
Acara tasyakuran telah dilangsungkan atas kelancaran yang diberikan Allah. Dan kini semua kembali bersiap untuk melanjutkan istirahat di kamar masing-masing.
”Sini Hubby peluk dan Hubby bacakan surat sebelum Neng tidur.”
Yulian menepuk kasur dan meminta Khadijah untuk membaringkan tubuhnya disamping Yulian. Dan Khadijah tidak perlu memberikan penolakan, karena hal itu sangat dirindukan oleh Khadijah.
”Malam ini dibacain surat... Ar-Rahman saja ya?”
”Baiklah!”
Yulian mulai membacakan surat Ar-Rahman dan mengusap lembut puncak kepala Khadijah. Dan itu dilakukan Yulian sampai Khadijah terlelap dalam tidurnya. Setelah Khadijah dipastikan sudah terlelap Yulian mengecup kening Khadijah lalu ikut bersemayam dan mencari posisi nyaman.
”Selamat malam, Khadijah.”
”Bismillahirrahmanirrahim, bismikallah humma ahya bismika wa'amud.”
Yulian siap menyambut alam mimpi malam itu.
-------
”Ya Allah... Ya Robbi ... hamba kembali meminta kepada-Mu untuk menjaga keluarga dan orang-orang yang hanba sayang. Dan hanyalah kepada-Mu hamba memintanya.”
”Rasanya... tidak pantas diri ini terlalu banyak meminta kepada-Mu. Tapi hamba hanyalah seorang manusia biasa yang tidak bisa menjalankan apapun tanpa ajaranmu, berbesar hati tidak mungkin hamba lakukan tanpa memperbanyak dzikir. Memperbanyak sujud hamba lakukan disaat diri ini merindu akan cinta-Mu Dan disaat hamba banyak meminta maka... hamba akan memperbanyak melangitkan do'a.”
”Ya Allah, hamba tulus mencintai makhluk-Mu. Yang kini sudah Engkau takdirkan untuk hidup bersama hamba. Dan jadikanlah hamba seorang istri yang mampu memberikan kebahagiaan untuknya, seorang istri yang mampu melayaninya dengan sepenuh hati, seorang istri yang selalu melangitkan do'a untuk kebaikannya dan seorang istri yang selalu ada untuknya. Aamiin...”
”Aamiin...”
Yulian mengaminkan do'a Khadijah setelah Khadijah usai menjalankan sholat tahajud dua rakaat. Dan suara Yulian telah mengejutkan Khadijah, tanpa disadari sedari tadi mata Yulian memandangi Khadijah yang khusu' saat melakukan sholat tahajud.
”Hubby, ngagetin Neng saja.”
”Kenapa tidak membangunkan Hubby kalau mau sholat tahajud? Kan, bisa sholat bersama.”
”Tapi sholat tahajud kan, hanya sholat sunah... Hubby. Dan tadi niatnya mau bangunin, tapi tidak jadi. Hubby tidurnya pules banget sih.”
”Neng, maupun sholat tahajud hanyalah sholat sunah, jika dijalankan akan mendapat pahala yang besar. Dan Hubby ingin menjalankannya bersama Neng Khadijah, agar bisa masuk surga bersama. Neng... mau kan, masuk surga bersama Hubby?”
Khadijah mengangguk seraya menunduk. Khadijah merasa sudah melakukan sebuah kesalahan, sehingga Khadijah hanya diam tak bergeming.
Yulian menghembuskan nafas beratnya. Ada rasa tak enak hati sudah membuat Khadijah seakan tengah merasa sedih karena rasa bersalah yang tidak membangunkannya saat waktu sholat sunah tahajud tiba.
”Dengarkan Hubby, Hubby minta maaf jika dari perkataan Hubby sudah membuat hati Neng terluka. Lebih baik sekarang, Hubby sholat dulu nanti kita membaca mushaf bersama.”
Khadijah kembali mengangguk untuk mengiyakan perkataan Yulian. Dan seulas senyum dari Yulian telah membuat Khadijah merasa tidak bersedih lagi. Dengan rasa sabar Khadijah menanti Yulian yang masih menjalankan sholat tahajud dua rakaat. Setelah itu, dua Al-quran telah dibuka dengan lebar.
Perlahan Khadijah mulai membacanya, sedangkan Yulian ia hanya menyimak saja dan akan membenarkan bacaan Khadijah jika ada yang salah dalam membaca makhraj nya.
Beberapa menit kemudian Khadijah dan Yulian memutuskan melanjutkan tidur setelah usai membaca mushaf bersama. Sampai adzan subuh telah berkumandang dengan lantang.
__ADS_1
-------
”Uwek... uwek...”
