
“Abi, kenapa ada banyak kendaraan di halaman rumah Abi? Apa ada tamu saat ini?” tanya Hafizha dengan polosnya.
Yulian tersenyum tipis, lalu ia mendekat dan beridiri di tengah-tengah Arjuna, Ahtar dan Hafizha. Setelah itu Yulian mengatakan apa yang sebenarnya ia rencanakan kepada ketiga anaknya itu.
“No, Hafizha. Kendaraan ini Abi sengaja datangkan langsung dari dealernya. Dan kendaraan yang ada di hadapan kalian ini akan menjadi kendaraan untuk kalian bertiga. Mobil sport itu akan menjadi milik anak gadis Abi. Dan sisanya... kalian berdua.”
Yulian memberikan Arjuna, Ahtar dan Hafizha masing-masing kunci dari kendaraan bermesin itu. Dan hak itu adalah sesuatu hal yang tidak pernah mereka duga. Karena kedatangan mereka hanya untuk kebersamaan yang dua bulan telah sirna dan ditemani dengan kesunyian yang menerpa setiap hari.
“Abi, apa ini semua tidak berlebihan? Arjuna dan Ahtar bisa kerja dulu untuk membelinya. Dan cukup untuk Hafizha saja,” ucap Arjuna.
“Iya Abi, apa yang dikatakan bang Juna itu benar. Lagipula, Ahtar juga sudah mendaftarkan diri di rumah sakit sekitar sini,” timpal Ahtar.
Sejenak Yulian menghela napasnya pelan, kembali ia mengulas senyum. Selalu senyum itu tidak pernah surut dari pangkal bibirnya.
“Nak, anggap saja ini hadiah terakhir dari Abi. Karena suatu hati nanti belum tentu Abi bisa memberikan fasilitas mewah apapun untuk anak-anak Abi. Tidak apa jika, anak-anak Abi ini sudah dewasa, tapi Abi adalah tetap orang tuamu. Wajib memberi baginya selagi masih ada di dunia. Jadi, terima saja apa yang menjadi hal kalian.” Yulian mengangguk, meyakinkan ketiga anaknya.
Tidak ada lagi bantahan dari ketiga anak Yulian selain menerima pemberian spesial itu. Ketiganya merasa bahagia telah memiliki orang tua yang sangat penyayang, tidak pernah membedakan antara kakak maupun adik.
Setelah usai melihat kendaraan bermesin itu, semua masuk ke dalam rumah yang amat megah. Khadijah yang berada di dalam menyambut hangat, dengan merengkuh tubuh Hafizha dan Cahaya, Khadijah mampu melepas rasa rindu yang membelenggu di hati.
Sore telah tiba, membuat penghuni seluruh rumah itu bergegas masing-masing ke kamar mereka untuk membersihkan tubuh, kecuali Hafizha. Gadis itu paling malas jika disuruh membersihkan tubuhnya pada jam lima sore. Bukan berarti jika Hafizha sering mengulur waktu sholat ashar, tetapi Hafizha perlu waktu untuk mengadu kepada sang Ibunda, Khadijah.
“Bun, enaknya nanti Hafizha daftar kuliah di Universitas mana, ya?” tanya Hafizha seraya membulatkan kedua matanya.
“Itu terserah kamu, sayang. Bunda tidak bisa menentukan apa yang akan kamu tuju dimasa yang akan datang. Karena Bunda tidak akan menjalani fase diri kamu, Nak. Bunda sudah berada dalam fase menua.” Khadijah tersenyum.
Pengertian dalam fase menua sudah berbeda lagi dengan masa muda dulu. Khadijah sudah menutup masa yang amat menyeramkan itu, baginya fase saat inilah yang akan membawanya menuju hari bahagia bersama keluarga yang dirindukan. Keluarga yang selalu diharapkan olehnya.
Hafizha mengangguk mengerti, mata hitam pekatnya kembali membulat, seolah Hafizha kembali berpikir apa yang akan menjadi bidangnya nanti. Yang pasti tidak sama dengan kedua Abangnya.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Lebih baik sekarang kamu mandi dan sholat ashar dulu, jangan sampai Abi mu tahu kalau kamu mengulur waktu sholat lagi. Lagipula itu tidak baik,” pinta Khadijah.
__ADS_1
“Ok lah, Bun. Izha ke kamar dulu ya, nanti ngobrol lagi.” Hafizha melingkarkan jari jempol dan hati telunjuknya_ membentuk tanda “ok”.
Khadijah menggeleng kepalanya, melihat tingkah Hafizha yang seperti itu mengingatkan masa kecilnya dulu. Tetapi setelah perpisahan antara kedua orang tuanya, membuat hari itu menjadi hambar. Tidak pernah adanya sebuah kebahagiaan dalam kehidupan Khadijah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu semua anggota keluarga Yulian berkumpul bersama di ruang kelaurga, kecuali Yulian. Yulian belum pulang, setelah menjemput anak-anak nya dari Bandara Kualanamu, Yulian meminta ijin untuk kembali ke kantor. Ada panggilan mendadak dari pihak kantor yang mengharuskan Yulian untuk datang saat itu juga.
