melindungi kalian.”


“Papa sendiri mau kemana?”


“Papa mau mencari om Yulian, kita tidak mungkin memberikan kabar yang belum pasti kepada keluarganya.”

__ADS_1


“Tapi Papa harus hati-hati!” pesan yang memiliki makna dari seorang anak terhadap ayahnya.


Tristan mengangguk, meyakinkan Humaira yang mengkhawatirkan keadaannya saat hendak mencari Yulian. Setelah melihat Humaira dan Arumi sejenak, lalu Tristan ikut memakai rompi pengaman dan ikut mencari korban jiwa maupun yang terluka.


“Boleh saya lihat wajahnya? Siapa tahu Dia kerabat saya yang belum ditemukan.”


Tristan menghentikan seorang petugas medis saat menggotong korban jiwa yang sudah ditutupi dengan pembungkus. Dan setelah dibuka Tristan hanya menggeleng saja dengan raut wajah kecewa. Berulangkali Tristan melakukan hal yang sama saat petugas medis melintas di hadapannya dengan menggotong korban jiwa. Namun hasilnya masih saja sama, Yulian bukanlah salah satu korban jiwa yang ditemukan.


“Sial! Dimana sebenarnya kamu itu Yulian? Kenapa di antara korban jiwa yang berjumlah 78 orang kamu tidak ada dibagian mereka. Bahkan korban yang terluka saja kamu tidak ada disana. Lalu... bagaimana aku bicara sama Khadijah?”


Tristan mendadak lesu, ia sudah merasa lelah setelah beberapa jam ikut mondar-mandir mencari keberadaan Yulian. Namun hasilnya masih belum memuaskan, hingga Tristan pun memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum ikut kembali melakukan pencarian.


“Tapi aku harus bisa menemukan Yulian, karena aku sendiri tidak akan rela jika Yulian mati hanya karena bom itu.”


Gluk... Gluk... Gluk...


Sebotol air mineral yang disediakan telah diteguk Tristan utuk melepas rasa haus yang membuat tenggorokannya mengering. Setelah melepas rasa dahaganya Tristan kembali ikut mencari korban jiwa yang masih belum juga ditemukan.


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 02.00 malam, di sepertiga malam tersebut Khadijah meminta Hafizha untuk membantunya mengambil air wudhu hendak menunaikan sholat tahajud.


”Hasbunallahu wanikmal nakir.” Beberapa kali Khadijah melangitkan doa itu kepada Allah SWT.


Dalam air matanya yang berlinang Khadijah berserah diri kepada Allah untuk meminta yang terbaik_yang memang harus dijalaninya jika Yulian telah ditakdirkan untuk pergi dari kehidupannya selamanya.


“Hamba telah berpasrah hanya kepada-Mu, Ya Allah. Karena hamba yakin Engkau tak akan menguji umat-Mu melebihi batas kemampuan kami.”


“Jika dalam tahajud cinta ini hamba harus mengakhiri bahtera rumahtangga dengan suami hamba, InsyaAllah hamba ikhlas menerima semuanya Ya Allah.”


Tangan Khadijah menengadah untuk berdoa, setelah itu doa yang dilantunkan pun telah diaminkan. Selang beberapa jam kemudian ada nomor pinsel yang tak dikenal tengah menghubungi Ahtar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2