Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 128 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Arjuna enyah dari depan kamar Adam, mengurungkan niatnya yang ingin terus mendengarkan percakapan antara Adam dengan Zuena. Kini Arjuna langsung menuju ke kamar Ahtar, lalu mengetuk pintu kamar Ahtar setelah tiba di sana. Meskipun Arjuna adalah abang dari Ahtar, tetapi ia tidak mau jika mengurangi rasa sopan santun yang sudah diajarkan oleh Yulian sedari dulu, sesama saudara harus saling menghargai dan menghormati.


“Ada apa, Bang?” tanya Ahtar sembari mengucek kedua matanya, karena sehabis tidur.


“Apa Abang sudah mengganggumu, dek?” Arjuna berbalik bertanya.


“Emm... sedikit, mataku lengket sekali Bang. Tapi, kalau kedatangan Bang Juna ada yang penting katakan saja,” jawab Ahtar.


“Sebenarnya Abi meminta kita untuk mengundang santri di tempat Bunda mengajar dulu, soalnya sore ini Abi mau meng_Islamkan Opa Alex.” Terang Arjuna seperti apa yang dipinta oleh Yulian.


“Emm, begitu ya.” Ahtar manggut-manggut. “Baiklah! Aku mau bersiap dulu kalau begitu, Bang.”


Ahtar kembali masuk ke kamar, sedangkan Arjuna menunggu di halaman depan. Dan Yulian sendiri masih sibuk dengan Khadijah, bercanda dengan penuh tawa di kamar tercinta. Tidak ada hal yang lain selain kebahagiaan yang menyelimuti mereka setelah beberapa hari tidak saling tegur sapa ditambah lagi dengan kejadian bom meledak secara tiba-tiba di Beirut beberapa hari lalu.


“Hubby senang melihat tawa Neng lepas seperti itu. Dan sudah lama juga Hubby tidak melihat tawa itu setelah Neng mengalami... kelumpuhan.” Yulian mendekap tubuh Khadijah dari belakang.


“Alhamdulillah, jika Allah masih memberikan kebahagiaan kepada Neng, Hubby. Seperti apa yang sudah Hubby katakan kepada Neng, sabar adalah kunci utama saat musibah apapun menerpa kita secara tiba-tiba.” Khadijah berbalik, lalu memeluk Yulian dengan begitu erat.


Yulian tersenyum, melengkungkan bibirnya dengan sempurna. Dan Yulian membelai dengan lembut kepala Khadijah yang saat itu tidak mengenakan hijab panjangnya. Khadijah pun terlihat begitu menikmati saat tangan Yulian membelainta dengan penuh kelembutan.


“Dan inilah keistimewaan yang diberikan Allah SWT dadi hamba-Nya yang benar-benar berperilaku sabar.”


“Alhamdulillah... Neng bisa berkumpul lagi sama keluarga di rumah, Neng bisa berjalan lagi, Neng bisa menemani Abizzar dan Hubby disini dan... Alhamdulillah sore ini Hubby akan meng_Islamkan Papa Alex.”


Khadijah seketika menutup mulutnya yang mangap, rasa terkejut beradu menjadi satu dengan rasa bahagia yang kesekian kalinya. Setelah hal yang dulu selalu dinanti kini telah tiba waktunya. Di mana Alex mampu merubah diri menjadi orang yang lebih baik serta masuk ke agama Islam.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kabar yang membahagiakan dari Yulian seketika itu pula Khadijah bersama Cahaya menyiapkan makanan yang akan dihidangkan untuk beberapa anak santri dan seluruh keluarga saat acara nanti sore. Sedangkan bik Inem menggantikan Khadijah menjaga Abizzar yang sudah bangun dari tidurnya.


“Assalamu'alaikum, Pa.” Yulian menyapa dengan lembut Papa Adhi yang jauh di seberang.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Yulian. Bagaimana kabar kamu di sana bersama anak dan istrimu?” tanya Papa Adhi tanpa basa-basi lagi.


“Alhamdulillah baik, Pa. Kabar Papa sendiri bagaimana di sana?”


“Papa baik disini. Papa juga sempat mendengar kabar tentang kamu di Beirut bersama Tristan, Arumi dan Humaira. Hal itu membuat Papa merasa khawatir, tapi setelah mendengar kabar lagi tentang kamu baik-baik saja bersama Tristan, Arumi dan Humaira, Pala sangat bersyukur.” Papa Adhi mencurahkan isi hatinya sebagai seorang ayah.


