
Suasana rumah seketika terasa hening, karena Garda dan Cahaya sedang tidur siang. Sedangkan Hafizha keluar bersama papa Adhi, bik Inem dan Abdullah. Dan Khadijah serta Yulian hanya berdua saja di kamar. Merajut cinta kembali di siang hari.
”Neng, bagaimana perasaan Neng setelah mengetahui tentang kehamilan ini?”
Khadijah merebahkan tubuhnya dalam dekapan Yulian, sehingga Khadijah merasakan bahwa kebahagiaan tengah berlipat ganda ia rasakan saat ini. Mendapatkan kabar yang nyata bahwa ia tengah mengandung anak dari Yulian, membuat Khadijah merasa benar-benar bahagia yang tiada tara. Ia tidak ingin menjadi wanita munafik jika tidak menerima kehamilan itu, karena di dasar hatinya yang paling dalam ia memendam cinta terhadap Yulian sejak empat tahun lalu.
”Neng... merasa senang, Hubby. Neng tidak menyangka jika saat ini Neng sedang hamil. Bagaimana dengan Hubby sendiri?”
Khadijah mengarahkan pandangannya, menatap Yulian dengan penuh arti. Terlihat binar mata Khadijah ada sebuah harapan jika Yulian akan ikut bahagia dengan kehamilannya. Dan benar saja, Yulian bahagia dengan kejutan dari Allah.
”Hubby jelas bahagia dong. Hubby... tidak mau menjadi lelaki munafik, jika Hubby menolak mentah kehadiran bayi itu. Sedangkan baru kali pertama Hubby merasakan morning sickness.”
Khadijah terkekeh mendengar ucapan Yulian, begitu pula dengan Yulian yang ikut tertawa. Sehingga dalam ruangan yang cukup besar itu canda tawa riuh telah menemani kebersamaan Khadijah dengan Yulian. Mereka begitu menikmati suasana yang romantis itu.
”Maafin Neng ya, Hubby. Karena Neng hamil, Hubby jadi mengalami morning sickness.”
"Husst... jangan bilang seperti itu. Ini hadiah Allah, dan Hubby akan mengikuti keinginan anak kita ini. Pasti anak kita tidak mau jika hanya Bunda nya saja yang merasakan kehadirannya.”
Yulian mencubit manja hidup Khadijah yang saat itu tidak berbalut cadar. Terlihat keromantisan itu membuat keduanya semakin mengerat dan bertanggungjawab dalam hubungan rumah tangga mereka. Yulian akan mengerti dan berbesar hati jika ia akan mengalami morning sickness setiap pagi. Begitupun dengan Khadijah, ia akan berbesar hati jika Yulian akan berubah secara tiba-tiba, menjadi lelaki yang memiliki sifat posesif, agresif dan sensitif.
”Neng mau bantu Cahaya dulu ya, Hubby. Kasihan jika Dia harus sibuk sendirian.”
Karena hari yang sudah sore Khadijah membantu Cahaya untuk menyiapkan peralatan Garda mandi. Semenjak Khadijah tahu tentang kehamilannya, ia terus mengelus perutnya. Berharap jika lelaki akan tampan seperti Yulian, dan jika perempuan maka Khadijah berharap akan cantik seperti Aisyah. Meskipun Khadijah sebelumnya tidak tahu bagaimana wajah Aisyah, karena saat mengenal Aisyah, Aisyah sudah menutup rapat auratnya.
”Wah... Oma... selamat ya... sebentar lagi Garda akan memiliki Om atau Tante.” Ujar Cahaya yang menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
Ya, nama Oma yang tersemat dalam diri Garda saat memanggil Khadijah. Sedangkan kepada Yulian, Garda alma memnggil dengan sebutan kakek. Dan kepada papa Adhi, Garda akan memanggil dengan sebutan uyut.
”Emm... terimakasih sayang. Garda pengennya nanti dapat Om atau Tante, nih?”
”Garda apa saja nanti hasilnya mau Oma. Yang penting ada temennya.”
Tawa pun lepas dari keduanya. Candaan sering mereka lakukan bersama, tidak ada kata yang membuat mereka saling menyinggung, yang ada hanya kata yang akan memberikan pengertian dan juga perhatian. Seperti itulah kehidupan yang diterapkan Yulian sebagai seorang pemimpin. Keakraban dan rasa peduli selalu yang dijadikan utama.
