Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 46


__ADS_3

Panggilan masuk ke nomor Yulian, terlihat di layar ponselnya bahwa itu dari Mr. Yuda. Dengan segera Yulian menerima panggilan itu agar tidak mengecewakan Mr. Yuda yang tengah menjalan bisnis properti unik dengannya.


”Assalamu'alaikum. Selamat pagi Mr. Yuda ... apa kabar?”


”Iya, Mr. Yulian. Saya baik, dan saya ingin memberitahukan kepada Anda bahwa properti yang akan dikirim ke Indonesia sudah siap. Untuk pengiriman Anda bisa datang ke kantor saya dan menandatangani kontrak selanjutnya.”


’Datang ke sana? Tidak mungkin, itu akan menambah masalah jika sampai bertemu Mrs Jennifer.’


”Sebelumnya ... maafkan saya, Mr. Yuda. Tapi saya rasa untuk hari ini saya belum bisa datang ke kantor Anda, karena saya masih ada acara keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan.”


”Baiklah! Jika sudah ada waktu Anda bisa datang bersama Mr. Tristan. Saya tunggu kedatangan Anda berdua.”


Percakapan yang melalui udara kini telah diakhiri. Dengan segera Yulian melangkah cepat menuju ke ruangan Tristan. Setelah sampai di depan ruangan Tristan Yulian mengetuk secara pelan pintu ruangan itu.


”Masuk.”


Yulian pun masuk setelah mendengar suara Tristan yang memintanya untuk masuk. Dengan raut wajah sendu Yulian mengusap wajahnya gusar.


”Ada apa denganmu? Apa ada masalah?”


”Ada ... jika kita sekarang datang ke kantor Mr. Yuda. Untung saja aku menunda permintaannya, jadi ... kita bisa memikirkan solusi yang tepat untuk tidak bertemu dengan Mrs. Jennifer. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana nantinya?”


Tristan manggut-manggut membenarkan perkataan Yulian. Dan keduanya tengah memikirkan sesuatu hal yang akan menjadi solusi untuk mereka tidak bertemu dengan asisten pribadi Mr. Yuda saat melanjutkan kerjasama dengan CEO yang terkenal akan benda properti unik.


”Ada solusi yang tepat.” Tristan menatap nanar Yulian.


”Kita ajak saja Khadijah dan Arumi.”


”Bagaimana bisa? Dengan alasan apa coba kita mengajak mereka, sedangkan kamu tahu ... ini bisnis kita yang tidak mewajibkan bersama istri.”

__ADS_1


”Kamu bekerja untuk siapa? Istri dan anak kamu, kan? Dan tadi kata kamu ... tidak wajib. Itu berarti sunah, jadi kita bisa mengajak mereka ikut datang dengan alasan ingin melihat properti unik bagi wanita.”


Sungguh ide yang cemerlang dari seorang Yulian, yang seketika di iyakan oleh Tristan. Bahkan Tristan mengacungkan dua jempolnya untuk ide Yulian yang bagus.


Tristan berdecak kagum dengan sosok Yulian, yang pandai merayu hati perempuan tetapi bukan perempuan sembarangan. Hanya Aisyah di kala dulu, dan sekarang Khadijah yang tengah singgah di hatinya. Bahkan terpatri di dalam diri Yulian.


”Hubby, tolong bawakan barang-barang nya ke mobil ya! Neng mau bantu Cahaya dulu.”


Sesampai di rumah sakit Yulian membantu mengangkat barang-barang yang harus dibawa pulang ke mobil. Karena hari itu Cahaya dan Garda sudah diperbolehkan untuk pulang. Tidak lupa syukuran kecil telah disiapkan setiba di rumah untuk menyambut kehadiran Garda dan juga keselamatan Cahaya serta Garda.


”Bagikan semuanya ke orang yang membutuhkan!”


Beberapa bingkisan yang berisi makanan telah dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkan, seperti orang yang kurang akan bahan pangan. Hal itu Yulian lakukan untuk mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah, karena telah memberikan keselamatan dan kebahagiaan atas kehadiran Garda dalam kehidupan mereka.


”Hubby, malam ini boleh kah ... Neng menemani Garda tidur?”


