
”Hati-hati! Jangan sampai kalian semua terluka,” ujar Yulian.
Yulian, Tristan, Ahtar, Arjuna dan Abdullah barjaga-jaga jika saja preman itu akan berbuat yang lebih nekat lagi. Tetapi mereka tidak berani untuk keluar, karena sangat berbahaya jika sampai mereka keluar. Namun, akan jauh lebih bahaya jika mereka tak melawan.
“Ahtar, kamu yang berada di sisi pintu bersiap. Dalam hitungan ketiga Abi minta kamu untuk membuka dengan keras.” Yulian menatap Ahtar dengan tajam.
Ahtar mengangguk, mengerti dengan benar bagaimana rencana Yulian. Dan bagian sisi pintu sopir Abdullah juga tengah bersiap, di sisi pintu kanan ada Arjuna, di sisi pintu belakang sendiri ada Tristan dan juga Alex. Semua tengah bersiap hendak memberi perlawanan agar tidak terjadi korban dalam perampokan itu.
Bruuaakk...
Ke lima yang ada di sisi pintu membuka dengan keras, kecuali Alex. Karena kesehatannya yang masih dalam pemulihan Alex tidak diijinkan untuk ikut melakukan penyerangan.
Yulian melawan satu preman, Tristan dan Arjuna juga melawan satu persatu, begitu juga dengan Abdullah, kecuali Ahtar. Ahtar harus melawan dua preman, karena preman itupun berjumlah enam orang. Dan Ahtar sedikit merasa kesulitan untuk melawan dua sekaligus, bahkan sesekali Ahtar harus menahan rasa nyeri di perutnya karena masih dalam masa pemulihan. Meskipun sudah dua bulan lebih tetapi luka tusuk itu belum benar-benar pulih.
Traakk...
Josss...
Buk...
Beberapa tinjuan telah dilayangkan oleh Yulian dibagian perut, kaki, punggung dan lain lagi. Tetapi preman lawan Yulian itu cukup kuat, sehingga tidak mudah untuk ditumbangkan begitu saja. Meskipun menerima beberapa pukulan tetapi preman itu tetap saja mampu berdiri lagi.
“Ya Allah... bagaimana aku bisa membantu Ahtar jika terus saja seperti ini. Sepertinya... mereka sudah sangat ahli melakukan hal semacam ini terutama dalam hal berkelahi.” Sejenak Yulian berdiri hendak mengatur napas.
Yulian, Tristan, Abdullah, Arjuna dan Ahtar masih fokus dengan musuh masing-masing. Karena lawan Ahtar cukup berat dan ada dua maka Ahtar tak mampu berkonsentrasi penuh, hingga ia pun terkena tinjuan di bagian perut nya dan itu tepat dibagian luka tusuknya.
“Argghhh...” Ahtar pun meraung kesakitan.
”Ahtar!” teriak Khadijah saat melihat Ahtar terluka.
Khadijah tidak bisa menerima dan melihat suami dan anak-anak nya sampai terluka. Hingga ia pun berusaha untuk keluar dari dalam mobil, tetapi selalu dicegah oleh Alex dan Arumi.
“Jangan bertindak gegabah Khadijah! Lihat keadaan kamu sekarang,” ujar Arumi.
__ADS_1
“Tapi aku tidak mau melihat mereka semua terluka sedangkan kita hanya diam saja di dalam mobil ini, Arumi. Istri seorang Nabi saja pemberani, kenapa kita keturunan Nabi tidak berani melawan kejahatan seperti itu?”
“Khadijah ini beda, lihatlah sekarang! Mereka membawa senjata tajam, dan mungkin kita memang menyesali tidak bisa berbuat apapun untuk membantu mereka. Tapi kamu jangan lupa, bagaimana hancurnya mereka melihat kamu yang bertindak gegabah atau bahkan... sampai terluka.” Arumi terus berusaha untuk mencegah Khadijah yang berniat membantu.
Khadijah hanya bisa menangis dengan rasa pilu yang mendalam. Hatinya berdetak kencang saat melihat beberapa kali Yulian, Ahtar dan Arjuna mengalami tinjuan. Dan rasa geram pun muncul dari dasar hati Khadijah, hingga ucapan Arumi tak mempan lagi.
“Maafkan aku Arumi, tapi aku harus keluar dan sebisa mungkin aku akan membantu mereka.” Khadijah membuka pintu mobil dan melupakan kelumpuhan yang saat ini dihadapinya.
Dengan mengucapkan basmalah akhirnya kuasa Allah benar-benar tercipta. Khadijah mampu berdiri tegak kembali, melihat semua kejadian yang di depan mata dengan amat jelas tanpa terhalangi kaca jendela mobil.
“Ya Allah... Akhirnya aku bisa berdiri lagi.” Khadijah menumpahkan air mata bahagia karena Allah memberikan kesempatan untuknya berdiri lagi.
“Khadijah, kenapa benar-benar susah dibilangin sih.” Arumi pun merasa kesal dan khawatir lagi.
