Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 76 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

‘Ya Allah, mungkin aku sudah berdosa membohongi Arumi. Tetapi ini yang terbaik untuk saat ini, semoga saja Humaira bisa segera berubah.’


Khadijah kembali melakukan aktivitas selanjutnya, membersihkan seluruh ruangan rumah untuk membantu bik Inem yang pasti sudah merasa lelah karena sudah bekerja sedari pagi. Sedangkan Abizzar masih tertidur pulas di ranjangnya. Jika pun terbangun pasti hanya melihat mainan yang bergelantung di atas ranjang. Hingga membuat Abizzar tertawa sendirian.


“Neng, tadi bik Inem lihat non Humaira pergi. Tapi bik Inem tidak tahu mau pergi kemana.”


“Ya sudah tak apa bik, palingan juga ke rumah teman atau... ada kegiatan lain. Biarkan saja bik namanya juga anak muda.” Khadijah mengulas senyum.


Meskipun tidak tampak senyum di bibirnya, tetapi terlihat dari matanya yang menyipit. Hati Khadijah mulai tidak tenang setelah mendengar apa yang dikatakan bik Inem. Lalu ia mencoba menghubungi Yulian untuk sekedar memberitahu saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ada apa Abi mencari Ahtar? Apa ada hal yang penting sehingga membuat Abi datang ke rumah sakit seperti ini?” tanya Ahtar penasaran.


“Abi hanya mau meminta bantuan sama kamu. Langsung saja, nanti malam Abi ada acara kantor. Bisakah kamu menemani Abi?”


Ahtar memutar bola matanya dengan sempurna, memikirkan apa yang harus ia lakukan sebagai jawaban dari ajakan Yulian. Dan akhirnya ia pun menyetujui ajakan Yulian. Karena tidak mungkin jika mengajak Khadijah yang mengurus anak, Arjuna yang sebisa mungkin harus membantu Cahaya menjaga anaknya dan sedangkan Hafizha sudah pasti belum mengerti tentang hal bisnis.


“Tunggu sebentar, Bundamu menelpon.” Yulian memperlihatkan ponselnya di depan Ahtar.


Ahtar mengangguk, tidak lama kemudian ponselnya mendapatkan pesan masuk dari satu nama yaitu Humaira. Yang membuat Ahtar penasaran, tetapi ingin rasanya Ahtar mengabaikan saja pesan itu. Akan tetapi justru Humaira menghubungi nomor Ahtar dan mau tidak mau Ahtar harus menerima panggilan itu di depan Yulian.


“Assalamu'alaikum, bang Ahtar.”


“Wa'alaikumsalam, ada apa kamu menghubungi ku?” tanya Ahtar dengan nada selatan mungkin.


“Humaira ingin bicara secara pribadi sama bang Ahtar. Humaira tidak bisa memendamnya, jadi Humaira mohon bang Ahtar datang ke royal mile siang ini. Wassalamu'alaikum.”


Sambungan telepon pun dimatikan secara sepihak. Sedangkan Ahtar belum sempat memberikan jawaban apapun kepada Humaira, membuat Ahtar bingung sendiri ingin melakukan apa.


“Apa yang akan kamu lakukan Ahtar, hmm?” tanya Yulian yang mendengar suara Humaira.


“Ahtar merasa bingung Abi, jika Ahtar menemuinya ... Ahtar takut akan menimbulkan fitnah. Tapi jika tidak menemuinya, Ahtar tidak ingin menyakiti hati seorang perempuan. Serba salah jadi lelaki.” Ahtar mengusap gusar wajahnya.


Yulian terdiam, mencoba memikirkan apa yang harus dilakukan Ahtar dalam masalah ini. Karena tidak mungkin jika Yulian akan ikut hadir menemui Humaira, selain ada urusan kantor sebagai seorang ayah ia tidak bisa ikut campur dalam urusan pribadi putranya kecuali, jika salah dalam melakukan sesuatu hal.


