
Kota Beirut sore hari_yang hampir menjelang senja itupun telah dihebohkan dengan suara bom yang tiba-tiba meledak dan membakar beberapa gedung besar di sana. Semua warga yang masih berkumpul di beberapa tempat seketika berlarian kesana kemari mencari tempat untuk berlindung dari ledakan bom_yang bisa saja akan kali meledak dalam waktu berikutnya.
“Hubungi Yulian sekarang juga, Pa. Tanyakan dimana keberadaannya sekarang?”
Arumi sudah merasa ketakutan yang sangat berlebihan, tubuhnya bergemrtar hebat. Hal sama juga dirasakan Humaira, bahkan air mata Humaira dan Arumi pun pecah seketika.
“Sial!” umpat Tristan.
[Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.]
Tetap saja ponsel Yulian tidak bisa dihubungi. Membuat Tristan terus mengumpat kesal dan rasa khawatir terhadap Yulian semakin membuncah. Akan tetapi saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk mencari keberadaan Yulian, bukan berarti Tristan tidak mempedulikannya. Namun, ada Arumi. dan Humaira nyang harus dilindungi oleh Tristan.
“Aku tidak bisa menghubungi Yulian.” Tristan menggeleng pelan.
“Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya nanti, Pa? Kita mau jawab apa jika Khadijah bertanya?”
“Maafkan aku! Lebih baik kita selamatkan diri kita dulu, jika keadaan sudah aman aku akan mencari keberadaan Yulian.” Tristan mengangguk, meyakinkan Arumi yang tak kalah khawatir.
Tristan, Arumi dan Humaira keluar dari restoran yang saat itu dikunjungi, mereka berlari dengan selalu bergandeng tangan untuk mencari tempat berlindung.
Dan keadaan di kota Beirut masih saja riuh, banyak anak dan Ibu yang menjerit histeris karena mereka berpisah pada saat mencari tempat untuk berlindung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tubuh Khadijah tiba-tiba merasa lemas, seperti tak ada tenaga sama sekali setelah melihat berita jika Kota Beirut telah di bom oleh negara lain. Bahkan terlihat banyak warga yang terluka paska ledakan itu terjadi.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan Abi kalian di sana? Hiks... Hiks... Hiks...” ujar Khadijah terbata-bata.
“Bunda tenang dulu, ya!”
Hafizha segera merangkul tubuh Khadijah yang masih duduk di kursi roda sembari menatap tajam televisi yang berada di hadapannya itu. Rasa khawatir begitu mencuak, tenggorokan Khadijah terasa tercekat bahkan rongga dadanya pun terasa begitu sesak untuk sekedar bernafas.
‘Ya Allah, meskipun Abi Yulian bukanlah ayah kandungku, tetapi beliau adalah cinta pertama ku yang tak akan pernah tergantikan. Lindungilah Abi di mana pun berada, Ya Allah...’ Hafizha bergumam dalam hati.
Arjuna yang kebetulan sore itu tak ada sift sore bisa mendengar berita itu secara langsung. Dan Arjuna seketika mencoba untuk menghubungi Yulian atau siapapun yang bisa dihubungi di sana.
[Maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.]
Lagi-lagi ponsel Yulian tidak bisa dihubungi. Namun Arjuna tidak menyerah begitu saja dan terus kembali menghubungi Yulian sekaligus ponsel Tristan.
Alex pun tidak tinggal diam, ia mengerahkan beberapa teman yang berada di kota Beirut dan beberapa kota yang ada di Lebanon untuk mencari tahu kondisi saat itu di sana.
Arjuna menghubungi Ahtar agar tahu bagaimana kondisi di Beirut, bukan berarti Arjuna ingin membuat Ahtar merasa khawatir tapi bagaimana pun juga Yulian adalah ayah kandungnya. Dan begitu Ahtar tahu ia segera pulang untuk memastikan keadaan di rumah. Akan tetapi, saat Ahtar menelusuri lorong tanpa sengaja ia pun bertabrakan dengan Zuena.
