
Tak ada pilihan lain selain hanya menerima satu kamar itu untuk mereka berempat. Dan flu yang mendera Yulian dengan Khadijah telah membuat mereka tidak berdaya. Merasa pusing dan demam akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Mereka pun masuk ke dalam kamar yang sudah dipesan. Dengan segera Khadijah merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat, karena rasa pusing begitu mendera kepalanya. Sedangkan Yulian, ia masih duduk di atas sofa yang berada di kamar itu bersama Abdullah dan Rahma.
”Berikan obatku ini kepada Khadijah. Dan mintalah kepadanya untuk segera meminum obat ini agar pusing dan flunya mereda.” Rahma mengiyakan, tetapi ia juga mengingat akan sesuatu hal.
”Tapi ... Khadijah belum makan malam. Bagaimana obat ini bisa masuk? Apa tak apa jika langsung diminum?”
”Maksudmu, Rahma? Khadijah malam ini belum makan?”
Rahma mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Yulian. Seketika Yulian meminta Abdullah untuk memesankan makanan dari restoran hotel itu. Dan selang beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang. Dengan segera Abdullah menerima pesanan itu agar Khadijah dan yang lainnya ikut makan.
”Rahma, berikan makanan ini kepada Khadijah. Lalu mintalah Dia untuk minum obatnya dengan segera.”
Rahma mengambil satu piring nasi yang disertai lauk yang lezat, lalu membangunkan Khadijah dan memintanya untuk segera makan. Begitupun halnya dengan Khadijah, ia makan sesuap demi sesuap lalu diakhiri dengan bacaan hamdalah. Setelah itu Khadijah segera minum obat yang diberikan Rahma kepadanya. Dan malam yang sudah larut pun meminta mereka semua untuk segara memejamkan mata.
Tak ada yang tahu dan hanya Allah lah yang tahu bagaimana posisi mereka saat tidur malam itu. Di mana Khadijah dan Rahma tidur di atas ranjang sedangkan Abdullah dan Yulian tidur di atas sofa. Karena dua lelaki itu tidak mungkin jika meminta dua wanita yang harus tidur di sofa. Sedangkan Yulian dan Abdullah tahu betul bagaimana seharusnya memperlakukan wanita dengan hormat dan memuliakannya.
’Aku baru tersadar bahwa sebesar ini cara kamu memperlakukan seorang wanita. Betapa beruntungnya Aisyah mendapatkan cintamu, Yulian. Tak heran jika kamu sulit untuk melupakan cinta itu.’ batin Khadijah saat melintas di depan Yulian yang masih tertidur dengan pulas.
’Aku tahu, kamu memang memiliki perasaan kepada Yulian, Khadijah. Tapi kenapa kamu tidak mau mengakuinya saja? Apa yang kamu rencanakan, Khadijah?’ batin Abdullah.
Abdullah tanpa sengaja melihat Khadijah yang menatap lekat Yulian saat masih memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat. Namun, Khadijah segera memalingkan tatapannya karena mata Yulian sudah mulai menggeliat dan perlahan terbuka dengan lebar. Bahkan saat Yulian membuka matanya, Khadijah sudah tidak berada di sana.
”Abdullah, bangun! Sudah adzan subuh,”
Abdullah kembali memejamkan kedua matanya dan berpura-pura tertidur agar Khadijah tidak melihatnya saat menatap Yulian tadi. Dan setelah Yulian berusaha membangunkannya, Abdullah kembali berpura-pura untuk membuka pelan kedua matanya, seolah baru bangun tidur setelah mendengar suara pelan Yulian.
__ADS_1
”Hah, sudah subuh? Masih ngantuk aku ini, Yulian,” gerutu Abdullah.
Yulian mengernyitkan keningnya, karena merasa heran dengan tingkah Abdullah. Karena sebelumnya semalam apapun tertidur Abdullah tak akan mengeluh jika waktu subuh sudah tiba dan mengharuskannya untuk membuka mata lalu menjalankan sholat subuh. Akan tetapi, baru kali itu Abdullah menggerutu.
”Ada apa denganmu, Abdullah? Sudah, ayo kita bergantian saja ke kamar mandinya. Nanti sholat bersama.”
Yulian beranjak dari sofa dan menuju ke kamar mandi. Pintu kamar mandi ia buka pelan, tetapi setelah masuk ke dalam teriakan terdengar dan memekik telinga Abdullah dan Rahma. Sehingga mereka yang masih berada di ruang tidur seketika menuju ke kamar mandi untuk memastikannya.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu ada di dalam kamar mandi.”
”Makanya setidaknya kalau masuk itu diketuk dulu, biar tahu ada orang atau tidak di dalamnya.”
”Maaf, kamu pun juga tidak mengunci pintunya. Jadi ... aku pikir tak ada orang di dalamnya.”
