
Masih dalam suasana yang tidak nyaman, rasa bingung, canggung dan khawatir beradu menjadi satu. Yulian dan Khadijah hanya terdiam dalam kebisuan semata. Karena merasa begitu haus Khadijah berusaha meraih gelas yang berada di atas nakas. Namun, tangannya tak sampai untuk meraih gelas itu. Dan Yulian yang melihat pergerakan Khadijah, lalu ia berusaha membantu.
”Mau minum?”
Khadijah hanya mengangguk pelan.
”Bilang saja kalau haus, aku membantu mengambilkan nya.” Khadijah menundukkan pandangannya.
”Saya hanya tidak mau merepotkan kamu saja.” Yulian mengulas senyum.
”Tidak apa-apa kalau hanya mengambilkan air saja. Itupun juga tidak merepotkan.” Kembali Khadijah mengangguk.
Lalu satu gelas air pun Khadijah teguk, tapi hanya separuhnya. Karena sudah diminum oleh Yulian saat ia tersedak tadi. Sehingga membuat kerongkongan tenggorokan Khadijah masih terasa kering, karena Khadijah masih merasa haus.
”Emm ... bolehkah, aku minta minum lagi?” tanya Khadijah dengan ragu.
”E ... ya ... boleh.” Yulian mengangguk, ia menyadari bahwa setengah air yang berada di dalam gelas tadi telah di minumnya. Sehingga rasa malu kembali hadir dalam dirinya.
Tanpa menunggu lama Yulian segera beranjak dari tempat duduknya. Lalu, keluar dari dalam ruangan untuk membeli air mineral yang dijual di kantin rumah sakit. Saat berada diluar Yulian terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan sahabat ataupun kedua putranya yang masih berdiri di sana.
Yulian ingin menghindari rasa canggung dan malu kepada sahabat serta kedua putranya, maka dari itu ia beberpura-pura memasang wajah yang memiliki rasa tidak tahu malu.
”Yulian ... ada apa dengannya? Kenapa Dia setengah berlari seperti itu?”
”Mungkin saja ... Abi sedang menghindari kita, Om.” Celetuk Ahtar. Lalu mereka pun manggut-manggut membenarkannya.
”Tapi ... aku rasa kasihan juga dengannya. Tidak seharusnya aku menangis seperti itu tadi.” Semua mata tertuju kepada Arumi yang perlahan menyeka air matanya.
”Arumi sayang, tapi kita tidak meminta kamu untuk menangis seperti itu, loh!”
”Iya juga sih sayang, tapi untuk memperdalam sebuah akting itukan, seperti itu.” Arumi nyengir.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya manggut-manggut, membenarkan apa yang dikatakan oleh Arumi. Tangisan itu hanyalah sandiwara belaka, yang sukses membuat Yulian merasa khawatir terhadap Khadijah. Bahkan sampai membuat Yulian merasa malu dibuat mereka.
”Juna yakin, Abi pasti memiliki rasa itu terhadap Bunda Khadijah.”
”Iya, benar apa yang dikatakan Bang Juna. Ahtar juga merasa bahwa Abi suatu saat nanti ... akan jatuh hati kepada Bunda Khadijah.”
Semua mengangguk pelan mengiyakan keyakinan Arjuna dan Ahtar. Dan setelah melihat bagaimana keadaan Khadijah yang tidak terlalu parah, mereka pun memutuskan untuk kembali pulang. Tetapi tidak dengan Abdullah, karena ia selalu setia kepada Yulian.
Yulian kembali melintas di depan ruangan Khadijah, tetapi ia tidak mendapati sahabat ataupun kedua putranya di sana. Yang dilihatnya hanya Abdullah yang selalu setia bersamanya, menunggunya dan menemaninya selalu.
”Abdullah, kemana perginya yang lain?”
”Mereka memutuskan untuk pulang. Karena ... mereka tahu persis bagaimana keadaan Khadijah.” Yulian menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
”Ya sudah, aku masuk dulu. Kamu tetap disini saja, Abdullah.” Abdullah mengangguk, menuruti perintah Yulian.
Yulianasuk ke dalam dengan senyuman yang merekah. Hal sama pun juga dilakukan oleh Khadijah untuk membalas senyuman Yulian. Setelah berdiri di dekat nakas tidak lupa Yulian menuangkan air mineral ke dalam gelas sampai terisi penuh. Setelah itu, Yulian menyodorkan gelas yang berisi air kepada Khadijah.
kedua jantung seakan berdetak lebih kencang saat tangan Khadijah tidak sengaja memegang tangan Yulian. Dan tatapan yang lekat di antara mereka sejenak telah terkunci. Ada rasa yang berbeda saat saling memandang. Apakah itu yang namanya cinta?
