
Semua tamu undangan masih terpaku dengan apa yang mereka lihat di hadapan mereka. Begitu menguji nyali Yulian saat bertatap muka dengan Khadijah sebelum melakukan ijab dan qabul yang sudah disiapkan oleh Yulian.
”Tujuanku tak lain adalah ingin mengkhitbahmu, Khadijah. Dan sekarang ... bagaimana jawaban kamu atas khitbah ku?”
”Sebelum aku menjawab, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Apakah kamu mengijinkan?”
”Saya mengijinkan, silahkan!”
Saat suasana begitu menegangkan, Khadijah sejenak terdiam. Memikirkan pertanyaan apa yang pas untuk dilontarkan kepada Yulian. Sedangkan Yulian, ia sudah merasakan gerah yang luar biasa... keringat sebesar jagung mengucur di punggungnya. Akan tetapi, ia tepiskan rasa gugup yang mendera di kala itu. Rasa penasaran begitu menyelimuti dirinya saat Khadijah tak kunjung mengudarakan suaranya.
”Apa yang menjadi tujuan kamu ingin mengkhitbah ku? Sedangkan kamu tidak mengenal siapa aku?”
”Bukankah lebih baik aku segera mengkhitbahmu, daripada akan menimbulkan fitnah nantinya. Tentang mengenal ... kita bisa melakukan fase itu setelah menikah nanti, akan lebih berpahala.”
”Tapi, bagaimana jika dibelakang kamu nanti akan ada wanita yang lebih cantik daripada aku, kamu akan berpindah hati dan ingin memilihnya?”
”Mata ... bukankah kamu tahu itu adalah aurat yang tetap harus dijaga? Ketika hati sudah memantapkan diri, mengapa harus berpaling? Dan kita harus mengikuti fase setelah hubungan kita dalam ikatan yang sakral, saling mengenal ... sehingga akan tumbuh cinta di dalamnya.”
”Dan aku yang akan bertanya kepadamu. Apa alasan kamu memberikan pertanyaan seperti itu kepadaku? Sedangkan yang aku tahu dulu, ada cinta di hati kamu untukku. Mungkin ... kamu tidak mengingatnya, tapi aku mengingat binar mata kamu ketika di rumah sakit dulu.” Sontak Khadijah terkejut dan merasa malu. Sehingga tidak ada alasan apapun yang diberikan sebagai jawabannya.
Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan, sehingga pernikahan pun akhirnya dapat dilangsungkan. Kini Yulian dan Khadijah sudah resmi menjadi suami dan istri yang selalu dinantikan oleh keluarganya. Ahtar yang jauh di seberang pun ikut bahagia setelah melihat Yulian melangsungkan akad nikah dan ijab qabul. Semua tamu undangan pun ikut merasakan kebahagiaan setelah melihat Yulian kembali menemukan tambatan hati, setelah menduda terlalu lama.
”Saya nikahkan saudari Khadijah bin Alex dan Yulian dengan mas kawin yang tertera dibayar tunai.”
__ADS_1
”Saya terima nikah dan kawinnya Khadijah binti Alex dengan mas kawin yang tertera di bayar tunai.” Suara Yulian begitu menggema dan membuat bulu kuduk Arjuna merinding.
”Bagaimana para saksi, SAH?”
”SAH...”
Pesta meriah telah dilangsungkan, bukan hanya acara kantor saja di dalam ruangan itu. Melainkan acara pesta yang megah telah di langsungkan demi acara resmi itu. Dan setelah usai melantunkan ijab qabul, Khadijah mencium punggung tangan Yulian. Dilanjutkan Yulian meniupkan do'a di ujung ubun-ubun Khadijah lalu, tidak lupa mencium keningnya.
Setelah sesi akad nikah selesai, para tamu menikmati hidangan yang sudah disajikan di beberapa meja. Gelak tawa telah memenuhi gedung itu, bahkan tak hentinya Yulian menarik ujung bibirnya. Rasa haru yang bercampur dengan rasa bahagia telah dirasakan oleh para sahabat dan keluarga Yulian. Di mana keinginan Aisyah yang terakhir sudah terpenuhi.
’Aisyah, aku sudah memenuhi keinginnanmu. Aku akan membesarkan Hafizha bersama dengan Yulian. Aisyah ... semoga kamu bahagia di sana.’ batin Khadijah.
