Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 68 “TC”


__ADS_3

Dan Yulian pun menenangkan Abizzar dengan membacakan sholawat sampai beberapa kali, hampir membuat kaki Yulian merasa pegal karena sudah dua jam lebih berdiri. Dan tepat pukul sepuluh malam Abizzar akhirnya tertidur juga. Setelah tidur Yulian merebahkan tubuh mungil Abizzar di atas ranjang yang sudah disiapkan tadi.


“Akhirnya... sudah tidur juga.” Yulian bernafas lega.


“Apa Hubby sudah merasa capek?”


“Sebenarnya kaki Hubby yang terasa pegel. Tapi tak apalah, Abizzar juga merasa nyaman bahkan tangisnya hilang kalau dibacakan sholawat.” Yulian mengulas senyum saat netra elangnya masih menatap tajam wajah Abizzar yang masih begitu kecil.


“Ya sudah, sini Neng pijitin kakinya.” Khadijah menepuk pelan kasur empuknya.


Yulian menuju di mana Khadijah memintanya untuk duduk di atas ranjang yang tidak jauh dari posisi ia duduk saat itu. Dan saat Khadijah hendak memijat kakinya yang merasa pegal dengan segera Yulian menghentikan tangan Khadijah yang masih baru saja memegang kakinya.


“Jangan lakukan itu, meskipun Neng adalah istriku. Karena suamimu ini akan selalu menjadikan Neng ratu selama jiwa ini masih menyatu dengan raga dan nafas ini masih berhembus mengudara.” Terang Yulian seraya menyunggingkan senyuman.


Perlahan tangan Yulian mengusap rambut Khadijah dan menatapnya mata yang memancarkan binar mata bahagia. Memang tidak dapat dipungkiri jika malam itu Khadijah benar-benar diratukan oleh sosok seorang lelaki yang menyandang status sebagai suaminya. Namun, binar mata itu seketika berubah menjadi sendu saat sekelebat bayangan masa lalu menari-nari di pelupuk matanya.


“Kenapa jadi sedih begitu ekspresinya, Neng? Apa ada masalah, hmm?” tanya Yulian memastikan.


“Maafkan Neng, Hubby. Hiks... hiks... hiks...”


Khadijah menangis pilu setelah merebahkan kepalanya di pangkuan Yulian. Khadijah kembali merasa tidak pantas saja saat Yulian ingin menjadikannya ratu dalam hidupnya.


“Ada apa? Kenapa Neng menangis seperti itu? Apa Hubby mu ini sudah menyakiti hatimu, Neng?”


Khadijah terdiam, hanya isak tangis yang tersisa di sana. Karena tidak jawaban yang menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada Khadijah, Yulian pun menangkup wajah Khadijah lalu menatapnya dengan lekat.


“Katakan Neng, jangan buat Hubby mu ini merasa bersalah sudah membuatmu menangis tanpa sebab seperti ini. Jika Hubby melakukan kesalahan, katakan saja.”


“Neng... hanya. Neng merasa tidak pantas saja dijadikan ratu oleh Hubby. Sedangkan Neng pernah menjadi wanita yang tidak suci, Neng banyak dosa hingga tidak bisa menjaga marwah yang memang harus dijaga. Hiks... hiks... hiks...” Kembali tangis Khadijah pecah bahkan sampai tergugu.


Yulian menatap iba Khadijah yang memang masa lalunya begitu tragis. Bahkan Yulian juga tahu bagaimana kejadian itu menimpa Khadijah setelah Arumi menceritakan semuanya kepadanya atas ijin Aisyah saat Aisyah masih dalam keadaan kritis. Dan saat itu Yulian ingat betul bahwa dirinya menolak mentah permintaan Aisyah yang memintanya untuk menikahi Khadijah, wanita yang tidak pernah di kenalnya.


