Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 18


__ADS_3

Yulian menerawang jauh tentang bagaimana kesedihan yang dirasakan Khadijah saat itu. Namun, ia juga tidak bisa mengejar Khadijah dan memintanya untuk tetap berada didekatnya. Bahkan meminta Khadijah untuk tinggal di rumahnya begitu tidak mungkin dilakukan oleh Yulian. Sehingga Yulian membiarkan Khadijah pergi jauh darinya tanpa menahannya.


”Apa yang terjadi, Yulian? Kenapa Khadijah berlari?”


”Dia ... tidak mau disini. Ya sudah, aku biarkan saja Dia pergi. Toh, aku juga tidak berhak menahannya.” Seketika Abdullah mendengus sebal.


”Aku tahu kamu tidak berhak, dan dosa akan timbul jika kalian tetap berduaan saja dalam satu ruangan. Tapi setidaknya peka lah sedikit, Yulian.” Pekik Abdullah.


Abdullah tidak tahu lagi harus berkata dan bersikap bagaimana lagi kepada Yulian, seakan kehabisan kata untuk tetap mengingatkan apa yang harus dilakukan oleh Yulian. Sedangkan Yulian, ia terlalu mengacuhkan perasaannya yang memang itu pertanda cinta yang menimbulkan rasa khawatir terhadap Khadijah.


------


”Bagaimana jika ... Ahtar dan Arjuna tahu tentang hal ini? Saya takut jika mereka marah mendengar kepergian Khadijah secara tiba-tiba. Sedangkan mereka begitu menginginkan kehadiran Khadijah.” Yulian terdiam, seolah sedang memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Abdullah kepadanya.


”Emm ... entalah!”


Sungguh jawaban ambigu Yulian membuat Abdullah merasa frustasi. Namun, kesetiaan terhadap kawan tidak membuatnya pergi begitu saja dan meninggalkan Yulian. Begitu pula Yulian, ia tidak akan pergi kemana pun jika tidak ada Abdullah berada di sisinya.


”Bagaimana kalau kita mencarinya sekitar rumah sakit? Siapa tahu saja ... masih ada di sana.” Abdullah masih bersemangat untuk mencari Khadijah.


”Sudahlah, Abdullah! Lebih baik kita pulang saja, hari hampir malam.”


Yulian masuk ke dalam mobil dan Abdullah mengekorinya dari belakang. Seperti biasa, Abdullah duduk di bagian kursi sopir, sedangkan Yulian duduk di kursi penumpang bagian depan. Dan setelah mesin dinyalakan, Abdullah melakukannya dengan kecepatan sedang. Bahkan bisa dibilang terlalu pelan, membuat Yulian merasa aneh dengan sikap Abdullah.


”Apa yang kamu lakukan, Abdullah? Kenapa kamu begitu pelan?”


”Aku hanya ingin mencari Khadijah, perempuan yang sudah kamu buat menangis itu.” Yulian menatap Abdullah tajam.


”Kenapa kamu mencarinya? Aku tidak memintamu untuk mencarinya, Abdullah. Biarkan saja Dia pergi, lagipula kita tidak ada HAK untuk memintanya tinggal bersama kita.”

__ADS_1


”Jangan bodoh menjadi manusia, terutama sebagai lelaki, Yulian. Dimana Yulian yang selama tiga tahun aku kenal? Yang selalu memiliki hati lemah lembut, royal, pengertian dan saling membantu sesama manusia meskipun terkadang tidak seiman.”


”Apa kamu sendiri sudah lupa? Jika kamu menanamkan cinta terhadap wanita?”


”Cinta terhadap wanita? Aku tidak pernah lupa akan hal itu, Abdullah. Tapi ini berbeda, sangat berbeda.”


”Tidak. Lima jenis air yang tidak bisa diganti oleh anak dari seorang ibu, Yulian. Tapi kamu seolah ingin menggantinya.”


Yulian terdiam dan ia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Abdullah. Namun, hasilnya nihil, karena ia tidak mengerti lima jenis air yang dimaksud Abdullah serta mengganti. Dan itu membuat Abdullah benar-benar kehilangan rasa sabar dalam dirinya. Sehingga Abdullah seketika menginajk pedal rem dan menghentikannya di pinggir jalan.


”Baiklah! Dengarkan baik-baik dan aku akan mengatakannya hanya satu kali.”


