Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 107 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Ahtar masih terdiam. Sedangkan Hafizha membulatkan kedua matanya ke atas, seolah tengah memikirkan siapa yang sudah memberikan bingkisan dan bunga mawar kepada Ahtar.


“Apa itu... dari wanita yang sudah menolong bang Ahtar semalam?” cecar Hafizha.


”Bukan, Dek. Abang saja tidak tahu siapa yang kasih, tuh tanya sama Abi yang tahu.” Ahtar menatap Yulian yang berdiri dibelakang kursi roda Khadijah.


Seketika Hafizha mengalihkan pandangannya, menatap Yulian dan menelisik, mencari tahu tentang siapa pemberi bingkisan dan bunga itu. Sedangkan Hafizha tahu benar siapa Ahtar, tidak pernah dekat dengan wanita siapapun.


“Siapa Abi? Jangan bilang kalau itu dari... kak Humaira.” Hafizha menatap Yulian dan Ahtar bergantian.


Yulian dan Ahtar sama-sama mengangguk dengan pelan. Dan itu membuat Hafizha sontak merasa terkejut, ada rasa tidak suka singgah di hati Hafizha saat mengingat perilaku Humaira tempo hari.


“Bagaimana bisa kak Humaira tahu jika Bang Ahtar mengalami kecelakaan? Dan maksudnya apa coba memberi bingkisan dan bunga seperti itu? Sok perhatian, wanita aneh dan itu... tidak patut untuk ditiru.” Hafizha mendengus kesal.


Yulian, Khadijah dan Ahtar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Hafizha yang begitu kentara tidak menyukai Humaira. Yulian juga merasa heran, mengapa bisa Hafizha tidak menyukai Humaira.


“Nak, tidak boleh seperti itu. Biarpun kamu tidak suka dengan Humaira, kamu tidak boleh memiliki pemikiran seperti itu. Ingat! Kita pun juga belum tentu baik di mata Allah, bahkan bisa saja kita lebih buruk.”


“Tidak sepantasnya kita menilai dan menghakimi orang lain. Karena yang pantas menghakimi dan menilai hanya Allah semata. Lebih baik kita memperbaiki diri saja, jangan pedulikan orang lain. Dan kamu... belajar yang benar, ingat sebentar lagi mau ujian.” Yulian mengusap puncak kepala Hafizha.


“Iya, Abi.” Hafizha mengangguk.


Selang beberapa menit kemudian Arjuna tiba, ia membawa beberapa kertas yang dimasukkan ke dalam sebuah map. Lalu map itupun diberikan kepada Ahtar, membuat Ahtar sendiri merasa bingung.


“Apa ini, Bang?”


“Buka saja! Kamu akan tahu apa isinya setelah membuka map itu dan membaca tulisan yang ada dalam setiap lembar kertasnya.” Arjuna menatap Ahtar sembari tersenyum simpul.


Ahtar membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Rasa penasaran kian membuncah dada, seketika itu pula Ahtar berusaha untuk duduk dan membuka isi map itu.


“Argghhh,” rintih Ahtar.


Rasa nyeri masih begitu terasa, membuat Ahtar meringis kesakitan saat ia mencoba untuk duduk. Dengan siaga Arjuna membantu Ahtar ketika masih berdiri di sisi kanan brankar.

__ADS_1


Arjuna sedikit menaikkan brankar, setelah itu membiarkan Ahtar fokus dengan isi map yang berada di tangannya.


“Mengapa data Maria ada pada Bang Juna? Apa... suster Almira yang memberikannya kepada Bang Juan?”


Arjuna mengangguk, lalu ia menjelaskan kenapa data Maria ada padanya.


“Kata suster Almira ... Dia salah menuliskan nama pasien yang harus menjalani pemeriksaan pada tanggal 2 Mei. Dan nama yang sebenarnya itu laki-laki, Adam namanya.”


“Adam?” tanya Ahtar tampak berpikir.


Arjuna mengangguk, tetapi sama saja ia tidak tahu siapa laki-laki yang bernama Adam. Karena bidangnya saja berbeda dengan Ahtar, dokter kandungan dengan dokter ahli bedah jantung.


“Sudahlah, Dek! Jangan terlalu kamu pikirkan hal itu. Sekarang biarkan lukamu itu kering, lalu urus urusan kamu dengan sang pemberi itu.” Arjuna menunjuk benda pemberian Humaira yang masih bertengger di atas nakas.


Ahtar mengangguk, mengiyakan saja apa yang diinginkan Abi, Abang dan juga Adeknya itu. Setelah meminum obat Ahtar mulai mengantuk, tak lama kemudian ia pun tertidur.


Yulian mengajak Khadijah jalan-jalan di taman rumah sakit, mencari udara segar di sana sembari mengobrol rencana mereka bertandang ke Medan yang direncanakan sekitar dua minggu lagi.


“Alhamdulillah, sekarang Hafizha sudah tahu siapa kamu, Neng. Dan alhamdulillah juga Dia tidak terlalu lama saat marah, meskipun itu membuat hati Hubby merasa janggal.”


“Hubby sebagai seorang ayah tahu betul bagaimana Hafizha. Dan hatinya akan mudah luluh jika berbicara dengan Ahtar. Pasti... reda amarah yang berkobar malam itu ada hubungannya dengan Ahtar sebelum mengalami luka tusuk.”