“Temui saja Dia dengan membawa seorang teman, sebagai saksi apa yang akan kalian lakukan. Abi harus kembali ke kantor, ingat jaga pandangan.” Yulian menepuk pelan pundak Ahtar.


‘Mengajak teman, siapa?’

__ADS_1


Ahtar merasa gelisah sendiri hanya karena memikirkan pertemuannya dengan Humaira. Karena ia juga tidak yakin jika temannya mau diajak kompromi belaka. Sedangkan temannya kebanyakan sedang melakukan tugas visite dan hal lainnya.


“Haruskah aku pergi sendiri? Ah entahlah!”


Ahtar menyibukkan diri dengan menatap data pasiennya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Jangan khawatirkan Humaira, karena Dia akan bertemu dengan Ahtar di royal mile nanti siang. Dan Hubby akan meminta Abdullah untuk mengawasi mereka.” Yulian mengirimkan pesan singkat kepada Khadijah.


Setelah itu Yulian kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai seorang CEO besar di dalam dua negara, Edinburgh dan Indonesia. Pekerjaan yang diambil pun harus dikerjakan secara profesional, penuh kematangan dalam membuat data pengajuan dalam pertemuan setiap tender yang akan membuat perusahaan milik Yulian berkembang semakin pesat.


“Permisi Pak, ada Pak Elbert yang sedang menunggu di luar.” Erga menunduk sopan.


“Oh ya, pinta saja kepada beliu untuk masuk. Saya akan menunggu di sini.”


Erga kembali menunduk, lalu membuka pintu dan meminta Pak Elbert untuk masuk ke dalam ruangan Yulian. Dan pertemuannya dengan salah satu CEO di Edinburgh akan membahas tentang pembangunan taman di salah satu wisata ternama di kalangan remaja. Karena dalam penerawangan Yulian taman itu akan dikunjungi oleh banyak orang yang bisa menguntungkan kedua perusahaan tersebut.


“Kalau begitu lebih cepat lebih baik, jangan ditunda lagi niat baik yang Anda ajukan itu, pak Yulian.” Asisten pak Elbert menyodorkan perjanjian kerjasama mereka.


“Baiklah Pak, InsyaAllah besok lusa saya akan memulai pembangunannya.” Yulian menandatangani kontrak kerjasama itu.


“Assalamu'alaikum, Abdullah.”


“Wa'alaikumsalam Yulian, ada apa?”


“E... aku akan memberimu tugas selama Hafizha belum pulang.” Yulian menjelaskan tugas Abdullah.


Abdullah menyetujui tugasnya, bukan maksud ingin mengintip atau mengintai. Hanya saja Yulian ingin Humaira dan Ahtar terjaga dalam setiap pandangan maupun perbuatan yang tidak diinginkan.


Setelah mendapatkan tugas itu Abdullah segera menjalani misi dan bergerak ke royal mile, sesuai dengan temoatnyang sudah ditentukan Humaira. Setelah sampai di sana Abdullah melihat Ahtar sedang bersama Humaira, hanya berdua saja. Akan tetapi jarak mereka tidak sedekat layaknya orang yang akan mengobrol secara tatap muka dengan jarak yang dekat. Bahkan Ahtar hanya megudarakan suara melalui ponsel saja.


“Aman, Ahtar sangat pintar dalam menjaga pandangannya. Bahkan dalam mengatur jarak saja ia tahu di mana ia akan memposisikan tempaountuk berdiri.” Abdullah mengirim pesan singkat kepada Yulian.


“Bagus. Terimakasih atas bantuanmu, Abdullah. Sekarang kamu bisa kembali ke sekolah, karena Hafizha sebentar lagi akan pulang.” Yulian mengirim pesan kepada Abdullah sebagai balasan.


