
Makan malam telah digelar dengan menikmati seblak ceker dan hidangan yang lainnya. Karena Yulian membuat sangat banyak, semuanya kebagian seblak ceker supermarket pedas. Bahkan Arumi dan Tristan pun ikut diundang dalam acara makan malam yang receh itu.
”Bagaimana Neng, enak?”
”Enak Hubby, besok kalau Neng mau lagi buatin ya!”
Yulian mengangguk dan perhatian kecil selalu diberikan kepada Khadijah. Mengusap lembut puncak kepala Khadijah dan memberikan seulas senyuman yang manis. Hal itulah yang sering dilakukan oleh Yulian kepada Khadijah yang sangat disukai oleh Khadijah sendiri. Karena hal itu membuat Khadijah merasa selalu diperhatikan akan kasih sayang sosok suami.
”Hebat sekali kamu Yulian. Aku akui... jurusmu top cer.”
Tristan menatap Yulian dengan penuh bangga. Bakan Tristan meminta Yulian untuk memberikan tips kepadanya dalam melakukan metode bertempur di atas ranjang. Karena Tristan ingin mengikuti jejak Yulian, berkembang biak dengan sempurna.
”Biasa saja.”
”Tidak. Ini luar biasa, satu minggu kalian menikah belum ada pendekatan, dua minggu menikah kamu sudah berhasil membuat Khadijah cemburu buta, satu bulan menikah cinta masuk dalam rumah tangga kalian dan yang terakhir kalian mendapatkan kejutan besar dari Allah.”
”Bukankah... itu hal yang luar biasa. Karena sebelumnya kalian berdua tidak ada yang namanya PDKT atau... pacaran. Bakan saling mengenal saja tidak, hanya sepenggal kisah yang kalian jalani.”
”Alhamdulillah, aku pun merasa bersyukur atas kejutan dari Allah yang sudah diberikan kepada ku. Istri seperti Khadijah, lemah lembut... walaupun terkadang ada rasa cemburu jika aku berdekatan dengan wanita lain, terutama Jennifer. Dan kedua Allah sudah memberikan kepercayaan kepadaku dan Khadijah untuk menjadi orang tua yang mampu mendidik putra atau putri kami kelak.”
Obrolan ringan telah menemani perkumpulan para lelaki dan wanita. Dan obrolan mereka pun lain topik, di mana para lelaki tengah membahas tips untuk bertempur di ranjang, sedangkan kaum wanita tengah membahas tempat untuk wisata pada pertengahan bulan.
”Cahaya, kamu ikut kami saja. Bukankah... Garda sudah berusia satu bulan. Jadi, tak apa kan jika kita berlibur bersama.”
Arumi mengawali pembicaraan tentang dunia wisata yang akan mereka kunjungi nanti. Namun, tempat yang pas untuk mereka kunjungi masih belum terpikirkan dimana mereka akan melepaskan masalah yang sempat membuat kepenatan di dalam kepala mereka.
”Tapi... Cahaya takut kalau mas Juna nanti tidak setuju bagaimana, Ma?”
”Emm... iya juga sih, tapi kasihan kamu jika tidak ikut. Kamu akan sendirian di rumah nanti.”
”Kata siapa akan sendirian? Belum tentu juga kalau aku ikut.”
”Why, Khadijah? Ini pertama kalinya kita akan melangsungkan liburan pertama kita setelah perpisahan yang cukup lama. Dan lagipula... kamu harus memiliki waktu berdua dengan Yulian. Agar hubungan kalian ada quality time berdua.”
”Sepertinya ... tidak perlu. Karena tanpa ada quality time Allah sudah mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu yang mampu mendidik dan mengasihi putra atau putri kami kelak.”
Khadijah mengelus perutnya yang masih rata. Arumi yang belum mengetahui kehamilan Khadijah merasa bingung dengan apa yang dimaksud Khadijah. Sedangkan Cahaya dan bik Inem hanya tersenyum saat melihat betul bagaimana ekspresi wajah Arumi.
”Maksudnya... kamu hamil?”
Khadijah mengangguk pelan seraya menundukkan kepalanya karena merasa malu. Hadiah itu telah diberikan begitu cepat kepada Khadijah dan Yulian. Yang membuat keduanya memiliki rasa cinta yang semakin dalam. Bahkan kehamilan Khadijah membuat keduanya harus bisa bersikap lebih dewasa. Karena kehamilan Khadijah bukan hanya Khadijah yang mengalaminya.
