Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 89 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Assalamu'alaikum, Om Tristan,” sapa Ahtar ketika sudah sampai di lantai bawah.


Ahtar pun menyalami Tristan. Lalu dilanjut dengan memberikan sarapan pagi kepada Hafizha seperti apa yang sudah diminta olehnya.


“Ya sudah Om Tristan dan Abi... Ahtar mau kembali ke ruangan dulu!” pamit Ahtar kemudian.


Yulian dan Tristan hanya mengangguk, setelah itu Yulian harus memanjakan Hafizha yang meminta disuapin sarapan pagi dengan menu daging rendang. Andai kalian tahu bagaimana perjuangan Ahtar saat mencari keinginan Hafizha, sungguh melelahkan. Namun demi adik kesayangan Ahtar mau melakukan semuanya meskipun harus mengelilingi kota Edinburgh dan mengantri sampai berjam-jam.


“Brukk!”


Saat menuju ke ruangannya Ahtar tidak sengaja menabrak seseorang yang membuat orang itu tersungkur di lantai.


”Oh my God! Airnya tumpah pula, jadi basah kan bajuku,” umpat orang itu dengan kesal.


“Maafkan saya! Saya... tidak sengaja tadi.” Ahtar mengulurkan tangannya hendak membantu orang itu untuk berdiri.


Orang itu mendongak kan kepalanya, menatap Ahtar dengan tatapan nanar. Dan hal itu membuat Ahtar merasa tidak enak hati karena kecerobohan nya lah bisa terjadi hal seperti itu.


“Aku tidak butuh bantuanmu. Permisi!” ketus orang itu.


Orang itu main pergi begitu saja tanpa mempedulikan Ahtar sama sekali. Ahtar merasa heran dengan warga di kita Edinburgh, tak ada simpati maupun empati satu sama lain.


“Terserah lah, yang penting aku sudah minta maaf. Allah saja maha pemaah, masa manusia angkuh begitu.” Ahtar menggelengkan kepalanya, lalu berlalu dan segera menyegarkan dirinya dengan siraman air dari kamar mandi di ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Hafizha kamu itu sudah besar, masa mau minta Abi suapin kamu?” tanya Yulian memastikan.


“Memangnya kenapa kalau Izha sudah besar, Abi? Yang pasti kan, Izha belum di khitbah dan menikah... belum menjadi milik orang lain.” Hafizha merajuk, mengerucutkan bibirnya.


Yulian merasa semakin tidak tega jika ia melanjutkan keinginannya yang akan mengatakan siapa Hafizha sebenarnya. Apalagi melihat Hafizha yang begitu manja dengannya, membuat hati Yulian merasa teriris saja.


“Baiklah, Abi akan melakukannya demi putri kesayangan Abi. Ya sudah, buka mulutnya!”


“Aaa...” Hafizha membuka mulutnya dan satu suapan telah masuk ke dalam sana.


Dalam setiap suapan Hafizha menikmati makanan yang memang diinginkannya. Untung saja Ahtar selalu siaga dan siap pula jika adiknya itu membutuhkan bantuannya.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Hafizha pun sudah usai memberi amunisi pada perutnya. Hingga bacaan hamdalah sebagai akhir dari makanan terakhirnya.


“Ya sudah kalau begitu, Izha berangkat dulu ya, Abi... Om Tristan. Assalamu'alaikum.” Hafizha menyalami Yulian dan Tristan secara bergantian.


Hafizha tidak ingin menjadi anak yang durhaka, meskipun ia tidak tahu siapa Khadijah tetapi Hafizha ingin menghormatinya layaknya seorang ibu kandung. Hafizha beringsut secara perlahan dan berpamitan kepada Khadijah.


“Assalamu'alaikum, Bunda. Hafizha berangkat dulu ke sekolah, nanti setelah pulang Hafizha akan datang lagi kesini. Bunda tenang saja, adik Abizzar akan selalu Hafizha jaga.” Hafizha menyalami Khadijah.


Hafizha pun berangkat ke sekolah dan di antar oleh Abdullah. Karena hanya Abdullah yang bisa memahami bagaimana Hafizha dan sekolahnya. Selain Yulian yang sebagai Abinya, Hafizha juga cukup dekat dengan Abdullah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa yang akan kamu lakukan berikutnya, Yulian?”


