Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 48


__ADS_3

Yulian merasa khawatir sesaat, Karena Khadijah tidak kunjung kembali ke ruangan Mr. Yuda. Sehingga Yulian memutuskan untuk menyusul ke toilet untuk memeriksa Khadijah di sana. Dan setiba di toilet, Yulian mendengar percakapan Khadijah dengan Jennifer.


Setiap kata yang dilontarkan Jennifer kepada Khadijah membuat hati Yulian ikut merasa teriris. Karena wanitanya saat itu telah di hina oleh wanita yang tidak pernah merasa malu akan perbuatannya sendiri. Di balik tembok yang memisahkan ruang toilet dengan sisi lain, Yulian melihat Khadijah tengah berlari dengan air mata yang berderai.


”Khadijah, aku ikut merasakannya. Tapi... aku ingin sedikit memberi pelajaran kepada Jennifer. Maaf jika aku tidak mengejarmu sekarang.”


Yulian merogoh ponselnya lalu menghubungi nomor Arumi untuk memintanya mengejar Khadijah yang entah pergi kemana. Walaupun sebenarnya Yulian sendiri lah yang ingin mengejar Khadijah, tapi belum bisa untuk saat itu.


Jennifer merasa menang sudah membuat hati Khadijah bergejolak. Karena Jennifer merasa sudah berhasil membuat Khadijah menangis, kini ia bersiap untuk kembali ke ruang Mr. Yuda dengan menata penampilannya agar lebih menarik perhatian Yulian.


”Mr. Yulian.”


Seketika Jennifer merasa terkejut atas kehadiran Yupian secara tiba-tiba saat berada di balik tembok dan berpapasan dengannya.


”Iya, Mrs. Jennifer. Kenapa Anda merasa terkejut dengan kehadiran saya?”


”Akh, tidak. Saya hanya ... terkejut saja, karena ini toilet untuk wanita.”


Tulian tidak memperdulikan lagi toilet itu dikhususkan untuk laki-laki atau wanita. Karena yang di pedulikan hanyalah perasaan Khadijah yang sudah disakiti oleh Jennifer. Wanita yang berpenampilan menonjol guna untuk menarik perhatian kaum adam.


”Saya tidak peduli akan hal itu, karena yang saya pedulikan hanyalah perasaan istri saya yang sudah Anda sakiti. Mungkin... Anda berpikir saya akan membenci masa lalu Khadijah. Tapi Anda salah, karena saya tidak ingin tahu bagaimana masa lalu Khadijah. Toh... anak yang dikandungnya selama sembilan bulan ... sudah saya rawat semenjak bayi.”


Mata Jennifer terbelalak dengan apa yang dikatakan Yulian. Jennifer benar-benar tidak terpikirkan akan hal itu, anak yang sudah dikandung Khadijah dari hubungan dengan Alex.


”Kenapa, Mrs. Jennifer? Apa Anda merasa terkejut? Dan satu hal lagi, jangan pernah dekati saya atau bahkan merayu saya dengan penampilan Anda seperti ini. Sungguh tidak pantas untuk saya kagumi sebagai hamba Allah. Maaf jika saya menyinggung perasaan Anda, Mrs. Jennifer. Permisi, assalamu'alaikum.”


Yulian pergi meninggalkan Jennifer yang masih terkejut dengan semua yang diucapkan Yulian. Dan peringatan pertama telah ia terima dari Yulian secara langsung. Yang membuat Jennifer merasa malu, rasanya ia tidak punya nyali lagi untuk menyapa Yulian, bahkan bertemu saja tidak akan pernah dilakukannya.


--------


”Khadijah, kamu mau kemana? Kenapa kamu mau pergi begitu saja?”


Arumi berteriak berusaha untuk menghentikan langkah Khadijah yang hampir jauh dari gedung itu. Karena Khadijah sudah berada di halaman luar gedung Mr. Yuda.