Khadijah yang diberitahu Yulian akhirnya sedikit merasa lega. Hingga ia kembali melanjutkan menulis novel yang ceritanya tentang kisahnya yang dimulai saat masih remaja, laku kehidupan yang berliku setelah mengalami hamil diluar nikah, bertaubat dengan berjuang untuk menjadi seorang muslimah dan cinta yang lama terpendam kembali hadir dalam kehidupannya, kisahnya dengan Yulian.


Cerita novel yang dibuat Khadijah tak kalah menarik dengan cerita novel tahajud cinta. Dan nanti akan ada kelanjutan cerita Tahajud Cinta season dua, Ahtar dengan cintanya.

__ADS_1


“Aku merindukanmu hingga aku menuliskan kisah singkat pertemuan kita dalam buku novel ku, Aisyah. Kamu baik, terlalu baik untuk ku sakiti. Dan keputusan itulah yang aku buat agar kamu bahagia di sisa waktumu. Maafkan aku, jika aku terlalu egois pergi begitu saja meninggalkanmu tanpa ada selatan katapun sebagai tanda pamit.”


Khadijah menatap dalam bingkai foto Aisyah yang berada di kamarnya. Khadijah tidak ingin menyingkirkan foto tentang Aisyah, bahkan Khadijah meminta Yulian untuk memasang foto Aisyah di kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Yulian, how are you?”


Yulian yang baru saja selesai makan siang tiba-tiba teman lama menyapanya. Mr. Holder adalah teman Yulian yang sudah lama menjadi sahabat Yulian setelah menjalankan kerjasama dalam bidang bisnis seni, jauh sebelum Yulian kembali ke Indonesia dan Aisyah meninggal dunia.


“Holder, i'm fine. You?”


“I'm too fine. Ngomong-ngomong... sudah lama kamu tinggal di sini, Yulian?”


“Begitulah, sudah hampir empat tahun aku berada di sini. Kamu sendiri, sudah lama atau...”


“Aku baru saja kemarin tiba di sini. Dan sekarang aku ingin menikmati suasana di sekitar royal mile. Banyak perubahan di sini yang membuatku ingin memuaskan diri selama kurang lebih satu bulan.”


“Kenapa hanya satu bulan?”


“Ya Yulian, beginilah kehidupan bisnisku saat ini. Berpindah-pindah ke lain negara dan kota. Bisa dibilang aku hanya ... numpang saja.”


Mr. Holder dan Yulian seketika tertawa bersama. banyak obrolan ringan tentang bisnis dan kehidupan mereka yang menemani pertemuan di siang itu. Bahkan Yulian juga menceritakan kisah rumah tagganya dengan Aisyah yang sudah berakhir, dan menjalin kembali rumah tangga bersama wanita pilihannya yaitu Khadijah.


“Khadijah? Siapa Dia? Bagaimana kamu bisa mengenalnya? Sedangkan yang aku tahu cinta mu hanya untuk Aisyah.”


“Ceritanya panjang. Tapi yang jelas kini aku harus bisa menjaga perasaan Khadijah, belajar terus menerus mencintainya.”


“Baguslah, itu yang namanya Yulian. Aku hanya bisa mendoakan semoga langgeng dalam rumah tanggamu.”


“Aamiin. Oh iya Holder, maaf aku tidak bisa lama-lama mengobrol denganmu. Lain waktu aku ingin kamu datang ke rumahku... dan kamu harus ada waktu jika aku mengundang mu.” Yulian mengulas senyum.


Pertemuan pun diakhiri dengan saling berpelukan, bagaikan teletubbies yang suka melakukan semua itu.


“Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, Holder.” Yulian mengenang pertemuannya dengan Holder yang singkat.


Berhubung hari sudah mulai sore, Yulian segera kembali pulang tetapi sebelum itu Yulian mampir sebentar ke sebuah mal besar di Edinburgh. Membeli bingkisan sebagai hadiah kecil untuk Khadijah dan Hafizha.


”Aku seperti mengenal wanita itu tadi. Tapi... siapa?”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2