
Humaira manggut-manggut, ia mengiyakan permintaan Yulian. Dan setelah itu Yulian meminta Humaira untuk kembali ke kamarnya, karena ia pun juga akan kembali ke kamar tercinta dan menemui sang pujaan hati sekaligus sang buah hati.
“Hubby darimana? Neng lihat Humaira juga ada di... ruangan itu.” Khadijah menatap Yulian dengan tatapan menyelidik.
“Sedikit memberi peringatan saja kepada Humaira, Hubby hanya takut jika Dia akan tersesat dalam jalan yang tidak baik.”
“Maksud Hubby apa? Memangnya Humaira melakukan ... kesalahan?”
Yulian tidak ingin memendam apa yang dilakukan Humaira di luar sana. Karena Khadijah juga bertanggungjawab untuk mendidik Humaira selama Arumi dan Tristan masih berada di luar jangkauan.
“Dan kenapa Humaira berada di tempat semacam itu?” tanya Khadijah memastikan.
“Dia hanya ingin bertemu dengan seorang... wanita. Wanita itulah yang mengancam Humaira untuk menjauhi Ahtar,” ucap Yulian.
Seketika Khadijah menoleh, ia menatap nanar Yulian yang juga sedang menatapnya. Ahtar yang tidak sengaja mendengarnya pun tetap memasang telinga di depan pintu kamar Yulian. Namun, Ahtar tidak mendengar dengan jelas. Justru ia tersungkur saat Yulian membuka pintunya.
“Ahtar, apa yang sedang kamu lakukan?”
Sesaat Ahtar merintih secara pelan, tetapi ia menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Yulian dan Khadijah. Lalu ia berusaha berdiri dan menjawab dengan sopan.
“Tidak kok, Bi. Tadinya Ahtar mau memanggil Bunda, tapi saat mau ketuk pintu malah Abi buka pintu nya. Jadinya ya begitu.” Sungguh alasan alibi yang diberikan oleh Ahtar.
__ADS_1
“Apa... kamu juga mendengar percakapan Abi dan Bunda, Nak?” tanya Khadijah memastikan.
Khadijah selalu memanggil anak sambungnya dengan Nak, termasuk keoada Juna. Hingga jiwa keibuannya pun dapat, selain kasih sayang Khadijah juga selalu memberi perhatian ala kadarnya seorang ibu.
“Percakapan? Percakapan apa? Ahtar tifak mendengar kok,” elak Ahtar.
“Meskipun kamu tidak mendengarnya, tapi Abi dan Bunda ingin berbicara dengan kamu sehabis sholat isya'.”
“Boleh.” Ahtar manggut-manggut. “Kalau begitu Ahtar ke kamar dulu, tapi sebelumnya Ahtar ingin bicara sama Bunda. Eits, tapi tanpa Abi.”
Yulian dan Khadijah sejenak saling pandang, karena mereka tidak mengerti hal apa yah akan dibicarakan Ahtar kepada Khadijah. Dan Khadijah tidak ingin menolak ajakan Ahtar, bagaimana pun juga Ahtar tetap anaknya dan ia harus mau mendengar curahan hati putranya itu.
“Di... ruang samping. Sekarang juga, bagaimana?”
Khadijah manggut-manggut, keduanya berjalan bersisihan menuju ke ruang samping. Ahtar sejenak menghembuskan nafas beratnya, lalu perkahan ia mencurahkan isi hatinya yang membuat pikirannya merasa penat. Namun itu bukan tetantang wanita, melainkan tentang pilihan lain.
“Bagaimana Bun, apa Ahtar harus membantu Ibu itu? Ahtar gelisah eeww.” Ahtar mengusap wajahnya gusar.
“Jika kamu memiliki niat baik, bukankah lebih baik kamu harus menyegerakan nya? Seperti komentar mbak pembaca yang sudah pernah Bunda baca.”
“Tapi Ahtar tidak tahu dimana tempat tinggalnya, Bun. Kalau Bunda mau membantu...” Ahtar menggantungkan ucapannya ke udara.
__ADS_1
“Jika adikmu nisa Bunda tinggal sebentar, Bunda siap untuk membantu mencari tahu tempat tinggal Ibu itu. Tapi... Bunda tidak janji.” Khadijah mengulas senyum.
“Tak apa kalau begitu, semoga saja Bunda bisa bantu Ahtar,”
Setekah mencurahkan isi hatinya yang ingin menolong seorang ibu paru baya yang memang tengah memerlukan perawatan tentang penyakit yang dideritanya, kini Ahtar menuju ke kamarnya untuk membersihkan tubuh yang lengket. Sedangkan Khadijah menuju ke dapur, sekedar ingin mengambil air minum saja.
“Bun, Izha boleh tifak jika nanti malam ke rumah Mariana?”
“Mariana?” tanya Khadijah dengan mata yang menerawang.
“Itu loh, Bun, teman Izha yang dari Khairo. Meskipun Dia tidak beragama Islam, bolehkan Izha berteman dengannya?”
“Boleh dong, Islam itu tidak melarang kepada siapa kita berteman. Dan kita itu juga harus bisa menelaah teman kita satu persatu, Dia baik atau tidak kita yang menilai. Jangan sampai kita salah teman.”
“Islam hanya akan melarang kita untuk memandang, berdekatan bahkan memiliki perasaan yang lebih terhadap seorang lelaki yang memang bukan makhramnya. Itu haram, akan menimbulkan dosa jika kita melakukannya.”
Perlu dicatat ya pembaca...
Hafizha manggut-manggut, ia mengerti apa yang dimaksud Khadijah. Dan tepat pukul jam setengah delapan malam Hafizha di antar oleh Abdullah ke rumah Mariana.
Di dalam ruangan itu hanya ada Yulian, Khadijah, Ahtar dan juga Humaira. Seakan Yulian ingin melakukan persidangan kepada Ahtar dan Humaira. Karena Yulian tidak mau percaya begitu saja dengan omongan Humaira tentang seorang wanita yang melarangnya untuk mendekati Ahtar.
__ADS_1