Khadijah menyeka air matanya, ia berusaha menyembunyikan rasa sedih atas sikap dan perilaku Jennifer kepadanya dari Arumi. Karena ia tidak mau semua orang tahu apa hubungannya dengan Jennifer yang sebenarnya.


”Tidak, Arumi. Aku hanya ...”


”Aku sudah tahu semuanya. Jangan berlari lagi, dan lebih baik kita pulang bersama.” Sela Yulian.

__ADS_1


Yulian dan Tristan tiba-tiba sudah berada di samping Arumi. Bahkan pertemuan mereka dengan Mr. Yuda sudah berakhir dan kini mereka. memutuskan untuk kembali pulang. Karena Yulian pun tahu bagaimana perasaannya Khadijah yang sedikit hancur.


Dan Khadijah menuruti semua apa yang dikatakan Yulian kepadanya, masuk ke dalam mobil lalu dilajukan dengan kecepatan sedang. Dan dalam perjalanan Yulian tidak membiarkan Khadijah melamun dengan pikiran yang terkecai.


”Jangan bersedih, tetaplah berbesar hati dan ikhlas saat seseorang ingin menjatuhkanmu dengan masa lalu kamu yang kelam.”


Tangan Yulian menggenggam jemari Khadijah dingin. Khadijah yang merasakan rengkuhan jemari Yulian seketika mendapatkan kehangatan dan rasa yang berbeda dari sosok Yulian.


Cinta yang tulus telah membuat kedua hati terpatri. Tak ingin memiliki rasa cemburu atau hal lainnya yang bisa membuat hubungan mereka hancur lebur begitu saja. Dan detik itu juga, Khadijah benar-benar menyematkan nama Yulian dalam hatinya nyang paling dalam. Khadijah mempercayai berapa tulusnya cinta Yulian terhadapnya.


”Apa ... maksud Hubbby sudah tahu semuanya?”


”Ya ... Hubby sudah mendengar percakapan antara Neng Khadijah dengan Mrs. Jennifer saat berada di toilet tadi.”


”Lalu? Apa Hubby akan menalak Neng saat ini juga?”


Seketika Yulian menginjak pedal rem, sehingga mobil terhenti secara tiba-tiba. Untung saja sudah berada di pinggir jalan, jika berada di tengah-tengah maka akan kena marah pengendara lainnya.


”Tatap Hubby, Neng. Apakah ada di dalam mata Hubby yang menandakan bahwa Hubby tidak mencintai Neng Khadijah?”


Khadijah hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengudatakan suaranya.


”Hubby tidak pernah menyinggung atau menanyakan masa lalu Neng Khadijah. Karena Hubby mencintai Neng Khadijah dengan ketulusan. Yang harus kita tata dan perlu diingat itu hanya masa sekarang, menjadi makhluk Allah yang takut akan sebuah dosa.”


”Neng mau kan, merajut cinta dengan Hubby tanpa memikirkan masa lalu yang akan menghantui kita?”


Khadijah mengangguk untuk mengiyakan permintaan Yulian. Dan seulas senyum pun telah terukir di bibir Yulian. Untuk menenangkan Khadijah, Yulian meberikan kecupan di kening Khadijah lalu mengusap lembut puncak kepala nya.


’Ya Allah... terima kasih atas segalanya yang sudah Engkau ciptakan kepada hamba.’ batin Khadijah.


Khadijah menatap mata teduh Yulian, yang membuat Khadijah merasa nyaman saat melihat tatapan itu tidak pernah menajam saat memandangnya. Dan Khadijah mencari posisi ternyaman dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Yulian.


Kembali Yulian menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanan setelah Khadijah merasa cukup tenang. Tidak lama kemudian suara adzan dzuhur telah dikumandangkan. Yulian memutuskan untuk mencari Masjid dan melakukan sholat berjamaah.