Binar mata Khadijah menyiratkan rasa harap di sana. Akan tetapi hati Yulian merasa tidak rela jika ia harus tidur sendirian dan melenyapkan kobaran api yang sulit di padamkan. Karena hasrat yang menjalar ke tubuhnya serasa sulit untuk di tahan begitu saja, hanya Khadijah lah yang mampu menyembuhkan hasrat yang menggebu.


”Hafizha tidur sama Abi, ya?”


Hibur Yulian saat Hafizha merasa diabaikan oleh Khadijah. Semenjak pernikahan Yulian dengan Khadijah, Hafizha sering meminta Khadijah menemaninya untuk tidur, tetapi setelah kelahiran Garda... Khadijah sedikit membagi waktu dengan Hafizha.


Hafizha mengangguk dan mengiyakan perkataan Yulian. Dan malam yang kian melarut membuat mereka harus beristirahat untuk melepas rasa lelah dan kepenatan yang sempat tertimbun memenuhi otak mereka.


”Bunda tidak tidur?”


”Ini mau tidur, tapi masih mau lihat Garda terlebih dahulu. Tak apa kan, jika Bunda melihat Garda sebentar?”


”Boleh dong, Bun. Bunda itu Nenek dari Garda, masa iya kami tidak mengijinkan Bunda melihat cucunya.”

__ADS_1


Seulas senyum telah terlukis dengan ketulusan di bibir Khadijah. Meskipun tidak terlihat begitu jelas, tetapi masih terlihat saat mata Khadijah mulai menyipit.


”Jujur ... saat ini Bunda bahagia sekali. Berada di tengah-tengah keluarga yang begitu baik dan tulus menyayangi Bunda ... itu adalah sebuah anugrah terbesar dalam hidup Bunda selama ini. Bunda sangat berterima kasih karena kalian sudah mau menerima kehadiran Bunda.”


”Bunda, inilah kita. Asalkan Bunda tahu, kami semua berharap jika Bunda bisa hadir kembali dalam hidup kami untuk menemani Abi.”


”Ya ... walaupun dulu Juna sempat marah dan menolak untuk mengoperasi Bunda, tapi ... setelah Bunda melakukan sebuah pengorbanan yang begitu besar, Juna telah melakukan kesalahan.”


’Lihat Aisyah, aku merasakan ketulusan yang mereka berikan untukku. Aku yakin ... ini semua pasti karenamu.’


Dua tetes air mata Khadijah telah jatuh ke pipinya. Untung saja ia memakai cadar, sehingga tak kentara dengan jelas air mata yang sudah jatuh membasahi pipi nya.


Untuk menghindari rasa sedih atas rindu yang tiba-tiba hadir menyeruak hati Khadijah, ia memutuskan untuk tidur di kamarnya sendiri. Tetapi langkahnya terhenti saat berada di depan kamar Hafizha.


”Hubby, terima kasih atas cinta yang kamu berikan untukku dan anakku, Hafizha. Bahkan kamu begitu tulus memberikan kasih dan cintamu untuknya.”


Khadijah segera menyeka air matanya saat mata Yulian menggeliat setelah merasa diraba pipinya oleh seseorang, dan orang itu tak lain Khadijah.


”Ada apa, Neng Khadijah? Kenapa belum tidur!, hmm?”


Perlahan Yulian bangun dari tidurnya dengan sangat hati-hati, karena ia tidak ingin Hafizha yang tertidur pulas akan terganggu dengan pembicaraannya dengan Khadijah.


”Ada apa? Katakan saja jika kamu memikirkan sesuatu ... atau menginginkan sesuatu.”


”Neng ... pengen dipeluk. Apa Hubby mau memeluk Neng?”


Yulian terkekeh geli, baru kali ini Khadijah memintanya secara langsung tanpa ada rasa malu dan ragu. Dan tanpa ragu Yulian memeluk Khadijah dengan penuh cinta, sehingga terciptalah kehangatan dalam setiap dekapan yang Yulian berikan. Bahkan perlahan keduanya hanyut dalam satu ranjang.


SENSOR... SENSOR... SENSOR...

__ADS_1


Setelah banjir peluh di antara mereka, kini rasa lelah telah singgah di tubuh keduanya. Hingga tanpa sadar mereka pun tertidur, entah pada jam berapa mereka terlelap begitu saja.


__ADS_2