
Yulian terus memandangi lukisan yang sudah terpanjang dengan rapi. Dan lukisan itu dipajang tepat di atas keranjang kamarnya. Sehingga terlihat begitu jelas ketika masuk ke kamar. Dan hari sudah mulai malam yang terhiasi dengan kesunyian dan keheningan. Sehingga membuat Khadijah masuk ke kamar untuk merebahkan tubuh yang merasa lelah.
”Hubby, apa itu?”
Khadijah nampak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Lukisan yang bergambar lelaki dan perempuan bersisihan sembari menggendong seorang bayi. Dan lukisan bagian perempuan terlihat feminim, karena bagian kerah baju kanannya terbuka. Sehingga membuat Khadijah merasa aneh dengan lukisan itu. Untung saja hanya terpajang di kamar, jika di luar sana mungkin Khadijah akan merasa malu.
”Itu lukisan,” jawab Yulian datar.
”Iya aku tahu itu lukisan. Tapi kenapa modelnya kayak begitu? Ishh, mana terbuka lagi kerahnya.” Seolah Khadijah bergidik ngeri.
”Ya tak apa kan, biar lebih bergairah. Kamu mau memakai baju seperti itu?”
Khadijah menelan salivahnya sendiri saat menatap Yulian yang seakan sudah siap menerkam nya. Dan untuk mencairkan suasana yang menyeramkan bagi Khadijah, ia memberikan senyum kepada Yulian. Yang membuat Yulian terkekeh geli melihat Khadijah yang seakan merasa takut terhadapnya.
”Hahaha... sudahlah! Hubby hanya bercanda saja. Tidurlah terlebih dahulu, Hubby mau menyelesaikan pekerjaan.” Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah.
Yulian memutuskan untuk menciun kening Khadijah lalu meninggalkannya beristirahat di kamar sendiri. Karena Yulian harus kembali melakukan pekerjaannya dibagian Aisyah Gallery, ada beberapa desain baju yang sudah dikirim Arumi untuk dilihat olehnya.
’Kerah baju sedikit terbuka, fulgar sekali itu lukisannya. Tapi ... masa iya aku harus pakai baju seperti itu untuk memancing gairah.’ batin Khadijah.
Sangat berbanding balik pakaian yang ada di lukisan itu dengan pakaian yang dipakai saat ini oleh Khadijah. Sehingga membuat Khadijah harus menimang kembali untuk memakai pakaian seperti itu atau memakai pakaian yang sepenuhnya menutupi auratnya.
Khadijah terus melihat lukisan itu, hingga ia tersadar bahwa pernah melihat pakaian yang mungkin saja pas untuk dipakai malam itu.
”Lingerie ini ... haruskah aku memakainya malam ini? Siapkah aku menyerahkan semuanya malam ini juga? Bagaimana kalau ... aku tidak bisa memuaskannya?”
__ADS_1
Hati Khadijah terus bergejolak ingin membahagiakan orang yang sepenuhnya ia cintai. Menyerahkan dan memberikan kewajibannya kepada Yulian di malam jumat, tepat di malam sunah Rasullulah. Akan tetapi, ada sisi lain yang membuat Khadijah merasa ragu, karena ia merasa malu mengingat bahwa ia bukanlah wanita yang utuh.
”Bagaimana ini? Masa iya aku harus bertanya sama bik Inem masalah ini? Kan, malu.”
Dengan mengucapkan bismillah Khadijah memutuskan untuk memakai lingerie yang menggantung di dalam almarinya. Setelah memakai pakaian itu, dengan segera Khadijah merebahkan tubuhnya dan memakai selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya sebelum Yulian masuk ke dalam kamar. Karena Khadijah merasa malu dengan pakain yang dipakainya saat ini.
Tidak lama kemudian gagang pintu telah dibuka dari luar. Perlahan Yulian masuk ke kamar, ia tidak ingin membuat Khadijah terbangun atas kehadirannya, sehingga ia berjalan dengan mengendap-ngendap. Bagaikan seorang maling saja.
Malam itu begitu gerah, seolah cuaca ingin berganti. Dan langit yang mendung siap untuk menjatuhkan hujan, mengguyur seluruh kota Edinburgh malam itu.
”Gerah sekali Ya Allah, bagaimana kalau mandi saja. Pasti aku akan merasakan kesegaran.”
Yulian memutuskan untuk mandi dan menghilangkan rasa gerah yang membuat keringat mengucur deras di punggung nya. Dan di bawah kucuran air dingin Yulian membasahi tubuhnya. Sedikit kesegaran telah dirasakan, sehingga ia merasa nyaman di malam itu.
