
Ahtar yang sedari tadi mengobrol bersama Arjuna, Hafizha dan kedua orang tuanya dengan tawa renyah yang menemani mereka semua, kini namanya harus di panggil oleh suster Almira karena ada pasien yang hendak melakukan konsultasi dengannya.
“Siapa pasiennya, Sus? Apa datanya sudah ada sebelumnya?”
“Pasiennya... Maria, Dok.”
“Tapi... kali ini benar Maria atau... kakaknya, Sus?” tanya Antar memastikan.
“Kali ini Maria nya, Dok. Soalnya kakaknya sudah di rawat di rumah sakit ini tadi pagi, Dok. Mungkin saja Maria nya mau membicarakan tentang hal ini.” Terang suster Almira, setelah itu pergi meninggalkan ruangan Khadijah.
Ahtar segera kembali ke ruangannya setelah mendapatkan berita dari suster Almira. Ahtar memasang wajah serius, ada rasa tidak enak hati dengan keluarga Maria jika terjadi sesuatu dengan kakaknya.
Deg...
‘Kenapa dengan jantungku? Tidak mungkin kan aku mengalami sakit jantung?’ tanya Ahtar dalam hati.
Saat ruangannya semakin dekat jantung Ahtar tiba-tiba berdetak tidak sewajarnya, terlalu cepat dan debaran itu begitu terasa. Namun Ahtar tidak mengerti apa yang menjadi permasalahannya.
Ahtar membuka pintu ruangannya tetapi ia tidak menemukan keberadaan Maria, sedangkan suster Almira mengatakan jika Maria ingin berkonsultasi dengannya. Dan hal itu membuat Ahtar mengudarakan senyum kecut.
‘Apa... aku tertipu lagi? Ya Allah... nasib dokter seperti ku harus Engkau uji dengan orang yang seperti ini. Sabar... Ahtar.’
Ahtar merasa sudah tanggung jika ia akan memutuskan untuk kembali ke ruangan Khadijah, karena sebentar lagi juga akan usai sift paginya. Dan Ahtar memutuskan lebih baik berpura-pura sibuk di ruangannya sedangkan kenyataannya ia tidak mendapati pasien. Namun hatinya merasa gundah saat mengingat kondisi Davit, kakak Maria.
“Haruskah aku tengok dan melakukan pemeriksaan terhadapnya? Tapi... tidak ada perintah dari dokter yang sudah menanganinya tadi, dan aku harus lupakan.”
Ahtar mengusap gusar wajahnya karena merasa kesal. Dan untuk menenangkan hatinya ia memutuskan untuk mengambil air wudhu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Juna mohon pamit, Abi. Juna harus kembali ke ruangan sebentar.” Arjuna menyalami tangan Yulian dan Khadijah sebelum meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
“Bang, kok main pergi saja sih! Masa Izha ditinggal begitu saja,” protes Hafizha.
“Maafkan bang Juna, Dek. Abang harus bertugas lagi,” rayu Arjuna dengan nada lembutnya.
Sejenak Hafizha menghembuskan nafas beratnya, karena kini merasa sepi tanpa kehadiran dua abangnya itu, meskipun di sana masih ada Yulian dan Khadijah.
Untuk menghilangkan rasa sepi itu Hafizha meminta ijin untuk pergi ke toko buku sebentar yang tidak jauh dari lokasi rumah sakit. Dan tanpa ada rasa khawatir Yulian mengijinkan Hafizha pergi sendiri, karena bagi Yulian Alex tidak akan mendekati Hafizha lagi.
“Maafkan Hubby sudah terlambat untuk hari ini. Karena... Hubby tidak memikirkan hal ini sebelumnya.” Yulian kembali merutuki kebodohannya yang lalai dalam menjaga Khadijah dan Hafizha.
“Tidak apa-apa, Hubby. Coba lihat, Neng juga tidak kenapa-kenapa kok. Ahtar datang di waktu yang tepat bersama Arjuna. Hubby tidak perlu khawatir lagi.” Khadijah mengusap punggung tangan Yulian untuk menenangkan hati Yulian.
Keduanya saling pandang dan saling bertukar senyum. Dan tangan Yulian bergerak mengusap puncak kepala Khadijah, tanda jika ia sangat menyayangi Khadijah.