“Aku sedikit bimbang Tristan, hatiku berkata lain. Aku tidak mau kehilangan keduanya jika Hafizha tahu siapa Dia yang sebenarnya. Dan aku juga tidak mau Khadijah akan merasa bersalah jika Hafizha marah padanya.” Yulian mendesah, ia benar-benar dalam rasa kebimbangan.


“Baiklah, aku akan pergi ke kantor untuk meng-handle pekerjaan di kantor. Nanti aku akan kembali lagi bersama Arumi.” Putus Tristan setelah menatap jam yang melingkar di tangannya.


Yulian hanya mengangguk saja, mengiyakan apa yang dikatakan Tristan.


Setelah kepergian Tristan, Yulian kembali duduk di samping brankar rumah sakit. Menatap Khadijah adalah hal yang membuat Yulian mampu mengembangkan senyum sempurnanya.


“Khadijah,” pekik Yulian.


Yulian melihat pergerakan jari Khadijah meskipun begitu pelan. Dan itu membuat Yulian sedikit merasa senang, lalu ia memanggil dokter dan meminta dokter untuk segera memeriksa kondisi Khadijah yang sudah memperlihatkan tanda-tanda kesadaran.


“Dokter...”


“Dokter...”


“Dokter, jemari istri saya tadi bergerak. Tolong periksa kondisinya sekarang juga! Siapa tahu Dia sebentar lagi akan sadar.”

__ADS_1


“Pak Yukian yang tenang ya! Saya akan memeriksa kondisi Nyonya Khadijah.”


Dokter itupun masuk ke dalam ruangan dan memeriksa Khadijah. Stetoskop yang melingkar di leher segera ditempelkan di atas dada Khadijah untuk memeriksa denyut jantung.


Yulian yang diminta untuk menunggu di luar hanya bisa berjalan mondar-mandir saja, rasa khawatir tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


“Ya Allah, semoga saja benar jika Khadijah akan sadar hari ini juga!”


Tidak lama kemudian dokter pun keluar, dengan segera Yulian menghampiri dokter Jhonson dan melontarkan pertanyaan kepadanya.


“Bagaimana Dokter, apa benar istri saya sudah sadar?”


“Maafkan saya Pak Yulian, untuk saat ini Nyonya Khadijah masih belum sadarkan diri. Akan tetapi kondisinya semakin membaik, tunggu hingga dua jam ke depan.” Papar dokter Jhonson yang mudah dimengerti oleh Yulian.


“Baiklah, Dok.” Yulian mengangguk. “Terimakasih atas kerja Anda, Dok. Anda sudah siaga ketika saya memanggil Anda.”


“Tidak masalah, Pak Yulian. Kalau begitu saya harus melanjutkan pemeriksaan terhadap pasien lain.”


Yulian mengangguk, setelah itu dokter Jhonson pergi dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Yulian menyunggingkan senyum saat kedua matanya tiada henti menatap Khadijah dengan penuh cinta. Lalu Yulian kembali mengambil duduk di samping Khadijah dan berceloteh panjang di sana.


“Neng, tidak apa jika Neng belum sadar pagi ini. Tapi Hubby mu ini akan menceritakan bagaimana suasana pagi di kota Edinburgh.”


“Pagi ini begitu cerah, cahaya matahari mulai menyingsing dan mulai menghangatkan seluruh kota. Pagi ini anak-anak jiga melakukan aktivitas seperti biasanya, Arjuna dan Ahtar menjalankan tugas mereka, Cahaya dan bik Inem selalu menjaga Garda dan Abizzar bersama-sama da juga... Hafizha sudah berangkat sekolah.”


“InsyaAllah... kelak anak-anak kita dan cucu kita akan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan juga menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.”


“Cerita pagi ini Hubby sudahi dulu ya! Sekarang Hubby akan membacakan doa dan surat pendek untuk Neng.”


Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah, lalu ia berdiri hendak mengambil air wudhu. Dan setelah itu Yulian mulai membaca mushaf dengan suara merdunya.


“Qul ing kuntum tuhibbunallaaha fattabi'unii


yuhbibkumullaahu wa yagfir lakum zunubakum,


“Surat Ali Imran ayat 31 yang memiliki arti, Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Yukian memang memiliki hati yang lembut, terutama kepada sang istri. Bahkan sampai saat itu Yupian tidak membedakan rasa cinta itu kepada Aisyah maupun Khadijah. Bagi Yulian cinta terhadap istri itu sama saja, meskipun Khadijah bukanlah wanita yang akan mendampinginya di surga. Karena di surga Allah, sudah ada Aisyah yang tengah menanti Yulian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dokter Ahtar, ada pasien yang bernama Maria ingin konsultasi dengan Anda.”