Kembali Yulian berhadapan dengan wastafel saat pagi telah tiba, karena perutnya kembali merasa tidak enak sehingga Yulian merasa mual dan bahkan memuntahkan bubur yang sudah dibuat secara khusus oleh Khadijah untuknya.
”Uwek... uwek...”
Sudah yang kesekian Yulian terus memuntahkan makanan yang sempat ia cerna pagi itu. Dan dengan setia Khadijah memijat tengkuk Yulian untuk meredakan rasa mualnya.
”Ya Allah, Hubby. Kenapa terus muntah seperti ini?”
Khadijah jelas merasa khawatir dengan keadaan Yulian yang terus muntah. Namun anehnya, itu hanya terjadi saat di pagi hari saja. Dan ketika siang sudah tiba Yulian baik-baik saja, selayaknya orang tidak sakit. Melakukan beberapa aktifitas ringan agar tidak merasa bosan yang hanya berbaring saja di kamar.
”Bagaimana jika kita tunda saja kembali ke Indonesia? Neng merasa... tidak tega melihat kesehatan Hubby yang menurun seperti ini.”
Khadijah menatap Yulian dengan tatapan sendu. Ada gurat rasa kecewa dan sedih saat kondisi kesehatan Yulian menurun dan ia tidak bisa segera mengunjungi makam Aisyah. Karena rasa rindu membuncah dada Khadijah, ia ingin mengadu sesuatu hal kepada Aisyah.
”Kenapa harus ditunda, Neng? Jika Hubby besok sudah baikan dan tidak muntah lagi, besok pagi kita akan berangkat ke Medan. Dan bukankah... Neng juga mau berkunjung ke makam Mamanya Neng?”
”Iya sih, Hubby.” Khadijah mengangguk. ”Tapi... Neng tidak mungkin melakukannya jika kondisi Hubby hari ini masih lemah. Lihat, wajah Hubby kembali terlihat pucat. Neng... khawatir dan hati Neng tidak tenang melihat Hubby seperti tadi pagi.”
’Ya Allah, terimakasih... karena Engkau sudah mengirimkan wanita berhati malaikat seperti Khadijah dalam hidup hamba. Dan biarkan hamba menjadi suami yang mampu membahagiakannya dalam segala hal.’
Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah yang berbalut jilbab panjangnya. Lalu, Yulian menarik pinggang Khadijah, sehingga Khadijah masuk ke dalam dekapan Yulian.
”Jangan ngawur deh, Hubby. Ini masih siang loh, masa iya minta ditemenin tidurnya. Malu tahu, nanti bagaimana jika anak-anak masuk ke kamar coba.”
Yulian pun terkekeh ketika Khadijah menolak permintaannya yang terdengar konyol. Yulian jiga sih, masa iya sing bolong mau mesum sama Khadijah. Bagaimana jika Hafizha merengsek masuk ke dalam kamarnya. Apa Yulian tidak merasa malu. Mbak penulis saja malu loh sama perbuatan Yulian yang berotak mesum.
”Sudahlah, Hubby makan saja buburnya.”
”Suapin. A... a...”
Dengan begitu manja Yulian melakukan aksinya. Meminta Khadijah terus berada di sampingnya dengan berbagai alasan. Sedangkan Khadijah, ia harus menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Tugas dibagian dapur harus segera ia lakukan sebelum waktu magrib tiba.
”Sebenarnya... Hubby tidak rela Neng pergi. Tapi...”
Yulian seketika terdiam setelah jari Khadijah bersemayam di bibirnya.
”Neng tidak pergi jauh, Hubby. Neng harus masak di dapur, kasihan bik Inem jika harus menyiapkan makan malam sendirian. Jangan terlalu bucin deh,”
Khadijah menggelengkan pelan kepalanya, ia benar-benar merasa heran dengan tingkah Yulian yang semakin hari semakin bergelayut manja kepadanya. Bagaikan anak kecil saja, harus dengan penuturan pelan agar mau ditinggal sementara.
Malam itu Yulian memutuskan untuk ikut makan malam bersama keluarga di ruang makan. Dan Khadijah merasa sedikit lega saat melihat kehadiran suaminya menduduki kursi yang biasa menjadi tempat duduknya saat melakukan makan malam bersama.
”Kenapa sayurnya terasa asin, Neng? Jangan-jangan... Neng mau minta menikah lagi ya?” pekik Yulian.
Seketika semua orang dibuat terkejut dengan perkataan Yulian. Bahkan Khadijah pun mengurungkan niatnya untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
”Masa iya asin sih, Hubby? Perasaan... tadi rasanya pas. Memangnya yang lain juga merasakan asin pada sayurnya?”
Khadijah menatap keseluruh anggota keluarga, seolah ia tengah meminta jawaban atas hasil masakannya. Dan semuanya pun hanya menggelengkan kepala, menandakan bahwa masakan yang sudah di masak oleh Khadijah tidak ada rasa asin. Semuanya sudah diberikan bumbu dengan hasil rasa yang pas.