Setelah memberikan kenyamanan kepada Khadijah Yulian meminta Khadijah untuk kembali beristirahat, sedangkan ia akan menunggu sampai waktu ashar tiba. Karena setelah itu ia harus kembali pulang ke rumah dan bergantian dengan Ahtar. Dan malam itu jadwal Ahtar untuk menjaga Khadijah yang memang masih memerlukan perawatan secara intensif mengenai tulang di kakinya.
‘Mana bisa aku membiarkanmu terluka karena masa lalu yang menyakitkan itu. Karena saat kepergian Aisyah, di dalam hatiku juga berjanji untuk menemukanmu kembali. Dan bagaimana pun juga kamu adalah ibu dari Hafizha.’
Yulian tidak mau jika Khadijah mendengar suara tangisnya yang lirih, sehingga ia lebih memilih duduk di sofa yang disediakan di sana. Dan air mata tidak bisa ditahan lagi oleh Yulian, mengingat Hafizha yang tidak mendapatkan kasih seorang ibu dengan layak.
‘Ya Allah mungkin hamba akan berdosa jika janji yang hamba ucapkan tidak bisa hamba tepati. Karena bagi-Mu janji yang diucapkan adalah wajib untuk di penuhi. InsyaAllah hamba akan memenuhinya, mengungkap semuanya kepada Hafizha dan akan tetap menjaganya, karena Dia adalah putri kecil yang Engkau titipkan kepada hamba atas rasa percaya itu.’
Yulian memutar kembali memori saat Hafizha masih bayi yang terus beranjak dari usia nol sampai saat ini yang tersimpan di ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ternyata memamg benar aku sudah tertipu lagi. Sudah waktu ashar, lebih baik aku ke mushola dan sholat dulu sebelum ke ruangan Bunda.” Ahtar beranjak dan pergi meninggalkan ruangannya.
Ahtar menuju ke mushola rumah sakit dan mendamaikan hatinya yang masih merasa kesal dengan sikap Maria yang sudah dua kali membohonginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
“Alhamdulillah, akhirnya sudah dapat juga bukunya. Sekarang aku harus kembali ke rumah sakit, Abi pasti menungguku kembali.”
Setelah mendapatkan buku yang ingin dibeli, Hafizha memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Dan saat hendak menyebrang jalan yang cukup ramai tiba-tiba Alex kembali muncul dan melangkah kan kakinya menuju ke arah Hafizha.
“Hai. Boleh aku bicara denganmu?”
Mendengar suara yang tidak asing lagi seketika Hafizha menoleh ke arah Alex berdiri di sampingnya. Dengan sikap tenang Hafizha cukup biasa saja saat menghadapi Alex.
“Apa?” tanya Hafizha singkat.
“Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu, jika kamu itu bukanlah putri kandung Yulian dengan Aisyah. Melainkan kamu adalah putri ku dengan Khadijah, yang seharusnya kamu menyebutku dengan sebutan kakek tetapi saat ini kamu harus menyebutku dengan sebutan Papa.” Alex telah membongkar semua kepada Hafizha.
Deg...
Seketika Hafizha terkejut mendengar ucapan Alex.
Hening...
Satu detik...
Dua detik...
Dalam keheningan Hafizha masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Alex. Di dalam hati Hafizha, ia tidak mempercayai hal bodoh semacam itu. Karena baginya ayah dan ibu kandungnya adalah Yulian dan Aisyah. Namun, ia ingin mempertanyakan hal itu kepada Yulian dan Khadijah untuk kejelasan.
‘Aku harus mempertanyakan masalah ini kepada Abi, dan Bunda Khadijah... apakah benar ibu kandungku?’ tanya Hafizha dalam hati.
Dengan kanhakh sedikit berlari Hafizha menuju ke ruangan Khadijah agar segera sampai di sana. Rasa penasaran seketika menyelimuti Hafizha, dirinya serasa bergetar dan seolah tidak sanggup jika apa yang dikatakan Alex adalah kebenarannya.
Pertanyaan-pertanyaan bermunculan dalam pikirannya, memenuhi seisi kepalanya. Dan air mata seakan tidak bisa dibendung lagi, tetapi Hafizha terus berusaha untuk menyimpan air matanya.
Bersambung...
__ADS_1