“Zuena, maafkan saya! Saya... tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa, Dok. Tapi... sepertinya Anda sedang terburu-buru, memangnya ada apa kalau boleh tahu?”
Belum sempat Ahtar menjawab ponsel Zuena pun berdering dan seketika Zuena merogoh saku celananya hendak memastikan siapa yang tengah menelponnya. Dan disatu sisi Ahtar hanya bisa menatap bingung Zuena yang begitu aneh saat beetingkah setelah tahu siapa yang menelpon.
“Kerahkan semua pengawal untuk mencari keberadaan Abi Yulian. Dia orang baik, cepat!” pinta Zuena dengan lirih melalui udara.
__ADS_1
Zuena sedikit berhati-hati saat memasukkan ponselnya ke saku lagi, lalu mengarahkan sedikit pandangannya ke Ahtar agar tak menaruh curiga.
“Jika Dokter Ahtar ingin pergi tak apa. Silahkan!” ujar Zuena sedikit menunduk.
Ahtar menatap Zuena sejenak karena ingin menanyakan sesuatu hal yang memenuhi pikirannya. Namun sekelebat bayangan tentang Yulian tiba-tiba melintas dalam pelupuk mata Ahtar, hingga membuat Ahtar terhenyak dan pergi begitu saja meninggalkan Zuena tanpa sepatah katapun.
‘Maafkan aku, Zuena! Aku... harus pergi.'
‘Aku tahu... bagaimana perasaan kamu saat ini Ahtar. Karena aku pernah merasakannya.’ Zuena bermonolog dalam hati.
Motor melaju dengan kecepatan tinggi, Ahtar benar-benar menguasai jalanan yang amat ramai sore itu di kote Edinburgh. Ahtar tidak mempedulikan lagi bagaimana riuhnya kendaraan bermesin yang lalu lalang melintas memenuhi jalanan kota.
“Abi, jangan pergi dalam keadaan apapun. Apalagi dengan cara seperti ini, Ahtar tidak bisa kehilangan Abi sebelum membahagiakan Abi.” Perlahan air mata mengalir membasahi pipinya.
Sesekali Ahtar menyeka air matanya saat masih berada di jalan. Karena merasa sulit untuk mengendarai motornya saat air mata menggenang dan memenuhi pelupuk matanya.
Setengah jam kemudian Ahtar sampai di rumah dan setelah masuk ke dalam seluruh mata memandangnya pilu, tetapi Khadijah berusaha untuk tersenyum meskipun hatinya tengah merasakan hancur.
“Bunda, jangan sedih! Kita percaya kan semua kepada Allah SWT bahwa Abi akan baik-baik saja.” Ahtar menatap lekat Khadijah, dan di sana Ahtar mampu menangkap betapa cintanya Khadijah terhadap Yulian.
‘Ya Allah, kasihan Bunda Khadijah. Tolonglah berikan kebahagiaan kepada Bunda di atas rasa sakit yang masih dijalaninya. Beliau membutuhkan Abi di sampingnya.’
Ahtar tidak bisa melihat kesedihan dalam wajah Khadijah, hingga ia pun berpaling dari hadapan Khadijah lalu mencari Arjuna dan Alex yang masih sibuk mencari tahu keadaan di Beirut.
Di ruang samping, Alex dan Arjuna mengobrol dengan seseorang melalui benda pipih milik Alex. Dan Ahtar yang melihat keberadaan mereka seketika itu juga menghampiri lalu ikut mendengarkan obrolan tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan di sana?”
“Aku belum bisa memastikan dengan jelas kondisi di saat ini di sini. Karena suasana masih sulit, akibat ledakan itu membuat gedung dan beberapa tempat terbakar dan berdebu. Banyak korban juga yang kehilangan nyawa, jadi... aku belum bisa mencari keberadaan keluargamu, Alex.” Suara itupun mengudara, menjelaskan kondisi saat itu di Beirut.