Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 116 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Yulian terkekeh geli mendengar candaan Khadijah, hal itupun sangat disukai oleh Yulian. Menggoda istri sendiri tak apa meskipun harus berkode juga di kamar mandi.


Yulian mencoba menghubungi nomor Ahtar dan menanyakan kondisi Alex saat itu. Karena bagaimanapun juga Alex kini menjadi mertuanya yang wajib untuk dilindungi, dihormati, dicintai sekaligus diprioritaskan.


“Assalamu'alaikum, Ahtar.”


“Wa'alaikumsalam, Abi. Ada apa Abi menelepon Ahtar?” tanya Ahtar to the point.


“Abi hanya ingin tahu kondisi Opa mu di sana, Nak. Bagaimana?”


“Opa Alex alhamdulillah baik, kok, Bi. Abi tidak perlu khawatir, Ahtar akan selalu memantau perkembangan selanjutnya.”


“Baiklah! Ya sudah, lekas tidur dan jangan banyak memakan waktu hanya untuk begadang yang tidak berfaedah.”


Dari kejauhan Ahtar mengangguk, obrolan pun diakhiri dengan salam. Setelah itu Yulian mengambil posisi di samping Khadijah untuk segera tidur. Karena malam sudah semakin melarut, kesunyian sudah mulai menerpa malam hingga tercipta keheningan setiap detiknya.


“Selamat malam, Neng. Semoga Allah menjagamu dalam tidur yang membuatmu terlelap.” Yulian mengecup kening Khadijah.


Lampu yang terang telah dimatikan, yang ada hanya lampu tidur yang temaram dan memghiasi kamar Khadijah dengan Yulian malam itu.


Dibawah selimut yang tebal Yulian mendekap erat tubuh Khadijah hingga masuk ke dalam kehangatan yang berlipat.


‘Terimakasih Ya Allah, karena Engkau telah memberiku jodoh yang baik akan hatinya, sholeh dalam menjalankan tugasnya sebagai imam, bertutur kata lembut meskipun istri maupun anak-anaknya tengah melakukan kesalahan dan selalu menjaga hati kami semua.’ Khadijah bermonolog dalam hati.


Keduanya terlelap dalam heningnya malam. Dan deru napas Yulian yang mampu dirasakan Khadijah tengah menghangatkan bahkan membuat Khadijah mendidih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kenapa Opa bangun? Apa... mau ke kamar mandi?”


“Iya, Ahtar. Bisa bantu Opa ke kamar mandi sebentar?”


Ahtar mengangguk, ia berusaha untuk selalu siaga menjaga Alex. Selain sebagai Opa nya saat ini, Alex juga menjadi pasien yang harus diprioritaskan oleh Ahtar.


Setelah usai dari kamar mandi Alex kembali merebahkan tubuh di atas kasur branker. Akan tetapi Alex tidak kembali tertidur, ada rasa rindu yang menyeruak hati Alex saat bayangan sang istri tiba-tiba melintas dalam pelupuk matanya.


Tes...


Air mata meluruh begitu saja, menetes dan membasahi pipi. Dan itu membuat Ahtar merasa khawatir, takut jika Alex merasakan sakit dengan jantungnya.

__ADS_1


“Kenapa Opa Alex menangis? Apa... Opa merasa nyeri jantungnya?”


Alex menggeleng saja, lalu segera menyeka air mata yang seolah tak ingin berhenti.


“Lalu Opa kenapa? Apa yang membuat Opa sedih bahkan sampai menangis?”


“Opa... merindukan istri Opa yang sudah pergi jauh. Opa... merasa bersalah sudah menghianati cinta yang tulus dari hatinya.” Alex berusaha tersenyum, tetapi detik selanjutnya air matanya pecah seketika.


“Sabar Opa... Jika Opa merindukan istri Opa Alex maka, doa kan saja dari sini. Karena istri Opa akan selalu disini.” Ahtar menunjuk dada Alex.


“Kata Abi seperti itu. Dan saat Ahtar merindukan Umi Aisyah, di manapun Ahtar berada dan dalam keadaan apapun jika rindu itu menguat Ahtar selalu mendoakan Umi Aisyah.”


“Hingga rasa rindu itupun mereda, tetapi tidak akan pernah hilang dari hati. Dan doa adalah obat mujarab untuk menyampaikan rindu,” ucap Ahtar.


Alex menyeka air matanya, mengikuti apa yang dikatakan Ahtar. Mendoakan sang istri dari dalam hati. Setelah merasa reda, Ahtar meminta Alex untuk kembali istirahat agar tidak terlalu memikirkan hal yang menimbulkan stres. Karena hal itu akan mempengaruhi kesehatan jantung Alex sendiri.


Disaat Alex sudah terlelap Ahtar masih terjaga dengan bayangan Zuena yang melintas begitu saja. Bahkan Ahtar dibuat tersenyum sendirian dengan alasan yang tidak jelas.


“Astaghfirullahalazim... Ahtar, kamu mikir apa ini.” Ahtar segera menepis bayangan Zuena yang menari-nari di pelupuk matanya.


“Ingat Ahtar, itu sama saja kamu berbuat dosa. Memikirkannya saja sudah membuatmu melakukan zina... Zina mata.” Ahtar menarik napas beratnya, tak hentinya Ahtar mengucapkan istighfar berulangkali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yulian terbangun tepat pukul 02.00,karena Yulian selalu memasang alarm pada jam sekian. Dan setelah beranjak dari kasur Yulian segera membasuh mukanya lalu mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tahajjud.