Malu kembali merasuki tubuh mereka. Jantung yang berdebar hebat dapat dirasakan oleh mereka, seakan itu adalah kali pertama mereka melakukan hal yang hampir membuat jantung keduanya rusak saja. Abdullah dan Rahma yang mengetahui akan hal itu hanya bisa menahan tawa.
”E ... tidak kok, kami hanya tidak sengaja saja bertemu di kamar mandi. Ya sudah, lebih baik kamu sekarang ambil air wudhu.”
Abdullah mengiyakan permintaan Yulian. Lalu Abdullah pun mengambil air wudhu dan diikuti oleh Rahma secara bergantian. Sajadah pun dibentangkan dengan sangat lebar. Dua lelaki dan dua perempuan itu tengah menunaikan sholat subuh secara berjama'ah. Dan hal itu membuat Yulian merasa penuh dengan kedamaian.
Salam akhir pun telah mereka lakukan. Dzikir pun telah dilantunkan dengan menderu, yang diikuti oleh tiga makmum di belakang Yulian. Setelah itu tak lupa bacaan doa yang tidak pernah ketinggalan.
”Yulian, bagaimana keadaanmu?” tanya Abdullah.
”Alhamdulillah, sudah cukup lebih baik. Abdullah, tolong ambilkan ponsel, laptop dan berkas-berkasku. Mumpung masih di jam subuh aku mau memeriksa beberapa hal.” Abdullah selalu mengiyakan perintah dari Yulian, tak ada yang ditolaknya selama itu baik. Karena itu adalah sebagian dari tugasnya.
Derap langkah kaki pun dilakukan oleh Abdullah menuju ke tempat parkir untuk memenuhi tugas dari Yulian. Sedangkan Yulian, ia membaca mushaf yang selalu dibawanya kemana pun pergi. Begitu merdu, hingga membuat bulu kuduk Khadijah merinding saat mendengarkannya. Bukan hanya Khadijah, melainkan Rahma pun juga merasakan hal yang sama dengan Khadijah.
__ADS_1
”Khadijah, aku rasa kamu beruntung. Ada lelaki yang begitu sholeh berusaha mencintaimu, meskipun cinta itu belum tumbuh ... tapi Dia berusaha berperang dengan cinta yang lama untuk mencintaimu.”
”Kamu salah, Rahma. Justru aku merasa tidak pantas untuk dicintai oleh lelaki seperti Yulian. Dia terlalu sholeh untuk wanita sepertiku, kamu tahu bagaimana masa lalu ku, bukan?”
”Terserah kamu saja, jika Allah sudah kun fayakun untuk memberikan jodoh kepadamu yaitu Yulian, maka kamu bisa apa Khadijah, hmm?”
Khadijah terdiam, entah kesekian kalinya ia memikirkan hal yang memenuhi otaknya. Dan tidak lama kemudian Abdullah kembali dengan rombongan, sehingga keheningan di dalam kamar itu pun terpecahkan.
Ada staf hotel yang membawa beberapa makanan untuk dijadikan sarapan bersama di kamar itu, ada pula staf hotel yang membawa beberapa pakaian untuk berganti mereka dan ada staf hotel yang membawakan beberapa alat make up untuk memoles dua wanita di sana yaitu, Khadijah dan Rahma.
”Mengapa banyak sekali? Ada apa ini?”
Khadijah membulatkan kedua matanya, menatap secara beegantian staf hotel yang berdiri di depannya secara berjejer. Sedangkan Rahma, ia hanya mangap, memperlihatkan rasa terkejutnya. Dan semua staf yang bertugas menjelaskan peran mereka kepada Khadijah dan Rahma. Sehingga mulai detik itu juga staf hotel meminta Khadijah dan Rahma untuk membersihkan tubuh mereka lalu, melakukan sesi selanjutnya.
”Mbak Khadijah, silahkan duduk disini untuk dirias terlebih dahulu.”
”Dirias? Tapi untuk apa?”
”Aku yang meminta mereka untuk melakukan semua itu. Karena aku ada pesta dalam acara kantor nanti, dan meminta semuanya untuk membawa pasangan. Dan aku ... memilih kamu menjadi pasanganku nanti.”
”Tapi ... mengapa Rahma...”
”Sengaja, karena aku tidak mau jika kita pergi berdua saja. Ya ... walaupun nanti ada Abdullah, pasti Dia akan mengajak istrinya. Jadi... Aku mengajak Rahma juga untuk ikut menemanimu di sana.”
'Tuh kan, Khadijah gimana sih! Bilangnya ragu dan nggak mau, tapi kok maunya berduaan.’ Penulis merasa cembukur sama Khadijah.
Setelah sejenak bujuk rayu dilakukan oleh Yulian, akhirnya Khadijah pun mengikuti permintaannya. Dengan telaten staf kantor memperlakukan Khadijah dan Rahma bagaikan ratu di hari itu.
__ADS_1