“Semoga saja benar, Hafizha tidak lagi memendam amarah bahkan kebencian kepada Neng ya, Hubby.”


Yulian mengangguk, mengaminkan harapan yang diucapkan Khadijah. Karena tidak ada yang namanya seorang ibu ingin dibenci bahkan tidak diakui oleh anaknya. Meskipun pada kenyataannya Khafijah pernah meninggalkan Hafizha, itupun dilakukannya karena merasa tidak pantas untuk mendidik dan memberikan kebahagiaan yang layak bagi seorang Hafizha.


Matahari nampak bersinar dengan begitu terang, membuat kulit manusia yang berada dibawahnya serasa ikut terbakar saat menyentuh kulit. Dan Yulian tudak mau jika Khadijah akan merasa kepanasan dibawah teriknya matahari, hingga akhirnya Yulian kembali mendorong kursi roda Khadijah untuk kembali ke ruangan Ahtar.


“Hafizha, ajak Bundamu untuk pulang sekarang juga. Kalian harus istirahat, sebelumnya kalian jangan lupa makan. Beli saja makanan di restoran biasa ya, Neng. Biar nanti tak perlu repot memasak, kasihan Cahaya juga.” Yulian mengeluarkan dompet di saku celananya lalu mengambil kartu kredit miliknya.


Hafizha dengan rasa bahagia yang membuncah dada segera menerima kartu pemberian Yulian. Sudah lama sekali tidak ada kebebasan untuk Hafizha membeli beberapa makanan yang disukainya, dan hari itu akhirnya Yulian memberikan kebebasan itu.


“Terimakasih! Ya, Abi. Oh iya, boleh tidak jika Hafizha membagikan makanan kepada anak di jalanan seperti dulu?”

__ADS_1


“Boleh. Lakukan saja asalkan membuatmu senang, Nak. Tapi ingat, tidak boleh berperilaku sombong setelah membagikan makanan itu. Carilah keberkahan di dalam setiap ukuran tanganmu itu, Nak.” Tidak lupa Yulian selalu berpesan hal positif kepada setiap anaknya.


Hafisha mengangguk, setelah itu berpamitan dengan menyalami punggung tangan Yulian dan Ahtar yahh sudah terbangun. Tidak lupa mengucapakan salam sebelum keluar dari ruangan Ahtar.


Abdullah yang selalu siaga menunggu di mobil segera membukakan pintu untuk membantu Khadijah hendak duduk di jok tengah. Setelah itu Hafizha berada di jok depan, di sisi kiri Abdullah. Dan tidak lama kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Abi kenapa tidak ikut pulang saja? Abi juga harus... istirahat.”


“Nak, ada saatnya seorang ayah berada di sisi anaknya. Dan itu Abi lakukan saat ini, tidak mungkin jika Abi pulang lalu membiarkanmu berada di rumah sakit sendirian dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sudahlah! Biarkan Abi menemanimu di sini, Ahtar. Jika kamu sudah menikah kelak maka Abi tidak bisa menunggumu seperti ini,”


“Terserah Abi saja kalau begitu. Tapi... Ahtar tidak tahu kapan jodohnya tiba. Dan Ahtar juga tidak memikirkan pernikahan saat ini.”


Ahtar tersenyum kecut, mengingat mimpi dalam tidurnya malam itu tak ada lagi tanda-tanda yang nyata di kehidupan.


“Sabar, tunggulah saja! Dan selagi kamuaskn menunggu jangan lupa untuk terus memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang baik. Karena setelah menikah kelak, hidupmu akan berubah drastis, Nak.”


“Tanggung jawab seorang suami jauh lebih besar daripada tanggung jawab yang kamu tanggung saat ini.” Yulian menepuk pelan pundak Ahtar.


Obrolan terus bergulir antara ayah dan anak itu saat berada di dalam ruangan yang begitu terasa membosankan bagi seorang Ahtar. Dan Ahtar juga meminta kepada Yulian untuk pulang saja, karena dirinya tidak merasa nyaman meskipun ruangan itu berfasilitas, tidak seperti ruangan lainnya yang dibagi menjadi beberapa bilik.


Namun, Yulian melarang hal itu. Karena kesehatan Ahtar itu penting dan harus dijaga saat masa pemulihan. Dan mau tidak mau Ahtar harus menurut saja apa yang dikatakan Yulian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Siang ini kamu mau tidak temani aku ke rumah sakit lagi?”


“Tidak mau. Lagipula, bukankah jadwalmu masih tanggal 2? Buat apa juga kita kesana sekarang?”


“Aku mau... menjenguk Dokter Ahtar. Bukankah katamu Dia mengalami... luka tusuk saat preman itu beraksi? Jadi, aku pengen tahu kondisinya saat ini.” Adam benar-benar ingin tahu bagaimana kondisi Ahtar saat ini, karena baginya Ahtar selain menjadi seorang dokter yang pandai tetapi Ahtar juga dokter yang bisa diajak untuk bersahabat.


Zuena nampak berpikir, mengingat Ahtar yang mengalami luka dan juga mengingat bagaimana Hafizha menangis dalam kepiluan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2