“Ya Allah Ya Tuhanku. Kembali hamba menghadap-Mu di sepertiga malam dan kembali hamba mengadu kepada-Mu.”


“Engkau yang pandai dalam membolak-balikan hati seorang manusia. Dan saat ini tidak hentinya hamba mengucap syukur karena Engkau mampu mengetuk pintu hati seorang Alex yang dulu berkeras hati. Dan hamba percaya inilah keajaiban tentang tali persaudaraan yang Engkau tanamkan di hati hamba.”


“Ya Allah... Hamba hanya bisa berserah kepada-Mu. Permudahkanlah hamba dalam mendidik istri dan anak-anak hamba ke jalan-Mu, aamiin.”


Sejenak Yulian membaca mushaf untuk menghilangkan rasa yang menyesakkan_yang tiba-tiba hadir membelenggu jiwa yang amat rapuh saat mengingat kepergian Aisyah, meskipun sudah berlalu tetapi yang namanya first love akan tetap melekat.


‘Semoga jalanmu selalu dipermudah di sana. Aamiin.’


Yulian berdiri disisi Khadijah, lalu menatap wajah yang tidak berbalut riasan itu dengan begitu lekat. Disingkirkan rambut yang menutupi sebagian mata Khadijah. Dalam hati Yukian pun berkata, “Entah bagaimana caramu bisa memblokade hati ini, sehingga tidak berpindah ke lain hati.”


Yulian mengulas senyum, mengingat kebodohan yang sudah dilakukannya hingga membuat tubuh tegapnya tumbang dan menginap di tempat tinggal Khadijah.

__ADS_1


“Bagaikan anak remaja yang tengah dimabuk asmara saja.” Yulian terkekeh geli saat mengingat kejadian itu.


Suara adzan subuh menyadarkan Yulian jika sudah tiba saatnya kembali menghadap Allah SWT dan menghentikannya yang ingin terus menatap Khadijah dengan benih-benih cinta yang kian menguat dan mendalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Maafkan aku, Tristan! Sepertinya aku belum bisa memantau keadaan kantor saat ini, karena kamu tahu sendiri apa yang menjadi alasanku. Dan kamu juga tahu bagaimana aku,” ucap Yulian mengudara.


“Ya... Ya... Ya... Aku tahu betul. bagaimana kamu. Tapi... Aku ingin minta maaf kepadamu, Yulian. Aku... sudah tahu semua masalah antara Ahtar, Humaira dan juga... gadis itu.” Tiba-tiba Tristan merasa kerongkongan tenggorokan nya tercekat.


Yulian menghela napas panjang, sedikit merasa lega jika Tristan tidak marah kepadanya. Akan tetapi saat itu juga Yulian juga merasa sedih, mengingat bagaimana Ahtar tidak bisa menjaga hati Humaira.


“Lupakan hal itu, Tristan! Kita fokus saja dulu dengan proyek yang akan kita laksanakan di kota ini. Setelah semua itu selesai baru kita bahas lagi.”


Obrolan pun diakhiri dengan saling mengucap salam. Dan setelah Khadijah di rasa sudah siap, Yulian pun menyalakan mesin mobil dan mengantar Hafizha pergi ke sekolah setelah itu ke rumah sakit.


Obrolan terus menemani Khadijah, Yulian dan Hafizha di sepanjang perjalanan. Kebahagiaan begitu dirasakan, canda dan tawa selalu menghiasi setiap obrolan mereka. Dan seolah keluarga Yulian begitu sempurna, saling menjaga hati satu sama lain hingga terciptalah kebersamaan.


“Belajar yang rajin, biar menjadi anak yang pintar. Jangan hanya mengingat setiap penjelasan dari guru saja, kalau bisa di amalkan dan dipraktikkan.” Yulian selalu memberi pesan yang sama terhadap Hafizha.


“Iya... ya... Abi. Hafizha akan terus mengingatnya. Tinggalkan yang buruk... jalankan yang baik saja.” Hafizha menyalami kedua orang tuanya.


Hafizha pun melambaikan tangannya saat mobil Yulian akan dilajukan. Begitu juga dengan Khadijah yang ikut melambaikan tangan.


“Kenapa senyum-senyum sendirian begitu, Neng?”


Yulian mengerutkan keningnya saat melihat Khadijah yang duduk di jok samping hanya tersenyum sendirian. Sedangkan Yulian tidak melihat badut yang menghibur saat di sepanjang jalan tadi.


“Neng... bahagia, Hubby. Dan bahagianya itu berlipat-lipat.” Khadijah pun menjawab disertai dengan cengiran.


“Memang bahagia kenapa, Neng?”


“Bahagia karena... Neng bisa merasakan kebahagiaan yang utuh dari sebuah keluarga.”


“Papa sudah berubah, suami Neng juga tambah sayang dan cinta sama Neng, anak-anak pun juga begitu. Dan itu membuat Neng bahagia berlipat-lipat.”


Yulian yang msrasa tengah disanjung seketika hidungnya kembang kempis, napasnya tak beraturan dan sesekali lengkungan indah terukir di bibirnya. Bahkan wajah Yulian berubah memerah, hal itupun membuat Khadijah terkekeh melihat Yulian yang bucin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2