
Yulian merasa tidak percaya saja saat melihat dengan jarak yang begitu dekat saat Khadijah berdiri dengan tegak di depan kedua matanya.
“Inilah kekuasaan Allah, Hubby. Di saat Neng merasa khawatir dan panik alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk Neng bisa berdiri lagi.” Binar mata bahagia terpancar dalam mata Khadijah.
Hal sama telah dirasakan oleh Yulian dan juga yang lainnya, bahagia yang membuncah terlihat jelas mengelimuti mereka semua. Bahkan Yulian memberikan pelukan kebahagiaan kepada Khadijah.
“Hubby bahagia melihat Neng sudah bisa berdiri dan juga berjalan lagi,” ucap Yulian.
Setelah melerai pelukannya Yulian dan yang lain masuk ke mobil, lalu mobil dilajukan dengan kecepatan tinggi untuk menghindari preman serta agar cepat sampai di rumah Yulian.
Selama di dalam mobil Yulian selalu merengkuh jemari Khadijah dan seolah tak ingin melepasnya. Sesekali mereka saling pandang, mencuri perhatian ala pasangan remaja yang tengah di madu kasih cinta dan mereka juga abai dengan orang sekitar yang duduk di samping mereka, seolah yang lainnya hanya numpang saja.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya mereka semua sampai di halaman rumah Yulian. Dan setelah mobil berhenti Khadijah turun begitu saja hendak mencari keberadaan AbizzarAbizzar, lalu disusul dengan yang lainnya.
“Zuena,” panggil Humaira dengan amat pelan, tapi masih mampu di dengar oleh Zuena.
“Iya, ada apa?” tanya Zuena dengan rasa penasaran.
Humaira berjalan menghampiri Zuena, di tatap nya dengan tatapan nanar dan menelisik. Membuat Zuena merasa sangat tidak nyaman, ada rasa tak enak hati dalam diri Zuena saat melihat tatapan Humaira.
“Aku ingin tahu... tentang kamu. Bolehkah aku berteman denganmu?”
“Silahkan! Jika itu mau mu aku juga tidak akan keberatan, bahkan aku akan sangat senang memiliki teman sepertimu, Humaira.” Zuena mengulas senyum.
Senyum yang begitu manis membuat Humaira menyadari jika kecantikan Zuena memang alami tanpa buatan. Meskipun masih memiliki sedikit rasa cemburu terhadap Zuena, tetapi Humaira mencoba mengikis nya secara perlahan hingga tak tersisa lagi.
“Jadi... mulai sekarang kita adalah teman.” Humaira menyodorkan tangannya.
Zuena membalas, pertemanan itu pun dimulai setelah Zuena dan Humaira saling berjabat tangan. Lalu keduanya masuk, menelusuri rumah yang begitu megah hingga mereka menghentikan langkah saat menemukan keberadaan seluruh anggota keluarga berada di dalam ruang keluarga.
“Alhamdulillah, Abizzar hanya demam saja. Ini juga sudah mulai turun demamnya.” Khadijah mengusap pipi Abizzar yang kini sudah berusia satu tahun setengah.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” ujar Yulian merasa lega.
Setelah semua tahu bagaimana kondisi Abizzar saat itu, semua masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat sejenak setelah merasa lelah dalam perjalanan. Bahkan Tristan, Arumi dan Humaira juga disediakan kamar untuk beristirahat, sedangkan Zuena ia memilih ke kamar Adam dan menemani Adam yang saat itu duduk seraya merajuk di depan layar handphone miliknya.
“Hubby mau mandi dulu atau...?”
“Sepertinya iya, Neng. Hubby mandi saja dulu, setelah itu menemani Neng dan Abizzar istirahat.” Potong Yulian seraya merengkuh pinggang Khadijah.
Khadijah seketika merasa gugup bercampur aduk dengan malu, wajahnya ia tundukkan untuk menyembunyikan rasa malu tersebut agar Yulian tidak melihat. Akan tetapi Yulian justru manoel dagu Khadijah hingga kembali menatap wajah Yulian yang masih terlihat begitu tampan dengan hidung mancung nya sebagai pelengkap.
“Kenapa menunduk seperti itu Neng, hmm?”
“Tidak apa-apa kok, hanya saja Neng... tak jadi. Neng siapkan dulu air hangat untuk Hubby mandi.” Khadijah seketika melerai rengkuhan Yulian lalu berlari menuju ke kamar mandi.
Yulian menilai pergerakan Khadijah yang menghindari tatapannya. Yulian juga tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat tingkah Khadijah yang menurutnya itu begitu lucu dan menggemaskan. Di biarkan saja Khadijah menyiapkan air hangat untuknya, sedangkan Yulian sendiri ia menyiapkan kejutan untuk Khadijah dan keluarganya yang lain.
“Astaghfirullahalazim... Hubby, ngagetin Neng saja.” Khadijah memegang dadanya yang berdebar.
Yulian sengaja berdiri di depan pintu kamar mandi dan aksinya itu sukses membuat Khadijah terkejut bahkan, menyimpan rasa malu yang amat dalam. Karena Yulian sudah melepas pakaian nya dan hanya menggunakan handuk saja. Hal itu membuat jantung Khadijah berdetak tak beraturan. Ada darah yang mendidih dan menjalar ke seluruh tubuh Khadijah saat Yulian mulai mendekat dan mengikis jarak di antara keduanya.
“Tapi kalau Neng tidak mau Hubby juga tidak akan memaksa. Asalkan... Neng masakin Hubby seblak ceker, masih ingatkan masakan kesukaan Hubby?”