“Apa... datanya sudah ada di sini, Sus?” tanya Ahtar memastikan.


“Belum, Dok. Baru kali ini mau konsultasi terlebih dahulu, katanya.” Almira nyengir.


“Baiklah, pinta Dia untuk masuk!”


Almira mengangguk, lalu pasien atas nama Maria telah diminta untuk masuk. Dan sesampai di dalam ruangan Ahtar, Maria diminta untuk duduk.


Ahtar sengaja tidak menatap ke wajah Maria, ia hanya fokus dengan selembar kertas yang akan ia coret-coret dengan isian resep saja.


“Sebelumnya saya minta maaf, keluhan Anda apa ya?”


“Jantung saya sering berdebar dan merasa lelah jika beraktivitas terlalu lama di luar, Dok. Saya takut jika saya memiliki penyakit jantung yang akan membahayakan nyawa saya.”


‘Mengapa suaranya seperti lelaki? Mana ada wanita yang memiliki suara seperti itu?’ batin Ahtar.


Sebelum menjawab Ahtar mencoba untuk memberanikan diri menatapnya. Dan ternyata benar saja jika itu adalah lelaki.


‘Hiks. Kok berubah? Apa Almira salah dalam menyebutkan namanya ya.’ Ahtar kembali bermonolog dalam hatinya.


“Maaf sebelumnya, nama Anda siapa ya? Karena suster Almira tadi mengatakan bahwa pasien yang ingin konsultasi dengan saya itu Maria. Saya pikir Dia adalah perempuan.”


“Oh itu, nama adik saya, Dok. Saya meminta kepada Maria untuk mendaftarkan namanya, karena... awalnya saya merasa takut.” Faruq menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Seketika tawa Ahtar pecah begitu saja, ia merasa tertipu hanya karena nama saja. Bahkan jantungnya sudah berdebar jika ia harus memeriksa jantung pasien wanita, sedangkan biasanya ia hanya memeriksa jantung bapak paru baya dan kebanyakan nenek jika itupun seorang wanita.

__ADS_1


‘Astaghfirullah... bagaimana bisa aku sebodoh ini! Ya Allah, jika ini adalah jalan hamba mengais rejeki yang halal maka... ijinkankah hamba memeriksa pasien seorang wanita.’


Mulai hari itu Ahtar berusaha untuk menetralkan pandangannya, menatap wanita ala kadarnya saja dan tidak berlebih. Karena Ahtar benar-benar takut akan zina mata. Yang akan berdosa walaupun hanya menatap dengan tatapan yang tidak wajar.


Ahtar mulai memeriksa Faruq setelah Faruq diminta untuk merebahkan tubuhnya di atas brankar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua jam sudah berlalu, seperti apa yang dikatakan dokter Jhonson. Dengan setia Yulian menanti kesadaran Khadijah di waktu itu. Kembali dokter Jhonson memeriksa kondisi Khadijah, tidak lama kemudian sepasang mata Khadijah mulai bergerak. Namun Khadijah ekum segera membuka kedua matanya itu.


“Khadijah,” pekik Yulian.


Binar mata bahagia telah teroancar dari mata Yulian, rasa nya ia tidak sabar untuk menyambut Khadijah setelah kecelakaan kemaren.


“Aku... di... mana?” tanya Khadijah dengan suara yang amat pelan.


Khadijah mulai membuka kedua matanya, namun pandangan dan kesadaran belum sempurna. Sehingga Khadijha belum mengingat betul di mana ia sedang berada.


Sabar, itulah yang selalu ditanamkan di dalam hati Yulian.


“Neng ... Neng saat ini ada di rumah sakit. Neng mengalami kecelakaan, tapi sekarang tidak apa-apa, Neng sudah sadar.” Yulian berusaha menutupi kasus yang sudah dikatakan oleh dokter Jhonson.


“Hubby,” panggil Khadijah lirih.


Air mata Khadijah pun meluruh, Yukian tidak mengerti apa yang membuat Khadijah menangis. Dan rasanya hati Yulian kembali teriris jika Khadijah tahu kakinya mengalami lumpuh. Meskipun bukan kelumpuhan permanen tetapi saja Khadijah tidak bisa berjalan tanpa adanya bantuan terapi.