--------
__ADS_1
”Bagaimana rencanamu untuk ke Medan?” tanya Abdullah memastikan.
”Sepertinya ku urungkan niat itu. Tapi... aku belum mengatakannya kepada Khadijah.”
”Segeralah membicarakan hal ini kepadanya, takutnya... Dia akan merasa kecewa.”
Abdullah dan Tristan menepuk pelan pundak Yulian. Lalu pergi meninggalkannya sendiri yang masih duduk termenung di depan teras. Sedangkan Ahtar dan Arjuna sudah lebih dulu pindah ke kamar untuk meneliti data pasien yang sudah mereka bawa dari rumah sakit tempat mereka bekerja.
Di atas ranjang ada dua pasutri tengah melakukan kemesraan yang seolah dunia hanyalah milik berdua. Khadijah merasakan kenyamanan saat berada dalam rengkuhan Yulian dan merasakan kasih yang melimpah dari seorang suami saat Yulian membelai rambut panjang Khadijah.
”Neng, Hubby mau bicara sama Neng. Tapi... jangan marah ya!”
Khadijah mendongakkan kepalanya menatap wajah Yulian. Begitupula dengan Yulian, ia menundukkan pandangannya, sehingga tatapan mereka sejenak terkunci dan hidung mereka terpaut begitu dekat. Saling menyentuh, karena hidung keduanya yang begitu lancip, tak seperti hidung mbak Al, mancungnya ke dalam.
”Hubby, mau bicara tentang apa?”
”Hubby... menunda kepergian kita ke Medan. Kehamilan Neng masih rentan untuk melakukan perjalanan yang jauh. Tak apa kan, jika kita menundanya?”
”Tapi kan, Neng pengen berkunjung ke makam ... Aisyah.”
Seketika binar mata Khadijah terlihat sendu. Rasa kecewa telah membuat hati Khadijah menciut. Tetapi, apa yang diucapkan Yulian ada benarnya juga, dan setelah menimang kembali, akhirnya Khadijah menyetujui keputusan Yulian.
Namun, Khadijah meminta ganti atas penundaan keberangkatannya ke Medan. Seperti apa yang diucapkan Arumi, membutuhkan waktu untuk sekedar healing.
”Bagaimana ... kalau naik kuda? Pasti menyenangkan, Hubby.”
’Sudah jelas dilarang perjalanan yang jauh, ini malah naik kuda. Jika ditolak, akan merajuk. Jika di iyakan, takut bahaya. Ya Allah, kini aku yang Engkau uji akan kesabaranku.’
Yulian memberikan senyuman kepada Khadijah saat mata Khadijah terlihat ada harapan di sana. Dan akhirnya Yulian butuh waktu untuk menimang permintaan Khadijah.
”Emm, Hubby tanyakan dulu ke Arjuna ya! Kan, takut saja jika janin Neng kenapa-kenapa nantinya.”
”Baiklah. Neng akan menunggu hasilnya.”
Malam yang melarut membuat Khadijah dan Yulian menuju ke alam mimpi. Dan seperti biasa, Khadijah dan Yulian terbangun di sepertiga malam untuk menjalankan sholat tahajud. Lalu melanjutkan membaca mushaf sebelum melanjutkan tidur.
”Arjuna ... Abi mau bicara sama kamu tentang kandungan Bundamu.”
Arjuna yang tengah menggendong Garda seketika menoleh dan menatap Yulian yang duduk di sampingnya.
”Memangnya ada apa dengan kandungan Bunda, Bi? Apa ada masalah?”
”Ah tidak, bukan seperti itu. Tapi ... Bundamu ingin naik kuda sebagai ganti karena Abi membatalkan penerbangan ke Medan.”
__ADS_1
”Kalau bisa sih ... jangan melakukan itu, Bi. Kan, masih begitu muda kehamilan Bunda.”
”Tadinya sih, Abi sudah bilang sama Bundamu. Tapi ... Bundamu pasti akan merajuk.”
Arjuna mengenal betul bagaimana wanita yang tengah mengandung saat merajuk. Pasti sangat sulit untuk dibujuk, meskipun rayuan maut telah dilakukan. Kecuali jika, keinginan mereka akan disetujui. Pasti senyum merekah seketika terlukis dalam bibir mereka. Dan Arjuna juga tahu betul saat Abinya tenagh merajuk, bak anak kecil yang sulit untuk dibujuk.