”Lima jenis air dari seorang ibu yang tidak bisa digantikan oleh anaknya tak lain itu adalah air ketuban, air darah saat melahirkan, air susu, air keringat saat merawat kita dan air mata saat mendo'akan kita.”


”Tapi kenapa kamu ingin sekali menggantikan kelima jenis air itu? Apakah kamu mampu menjadikan dirimu sebagai seorang ibu seumur hidupmu dalam merawat Hafizha?”


Mobil dilakukan dengan kecepatan tinggi oleh Yulian. Kini berganti, posisi kursi seorang sopir ditempati oleh Yulian. Antusias dan rasa bersalahnya terlihat begitu tinggi, sehingga ia ingin mengendarai sendiri mobilnya untuk mencari keberadaan Khadijah.


”Yulian, hati-hati! Apa kamu ingin kita mati sekarang?”


”Jangan bodoh, Abdullah! Kematian itu hanya Allah yang mampu melakukannya.”


”Lalu? Kenapa kamu nyetirnya ugal-ugalan seperti ini?”


”Kan, kamu sendiri yang bilang untuk mencari Khadijah. Sedangkan kita sudah kehilangan jejaknya, tidak mungkin jika aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, Abdullah.” Abdullah kembali menghela nafas.


Yulian terus menelusuri jalanan kota yang sudah mulai sepi di kala malam. Dan saat ia hendak memasuii pelataran sebuah masjid guna ingin mengerjakan sholat isya' tanpa disengaja ia melihat sosok wanita yang hampir mirip dengan Khadijah. Memakai baju gamis hitam yang panjang dan lebar dengan hijab syar'i serta cadar berwarna senada.


”Khadijah!”

__ADS_1


Yulian memanggil pelan wanita itu dengan nama Khadijah. Aka tetapi, pada kenyataannya wanita itu bukanlah Khadijah, melainkan wanita yang hanya memakai pakaian yang sama.


”Maaf, Anda salah orang.” Wanita itu pergi seraya menundukkan pandangannya.


Dan itu membuat Yulian merasa sulit untuk menemukan keberadaan Khadijah. Ketika rasa khawatir dan rasa bersalah telah melebur menjadi satu, Yulian memilih untuk mengadukan semuanya dalam peraduan malamnya.


” Ya Allah, jika Engkau mengijinkan aku untuk bertemu dengan Khadijah, maka permudahkanlah pencarian ku terhadapnya.”


Do'a terlantun dengan begitu indah.


”Abdullah, bagaimana jika kita tidak bisa menemukan kembali keberadaan Khadijah? Mungkinkah mereka akan marah dengan sikapku ini?”


”Entahlah! Semoga saja malam ini juga kita bisa menemukan keberadaan Khadijah.” Yulian manggut-manggut.


Kembali mobil dilajukan dengan kecepatan sedang, lalu Yulian menelusuri pelataran yang cukup sepi. Dan saat beberapa menit masih berkutat di jalanan yang masih begitu sepi, terlihat sosok wanita yang tengah dihadang oleh beberapa lelaki.


Yulian menatap dengan penuh ketajaman, memastikan dengan benar-benar jika yang ada di hadapannya tak lain adalah Khadijah. Di mana dalam pandangan Yulian, Khadijah duduk bersimpuh dengan beberapa preman di depannya yang hendak berbuat kejahatan terhadap dirinya. Sehingga Yulian dengan gagah melawan preman itu untuk melindungi Khadijah saat berada dalam masalah.


”Joss!”


”Plakk!”


”Dammm..."


Beberapa kali Yulian melayangkan tinjuan kepada preman itu, dan entah berapa kali Yulian juga terkena pukulan dari preman itu. Namun, tidak lama kemudian preman itu dapat dilumpuhkan juga oleh Yulian. Setelah itu, preman sudah ditangkap dan dilaporkan kepada pihak yang berwajib.


”Yulian, lebih baik kamu samperin saja Khadijah. Sepertinya ... Dia terlalu syok saat preman itu menyerangnya, bahkan terlihat tubuhnya begitu gemetar.” Yulian mengangguk pelan, mengiyakan permintaan Abdullah.


Beberapa polisi datang dan menangkap preman tadi. Sedangkan Yulian, ia mencoba menenangkan Khadijah yang masih merasa takut.

__ADS_1


__ADS_2