“Kenapa menangis? Ada apa, hmm?”


“Neng, ingat betul bagaimana truk itu menghantam tubuh Neng, Hubby. Dan... Neng juga melihat... Papa Neng di sana.” Raut wajah Khadijah seketika berubah, ia tiba-tiba merasa takut.


“Iya, Hubby tahu akan hal itu. Tapi... Neng jangan takut dan jangan memikirkan apapun. Yang terpenting saat ini, Neng harus sembuh dulu. Apa... Neng tidak rindu sama Abizzar dan anak-anak kita.”


Khadijah menatap Yulian, dan merasa teduh setelah melihat binar mata Yulian yang penuh cinta di dalamnya. Hingga akhirnya Khadijah merasa cukup tenang.


“Neng mau minum? Atau... mau makan buah?”


“Emm... minum saja, Hubby. Neng belum merasa pengen makan apapun.”


Yulian mengambilkan segelas air yang berada di atas nakas, dengan bantuan sedotan Khadijah meminum air putih itu secara pelan. Dan kerongkongan tenggorokan Khadijah sudah tidak terasa kering lagi.


“Nyonya Khadijah, jangan lupa nanti makan juga ya! Agar kondisi kesehatan tubuh Nyonya Khadijah segera pulih. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!” ucap dokter Jhonson.


“Baik, Dok!” balas Khadijah dengan sedikit memberi senyum.


Setelah dokter Jhonson pergi, Yukian kembali menatap Khadijah dengan wajah yang masih pucat itu. Dan Yulian juga tidak hentinya mengusap lembut pipi Khadijah.


“Hubby kenapa sih kok menatap Nneg seperti itu? Memangnya... wajah Neng berubah jadi jelek ya setelah kecelakaan?”


Yulian menggelengkan kepalanya.


“Tidak Neng, bukan seperti itu maksud Hubby. Hubby hanya... merasa bahagia saja karena melihat Neng, senyuman Neng dan pastinya... Hubby bisa manjain Neng lagi.”


Khadijah hanya tersenyum, karena ia belum bisa melepas tawanya. Khadijah merasa malu saat Yulian memperlakuaknnya bagaikan seorang ratu dalam hidupnya. Hal itu yang selalu disyukuri oleh Khadijah, jika saja Allah tidak akan memeortemukan kembali dirinya dengan Yulian maka entahlah bagaimana kehidupan Khadijah.


“Emm... ngomong-ngomong Hubby belum memberi kabar kepada orang rumah dan juga Ahtar, Arjuna, Hafizha, Tristan serta Arumi. Kalau begitu Hubby menghubungi mereka dulu ya, Neng!”


Khadijah pun mengangguk dengan anggukan pelan. Senyum Yulian menular begitu saja, hingga membuat Khadijah ikut tersenyum pula.


Yulian mencoba menghubungi Ahtar dan Arjuna terlebih dahulu, setelah itu dilanjut Cahaya lalu, Tristan. Sedangkan Hafizha, Yukian mebgurungkan niatnya untuk menghubungi Hafizha karena sudah jelas jikaoada jam sekian Hafizha masih ada jam pelajaran.


”Biarkan sajalah untuk Hafizha. Biarkan menjadi kejutan untuknya saat tiba di rumah sakit nanti.”


Yulian kembali tersenyum, ia tak hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah. Karena Allah telah mengabulkan setiap doa yang dilangitkan olehnya.


“Terimakasih tidak akan pernah cukup untuk menebus semua dosa-dosa hamba, Ya Allah. Tapi rasa syukur setidaknya menjadi perwakilan rasa bahagia hamba karena Engkau telah mengembalikan tawa yang ingin hamba jaga. Jadikanlah Khadijah istri yang akan mendampingi hamba hingga tua nanti. Aamiin.”


Yulian meyakinkan tubuhnya hendak mengambil duduk di sisi Khadijah, tetapi raut wajah Yuoian seketika berubah saat Khadijah menatap nanar dirinya. Seolah Khadijah tengah merasakan jika kakinya sulit untuk digerakkan. Akan tetapi, Yulian berusaha untuk menutupi akan hal itu, agar Khadijah tidak merasa curiga sama sekali. Serapat mungkin Yulian akan menutupi, tetapi Allahu aklam jika Khadijah memang harus mengetahui akan hal itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2