”Arjuna, bagaimana kalau kamu saja yang bicara sama Bundamu? Siapa tahu saja, akan mengerti jika kamu yang bicara.”
”Baiklah, Arjuna akan mencobanya.”
Khadijah yang tengah sibuk dengan pekerjaannya yang sekarang, seketika menghentikan dan menutup laptopnya setelah Arjuna menemuinya di ruang samping. Khadijah tidak tahu apa tujuan Arjuna menemuinya di siang itu. Sedangkan Arjuna tak segera mengudarakan suara untuk mengatakan tujuannya bertemu dengan Khadijah.
’Kenapa Arjuna hanya diam saja? Kenapa tidak segera berbicara kepada Khadijah?’ batin Yulian saat berada dibalik tembok.
”Ada apa, Nak? Apa ada perlu dengan Bunda?”
’Bagaimana cara ngomongnya? Kenapa aku jadi ragu untuk mengatakannya?’
”Arjuna,”
Seketika Arjuna membuyarkan lamunannya, dengan tarikan nafas panjang Arjuna mulai memberanikan diri untuk mengatakannya kepada Khadijah. Dan dengan setia Yulian mendengarkan di balik tembok, rasa kepo yang berlebihan membuatnya ingin memasang telinga dengan menajamkan pendengarannya.
”Tapi ... bagaimana kalau nanti anak Bunda lahirnya ileran. Gara-gara tidak dituruti saat ingin naik kuda semasa di dalam kandungan.” Khadijah nyengir, mencari alesan yang tepat untuk bisa membujuk putra sambungnya yang menjadi dokter kandungan.
Arjuna serasa sudah di skakmat oleh Khadijah. Arjuna terdiam sejenak, membenarkan apa yang dikatakan oleh Khadijah ada benarnya juga. Dan Arjuna tidak ingin jika nanti adiknya lahir dan besar dengan penuh ileran. Sehingga Arjuna menyerah dan meminta Yulian yang menentukan pilihan.
’Dan akhirnya ... mau tidak mau aku harus mengiyakan keinginannya.’
Yulian hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti. Namun, ia tidak hentinya melanjutkan do'a agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat Khadijah usai naik kuda nanti. Dan Yulian berharap anak yang berada di dalam rahim Khadijah menjadi anak yang kuat.
Hati Khadijah begitu bahagia setelah keinginannya disetujui oleh Yulian. Bahkan malam itu juga Khadijah menghubungi Arumi untuk menentukan tempat mereka berkuda nanti. Rasa tidak sabar telah membuat hati Khadijah membuncah dada. Seringkali ia mengelus perutnya yang masih rata dan berharap janinnya kuat meskipun bundanya akan pecicilan. Dan hal itu membuat Yulian ikut menyunggingkan senyum saat melihat kebahagiaan Khadijah yang terlihat begitu jelas saat matanya menyipit.
”Apa Neng senang?”
”Alhamdulillah, Neng senang. Tapi ... Neng dan Arumi masih bingung dimana tempat berkuda yang seru. Apa ... Hubby memiliki tempat yang bisa dijadikan rekomendasi?”
Yulian terdiam, seakan tengah memikirkan tempat untuk dijadikan sebagai wisata yang pas seperti keinginan Khadijah. Karena tidak menemukan, akhirnya Yulian bertanya kepada Tristan dan Abdullah. Karena mereka yang mengenal tempat seperti itu. Hingga akhirnya mereka merekomendasikan dua tempat untuk dijadikan pilihan yang pas.
’Asik, bisa liburan di tempat berkudaberkuda secara gratis.’
Begitulah batin Abdullah berkata. Maunya yang gratisan untuk membahagiakan anak dan istrinya. Dan berhubung Yulian selalu baik hati dan royal, maka Yulian tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan semua yang dijadikan sebagai sahabatnya, Yulian mengajak kemana pun akan berlibur. Dan kali ini dua tempat yang sudah menjadi rekomendasi akan mereka kunjungi sekaligus. Tanpa berpikir panjang Yulian menghubungi kantor keduanya dan mem booking tempat itu hanya untuk keluarga dan sahabatnya saja.
Dan liburan kali ini Cahaya diperbolehkan ikut oleh Arjuna, karena Arjuna juga ingin membahagiakan istrinya, meskipun saat tiba di tempat itu Cahaya hanya duduk saja. Namun hal itu sudah membuat Cahaya merasa senang dan bahagia.
__ADS_1