Empat rakaat tekah usai ditunaikan. Setelah itu kembali Yulian melanjutkan perjalanan.


”Apa ada yang ingin dibeli atau.. mampir ke suatu tempat untuk dikunjungi, hmm?”


”Tidak Hubby, kita langsung pulang saja. Kasihan Cahaya nanti akan repot mengurus Garda sendirian jika bik Inem sudah mengurus Hafizha.”

__ADS_1


”Baiklah, jika itu keinginan kamu maka ... kita akan langsung pulang.”


Yulian melajukan mobilnya menuju ke rumah. Dan sesampainya di rumah Yulian dan Khadijah langsung mengucap salam lalu menuju ke kamar mereka untuk sekedar berganti baju.


”Hubby nanti mau dimasakin apa?”


”Terserah Neng saja mau masak apa. Pasti akan Hubby makan nanti,”


”Yang benar nih terserah Neng mau masak apa ... nanti malah tidak di makan lagi,”


”Ya dimakan dong. Kan, tidak baik jika membuang-buang makanan dengan percuma, mubadzir nantinya. Dan akhirnya ... akan dibenci sama Allah.”


”Baiklah, nanti akan Neng masakin kesukaan semuanya saja.”


Yulian sejenak mengusap lembut puncak kepala Khadijah. Yang membuat Khadijah merasa mendapatkan perhatian yang luar biasa dari seorang suami yang benar-benar mencintainya dengan tulus.


Setelah usai bermanja sejenak, kini Khadijah berlanjut ke kamar Garda. Melihat Garda yang tertidur dengan pulas membuat Khadijah merasa bahagia dengan takdir yang sudah tercipta untuknya. Dan Khadijah tidak ingin pergi dari keluarga yang begitu menyanyanginya.


”Bunda, ngapain hanya berdiri di situ saja? Masuk saja, Bun!”


”Bunda hanya takut mengganggu tidur kalian saja. Apalagi melihat kamu yang tertidur pulas seperti itu, membuat Bunda enggan untuk masuk.”


”Tidak perlu sungkan sama Cahaya, Bun. Tadi Cahaya hanya ketiduran saja... soalnya tidak punya teman untuk mengobrol. Hanya Garda, lalu Garda malah tidur. Terus ikut tepar juga deh.” Cahaya nyengir.


”Ya sudah, lanjut tidur saja gih. Bunda mau ke dapur dulu, mau masak untuk makan malam nanti.”


Khadijah mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas untuk dimasak dan dijadikan menu makan malam bersama nanti.


Khadijah memasak opor ayam kampung, tetapi sayangnya ayam itu bukan dari kampung, melainkan ayam lokal. Khadijah memasak dengan hati yang terus ikhlas, sehingga menciptakan rasa citra mulya khas nusantara yang sangat lezat.


”Bik Inem, sekarang kita tata bareng-bareng ya di atas meja. Agar nanti langsung siap disantap.”


Bik Inem pun membantu Khadijah menata beberapa makanan yang akan dihidangkan di atas meja. Setelah usai, mereka berlanjut untuk membersihkan tubuh dan menjalankan sholat ashar terlebih dahulu.


Dan malam pun telah tiba, acara makan malam bersama telah diselenggarakan. Semua anggota keluarga menikmati semua masakan yang dihidangkan di atas meja. Bahkan semuanya habis tak tersisa, bagaikan tak makan satu minggu saja. Namun, hal itu membuat Khadijah merasa senang karena semua masakannya telah ludes dalam lima belas menit saja.


”Neng, Hubby tunggu di kamar ya! Hubby merasa capek.”


”Iya, Hubby. Kalau mau tidur terlebih dahulu juga tidak apa-apa. Nanti Neng akan nyusul setalah selesai nyuci piring.”

__ADS_1


Yulian segara menuju ke kamar dan menyiapkan hadiah yang belum sempat diberikannya kepada Khadijah.


__ADS_2