“Neng, manusia itu tempatnya bersalah. Jadi jangan mencari kesalahan yang ada pada diri manusia itu. Begitu juga dengan Neng... mungkin memang benar masa lalu Neng sudah membuat Neng kehilangan kesucian yang seharusnya Neng jaga.”


“Tapi... Neng tidak seharusnya terus menerus mencari kesalahan yang ada pada diri Neng sendiri. Bukannya saat ini Neng sudah mencoba untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri Neng kepada Allah. Jadi, lupakan semuanya yang menyakiti hati Neng di masa lalu. Sekarang ingatlah, kita sudah menjadi orang tua yang wajib mengajarkan hal baik dan terpuji kepada anak-anak kita.”

__ADS_1


Yulian menyunggingkan senyum manisnya, dan setiap apa yang dikatakan oleh Yulian membuat hati Khadijah sedikit merasa tenang. Apalagi saat Yulian merengkuh tubuh Khadijah dan menenggelamkan nya ke dalam pelukan yang menghangatkan.


Dan dalam hangatnya pelukan Yulian malam itu membuat Khadijah terlelap dalam tidur yang panjang. Begitupula dengan Yulian, ia juga ikut terlelap saat merasa Khadijah sudah tidak menangis lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ya Allah, kenapa mimpi itu kembali hadir dalam dunia ilusi hamba? Bukankah mimpi hanyalah bunga tidur saja, tetapi... kenapa hampir setiap malam mimpi yang sama telah hadir?”


Ahtar terbangun saat memimpikan hal yang sama seperti malam sebelumnya. Dan lagi Ahtar merasa gelisah akan mimpi itu. Hingga ia melangitkan do'a setelah menunaikan sholat tahajud agar Allah sebagai Tuhan nya mampu memberikan petunjuk dari mimpi yang terus berulang.


“Sebenarnya siapa gadis itu? Kenapa ia membuat hatiku merasa gelisah seperti ini? Pantaskah aku merasa gelisah secara berlebihan seperti ini terhadap wanita yang hanya hadir dalam mimpiku saja, Ya Allah?” Ahtar bertanya-tanya tentang perasaan yang menentu.


Ahtar tidak bisa memejamkan kembali kedua netra elangnya saat rasa gelisah yang membuncah dada. Hanya berguling ke kanan dan ke kiri saja saat merebahkan tubuhnya di atas kasur. Karena tetap tidak bisa memejamkan netranya, Ahtar menyapu setiap sudut kamarnya hingga ia menemukan beberapa baju yang ditumpuk masih teronggok di keranjang.


“Entahlah! Biarkan Allah saja yang menentukannya. Lebih baik aku bereskan bajuku saja.” Ahtar beranjak dari kasur lalu menuju ke sisi almari nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Allahu akbar... Allahu akbar...”


“Biarkan saja Dia tertidur seperti itu. Lagipula Dia juga belum berakhir masa nifasnya.” Ada rasa tidak tega dalam hati Yulian saat melihat Khadijah yang begitu lelap setelah mengalami pikiran yang kacau.


Yulian perg ke ruang khusus melakukan sholat di rumahnya. Dan di sana sudah ada kedua putranya yang hendak melakukan sholat subuh berjamaah. Lalu satu persatu para wanita ikut hadir dan berbaris membentik saf. Karena di rasa seluruh anggota keluarga sudah berkumpul Ahtar segera membaca iqomah untuk memulai sholat dua rakaat.


“Aisyah, aku merindukanmu di sini. Tenanglah di sana dan lihatlah dari atas sana kebahagiaan yang kau inginkan.” Tiba-tiba bayangan Aisyah melintas begitu saja dalam pelupuk mata Yulian.


Yulian segera mengakhiri rasa rindunya terhadap Aisyah. Karena ia harus menyadari bahwa ada hati dan perasaan yang wajib dijaga yaitu, Khadijah. Yang kini menjadi istrinya, bahkan telah melahirkan seorang putra untuknya.