Menonton televisi_itulah hal yang tengah dilakukan Khadijah bersama anak-anak nya dan mertuanya, papa Adhi. Sore itu kebahagiaan mulai terpancar, keluarga besar mulai berkumpul setelah dua bulan perpisahan. Dan sebentar lagi akan menyambut bulan suci ramadhan, di mana hati yang paling ditunggu bagi umat Islam.
“Bun, boleh bertanya?”
“Tentu. Apa yang akan kamu tanyakan, Nak? Katakan!”
“Apa kita akan berziarah ke makam Umi dan keluarga Umi?”
“Tentu dong, Nak. Sebelum ramadhan berlangsung kita semua akan berziarah ke makam Umi Aisyah dan keluarganya, keluarga kita juga.”
“Kapan itu dilakukan, Bun? Rasanya tidak sabar saja begitu,” ujar Hafizha.
“Sabar dong! Tunggu Abi jika suda tidak sibuk, lagipula ramadhan nya kan, masih satu minggu lagi. Masih ada waktu untuk berziarah nya, iya, kan?” sambung papa Adhi.
Semua manggut-manggut, tanda mengerti. Dan setelah keheningan sejenak menemani mereka kini mereka teralihkan dengan saluran berita yang tiba-tiba berita menghebohkan tentang sebuah kecelakaan yang mengakibatkan korban mengalami luka parah.
“Permisa! Selamat sore menjelang malam! Di sini dengan saya reporter Ayu telah mengabarkan berita terbaru yang menghebohkan masyarakat di jalan Mangkara No. 57. Di mana di jalan Mangkara telah terjadi kecelakaan maut. Korbannya masih dievakuasi dan akan dilarikan ke rumah sakit.”
Deg...
Belum sempat berita itu ditonton sampai habis, seketika papa Adhi mematikan nya. Ada rasa khawatir yang menyeruak dalam dada, bahkan napas papa Adhi mulai terasa sesak. Entahlah, apa yang menyebabkan hak itu.
Tut... Tut... Tut...
__ADS_1
Benda pipih yang sedari tadi tergeletak di atas nakas tiba-tiba berdering, tanda jika ada panggilan masuk. Khadijah pun segera meraih benda pipihnya, lalu memastikan siapa yang menghubunginya saat ini.
“Siapa, Bun?” tanya Arjuna.
Khadijah menggeleng, lalu berkata, ”Bunda tidak tahu, nomor tidak dikenal, Nak.”
“Coba biar Arjuna yang angkat.”
Khadijah mengangguk, lalu memberikan benda piouh itu kepada Arjuna. Dan sebelum menekan tombol terima sejenak Arjuna menghembuskan napas beratnya dan membuka mata yang sejenak ia pejamkan.
“Halo! Assalamu'alaikum,” ucap Arjuna dengan nada lirih.
”Iya, Maaf ini dengan Ibu Khadijah?” tanya seseorang dari seberang.
“Iya, saya putranya. Ada apa Anda mencari Bunda saya?” Arjuna berbalik bertanya.
“Maaf, di sini saya hanya akan mengabarkan jika pak Yulian mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit Hermina Medan. Terimakasih!” ujar seorang dari seberang.
Deg...
Seketika jantung Arjuna menecolos, ia menatap nanar setiap wajah yang berada di hadapannya. Bingung, itulah yang tengah dihadapi Arjun, karena ia tidak sanggup jika harus mengatakan apa yang baru saja didengar. Suara dari seberang sana terdengar suara perempuan, dapat dipastikan jika itu adalah suara perawat dari rumah sakit di mana Yulian dilarikan.
Namun, berita itu harus tetap didengar oleh keluarganya. Karena tidak akan mungkin jika Arjuna menyembunyikan berita duka itu.
“Ada apa, Juna? Siapa yang menelpon tadi? Apa kamu mengenal suaranya?” cecar Khadijah dengan becibun pertanyaan.
Arjuna diam, beberapa kali ia menghembuskan napas panjang yang terasa berat. Lalu, perlahan ia mulai membuka suaranya dan menceritakan kebenaram berita yang ada di televisi tadi.
Setelah mendengar berita duka itu Khadijah seperti tersambar petir, kepalanya mulai berdenyut, jantungnya seakan berhenti berdetak, kaki nya mulai rapuh, seolah tidak bisa berdiri tegak di mana kakinya telah berpijak.
“Tidak, tidak mungkin. Berita itu pasti bohong. Kita harus ke rumah sakit sekarang untuk memastikan. Ayo, Nak! Antarkan Bunda kesana.” Suara Khadijah sudah parau, terdengar begitu berat.
__ADS_1
Bersambung...