”Jelas asin lah, Neng. Nih cobain saja kalau tidak percaya.”
Dengan menurut Khadijah mencicipi sayuran yang berada di piring Yulian.
'Perasaan rasanya sudah pas. Kenapa dibilang asin? Malah dikatain mau minta menikah lagi. Sungguh, keanehan apa yang sedang terjadi? Apa ini ... efek karena sedang sakit saja?’
Khadijah bertanya-tanya dalam hatinya setekah merasa bahwa sayuran itu baik-baik saja. Tidak ada rasa asin seperti yang sudah Yulian katakan.
”Tapi Hubby, ini tidak asin loh. Sudah pas rasanya.”
Dan akhirnya Yulian merajuk karena Yulian merasa bahwa Khadijah mau menikah lagi hanya karena Yulian merasa asin pada sayur yang sudah dimasak oleh Khadijah.
Seluruh anggota keluarga merasa heran dengan tingkah laku Yulian yang berubah secara drastis. Gampang sensitif, begitu perasa dan terkadang juga manja kepada Khadijah.
”Ahtar ... setelah ini coba kamu periksa lagi kesehatan Abi kamu. Siapa tahu saja otaknya sedang geser sedikit setelah beberapa kali mual dan muntah di pagi hari.”
Seketika semuanya terbahak mendengar perintah Papa Adhi yang ditujukan kepada Ahtar. Bahkan Abdullah tiada hentinya terbahak, sampai terpingkal-pingkal dan hampir ngompol dicelana. Sungguh memalukan jika Abdullah sampai melakukan hal itu. Wkwkwk...
”Bang Ahtar... Bang Juna... sebenarnya Abi kenapa sih? Kok jadi aneh begitu,”
Ahtar dan Arjuna merasa bingung untuk menjelaskan bagaimana kondisi Yulian saat itu kepada Hafizha. Karena pada kenyataannya kedua putra Yulian tidak tahu tentang penyakit apa yang sedang melanda orang tuanya itu.
”Izha... Izha pergi ke kamar saja ya! Mengerjakan tugas di sekolah tadi, ok!”
Hafizha mengacungkan jempolnya kepada Ahtar dan Arjuna. Tanpa memberontak Hafizha melakukan apa yang diperintahkan oleh kedua abangnya itu, dan Hafizha tidak lupa ditemani oleh bik Inem saat mengerjakan tugas sekolah dan juga disaat tidur di setiap malam.
”Bang Juna... itu bukan penyakit baru yang lagi viral, kan? Yang tiba-tiba saja nemplok ke tubuh Abi.”
”Dapat bang Juna pastikan kalau itu bukan penyakit yang lagi viral, dek. Pasti itu... Abi sedang kesurupan.”
Benar-benar tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa kedua putra Yulian bahkan ayahnya pun berkata aneh atas sikap Yulian yang berubah 100%. Dan seolah Yulian yang memiliki ketegasan, kelembutan dan yang biasa melekat di tubuh Yulian seketika hilang begitu saja.
Setelah beberapa kali muntah di pagi hari Yulian sering manja, maunya hanya ditemani Khadijah di kamar saja. Dan terkadang Yulian juga suka menunjukkan sikap pecemburu. Sedangkan hal itu biasanya sering terjadi kepada kebanyakan wanita. Lah ini, malah terjadi kepada Yulian... lelaki yang pernah booming saat menjadi duda tampan.
”Hubby, jangan marah lagi ya! Neng itu tidak pernah minta menikah lagi. Siapa juga yang mau pergi dan meninggalkan suami setampan Hubby ini.”
Khadijah tengah berusaha keras membujuk rayu Yulian yang masih bertahan dari sikap merajuk nya. Setelah beberapa jam sudah berlalu, Khadijah pun menyerah. Ia membiarkan Yulian tetap merajuk di dalam kamar, sedangkan kini Khadijah memilih untuk menemui keluarganya yang masih duduk santai bersama di ruang keluarga.
”Pa... bagaimana cara Khadijah menghadapi sikap suami Khadijah yang seperti ini?”
"Entahlah, Khadijah. Papa saja juga merasa bingung harus bagaimana. Karena baru kali ini Yulian bersikap seperti itu.”
Khadijah menghembuskan nafas beratnya. Dengan kata menyerah, Khadijah kembali mengadu keluh kesahnya kepada sang pemilik bumi. Agar teka-teki tentang perubahan sikap Yulian bisa terlihat. Jika otak Yulian memang bergeser sedikit, maka keluarga akan segera memberikan pengobatan yang lebih canggih agar Yulian bisa berpikir dan bersikap normal.
BERSAMBUNG...
__ADS_1