Hari pun sudah sore, para tamu undangan telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Begitupun dengan Arjuna dan keluarga yang lain, ikut pulang ke kediaman mereka. Sedangkan Yulian, ia sudah memesan hotel yang akan menjadi tempat bermalam dengan Khadijah.
”Baiklah, Yulian. Aku akan mengerti bagaimana pengantin baru itu.” Yulian mengembangkan senyum.
Yulian membukakan pintu mobil untuk Khadijah agar masuk di bagian kursi depan. Lalu Yulian duduk di bagian kursi sopir, tidak lama kemudian mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang untuk menuju ke sebuah hotel berbintang lima.
Mobil pun memasuki area hotel, dan setelah memarkirkan mobilnya Yulian membukakan pintu untuk Khadijah. Lalu Yulian meminta Khadijah untuk melingkarkan tangannya ke lengan Yulian. Bagaikan seorang putri dan raja saat masuk ke dalam hotel.
"Bagaimana, kalian sudah siapkan pesanan saya?”
”Sudah, Pak. Silahkan langsung masuk saja.” Yulian mengangguk pelan setelah menerima kunci kamar hotel yang berada di kamar nomor tiga ratus tiga.
__ADS_1
Yulian berjalan bersama Khadijah seperti saat masuk ke hotel, dan setelah sampai di dalam kamar mereka sejenak mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah. Yulian duduk di sofa sedangkan Khadijah ia duduk di atas kasur yang sudah dihiasi beberapa bunga mawar yang indah.
”Apa ... ini memang sudah kamu rencanakan?”
Khadijah menatap kasur dengan binar mata bahagia. Namun, di sana tersimpan air mata yang siap untuk membasahi pipi dan cadarnya. Dan ketika Yulian melihat akan hal itu, ia tidak bisa tinggal diam. Yulian beranjak dari sofa dan menghampiri Khadijah.
”Iya. Dan akan ada banyak kejutan lainnya untukmu.”
”Jangan menangis seperti itu, buatlah aku bahagia dengan senyumanmu.” Yulian mengulas senyum.
Bagaikan pasangan muda saja, rasa canggung dan malu telah menghampiri mereka saat keheningan menerpa. Namun, tak ada pilihan lain selain hanya diam dan membiarkan hati yang bicara. Meskipun mereka duduk tidak bersebelahan, tetapi mata saling memandang dan memperhatikan satu sama lain. Bahkan Khadijah berusaha untuk menjalankan tugasnya yang kini telah menyandang status sebagai seorang istri.
”Apa ... kamu mau dipijitin?” tanya Khadijah saat melihat Yulian beberapa kali memijit tengkuknya.
”Ah tidak, kamu duduk saja.” Khadijah pun hanya menurut.
’Benar-benar pasangan layaknya anak muda saja. Cara memanggil pun masih aku dan kamu. Haduh, masak tak ada romantisnya sama sekali kamu itu Yulian.’
’Iya tuh, coba bilangin sama mbak penulisnya... adain acara romantis di dalam rumah tangga Yulian dan Khadijah dong!’
’Sabar ya para pembaca... ini lagi on proses untuk menuju kesana. Nanti ada waktunya Yulian dan Khadijah berada dalam fase berkembang biak, kali ini biar masa pengenalan dulu.’ Pesan mbak penulis kepada para pembaca.
Khadijah merasa bingung hendak melakukan pekerjaan apa untuk membuatnya merasa sibuk dan tidak berada dalam suasana hening dan rasa canggung yang berlama-lama. Karena Yulian tetap berada dalam diamnya. Merajuk di depan layar laptopnya. Entah kesibukan apa yang membuatnya harus mendiamkan Khadijah bahkan membuat Khadijah merasa bosan tanpa adanya kegiatan apapun. Hingga akhirnya Khadijah tertidur dalam balutan baju gamis yang dipakai saat pesta tadi.
__ADS_1
Akhirnya Yulian pun telah usai, lalu mengulas senyum setelah melihat Khadijah yang tertidur dengan pulas. Rasanya Yulian ingin sekali melakukan kewajiban seorang suami, mencium kening sang istri dan mengusap lembut puncak kepalanya saat tertidur seperti itu. Akan tetapi, rasa ragu masih menyelimuti hatinya.