Ingin Arumi ikut keluar seperti yang dilakukan Khadijah, tetapi Arumi tidak sekuat Khadijah. Rasa takut telah menyelimuti nya.
“Bunda Khadijah...” Zuena berteriak dengan lantang saat melihat preman yang melawan Ahtar hampir menyerang Khadijah.
Zuena tidak bisa jika hanya duduk dan diam saja, ia sudah merasa begitu geram melihat preman itu tak kunjung menyerah dan pergi. Hingga akhirnya Zuena keluar lalu menolong Khadijah yang hampir celaka.
Bukk...
“Zuena itu... hebat. Dia benar-benar wanita pemberani.” Arumi mengacungkan jempolnya terhadap aksi Zuena yang memang patut diacungi jempol.
Humaira pun juga meyakini kehebatan dan keberanian Zuena. Bahkan Humaira yakin jika. Zuena adalah wanita yang tepat untuk Ahtar, wanita yang bisa menjaga Ahtar dengan baik.
Zuena melawan preman itu dan membantu Ahtar beserta yang lainnya. Zuena yang sudah cukup ahli telah berhasil membuat salah satu preman itu tumbang, lalu beralih lagi membantu Yulian. Hingga akhirnya satu persatu keenam preman itu mampu tumbang dan dinyatakan kalah. Tetapi saat preman itu menyerah tiba-tiba saja ada seseorang yang keluar dengan pakaian berjas serba hitam.
”Tuk... Tuk... Tuk... ” Suara sepatu.
“Prok... Prok... Prok...”
Orang itu berjalan gontai seraya bertepuk tangan. Dan itu membuat Yulian, Tristan, Abdullah, Ahtar, Arjuna dan Zuena mengarahkan pandangan mereka ke orang tersebut.
__ADS_1
“Akhirnya kamu keluar juga, Zuena.” Orang tersebut memberikan senyum smirik.
Zuena yang sangat mengenal orang tersebut seketika nampak terkejut. Dan Zuena berharap Afgan tak akan pernah mengungkapkan siapa dirinya di hadapan semua orang.
“Kamu!” ujar Zuena lirih.
Zuena melangkah maju dan berbisik, “Mau apa kamu menemuiku? Dan apa semua ini ulahmu?”
Kembali Afgan tersenyum puas, seolah kemenangan telah didapatkan olehnya saat melihat Zuena merasa terpojok dengan posisinya saat ini.
“Kenapa, Zuena? Apa kamu merasa takut jika aku bongkar semua tentang mu?”
“Terserah! Jika kamu mau membongkar identitas ku, aku justru akan sangat berterimakasih. Tapi maaf, aku harus mengajak mereka pergi dari hadapan kamu, Afgan.”
Zuena kembali mundur, hatinya berdetak lebih kencang saat melihat semua mata tengah tertuju menatapnya dengan tatapan nanar. Terutama saat Zuena melihat tatapan Ahtar kepadanya, seolah hati Zuena tengah diacak-acak. Rasa pedih seolah tengah dirasakan saat itu juga, tetapi Zuena mencoba abai dengan semua itu.
“Apa kamu mengenal orang itu, Zuena? Katakan pada Abi, apa orang itu berbahaya untuk kamu?” tanya Yulian merasa khawatir.
“Dia... Dia seorang rentenir yang sangat menindas rakyat tak mampu. Dan saya...” Zuena menggantungkan ucapannya.
“Apa kamu punya hutang kepadanya? Katakan saja kepada Abi, insya Allah Abi akan membantu kamu membayar semua hutang mu itu, Nak.”
‘Ya Tuhan, hati Abi Yulian memang begitu baik. Andai saja Daddy sebaik ini, pasti aku akan sangat bahagia.’ Zuena bermonolog dalam hati.
Zuena menggelengkan kepalanya, ia mencoba menyembunyikan identitas yang selama ini ditutup rapat olehnya. Dan untuk mengalihkan topik pembicaraan Zuena mengajak semuanya untuk kembali masuk ke dalam mobil dengan alasan segera melihat kondisi Abizzar yang mengalami demam.
“Abi, kalau bisa kita lupakan masalah ini saja. Kasihan Abizzar yang sedang demam, pasti membutuhkan Bunda Khadijah saat ini.” Zuena menatap Khadijah yang masih berdiri di dekat mobil.
“Kamu benar, nak Zuena. Tapi kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama Abi.” Yulian tersenyum.
Zuena mengangguk pelan dan air mata juga menggenang di pelupuk mata Zuena, karena kebaikan yang selalu diberikan Yulian membuat Zuena merasa bahagia. Akan tetapi Zuena merasa tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu.
“Neng! Ini benar kamu bisa berdiri lagi, hmm?”
__ADS_1
Yulian merasa tidak percaya saja saat melihat dengan jarak yang begitu dekat saat Khadijah berdiri dengan tegak di depan kedua matanya.
“Inilah kekuasaan Allah, Hubby. Di saat Neng merasa khawatir dan panik alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk Neng bisa berdiri lagi.