“Ahtar dan Juna, bisakah kalian tinggal sebentar saja di sini? Abi mau berbicara dengan kalian.” Yulian menatap kedua putranya yang hendak beranjak dari tempat duduk.


Arjuna dan Ahtar sejenak saling padang, lalu mereka mengangguk. Dan setelah itu keduanya mengambil duduk di depan Yulian dengan duduk bersila.


“Ada apa, Abi? Apa Abi memerlukan sesuatu dari kami?” tanya Arjuna sebagai anak pertama.


“Tidak, Juna. Abi hanya... ingin bertanya sesuatu kepada kalian sebagai anak muda.” Yulian nyengir.

__ADS_1


Kembali Arjuna dan Ahtar saling pandang satu sama lain. Dan mereka pun bertanya tentang apa yang akan Yulian tanyakan itu.


“Abi mau bertanya, hal apa yang sekiranya bisa membuat wanita tersenyum bahagia tanpa ada rasa beban di hatinya.” Yulian menatap kedua putranya secara bergantian.


“Jujur, Ahtar tidak tahu, Bi. Tapi... bang Juna pasti tahu.”


“Apa ya, Abi. Juna juga tidak terlalu begitu tahu, hanya saja Juna pernah memberikan cinta yang benar-benar tulus dari dasar hati Juna yang paling dalam untuk satu wanita, Cahaya. Dan saat itulah Juna melihat Cahaya tersenyum bahagia tanpa beban.” Terang Arjuna kepada Yulian.


Yulian manggut-manggut, lalu ia mengucapkan terima kasih kepada Juna yang sudah memberikan jawaban atas pertanyaannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yulian menggendong Abizzar yang sudah bangun lebih awal daripada Khadijah. Dan saat Abizzar menangis, mungkin karena merasa haus membuat Khadijah beringsut lalu mengerjapkan kedua matanya.


“Hubby, sini biar Neng saja yang gendong Abizzar. Mungkin saja Dia sedang haus.” Khadijah meminta Yulian untuk mengalihkan Abizzar ke dalam gendongannya.


Khadijah pun mengambil duduk lalu menyusui Abizzar yang semakin kuat saja saat minum. Sedangkan Yulian, ia menyiapkan gamis, cadar dan juga perlengkapan yang lainnya untuk Khadijah berganti nanti setelah usai mandi. Dan setelah Abizzar sudah merasa kenyang, Yulian meminta Khadijah untuk merebahkan Abizzar di atas kasur.


“Segera mandi sana gih, Neng!”


“Baiklah Hubby, ya sudah kalau begitu titip Abizzar sebentar ya!”


Berhubung perban yang ada di perut Khadijah sudah dihilangkan, Yulian membiarkan Khadijah untuk mandi sendiri tanpa bantuannya. Dan saat Khadijah maisih melakukan ritual di kamar mandi, Yulian berusaha untuk memandikan Abizzar yang tali pusarnya sudah lepas saat masih di rumah sakit beberapa hari lalu.


“Halum sekali putra Abi ini, ya! Lihat sayang, Abi hebat kan?”


Yulian terus berceloteh di depan Abizzar. Dan sesekalibAbizzar merespon ucapan Yulian dengan tawa, terkadang juga dengan gerakan bibir saja.


Lima belas menit sudah berlalu, Khadijah pun sudah wangi dengan aroma khas pewangi detergen, bukan parfum dan semacamnya. Karena Khadijah tidak mau menyemprotkan wewangian yang akan menimbulkan sifat tabarruj selama hidup di dunia. Di mana wanita memang menutup seluruh aurat mereka, tetapi menjadi dosa saat mereka menyemprotkan wewangian yang diciptakan dari parfum secara berlebihan.


“Semoga saja acara nanti malam dilancarkan, Aamiin!”


Khadijah menyunggingkan senyum di balik cadar nya, meskipun tidak terlihat dengan jelas tetapi begutu kentara saat mata Khadijah menyipit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2