’Jujur, aku meleleh hanya melihatnya saja. Ya Allah ... aku ingin.’ batin Khadijah.
Saat Yulian masih berdiri di depan almari untuk memilih baju yang akan dipakai tidur malam itu, tanpa sengaja mata Yulian mampu melihat Khadijah yang tengah memandangi nya dengan selimut yang ditarik sedikit ke atas untuk menutupi wajahnya. Namun, sesekali Khadijah melirik tibuh Yulian yang sungguh menggoda kaum hawa yang melihatnya.
”Jadi, kamu belum tidur, hmm?”
Khadijah menelan ludah saat dirinya kepergok oleh Yulian karena melihat tubuh Yulian yang ada di depan matanya. Dan malu jelas diraskaan oleh Khadijah, ingin sekali rasanya ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu untuk menyembunyikan rasa malunya. Tapi, Yulian keburu menghampirinya bahkan membuka selimut yang menutupi tubuhnya sampai sepundak.
”Khadijah, apa kamu ... ingin melayani saya?”
Yulian terkejut dengan apa yang dipakai oleh Khadijah. Baju lingerie berwarna merah mencolok itu telah membuat Yulian menajamkan tatapannya kepada Khadijah. Bahkan rasanya ingin sekali ia segera menerkam mangsanya. Namun, imannya harus kuat untuk menjaga keinginan Khadijah.
__ADS_1
”Emmm ... bolehkah, aku mengatakan sesuatu?”
”Boleh, silahkan! Kalau belum siap untuk memuaskanku lebih baik ganti baju sana gih! Nanti kamu malah masuk angin lagi,”
”Begini, sebenarnya aku mau memberikannya sekarang. Tapi ... aku merasa malu dan ragu, karena ... aku bukanlah wanita seutuhnya. Keperawananku telah direnggut oleh ayah ku sendiri. Aku malu sama kamu akan hal ini.”
Khadijah menundukkan pandangannya, rasa malu telah menyelimuti nya dan air mata yang terbendung kini tumpah juga. Dan itu membuat Yulian merasa gagal karena belum membahagiakan Khadijah.
”Khadijah, aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalumu. Aku juga tidak membutuhkan bagaimana masa lalumu. Yang aku butuhkan saat ini kamu memenuhi kewajibanmu sebagai istri, melayani suami membahagiakan suami dan juga membahagiakan anak kita.”
”Kamu harus pandai dalam bersyukur, karena kamu telah melahirkan gadis cantik secantik Hafizha. Dan jika kamu ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu kamu, maka kamu harus memberikan pendidikan dan kasih sayang yang seharusnya kamu berikan kepada Hafizha.”
Yulian menghapus air mata Khadijah dengan pelan, laku memberikan senyum termanis yang ia punyai. Sehingga Khadijah ikut tersenyum dan melupakan masa lalu yang begitu kelamnya.
Setelah cukup tenang, Khadijah kembali mengudarakan suaranya. Lalu,dengan bisikan pelan Khadijah mengajak Yulian untuk melakukan hal itu. Dan dengan basmalah Yulian siap melakukan aksi nya malam itu, melepaskan hasrat yang mendalam. Tak lupa pula Yulian membaca do'a sebelum benar-benar menerkam Khadijah.
”Khadijah, apa kamu benar-benar sudah siap?”
Khadijah mengangguk, mengiyakan perkataan Yulian. Setelah itu Yulian siap melakukan aksinya, perlahan memberikan kecupan di kening, hidung, lalu jatuh ke dada. Hingga desiran hebat menjalar ke seluruh tubuh Khadijah. ******* pelan Khadijah yang cukup di dengar oleh Yulian, sukses membuat Yulian merasa hasrat nya telah bergejolak. Begitu halnya dengan Khadijah, ia menikmati setiap kecupan yang diberikan Yulian di bagian terlarang.
Tangan Yulian begitu lancang menjemaah dua tumpuk gunung Khadijah yang masih tertutup. Bahkan remasan pelan ia lakukan untuk membuat ******* gila dan desiran yang berbeda di tubuh Khadijah. Lalu ... malam itu benar-benar benteng pertahanan Khadijah tekah roboh.
Sensor... Sensor... Sensor....
Malam itu adalah malam yang terindah bagi keduanya. Setelah saling memuaskan satu sama lain, keduanya merasakan lelah yang membuat tubuh mereka merasa lemas. Bahkan perlahan kedua mata mereka terpejam dalam keremangan lampu yang dinyalakan.
__ADS_1