Yulian tak menampakkan sikap ataupun senyuman yang mengecewakan meskipun sebenarnya hatinya memamg kecewa. Dan untuk membuat suasana hati Khadijah tetap terjaga Yulian mengubah topik pembicaraannya dengan meminta dibuatkan seblak ceker. Begitu dengan Khadijah yang langsung mengangguk, mengiyakan permintaan Yulian.
“Baiklah! Neng akan buat seblak ceker nya sesuai kesukaan Hubby, tapi...” Ucapan Khadijah menggantung di udara.
“Atau apa Neng, hmm?”
Yulian memincingkan sedikit alisnya, mencoba menebak apa yang akan diucapkan oleh Khadijah. Akan tetapi Yulian tidak bisa menebaknya dan tetap saja Khadijah membuka suara akan hal yang ingin diucapkan tadi.
“Neng, ayo katakan! Masa iya mau main rahasia sama suami sendiri, tidak baik loh.”
__ADS_1
Yulian mencoba mengejar Khadijah yang sudah dari tadi berlarian mengelilingi ruang kamarnya. Untung saja Abizzar tidurnya pulas karena pengaruh obat demam yang diminum tadi, sehingga tidurnya tidak akan terganggu meskipun suara canda dan tawa kedua orang tuanya menggelegar memekik telinga.
‘Sekarang Papa menyadari semua kesalahan yang dulu Papa lakukan terhadapmu, Nak. Andai saja Papa bisa menjaga hawa nafsu yang menggebu saat itu, pasti kebahagiaan semacam ini sudah kamu rasakan dari dulu tanpa menanggung rasa malu dengan perut yang sudah membesar.’ Alex berdiri di balik pintu kamar Yulian sembari merutuki kesalahan yang sudah dilakukan di masa lalu.
Hati Alex kembali bergerimis, ada rasa nyeri yang membuat sesak dadanya seketika saat bayangan malam itu kembali melintas dalam pelupuk matanya. Rasa sesal yang tersisa tidak mampu membuat Alex memaafkan dirinya sendiri.
“Opa Alex, kenapa ada di depan pintu kamar Bunda?” tanya Arjuna yang melintas di sana.
Alex seketika menyeka air matanya dengan segera setelah mendengar suara Arjuna dari arah belakang tubuhnya. Lalu Alex memutar tubuhnya dan menatap Arjuna agar tidak menaruh curiga apapun terhadapnya.
“Tidak Arjuna, Opa hanya mau bertanya sama Abi mu itu. Kalau mau menjadi seorang mualaf itu apa saja yang dibutuhkan sekaligus kapan Opa bisa melakukan hal itu.” Memang itulah tujuan Alex ingin menemui Yulian.
“Oh masalah itu.” Arjuna manggut-manggut, mengerti apa yang dimaksud Alex. “Opa siapakan saja perlengkapan sholat yang sudah Opa Alex beli kemarin. Masalah kapan bisa dilakukan nanti biar Arjuna yang bilang sama Abi.”
“Baiklah! Kalau begitu Opa mau kembali ke kamar saja menyiapkan semuanya. Semoga saja dipermudah waktu acara nanti.” Alex menepuk pundak Arjuna.
Arjuna mengulas senyum merekah, tanda kebahagiaan telah menyelimuti seorang Arjuna. Karena tanpa diduga Alex bisa berubah menjadi orang yang lebih baik. Bahkan Alex pun ingin menjadi seorang mualaf, menikmati indahnya Islam setelah mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
Setelah Alex sudah pergi dan tidak terlihat lagi oleh pandangan Arjuna, saat itu juga Arjuna mengetuk pintu kamar Yulian. Dan tidak lama kemudian Yulian membuka pintu, lalu obrolan itupun dimulai.
“Kita bisa melakukan sore ini juga, Juna. Kamu dan Ahtar... Abi tugaskan untuk mengundang santri di pondok Bunda mu mengajar dulu. Dan masalah dapur biar Abi minta kepada Bunda mu yang mengurusnya bersama Cahaya.” Terang Yulian yang mampu diterima oleh Arjuna.
Arjuna mengangguk, tanda ia sudah mengerti. Lalu Arjuna beranjak pergi mencari keberadaan Ahtar yang entah dimana. Dan saat melintas di kamar Adam tanpa sengaja Arjuna mendengar obrolan antara Adam dengan Zuena.
“Zuena, aku bertanya satu kali lagi kepadamu. Tolong jawab dengan jujur! Apa kamu mencintai Dokter Ahtar?”
Tatapan Adam menajam, ia tidak mau Zuena membohongi perasaan yang di dalam hatinya. Meskipun terselip kata mustahil bisa bersatu dengan Ahtar, tetapi jodoh tidak akan pernah tahu bagaimana ke depannya.
“Kenapa kamu menanyakan hal itu lagi, Adam? Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu jika aku... tidak mencintainya.” Zuena kembali mengelak, menyembunyikan perasaan cinta yang tumbuh di hatinya.
Adam menghela nafas panjang, ia tahu benar bagaimana Zuena bisa menjaga hati dan mengontrol hatinya tersebut agar tidak seorang pun tahu bagaimana perasaan cinta sudah tumbuh bermekaran di hati seorang Zuena. Adam pun tidak bisa memaksa Zuena untuk mengakui perasaan cinta tersebut. Karena hal itu percuma saja, Zuena akan menutup dengan rapat.
__ADS_1
‘Apa benar jika Zuena tidak mencintai Ahtar? Lalu... tatapan itu aku rasa suka, tapi kenapa berbanding balik ucapannya? Sebaiknya aku tanyakan saja sama Ahtar,’ batin Arjuna.
Bersambung...