”Maaf, saya tidak sengaja.” Yulian hanya mengangguk pelan, lalu Khadijah kembali menundukkan pandangannya seraya meneguk segelas air yang masih utuh.
Yulian kembali membantu Khadijah meletakkan gelas yang sudah kosong di atas nakas. Dan suasana kembali terasa hening, penuh dengan kebisuan, hanya ada suara langkah kaki yang menderu di depan pintu. Tidak lama kemudian seseorang tengah memegang gagang pintu ruangan itu. Seketika pandangan mereka tertuju ke sana untuk memastikan siapa yang di sana.
”Maaf permisi! Saya hanya mengantarkan makanan untuk pasien.” Seorang petugas tengah mendorong keranjang dengan nampan yang berisi bubur dan minuman.
”Iya, Pak. Terima kasih!” balas Yulian singkat.
Petugas itu pergi lagi setelah meletakkan bubur dan air di atas nakas. Dan ingin rasanya Khadijah memakan bubur itu dengan segera, karena memang malam itu ia belum makan sehingga rasa lapar telah mendera cacing-cacing di perutnya. Khadijah hanya mampu memandangnya saja, karena ia merasa malu jika meminta bantuan Yulian terus menerus. Ada rasa tak enak dalam hatinya, apalagi dulu ia pernah jatuh hati pada pandangan pertama.
”Apa ... kamu ingin makan?”
__ADS_1
Yulian mah, ada-ada saja deh... tidak lihat apa dari sorot netra Khadijah yang hanya memandang bubur penuh hasrat ingin makan?
Mbak penulis, tolong buat hati Yulian peka sedikit ya!
Khadijah mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Yulian tadi.
”Akan aku bantu. Kamu tinggal makan saja, biar aku suapi.” Khadijah sontak menggelengkan kepalanya.
”Kita bukan makhram, Yulian. Aku tidak mau kamu memperlakukan aku seperti ini. Aku tidak pantas mendapatkan apapun darimu. Lebih baik sekarang pergilah!”
”Aku tahu itu, Khadijah. Kalau kamu meminta aku untuk pergi, tapi maaf ... aku tidak bisa melakukannya.” Khadijah tertegun, ia menatap tajam Yulian.
”Apa maksud kamu? Kenapa kamu tidak bisa melakukannya? Kita tidak ada hubungan apapun, lebih baik kamu lepaskan aku sekarang juga! Biarkan aku pergi ke tempatku.”
Khadijah merengsek untuk melepas jarum infus yang masih menempel di punggung tangannya. Akan tetapi, Yulian tidak bisa membiarkan Khadijah pergi begitu saja. Karena ia tidak mau berada dalam pertikaian dengan kedua putra dan sahabatnya. Dan Yulian juga tidak mau Khadijah berada dalam bahaya setelah mengetahui Alex sudah bebas.
”Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Khadijah. Dengarkan penjelasan aku, aku mohon!”
”Penjelasan apa yang akan kamu katakan kepadaku, Yulian? Kita ... tidak ada hubungan apapun, tidak sepantasnya kita berada dalam satu ruangan seperti ini. Biarkan aku pergi sekarang juga!”
”Bagaimana dengan Hafizha jika ... kamu tetap mau pergi, Khadijah? Apa kamu tidak merindukannya sebagai seorang Ibu?” pekik Yulian.
Khadijah yang siap untuk membuka pintu seketika berhenti. Lalu kembali membalikkan tubuhnya, terlihat maniknya telah mengembun. Tapi seketika ia tepis kan segala rasa untuk Hafizha, ia tidak mau terjebak dalam dunia yang tak ingin dimasukinya lagi.
”Kenapa dengan Hafizha? Dia sudah bahagia bersamamu, Yulian. Aku tidak mau masuk ke dalam dinianya dengan mengatakan aku ibunya, karena yang Dia tahu ... Aisyah lah ibunya. Jadi, jangan pertemukan aku dengannya dan kamu jangan mencari aku!”
Khadijah berlari begitu saja tanpa mendengarkan sepatah kata pun dari Yulian. Sedangkan Yulian, ia mengusap wajahnya gusar, rasa khawatir kembali hadir. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun, karena Yulian membenarkan perkataan Khadijah. Di mana Yulian tidak ada hubungan apapun dengan Khadijah, akan menjadi dosa jika ia tetap ingin meminta Khadijah tinggal bersamanya.
’Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu.’ Yulian hanya bisa ber pasrah diri kepada Allah, sebagai Tuhannya.
Yulian tak kunjung keluar dari ruangan itu, sehingga membuat Abdullah masuk begitu saja dan memastikan apa yang baru saja terjadi. Karena Abdullah melihat Khadijah berlari dengan air mata yang berderai.
__ADS_1