“Alhamdulillah, Pa... Allah masih memberikan Yulian kesempatan untuk menghirup udara segar, berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.”


Dalam obrolan yang masih berlangsung Yulian menceritakan apa yang terjadi tentang Alex, termasuk acara nanti sore yang akan digelar di kediaman Yulian. Karena masjid yang jaraknya cukup jauh membuat Yulian mengambil keputusan untuk meng_Islamkan Alex di salah satu ruangan yang memang dikhususkan untuk sholat.


“Ya sudah kalau begitu, Pa. Yulian mau menyiapkan beberapa hal dulu untuk acara nanti sore.”


Obrolan pun telah diakhiri dengan mengucapkan salam. Lalu Yulian berjalan menuju ke dapur untuk memastikan persiapan di sesi dapur. Setiba di dapur Yulian tak ingin basa-basi semata ingin melihat Khadijah saja, tetapi Yulian ingin benar-benar memastikan persiapan di sana.


“Bagaimana, apa sudah siap?”


“Alhamdulillah, sedikit lagi. Hanya tinggal menaruh nasi dan lauknya di dalam kardus,” jawab Khadijah.


Yulian manggut-manggut, tanda ia mengerti. Lalu Yulian membantu Khadijah dan Cahaya di bagian dapur agar cepat selesai sebelum santri yang diundang tiba di kediamannya.


Sedangkan Arjuna dan Ahtar baru saja tiba di tempat tujuan. Dengan meminta ijin kepada pihak ketua dan pendiri pondok tersebut akhirnya kelima santri telah diijinkan untuk ikut Arjuna dan Ahtar.

__ADS_1


“Terimakasih banyak sudah mengijinkan kami membawa santri Kiyai untuk ikut bersama kami.” Arjuna bertutur dengan sopan dan lembut.


“Iya, Pak Arjuna. Kami pihak pondok juga sangat berterimakasih dengan undangan kalian. Tolong juga sampaikan terimakasih saya kepada Pak Yulian.”


“Iya, Pak. InsyaAllah nanti saya akan sampaikan,” balas Arjuna.


Kelima santri pun ikut masuk ke dalam mobil yang dijadikan kendaraan oleh Arjuna dan Ahtar tadi. Banyak obrolan telah mengisi perjalanan mereka saat masih dalam perjalanan. Hingga tidak terasa sudah tiba saja di rumah Yulian.


Para santri diminta untuk masuk seraya dibagikan makanan sebelum mengambil duduk. Setelah persiapan semua sudah siap acara pun akan segera dilangsungkan. Semua santri diminta untuk mengambil duduk di ruangan yang disediakan, Tristan bersama yang lain pun ikut mengambil duduk.


“Apa Papa sudah siap?” tanya Yulian memastikan.


“Iya, Nak. Papa siap,” jawab Alex.


Alex dan Yulian duduk saling berhadapan satu sama lain. Dengan tatapan menajam Yulian mulai mengucapkan kalimat syahadat yang diikuti oleh Alex. Meskipun sedikit susah dalam mengucapkannya, akhirnya detik itu juga Alex sudah masuk Islam. Semuanya mengucapkan hamdalah setelah Alex benar-benar sudah masuk Islam.


“Terimakasih! Nak Yulian.” Alex memeluk Yulian dengan penuh haru.


“Sama-sama, Pa. Alhamdulillah, sekarang kita bisa melakukan ibadah bersama-sama.” Yulian menepuk pelan punggung Alex.


Alex melerai pelukannya, lalu beralih ke Khadijah yang berdiri di belakang Yulian. Pelukan pun telah dilayangkan dengan menahan tangis bahagia. Alex berusaha agar air matanya tidak meluruh begitu saja, tapi usahanya telah sia-sia saja.


“Papa tidak perlu menangis, sekarang kita lupakan masa lalu dan membangun masa depan.” Khadijah melerai air mata Alex dengan lembut.


Saat suasana berubah menjadi haru, saat itu juga Yulian ingin kembali mengubah suasana menjadi bahagia dengan memberikan kejutan yang sudah disiapkan tadi siang.

__ADS_1


“Tiket? Tiket apa itu, Abi?” tanya Hafizha dengan penasaran.


Bersambung...


__ADS_2