Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 98 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Tidak lama kemudian ponsel Ahtar berdering, pengantar makanan telah menghubunginya untuk memebeutahukan jika makanan yang sudah dipesan Ahtar sudah tiba dan Ahtar ditunggu di lobi untuk mengambil makanan tersebut.


“Pesan apa, Dok?” tanya Faruq yang tidak sengaja melihat Ahtar melakukan transaksi.


“Pesan makan enak, Faruq. Kamu mau?”


“Ya... itupun jika Dokter Ahtar mau kasih.”


Ahtar pun terkekeh, lalu ia memberikan satu kotak makanan yang sudah di pesannya tadi. Karena Ahtar memesan makanan lebih dari lima kotak.


Tidak mungkin kan, jika Ahtar rakus? Sedangkan Ahtar sendiri sangat menjaga kesehatan dan tubuhnya agar tetap perfect menjadi seorang lelaki muda.


Kotak nasi yang Ahtar pesan kini hanya tersisa dua kotak saja yang akan diberikan kepada Khadijah dan yang satunya lagi untuk dirinya sendiri.


“Bunda, makan lagi ya! Ini Ahtar punya nasi dengan lauk udang bakar yang ditaburi saus tomat dan juga keju. Kelihatannya sih enak, tapi Ahtar juga tidak tahu pasti bagaimana rasanya.” Ahtar menunjukkan satu kotak nasi dengan lauk udang kepada Khadijah.


“Kamu saja yang makan, Nak. Bunda sudah kenyang, tadi sudah makan bersama kamu, kan,” ucap Khadijah dengan lembut.

__ADS_1


“Yang benar nih Bunda tidak mau lagi Ahtar suapi? Enak loh, Bun.” Ahtar mencicipi makanan itu yang terasa gurih dari sisi udang.


“Tidak, Nak.” Khadijah menggeleng. “Boleh tidak jika Bunda menyuapi kamu sedikit saja?”


Ahtar yang sedang mengunyah udang bakar seketika terhenti. Lalu ia menatap Khadijah dengan binar mata yang memancatkan penuh harap. Membuat Ahtar merasa iba, begitu juga dengan dirinya yang memang merindukan momen seperti itu dari sosok seorang ibu. Sehingga Ahtar pun mengangguk dan memberikan kotak nasi itu kepada Khadijah.


“Aaa...” Khadijah meminta Ahtar untuk membuka mulutnya.


Setelah memasukkan satu suap nasi kedalam mulut Ahtar, Khadijah menyunggingkan senyum ada rasa yang membuat hatinya bahagia.


Dua suap...


Ahtar menikmati momen yang baginya sangatlah indah. Rasa rindu kepada Aisyah sejenak terobati dengan kasih dan sayang yang tulus dari Khadijah, ibu sambungnya.


Tiga suap...


Empat suap...

__ADS_1


Makanan itupun sudah habis, membuat Khadijah dan Ahtar mengucapkan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah malam itu. Setelah menghabiskan makanan Ahtar berlanjut minum sebotol air putih yang sudah dibelinya tadi.


“Suka sama udang bakarnya, ya?”


“Suka, Bun. Untungnya saja... Ahtar tidak seperti Abi, kalau makan udang langsung alerginya kambuh. Ahtar ini seperti Umi Aisyah, kebal.”


Seketika Khadijah tertawa mendengar ucapan Ahtar yang cukup menghiburnya malam itu. Karena Khadijah sudah merasa bosan tidak bisa bergerak leluasa, apalagi mengingat kedua kakinya yang tidak bisa berfungsi.


“Iya, saking kebalnya hatinya pun tidak bergeming ketika cinta mulai hadir dalam kehidupan kamu, Ahtar.”


“Maksud Bunda, apa? Mana ada cinta, merasakannya saja tidak,” ucap Ahtar abai.


“Kamu pasti pernah merasakan debaran yang hebat dari jantung kamu, ketika kamu melihat seorang wanita tanpa di sengaja maupun sengaja. Percayalah akan hal itu, Ahtar.” Khadijah menjelaskan kepada Ahtar sebagaimana pernah merasakannya saat pertama kali melihat Yulian di rumah sakit kala itu.


“Baiklah, Ahtar akan mengingatnya. Tapi... kalau boleh tahu seberapa besar Bunda mecintai Abi?”


Sejenak Khadijah terdiam, ia menarik nafas panjang sebelum mengatakan kepada Antar seberapa besar cintanya kepada Yulian. Cinta yang membuatnya tidak bisa lupa dengan sosok lelaki tampan yang selalu di langit kan namanya dalam setiap sholat tahajud malam yang ditunaikan oleh Khadijah itu sendiri setelah memantapkan untuk berhijrah, memperdalam agama Islam yang sempat ditinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2