”Bunda... apa Bunda tidak merasakan mual sedikitpun? atau... nyidam begitu?”
”Bunda tidak merasakan hal apapun. Bahkan Bunda sendiri lupa kapan terakhir Bunda datang bulan. Dan Bunda... merasa kasihan sama Abi kamu, yang harus merasakan morning sickness setiap paginya.”
”Tidak apalah Bun, toh itu hasil buah cinta dari Bunda dengan Abi. Pasti Abi juga menerima dengan ikhlas hati.”
”Astaghfirullah hal azim Hubby, ngapain pakai celemek dan baju seperti itu? Seperti koki saja,”
Khadijah membulatkan matanya, melihat penampilan Yulian dari ujung kaki sampai ujung rambut sekalipun. Bahkan Yulian siap untuk bertempur dengan peralatan dapur. Pasti terlihat aneh, tapi hati Yulian lah yang bergerak dan ingin melakukannya.
”Neng mau dimasakin apa? Hubby ... tiba-tiba pengen masak seblak ceker dengan level super. Pasti enak di makan nanti malam.”
”Hubby, nyidam? Kan, bisa bilang sama Neng...”
Khadijah seketika menghentikan ucapannya saat bibir Yulian menempel tepat pada bibirnya yang masih terbalut cadar. Benar tertutupi, tapi begitu terasa bagi Khadijah.
”Hubby ingin membuatnya sendiri, ini... salah satu permintaan anak kita.”
__ADS_1
”Baiklah, Neng akan bantu Hubby untuk membuatnya.”
”Oh, no. Biarkan Hubby saja yang membuatnya sendiri. Neng dan bik Inem bisa duduk saja dan menunggu hasilnya.”
”Siap, Tuan.”
Begitu bahagia bik Inem saat diminta untuk tidak membantu di dapur, karena bik Inem serasa melihat momen itu telah kembali. Sedangkan Khadijah, ia benar-benar tidak menyangka akan menemukan suami yang seperti itu. Yang akan menjadikan istrinya sebagai ratu dalam suasana dan keadaan apapun.
Beberapa menit kemudian bau masakan seblak ceker fan beberapa masakan yang lain telah menguar ke udara. Membuat Khadijah tidak sabar untuk segera menyantap seblak ceker buatan Yulian yang dibuat dengan ketulusan.
”Bagaimana, apa Neng merasakan hal yang sama dengan Hubby? Ingin menyantap seblak ceker setelah melihatnya, hmm?”
Khadijah mengangguk dengan semangat. Ikatan itu memang dirasakan oleh Khadijah setelah mengelus perut yang di dalam rahimnya ada calon sang buah hati.
’Allah begitu baik, mengirimkan seorang suami yang sempurna bagiku. Dan kini kebahagiaan itu datang menghampiri kami saat Allah sudah merasa yakin bahwa kami adalah pasangan yang sudah pantas untuk dititipi anugrah yang terindah. Kehadiranmu, membawa kami dalam eratnya rumah tangga, Nak.’ batin Khadijah, yang tidak hentinya memandangi Yulian yang tengah menyajikan hasil karya masakannya di atas meja makan.
”Sudah hampir magrib, cepat gih mandi sana.” Khadijah mengerucutkan bibirnya.
”Jagan merajuk seperti itu, nanti cantiknya hilang bagaimana?” Yulian manoel janggut Khadijah.
”Ya habisnya, Hubby nyuruh cepat-cepat mandi. Kan, masih jam lima sore.”
”Tapi ini demi kebaikan Neng dan calon buah hati kita. Jangan sampai Dia di dalam sana merasa kedinginan jika... Bundanya mandi terlalu sore. Lagipula, Neng belum sholat ashar, kan?”
Khadijah mengangguk, lalu ia menuruti apa yang dikatakan Yulian. Sudah siap semuanya, bahkan air hangat pun sudah disiapkan oleh Yulian untuk Khadijah mandi. Benar-benar Yulian menjadikan Khadijah seorang ratu, apalagi Khadijah saat ini tengah mengandung buah hatinya. Maka Yulian akan semakin memanjakan Khadijah.
__ADS_1